Artikel – Rasa Syukur, Kenikmatan, Dan Kebahagiaan.
Hore, Hari Baru! Teman-teman.
Kita tidak pernah berhenti mencari kebahagiaan. Meskipun sangat sulit untuk mendefinisikannya. Kebahagiaan itu apa dan seperti apa. Tidak mudah untuk memahaminya. Maka kebahagiaan sering menjadi terlampau abstrak untuk bisa kita rengkuh ke alam realitas. Orang miskin mengira orang kaya lebih bahagia karena segalanya serba ada. Orang kaya, banyak yang menilai betapa bahagianya orang-orang miskin yang terbebas dari belenggu hutang hingga ratusan juta bahkan milyaran. Jadi sebenarnya kebahagiaan itu apa? Dalam pencarian atas kebahagiaan itu, saya sering merasakan kenikmatan. Ketika uang saya sedikit – misalnya – saya merasa nikmat. Ketika uang saya sedang banyak, juga terasa nikmat. Ketika sakit, terasa nikmat. Saat sehat juga nikmat. Saat sendiri nikmat, ramai-ramai juga nikmat. Jika kenikmatan-kenikmatan kecil itu kita kumpulkan, lalu dirangkai dalam rentang waktu yang panjang, maka perasaan batin kita menjadi sedemikian nyaman. Pada saat-saat
seperti itulah kita merasakan kebahagiaan. Apakah Anda merasakan hal yang sama?
Laksana sebatang pohon; Kebahagiaan itu adalah buahnya. Kenikmatan adalah batangnya. Sedangkan akarnya adalah; rasa syukur. Mau tumbuh dimana buah jika tidak ada batang yang menyangganya? Bagaimana batang bisa tegak jika tidak memiliki akarnya? Maka begitu pula kebahagiaan yang kita cari-cari itu. Tidak mungkin kita bisa meraih kebahagiaan tanpa kemampuan untuk merasakan kenikmatan. Dan kita tidak mungkin bisa menikmati apapun jika tidak memiliki rasa syukur. Maka, untuk bisa meraih kebagiaan itu, kita membutuhkan rasa syukur atas semua nikmat yang kita dapatkan. Karena dari rasa syukur itu akan tumbuh pohon kenikmatan yang kokoh. Barulah pohon kenikmatan itu bisa berbuah kebahagiaan. Jadi, untuk menemukan kebahagiaan; kita perlu terlebih dahulu memiliki rasa syukur itu. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar memiliki akar rasa syukur, saya ajak memulainya dengan memahami 5 prinsip Natural Intelligence berikut ini:
1. Titik awal menuju kebahagiaan. Untuk menuju kebahagiaan, ada rute sederhana yang lurus tidak berkelok. Datar tidak terjal. Halus tidak kasar. Dan aman tidak berbahaya. Dalam rute itu ada titik pemberangkatan bernama 'rasa syukur' – jalur untuk dilalui bernama 'kenikmatan', dan – tempat tujuan bernama kebahagiaan. Bahagia itu titik terjauh dalam rute perjalanan kita. Sedangkan kenikmatan itu adalah apa yang sepatutnya kita rasakan selama menempuhnya. Rasa syukur ada dimana? Ada didalam daftar opsi atau pilihan hidup kita. Kita boleh memilih untuk memulai perjalanan ini dengan bersyukur sehingga bisa masuk kedalam jalur kenikmatan. Kita juga boleh memilih untuk tidak bersyukur sehingga apapun yang kita dapatkan akan menghasilkan keluh kesah. Konsekuensinya, jika kita memulai dari pos rasa syukur, maka apapun yang kita alami disepanjang perjalanan itu akan penuh dengan kenikmatan sehingga diakhir perjalanan; semua kenikmatan itu
diakumulasikan menjadi kebahagiaan. Sebaliknya, jika memulainya dari titik 'bukan rasa syukur' maka bahkan semua kemewahan pun tidak akan menghasilkan kenikmatan sehingga tidak mungkin kita bisa meraih bahagia itu. Jadi, mari kita berfokus kepada titik awal pemberangkatan yang bernama 'rasa syukur'.
2. Rasa syukur atas hidup. Jika ada orang yang 'menyesali hidup', maka itu menunjukkan kalau orang itu tidak memiliki rasa syukur atas hidup yang sudah dia dapatkan. Bukan hidupnya yang membuat kita menyesal, melainkan kualitas hidup itu sendiri. Tidak relevan jika kita menyesali hidup karena kualitasnya. Karena hidup itu dihadiahkan oleh Tuhan. Sedangkan kualitasnya, ditentukan oleh ikhtiar yang kita lakukan. Baik atau buruknya kualitas hidup kita sedikit banyak ditentukan oleh kemauan, usaha, kerja keras, dan kegigihan kita untuk memperjuangkannya. Jika kita tersisih dari arena perjuangan itu, mengapa lantas kita salahkan hidup? Kita tentu tidak termasuk orang yang menyesali hidup. Namun, seringkali kita menyesali hal-hal yang 'tidak kita lakukan' dimasa lalu. "Oh, seandainya dulu saya begini-begitu, tentu sekarang saya blablabla.." bukankah begitu sesal yang sering kita dengarkan dari dalam? Maka wajar jika Sang Pemberi Hidup
menyeru kita untuk mensyukuri hidup. Dia sanggup merenggutnya sejak kemarin. Tapi sampai sekarang kita masih juga hidup. Juga wajar jika kita bersyukur atas anugerah itu dengan menjadikan kehidupan kita baik didalam pandanganNya. Karena tidak ada cara yang lebih baik untuk mensyukuri hidup, selain mengisi hari-hari dalam hidup kita dengan tindakan dan perbuatan yang disukai Sang Pemberi Kehidupan.
3. Rasa syukur atas kemudahan. Sudah berapa banyak kemudahan yang Anda dapatkan? Tubuh Anda sempurna sehingga segala urusan bisa Anda lakukan tanpa hambatan. Ban motor atau mobil Anda terhindar dari paku dijalan sehingga perjalanan Anda tidak mengalami hambatan. Kompor gas Anda menyala normal sehingga masakan Anda bisa matang. Anak-anak Anda sehat sehingga Anda bisa pergi ke kantor dengan tenteram. Gigi Anda afiat sehingga semua aktivitas harian bisa dijalani dengan nyaman. Ada lagi kemudahan lainnya? Banyak. Bahkan guru kehidupan saya mengingatkan; "Jika engkau menghitung-hitung kemudahan yang sudah Tuhan berikan, takkan mungkin engkau sanggup menghitungnya." Sekarang, apa yang kita lakukan dengan sekujur tubuh kita? Kebaikankah? Atau keburukan? Jika jabatan yang kita sandang itu bagian dari kemudahan yang diberikan Tuhan, maka bagaimana cara kita menunaikan amanah itu pun merupakan gambaran dari rasa syukur yang kita miliki. Semua
kemudahan yang kita peroleh, apakah digunakan untuk menimbulkan kesulitan orang lain? Ataukah kita mensyukurinya dengan menjadikan kemudahan yang kita miliki untuk memudahkan urusan orang lain? Faktanya, ketika kita berhasil memudahkan urusan orang lain, hati kita merasa nyaman. Kita menikmati perasaan itu sehingga terdorong untuk melakukan hal yang sama lebih sering lagi. Dan karena aktivitas itu berlangsung terus, maka kenikmatannya pun kita rasakan terus sehingga kebahagiaan pun datang.
4. Rasa syukur atas kesulitan. Mudah untuk berucap 'Alhamdulillah' saat keadaan kita sedang serba indah. Bagaimana jika kita sedang berada dalam keadaan yang serba susah? Kayaknya rasa syukur atas kesulitan itu rada ngawur. Sekurang-kurangnya ada 2 alasan mengapa justru kita memerlukan rasa syukur atas kesulitan. Pertama, justru ketika berada dalam kesulitan itu setiap kemudahan yang selama ini kita dapatkan menjadi semakin terasa 'nilainya'. Mungkin dimasa lalu, belum kita syukuri kemudahan-kemudahan itu. Maka inilah saat yang tepat untuk melakukannya. Sekaligus membuat komitmen pribadi; jika nanti mendapatkannya kembali, saya akan senantiasa mensyukurinya. Alasan kedua, mensyukuri kesulitan yang sedang kita hadapi itu boleh dibilang tingkatan rasa syukur yang paling tinggi. Bayangkan, saat Tuhan menguji kita dengan kesulitan yang sangat berat. Bukannya mengeluh. Kita malah bersyukur karena kesulitan itu justru semakin mendekatkan
diri kita kepadaNya. Bukankah kita menjadi semakin kyusuk dalam berdoa ketika sedang serba susah? Maka pantaslah juga jika Tuhan berfirman bahwa; dalam kesulitan itu, terdapat kemudahan. Dan kemudahan itu akan didapatkan oleh orang yang menjaga rasa syukur; meski sedang berada di tengah deraan kesulitan.
5. Rasa syukur atas rasa syukur. Ketika kecil, saya pernah merasakan nikmatnya makan nasi hanya dengan jelantah, atau secuil garam bersama para buruh tani sambil selonjoran di pematang sawah. Ketika dewasa, saya sering berkesempatan bermalam di hotel berbintang. Seperti teman-teman lain ternyata kami hanya bisa menikmati berbagai hidangan mewah itu pada 1 atau 2 hari pertama saja. Selebihnya, kami lebih sering menyantap hidangan dipinggir jalan. Makan di emperan itu, jauh lebih terasa nikmatnya. Beberapa teman mengatakan tidak bisa tidur semalam. Banyak pikiran katanya. Padahal, kasurnya berharga belasan juta. Sedangkan satpam di komplek saya tidur nyenyak sambil duduk di kursi pos ronda yang sudah bulukan. Jadi dimana sesungguhnya nikmat itu adanya? Dalam kemewahan ada kenikmatan. Dalam kesederhanaan pun ada kenikmatan. Jadi bukan kondisi fisiknya yang menentukan. Melainkan dalam rasa syukur. Faktanya, tanpa rasa syukur; keberlimpahan yang
kita miliki terasa kurang saja dan tak kunjung memberikan kebahagiaan. Dengan rasa syukur, dalam keterbatasanpun kita merasakan kecukupan. Maka rasa syukur itu pun adalah anugerah tersendiri. Mungkin hanya sedikit orang yang dianugerahi rasa syukur. Banyak yang tidak, sehingga apapun yang mereka miliki tidak bisa dikonversi menjadi kenikmatan, apalagi kebahagiaan. Maka bersyukurlah atas rasa syukur yang telah Tuhan tanamkan dalam hati kita. Karena dengan rasa syukur itu, kita punya peluang untuk meraih kenikmatan dalam hidup, dan berhasil menempuh rute yang tepat menuju kebahagiaan didunia dan diakhirat.
Buah kebahagiaan dipetik dari pohon kenikmatan-kenikmatan kecil yang berhasil kita rangkai dalam setiap detak detik kehidupan yang kita jalani. Sedangkan pohon kenikmatan itu tumbuh kokoh karena disangga oleh rasa syukur yang mengakar. Persis seperti nasihat guru kehidupan saya tentang firman Tuhan, bahwa Dia akan menambah kenikmatan bagi orang-orang yang memiliki rasa syukur. Maka jika Anda ingin melakukan proses atau perjalanan meraih kebahagiaan, mari kita memulai perjalanan itu dari titik awal bernama rasa syukur. Insya Allah, apapun yang kita alami selama perjalanan itu akan terasa nikmat. Sehingga kita bisa menjadi pribadi yang bahagia, hingga diakhir perjalanan ini.
Mari Berbagi Semangat!
DEKA - Dadang Kadarusman – 9 November2011
Trainer Bidang Kepemimpian dan Pembedayaan Diri
Penulis buku "Natural Intelligence Leadership"(Tahap editing di penerbit)
Catatan Kaki:
Kebahagiaan adalah buah dari pohon kenikmatan yang berakar dari rasa syukur.
Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda tidak berkurang karenanya.
Follow DK on Twitter @dangkadarusman
[Non-text portions of this message have been removed]
Blogger templates
[gudang-ilmu] Artikel – Rasa Syukur, Kenikmatan, Dan Kebahagiaan.
[gudang-ilmu] Artikel – Mari Menulis Dan Berbenah Diri
Artikel – Mari Menulis Dan Berbenah Diri
Hore, Hari Baru! Teman-teman.
Bahkan seorang Manager atau Direktur pun perlu terampil menulis. Mengapa? Oh, begitu banyak manfaat dari aktivitas menulis. Antara lain melatih kita untuk berpikir runut, atau menata sesuatu secara lebih terstruktur. Perhatikan contoh sederhana ini: "Aku memanggil orang itu papa" dan "Orang itu memanggil aku papa". Kata-kata dalam kalimat itu sama semua. Hanya urutannya saja yang berbeda, namun maknanya bertolak belakang hingga 180 derajat. Dalam bisnis pun, runutan dan logika seperti itu berlaku. Demikian pula dalam kehidupan di luar bisnis. Berlatih menulis, berdampak besar kepada kemampuan kita dalam mengelola kehidupan kita sendiri. Maka boleh jadi, kini saatnya untuk belajar menuangkan gagasan lewat tulisan.
Banyak orang yang ingin 'bisa' menulis. Tetapi tidak tahu bagaimana melakukannya. Ini aneh. Soalnya, setiap saat jemari tangan kita menempel terus pada key board gadget komunikasi. Jadi, bukan tidak tahu bagaimana cara menulis. Melainkan tidak menyadari jika dirinya sudah bisa menulis. Jika Anda melihat saya sering menulis, bukan berarti saya sudah mahir menulis. Sapai hari ini, lebih dari seribu tulisan atau artikel saya sudah dipublikasikan. Tetapi, kemampuan menulis saya masih belum sampai ke puncaknya. Saya menyadari bahwa menulis itu adalah sebuah proses pembelajaran tiada henti. Bahkan bisa jadi, tulisan saya hari ini merupakan ralat dari hasil pemikiran saya dimasa lalu. Jadi lewat menulis, kita belajar untuk terus membenahi diri. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar menulis untuk membenahi diri, saya ajak memulainya dengan memahami5 prinsip Natural Intelligence berikut ini:
1. Temukanlah kisahmu sendiri. Apa yang harus saya tulis? Itu pertanyaan yang sering menghalangi kita untuk menulis. Sederhana saja; temukan kisahmu sendiri yang bisa menginspirasi orang lain. Jika Anda anak orang kaya, tentu banyak orang yang ingin tahu seperti apa sih kehidupan orang kaya itu. Jika Anda anak orang miskin, banyak orang ingin tahu bagaimana cara Anda berhasil keluar dari kemiskinan. Jika Anda Manager atau Direktur, minimal bawahan Anda ingin mengetahui bagaimana cara Anda membangun karir. Kalau umur Anda 40 tahun, bisa dibayangkan betapa banyaknya kisah menarik untuk Anda tuangkan dalam sebuah karya tulis. Bahkan sekalipun selama 40 tahun itu Anda 'hanya' menjadi tukang menghayal. Banyak lho, orang yang ingin mengetahui 'halayan-halayan' Anda yang mengasyikan dan imajinatif. Sungguh, Anda memiliki begitu banyak kisah yang layak untuk ditulis. Dan karena hanya Anda pribadi yang memiliki kisah itu, maka tulisan Anda pasti
sangat unik sehingga tidak mungkin orang lain bisa menirunya.
2. Temukanlah keunikan tulisanmu sendiri. Menulis itu seperti mencantumkan tanda tangan. Selain goresan-goresannya yang khas, didalamnya juga tersimpan 'sidik jari' kita. Makanya, tulisan setiap orang memiliki keunikan. Masalahnya, banyak orang yang tergoda untuk meniru tulisan orang lain. Tidak perlu takut keunikan Anda akan ditolak oleh penerbit atau media cetak. Memang, banyak penerbit buku atau koran yang belum menghargai keunikan seorang penulis. Mereka masih terkungkung oleh pakem dan selera pasar, bahkan cenderung lalai terhadap aspek originalitasnya. Jadi, tidak heran jika ada penerbit buku besar dan koran terkenal yang kecolongan menerbitkan 'karya tulis' bagus yang belakangan diketahui sebagai hasil jiplakan. Bagi penulis yang baik, sikap penerbit seperti itu sangat mengesalkan. Tetapi sekarang, begitu banyak alternatif media yang bersedia menerima keunikan tulisan Anda. So, bangunlah keunikan tulisan Anda melampaui
pakem-pakem yang mengungkung dunia penerbitan umum. Karena dengan keunikan itu, Anda benar-benar memberi 'nilai tambah' kepada dunia. Bukan sekedar memenuhi semesta dengan sesuatu yang itu-itu saja.
3. Bangunlah kredibilitas pribadi. Bagi seorang penulis, kredibilitas itu boleh dibilang segala-galanya. Tanpa kredibilitas pribadi, harga diri seorang penulis menjadi sangat rendah sekali. Bagaimana cara seorang penulis membangun kredibilitasnya? Dengan tidak menjiplak tulisan orang lain. Ada professor yang diberhentikan dari institusi pendidikan bergengsi tempatnya memberi kuliah. Ada Doctor dari perguruan tinggi beken yang dicabut gelarnya. Ada pula pengarang yang dituntut karena melanggar hak cipta. Semua hal yang saya sebutkan ini terjadi karena orang-orang ini terbukti menjadi plagiator tulisan orang lain. Para penjiplak sering mengira bahwa kebiasaan buruknya tidak akan ketahuan. Mereka keliru. Saya mengetahui jika beberapa tulisan saya dijiplak oleh orang lain, lalu diklaim seolah itu tulisan mereka. Kemudian jiplakan itu dimuat di berbagai media bahkan dalam buku yang dicetak secara profesional. Dari mana saya tahu soal itu? Sebagian
besar diketahui karena ada sahabat-sahabat saya yang memberi tahu. "Kok ini mirip sekali dengan tulisanmu ya?" Begitu ketahuan suka menjiplak, kredibilitas seseorang langsung jatuh tersungkur. Bisakah Anda membayangkan; betapa hancurnya kredibilitas diri Anda jika sampai ketahuan Anda itu seorang penjiplak tulisan orang lain? Maka bangunlah kredibilitas Anda. Dan jagalah terus agar tidak ternoda.
4. Tulislah, maka jadilah dia sebuah tulisan. Bagaimana cara membuat sebuah tulisan? Gampang; tulislah. Sibukkan jemari tangan Anda untuk menulis. Maka otak Anda sudah tidak lagi disibukkan oleh kebingungan tentang apa yang akan Anda tulis. Menulis apa? Apapun yang Anda ingin tulis. Pokoknya ya tulis saja. Tentang kucing Anda. Tentang sepatu pink Anda. Tentang cinta Anda. Tentang kambing Anda. Tentang, apapun. Bukankah belum ada orang yang menulis tentang semua itu? Hmmh, tulisan Anda dijamin orisinil deh. Kalau ikut kursus menulis, boleh tidak? Oh, boleh saja. Jika Anda menilai itu akan membantu Anda untuk menjadi seorang penulis yang lebih baik. Tetapi, seperti belajar bahasa Inggris; Anda tidak akan menjadi pintar hanya dengan mengikuti kelas kursusnya. Anda harus mempraktekannya, bukan? So, jika Anda ingin mengetahui dan mengadopsi ilmu menulis saya, silakan ikuti. Ilmu menulis saya hanya satu kok, yaitu: Tulislah.
5. Panjangkanlah Umurmu. Orang yang panjang umur itu bukanlah mereka yang usianya mencapai ratusan tahun. Melainkan mereka yang meninggalkan sesuatu bagi dunia yang pernah ditinggalinya. Orang itu akan tetap dikenal setelah kematiannya selama peninggalannya masih dikenal orang. Anda meninggalkan apa? Perusahaan. Tanah. Rumah. Emas. Deposito. Itu bagus. Saya sih belum bisa meninggalkan semuanya itu. Selain butuh biaya besar, juga rentan habis dalam sekejap mata. Ada pula yang meninggalkan kepahlawanannya. Tapi saya juga tidak tahu bagaimana menjadi pahlawan di zaman ini. Tidak semua orang bisa memberikan peninggalan serupa itu. Tapi, mungkin kita semua bisa meninggalkan sesuatu lewat tulisan yang pernah kita buat. Berapa banyak nama yang Anda kenal, namun tidak pernah bertemu orangnya? Anda hanya mengenalnya lewat tulisan-tulisan yang menginspirasinya. Beberapa nama itu sudah pada meninggal. Tapi masih sering disebut-sebut di ruang kelas atau di
forum-forum khusus. Namanya mungkin sudah tidak lagi disebut. Tapi ilmu yang pernah ditebarkannya menjadi bagian dari kehidupan seseorang. Maka tulislah tentang sesuatu yang bernilai dari dalam diri Anda. Dan biarkan orang lain menikmatinya, lalu mengambil hikmah darinya. Dan menjadikannya bagian positif dalam kehidupannya. Semoga pesan, semangat, dan nilai-nilai yang Anda tebarkan menjadi sarana untuk memanjangkan umur Anda.
Di zaman ketika manusia belum mengenal tulisan, mereka bersusah payah mendokumentasikan sejarahnya dalam gambar dan simbol. Di zaman ketika kita sudah mahir menulis, mengapa kita tiba-tiba kebingungan harus menulis apa. Ayo, menulislah. Karena anak buah Anda membutuhkan inspirasi dari atasannya yang jarang bisa bertatap muka. Tulislah, karena ilmu Anda dibutuhkan orang lain. Tulislah karena seseorang membutuhkan inspirasi dari Anda. Tulislah. Karena bahkan Tuhan pun menuliskan semua tindakan dan perbuatan kita. Maka menulis, bisa dilakukan sambil berbenah diri.
Mari Berbagi Semangat!
DEKA - Dadang Kadarusman – 3 November2011
Penulis buku "Natural Intelligence Leadership"(Tahap editing di penerbit)
Catatan Kaki:
Jika Anda mulai menulis, pastikan tulisan itu mewakili keunikan kepribadian Anda.
Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda tidak berkurang karenanya.
Follow DK on Twitter @dangkadarusman
[Non-text portions of this message have been removed]
[gudang-ilmu] File - Indonesia Online Ribuan anak bangsa ada di sini
Indonesia Online, Ribuan anak bangsa ada di sini
Media komunikasi online anak bangsa baik di Indonesia maupun di manca negera, dimanapun Anda berada. Silahkan ngobrol di sini, bebas dan tetap sopan tentunya. Selalu Posting dengan LENGKAP sebutkan DENGAN JELAS identitas anda (Nama, web/blog, boleh HP) dalam setiap bagian akhir posting. Dilarang: beriklan langsung kecuali di bagian footer email anda, maksimum 3 baris. Tidak diperkenankan: posting yang vulgar, argumentatif, sara, menyinggung privacy member lain, atau posting yang berulang-ulang, atau yang bertendensi iklan berlebihan. Semoga Milinglist ini dapat membuat kita bersama semakin berdaya.
Join us now: http://groups.yahoo.com/group/indonesia-online
Best regards
Indonesia-Online Moderator
[gudang-ilmu] File - Salam Kenal dari Owner Gudang Ilmu
From : Mufli (Moderator Gudang-Ilmu)
Hello Kawan,
Terima kasih telah bergabung di milinglist GUDANG-ILMU
yang saya kelola. Melalui milinglist ini saya persembahkan
untuk anda semua berbagi ilmu untuk pemberdayaan bersama.
Saya undang anda berpartisi aktif, dengan mengirimkan
artikel, komentar, tips yang bermanfaat, serta jangan lupa
tetap mematuhi aturan main yang saya jelaskan di bagian
depan halaman description milinglist Gudang-Ilmu:
http://groups.yahoo.com/group/gudang-ilmu
Untuk selalu mendapatkan informasi terbaru dari saya langsung
ke email Anda, silahkan set EMAIL DELIVERY anda sebagai INDIVIDUAL,
atau setidaknya SPECIAL NOTICE.
Oya, salam kenal lebih dekat :)
Saya Mufli, tinggal di Jalan Merak 6/44 Rewwin, Sidoarjo
Indonesia. Saya banyak mengelola situs online, yg umumnya
merupakan support system untuk bisnis, training dan publikasi.
Thank you rekans :)
Best Regards
Mufli
Moderator, Gudang-Ilmu
Bila Anda ingin mengundang teman untuk join milinglist ini,
Silahkan copy undangan berikut ini, silahkan ganti informasi
tentang Anda di bagian akhir (Salam), lalu kirimkan undangan
kepada kawan-kawan Anda.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Subject: Undangan Join Gudang-Ilmu
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Hi kawan,
Ilmu bukanlah yg nomor satu,
bahkan percuma tanpa dibawa dalam tindakan.
Dengan ilmu dan hasrat yang menggebu,
banyak orang berjaya dan bermakna untuk sekitarnya.
Ilmu tentang bisnis internet, cara membangun team,
security online, forex, adsense, network marketing,
business broker, franchising, autosurf, serta juga
home based business, affiliate program, reseller,
dan sebagainya dengan cemerlang dapat ANDA dipaparkan
di forum ini, saya undang anda para pakar dan
praktisioner yang komptens.
JOIN US NOW, Semoga hanya yang terbaik buat Anda !
Cara bergabung adalah dengan mengirimkan email kosong
alamat ini:
gudang-ilmu-subscribe@yahoogroups.com
Atau silahkan berkunjung ke sini:
http://groups.yahoo.com/group/gudang-ilmu
Salam sukses paling sukses buat Anda.
Thanks Again.
[gudang-ilmu] Artikel – Mengimbangi Dinamika Pergerakan Perusahaan
Artikel – Mengimbangi Dinamika Pergerakan Perusahaan
Hore, Hari Baru! Teman-teman.
Apakah Anda bisa 'merasakan' adanya perubahan di perusahaan Anda? Saya sengaja memberi tanda petik (') pada kata merasakan untuk menekankan bahwa perubahan yang saya maksud bukanlah dari aspek fisik belaka. Perubahan dalam bentuk penerapan system baru atau kedatangan CEO baru tentu mudah untuk kita ketahui. Tapi tahukah Anda bahwa diperusahaan Anda sedang terjadi perubahan yang terjadi sedemikian halusnya sehingga hanya bisa disadari oleh mereka yang benar-benar bisa merasakannya? Orang yang tidak menyadari adanya perubahan itu sering kaget beberapa tahun kemudian. Lalu mereka mengatakan;"suasana kerja dikantor kita sudah tidak seperti dulu lagi..". Padahal, perubahan itu tidak terjadi begitu saja. Sebaliknya, orang yang menyadari adanya perubahan itu tidak akan kaget. Karena setiap hari, mereka merasakan dan melakukan penyesuaian terhadap perubahan yang sedang berlangsung. Mereka yang tidak sadar, sering merasa dipaksa untuk menerima
perubahan. Sedang mereka yang merasakannya sudah terbiasa mengikuti iramanya. Jika Anda boleh memilih, Anda ingin menjadi kelompok yang mana?
Saat sedang menunggu untuk boarding saya paling suka melihat pesawat terbang yang hendak take off dilandasan pacu. Setiap kali pesawat itu melintas, saya bisa merasakan betapa tingginya kecepatan gerak pesawat itu sehingga hanya dalam hitungan detik dia sudah menghilang dibalik awan. Anehnya, ketika saya berada didalam pesawat, saya tidak merasakan jika dia bergerak dengan kecepatan yang sedemikian tingginya. Mengapa ya? Oh, karena sekarang saya sudah menjadi bagian yang menyatu dengan tubuh pesawat itu. Ketika saya berada di luar pesawat, saya hanya menjadi penonton yang 'menyaksikan' pesawat terbang yang sedang bergerak sedemikian cepatnya. Sedangkan ketika berada dalam pesawat itu, saya adalah entitas yang bergerak sama cepatnya dengan pesawat itu. Seandainya saya berada di luar pesawat, lalu tubuh saya diikat ke pesawat. Tentu tubuh saya bisa hancur jika harus terbang mengikuti arah geraknya pesawat. Untuk bisa mengimbangi kecepatan pergerakan
di perusahaan, kita pun harus benar-benar menjadi bagian yang menyatu dengan perusahaan itu. Jika tidak, kita akan sangat tersiksa mengikutinya. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar mengimbangi dinamika pergerakan perusahaan, saya ajak memulainya dengan memahami5 prinsip Natural Intelligence berikut ini:
1. Kapasitas diri yang terdayagunakan. Teman saya yang lulusan perguruan tinggi beken memiliki potensi tinggi. Dia bekerja di perusahaan biasa-biasa saja.Aktivitas kerjanya boleh dibilang santai-santai saja. Bahkan masih sempat membaca koran gossip atau bermain catur di jam kerja. Gajinya 'cukup' untuk kehidupan keluarganya. Pergi dan pulang kantor dengan 'nyaman' karena toh semua orang dikantornya juga begitu. Santai saja. Dia menyukai kenyamanan itu. Namun dalam hati dia sering bertanya; "Apa yang sudah saya capai dalam 10 tahun terakhir?" Pertanyaan itu semakin menjadi-jadi ketika teman saya itu bertemu dengan teman sekelas waktu kuliah dulu. Orangnya tidak lebih pintar dari dirinya. Bahkan, boleh dibilang 'tidak ada apa-apanya'. Tapi, mengapa dia bisa lebih sukses dari dirinya? Setidaknya, itulah yang tercermin dalam pencapaian fisik dan karirnya. Orang ini pergi pada saat hari masih gelap. Dan pulang juga setelah matahari
terbenam. Teman saya bertanya; "ngapain sih elu kerja banting tulang seperti itu?" Sebuah jawaban meluncur darinya; "Gua nggak banting tulang. Gua sedang mendayagunakan semua kemampuan yang gua miliki." Teman saya tertegun. Lalu dalam hatinya dia berbisik;"sudah sejauh mana saya mendayagunakan kapasitas diri yang saya miliki….?"
2. Konsekuensi bekerja di perusahaan bagus. Teman saya yang lain bekerja di perusahaan dengan reputasi tinggi. Kebanyakan temannya adalah mereka yang memiliki kinerja tinggi, ambisius dan mempunyai standar kerja yang tinggi. Tuntutan perusahaan pun sangat tinggi. Kenaikan target kinerja, tuntutan terhadap kualitas kerja, penerapan kedisiplinan, tegangan tinggi dalam komunikasi dengan berbagai pihak, dan macam-macam hal lainnya. Kebahagiaan karena diterima diperusahaan itu segera diliputi oleh pemandangan yang boleh dibilang 'mengerikan'. Tiba-tiba saja dia melihat dirinya begitu kecil diantara para raksasa yang berseliweran. Teman saya ini segera menarik nafas panjang. Lalu berusaha untuk menenangkan dirinya. "Hey, bukankah kamu sendiri yang ingin bekerja di perusahaan bagus ini?" begitu dia katakan kepada dirinya sendiri. Kenyataannya, tidak ada perusahaan bagus yang berkompromi dengan kualitas dan pencapaian. Mereka semua keras pada
kedisiplinan dan komitmen. "Maka, disinilah kamu sekarang!" teguran keras itu kembali membentur kalbunya. "Kamu bisa menghadapi semuanya, atau kamu pergi saja dari sini untuk mencari perusahaan yang kamu kira bisa membuat dirimu bekerja dengan gampang….." Teman saya itu lalu menyadari bahwa semua hal yang saat ini dihadapinya dikantor, adalah konsekuensi atas pilihannya sendiri untuk bekerja di perusahaan bagus. Maka untuk bisa bertahan di tempat yang bagus, pilihannya hanya satu. Yaitu; menjadi karyawan yang juga berkinerja bagus.
3. Generasi baru dengan kualifikasi baru. Sekarang teman saya sudah bekerja sekitar 10 tahun.Sejauh ini, dia sudah meraih pencapaian yang memuaskan. Bahkan beberapa kali mendapatkan penghargaan sebagai karyawan terbaik. Dia sudah merasa nyaman dengan iramanya. Bahkan, dia tidak bisa membayangkan bagaimana seandainya dia bekerja di perusahaan ecek-ecek. Bukannya bahagia, malah batinnya mungkin akan menjadi tersiksa. Namun, ada satu hal yang akhir-akhir ini sangat mengganggu dirinya. Perusahaan mulai rajin merekrut orang-orang baru. Perasaan gundah mulai mengusik hatinya. Ada orang yang baru masuk dengan standard pendidikan yang tinggi. Ada yang berpengalaman dari perusahaan yang lebih besar. Ada yang sangat akrab dengan atasannya. Ada juga yang membawa keahliannya untuk membangun dan menerapkan system yang baru. Sekarang, jantungnya mulai sering berdebar-debar. Beberapa teman seangkatannya, mulai mengundurkan dengan alasannya sendiri-sendiri.
"What will happen to me?" bisiknya. Lalu dia merenung dengan kesungguhan. "It is not about what will happen to you," begitu ia mendengar suara dari dalam dirinya. "It is about how you want it happen to you." Setelah merenung itu, dia menemukan bahwa semuanya itu terserah dirinya. Kehadiran orang baru adalah fitrah yang tidak bisa dihindari. Dirinyalah yang menentukan, apakah keadaan itu bisa menjadikan dirinya lebih baik, atau sebaliknya. Dan dia memilih untuk menjadikan keadaan itu sebagai pemacu kinerjanya. Sekarang, dia tidak lagi mengkhawatirkan kehadiran orang-orang baru yang membawa kualifikasi baru.
4. Lingkungan kerja kita terus berubah. Sejak terjadinya krisis ekonomi tahun 1998, dunia bisnis sudah berubah banyak. Krisis susulan tahun 2008 meluluhlantakkan struktur keuangan dunia sehingga bahkan perusahaan besar yang terbukti tangguh selama ratusan tahunpun bisa bangkrut dalam sekejap. Kabar baiknya, teman saya ini masih mempunyai pekerjaan dengan imbalan yang bagus di perusahaan yang besar pula. Kabar buruknya, krisis ekonomi dunia tidak benar-benar berakhir. Eropa dan Amerika, semakin ketar-ketir dengan perkembangan kondisi ekonomi mereka yang compang camping. Dan itu kemungkinan besar akan berimbas kepada keseluruhan kondisi perekonomian dunia. Akankah krisis berikutnya menyusul? Mungkin. Tetapi, jikapun itu terjadi; tak satupun perusahaan yang ingin menjadi korban. Oleh karenanya, setiap perusahaan yang ingin panjang umur tidak bisa lagi menerapkan prinsip business as usual. Karena menjalankan cara berbisnis seperti yang selama ini
mereka lakukan hanya akan menempatkan mereka pada posisi yang sangat rentan. Teman saya, merasakan betul dampaknya terhadap kebijakan perusahaan. Teman-temannya pun merasakan hal yang sama. Lalu mereka bernostalgia; "perusahaan kita tidak senyaman dulu lagi ya…?" Suatu sore, dia mendapatkan email antah berantah yang subjeknya didahului dengan kata 'Artikel'. Iseng-iseng dia membuka dan membaca email itu. Hatinya tersentak ketika dia membaca satu kalimat "Lingkungan kerja kita terus berubah." Seolah baru bangun dari tidur, dia mulai sadar. Iya ya, lingkungan kerja kita terus berubah. Betapa bodohnya saya yang menuntut keadaan untuk tetap sama seperti dulu. Sekarang, teman saya menemukan bahwa; dirinya, harus turut berubah.
5. Terus berkembang atau ikut tergusur. Teman saya memiliki tetangga yang sudah pensiun. Tidak disangka, ternyata beliau adalah pensiunan pejabat dari sebuah group perusahaan raksasa yang sangat bergengsi. 'Tidak disangka' karena keadaannya sekarang sungguh sangat kontras dengan kehidupan seorang pejabat perusahaan swasta. Beliau senang sekali kalau bercerita tentang mantan anak buahnya yang sekarang sudah pada sukses di perusahaan itu. Namun, wajahnya agak berubah setiap kali bercerita tentang bagaimana keputusan untuk pensiun dini diambilnya beberapa tahun lalu. Sebagai karyawan kunci, tidak diragukan peran penting beliau. Sampai tiba saatnya perusahaan menerapkan system kerja yang baru dengan teknologi yang jauh lebih canggih. "Saya sudah nyaman dengan cara kerja yang lama. Toh hasilnya juga bagus-bagus saja. Biar ajalah, orang-orang muda saja yang menjalankan teknologi baru," kilahnya. Dan ketika teknologi baru itu diterapkan
sepenuhnya, tidak ada lagi tempat untuk mereka yang tidak bersedia mempelajari dan menyesuaikan diri dengannya. Teman saya tercenung mendengar ceritanya. Dia tahu bahwa perkembangan itu terjadi disemua perusahaan yang ingin bertahan. Apalagi perusahaan yang bagus dan ambisius. Dia kembali membayangkan masa depannya. Sambil sesekali melihat kehidupan mantan pejabat perusahaan swasta beken itu. Teman saya berkata kepada dirinya sendiri;"Aku ingin masa depan yang lebih baik." Lalu dia menyadari bahwa untuk bisa mewujudkan itu, dia harus terus berkembang. Kalau tidak, dia hanya akan menjadi karyawan udzur, yang bisa kapan saja tergudzur.
Perusahaan tempat kita bekerja tidak ubahnya seperti sebuah pesawat terbang. Orang diluar mengatakan jika pesawat kita bergerak sedemikian cepatnya. Tetapi Anda, nyaman saja berada didalamnya. Itu karena Anda bergerak 'sama cepatnya' dengan pergerakan pesawat. Dalam konteks pekerjaan, itu berarti kesediaan kita untuk menyesuaikan diri kearah perubahan yang sedang berlangsung di perusahaan. Belajarlah untuk lebih peka pada dinamika yang terjadi di perusahaan Anda. Cepat atau lambat, Anda akan terampil untuk merasakan sekecil apapun perubahan yang terjadi didalamnya. Dengan begitu, Anda bisa berubah sedikit demi sedikit seirama dengan perubahan itu. Sepuluh tahun lagi pun Anda akan tetap menikmati proses itu. Ketika orang lain pusing dengan 'perubahan' yang terjadi dalam '10 tahun terakhir', Anda menilainya sebagai sebuah pertumbuhan alami yang terjadi sehari-hari. Jadi, jika ingin nikmat saat menjalani perubahan di perusahaan, maka Anda harus
belajar untuk merasakannya. Lalu menyesuaikan diri sejalan dengan perubahan, dan dinamika yang Anda rasakan.
Mari Berbagi Semangat!
DEKA - Dadang Kadarusman – 1 November2011
Penulis buku "Natural Intelligence Leadership"(Tahap editing di penerbit)
Catatan Kaki:
Perubahan di perusahaan hanya akan bisa dinikmati oleh orang-orang yang bersedia untuk secara utuh menyesuaikan dirinya dengan perusahaan. Mereka yang setengah-setengah? Hanya akan menjadikan dirinya terseret arus perubahan itu.
Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda tidak berkurang karenanya.
Follow DK on Twitter @dangkadarusman
[Non-text portions of this message have been removed]
[gudang-ilmu] Artikel – Kenapa Pusing Dengan Kelemahan Orang Lain?
Artikel – Kenapa Pusing Dengan Kelemahan Orang Lain?
Hore, Hari Baru! Teman-teman.
Biasanya orang pusing karena kelebihan orang lain. Mereka punya mobil baru, kita kesal. Mereka yang naik pangkat, kita yang sebal. Kelebihan apapun yang dimiliki orang lain, bisa membuat kita pusing tujuh keliling. Tapi, ada juga lho orang yang justru pusing karena orang lain mempunyai kelemahan. Emang ada? Oooh, banyak banget orang yang justru pusing gara-gara kelemahan orang lain. Emang Anda tidak pusing? Misalnya, ni ye; atasan kita pemarah, lha kok kita yang pusing? Teman kantor suka membolos, kita yang kesal. Pesaing terdekat kita senang menjilat atasan, malah kita yang jadi panas hati. Ternyata, lebih banyak orang yang pusing karena kelemahan orang lain daripada gara-gara kelebihan mereka. So, what? Hmmh, implikasinya banyak sekali lho...
Dikisahkan ada seorang guru kebijaksanaan yang memiliki 2 murid. Diakhir pelajaran, beliau menugaskan kedua muridnya untuk mengembara, sambil saling mengawasi satu sama lain. Sang guru ingin mengetahui siapa murid yang paling sedikit berbuat kesalahan. Di akhir pengembaraan, sang guru memanggil sang murid dan memberinya kesempatan untuk membeberkan kesalahan temannya. Murid pertama, menceritakan seluruh kesalahan temannya. Jumlahnya banyak sekali. Lalu tiba giliran murid kedua. Dihadapan gurunya dia berkata; "Guru, teman saya ini melakukan kesalahan yang sama banyaknya dengan saya. Namun, mengingat begitu banyaknya kesalahan yang sudah saya lakukan; saya tidak punya lagi waktu untuk menceritakan kesalahan teman saya. Sekarang saya mohon diri untuk melakukan perbaikan." Lalu sang murid pamit. Kepada murid pertama, sang guru memberi hadiah berupa segenggam emas sesuai yang dijanjikannya. Kepada murid kedua, sang guru memberikan seluruh hidupnya untuk
menemaninya melakukan perbaikan. Perbaikan diri, hanya mendatangi orang-orang yang menyadari kelemahan dirinya sendiri, bukan mereka yang memusingkan diri dengan kesalahan dan kelemahan orang lain. Bagi Anda yang tertarik menemani saya membebaskan diri dari rasa pusing karena kelemahan orang lain, saya ajak memulainya dengan mempraktekkan 5 prinsip Natural Intelligence berikut ini:
1. Perbaiki diri sendiri terlebih dahulu. Anda masih ingat petunjuk keselamatan di pesawat terbang? Jika tekanan udara turun, segera gunakan masker oksigen. Jika ingin membantu orang lain, Anda sendirilah yang harus terlebih dahulu menggunakan masker oksigen itu. Sama dengan kelemahan-kelemahan yang kita saksikan. Tidak ada manusia yang tidak memiliki kelemahan. Semua kita begitu. Maka sebelum mengurusi kelemahan orang lain, sebaiknya kita terlebih dahulu membenahi kelemahan diri kita sendiri. Jika Anda mendahulukan masker oksigen orang lain, maka Anda sendiri yang mati, dan orang lain belum tentu tertolong. Jika Anda lebih mengurusi kekurangan orang lain, maka boleh jadi; Anda akan selamanya buruk. Padahal belum tentu orang lain itu berhasil Anda ajak untuk menjadi lebih baik. Orang yang diberi masker oksigen tidak akan berdebat; "Lha, kok Anda nyuruh saya pake masker? Anda sendiri tidak pake masker?" Dia akan langsung terima masker
yang Anda sodorkan. Tapi, jika Anda mengajak orang lain untuk melakukan perbaikan sementara Anda sendiri masih kacau, maka dia akan berkata;"Ngacalah, kau!" Beda jika Anda sudah menunjukkan kesediaan untuk melakukan perbaikan. Anda bisa mengatakan; "my personal improvement is in progress. So, let's do it together…"
2. Ambil peluang yang disembunyikannya. Seperti keping mata uang, semua hal memiliki dua sisi yang saling berseberangan. Atasan atau rekan kerja Anda di kantor, mungkin mengecewakan Anda. Terserah Anda, mau memandangnya dari sisi yang mana. Anda boleh melihatnya sebagai ancaman; "kalau begini terus, karir gua bisa terancam." Atau dari sisi sebaliknya; "nah, inilah peluang buat gue untuk menunjukkan siapa yang pantas mendapatkannya." Saya mengajak Anda untuk melihatnya dengan cara kedua. Kalau Anda punya atasan yang 'kurang oke' – misalnya – sebaiknya itu memacu Anda untuk menjadi pribadi yang oke, dong. Bukannya menggerutu dan mengomel terus. Toh akan ada saatnya ketika atasan Anda akan turun tahta. Bahkan, boleh jadi saat tidak terduga itu sudah dekat. Mana tahu? Daripada mengeluh terus, kan mending memastikan bahwa Anda sudah siap untuk saat penting itu. Jangan sampai kalau sudah jadi pejabat, ternyata Anda juga sama tidak
oke-nya. Kolega Anda yang tidak oke? Nape elo yang sewot? Malah bagus untuk menunjukkan bahwa Anda adalah orang yang lebih baik. Apapun yang Anda alami, selalu menyimpan peluang dan ancaman. Jika Anda ingin segalanya menjadi indah, ambil peluangnya.
3. Antisipasi dampak negatifnya. Teman Anda, mungkin memang sedang merencanakan sesuatu untuk menjegal. Atasan Anda mungkin memang tidak adil. Baru mungkin, karena tidak ada bukti yang menyokong argumentasinya. Baru mungkin. Karena boleh jadi itu hanyalah perasaan Anda saja. Tetapi, bagaimana jika itu benar? Sekecil apapun kemungkinan itu, jika Anda sudah melihat gelagatnya maka patut untuk mengantisipasi dampak negatifnya. Dampak paling besarnya adalah efek kepada perasaan dan emosi Anda. Jika perilaku mereka berhasil membuat emosi Anda tidak stabil, mengomel, menggerutu, lalu bereaksi negatif; maka Anda kalah. Makanya, penting untuk menjaga agar jangan sampai emosi atau mental Anda terimbas dampaknya. Setelah itu, barulah Anda pikirkan dampaknya pada karir Anda. Baik keberlangsungannya, maupun perkembangannya. Anda bahkan bisa memetakan seberapa besar dampaknya yang mungkin terjadi. Dan sebelum itu terjadi, Anda sudah bisa melakukan
antisipasi. Kebanyakan orang sibuk mengurusi perilaku negatif orang lain dengan melawan atau menentangnya. Padahal, itu hanya buang-buang waktu saja. Percuma. Mending Anda gunakan energi menggerutu itu untuk mengantisipasi dampak negatifnya bagi diri dan karir Anda. Sehingga jika hal itu terjadi, Anda tidak kaget lagi. Toh sudah bisa Anda perkirakan. Dan Anda, sudah punya exit stretegynya secara handal. Jika Anda mampu begitu, maka tak seorangpun bisa 'ngerjain' Anda.
4. Tingkatkan kualitas hubungan dengan jaringan. Banyak orang yang mengabaikan pentingnya membangun jaringan dengan orang-orang dalam perusahaan. Ada yang karena sungkan. Malas. Atau merasa tidak ada perlunya. Sejak menjadi seorang salesman pada tingkatan paling rendah, saya sudah bisa punya akses kepada Presiden Direktur. Beliau bukan saudara saya. Bukan pula kenalan orang tua saya. Tapi saya menjadi satu-satunya karyawan dari level paling rendah yang bisa berkomunikasi dengan baliau. Mungkin itu agak ekstrim. Anda bisa membangun hubungan yang baik itu dengan rekan-rekan atau manager dari departemen lain. Pastikan dalam membangun hubungan itu Anda menunjukkan aspek-aspek positif dan unggul yang Anda miliki. Bukan untuk mengelabui, tapi untuk membiasakan diri tampil dengan performa yang tinggi. Jika Anda mempunyai hubungan yang bagus dalam jaringan di perusahaan Anda, maka sangat sulit untuk menjatuhkan Anda. Anggap saja atasan dan kolega Anda
rada kurang fair pada Anda. Tapi hubungan bagus Anda di berbagai departemen lain, bisa menjadi benteng pelindung Anda. Bagaimana jika atasan dan kolega Anda justru orang-orang yang baik? Itu jauh lebih bagus lagi, kan? So, apapun kondisinya; cobalah untuk meningkatkan kualitas hubungan dengan jaringan di departemen lain di perusahaan Anda.
5. Terus berbaik sangkalah pada mereka. Penilaian Anda terhadap atasan atau teman bisa saja salah. Kalaupun mereka melakukannya, belum tentu disertai niat untuk menjatuhkan Anda. Jika atasan Anda bawel, misalnya. Atau menimpakan pekerjaan yang sulit hanya pada Anda. Boleh jadi itu bukan karena dia tidak sayang pada Anda. Mungkin memang begitu caranya untuk menggembleng Anda. Berburuk sangka para atasan yang seperti itu? Rugi, Anda. Teman yang Anda nilai tukang serobot itu. Belum tentu dia melakukannya untuk menyingkirkan Anda. Ini zaman persaingan ketat, bung. Segalanya mesti serba cepat. Serba lugas. Dan serba kompetitif. Menjadi orang yang gampang tersinggung di zaman ini rada tidak cocok. Orang ambisius sering terlihat arogan. Padahal bukan arogan. Orang-orang yang disiplin sering dikira galak. Orang-orang tegas sering dituduh tidak toleran. Berbaik sangkalah kepada mereka agar hati Anda lebih tenteram saat menghadapinya. Ada baiknya untuk
mewaspadai kemungkinan perlakuan buruk orang lain pada kita. Tetapi, waspada tidak sama artinya dengan curiga. Tetaplah waspada, dan tetaplah berprasangka baik. Karena dengan bagitu, Anda bisa tetap terjaga dari ancaman yang datang dari luar. Juga terjaga dari noda mental yang datang dari diri Anda sendiri. Dengan begitu, Anda tidak akan terpengaruh oleh sifat buruk yang menjadi kelemahan orang lain.
Kita mungkin sudah lama terbebas dari rasa iri atas kelebihan orang lain. Kita tidak merasa kesal lagi jika tetangga memberi hand phone baru, tv baru, atau mobil baru. Kita sudah cukup dewasa untuk menyikapi hal itu. Tetapi, kita sering tidak sadar telah terpengaruh oleh kelemahan dan kekurangan orang lain. Padahal, ketika menemukan kelemahan orang lain melalui perilaku buruknya kepada kita; sebenarnya Tuhan sedang memberi kita kesempatan untuk menjadi pribadi yang jauh lebih baik daripada mereka. So, mulai sekarang. Setiap kali melihat kelemahan orang lain, langsung setting mental Anda untuk mengambil hikmah darinya. Agar semakin hari, diri kita menjadi semakin baik. Sehingga suatu saat nanti, kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik.
Mari Berbagi Semangat!
DEKA - Dadang Kadarusman – 28 Oktober 2011
Penulis buku "Natural Intelligence Leadership"(Tahap editing di penerbit)
Catatan Kaki:
Orang yang melakukan tindakan buruk dihadapan kita sebenarnya sedang mengatakan; "tolong, jangan lakukan tindakan seperti ini..."
Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda tidak berkurang karenanya.
Follow DK on Twitter @dangkadarusman
[Non-text portions of this message have been removed]
[gudang-ilmu] Artikel – Benarkah Orang-Orang Sulit Itu Sulit?
Artikel – Benarkah Orang-Orang Sulit Itu Sulit?
Hore, Hari Baru! Teman-teman.
Salah satu tantangan pelik dalam tugas kepemimpinan adalah orang-orang yang kita sebut sebagai orang sulit. Nyaris disemua organisasi ada saja orang yang disebut sebagai orang sulit ini. Alasan mereka disebut orang sulit adalah karena sikapnya menimbulkan kesulitan bagi orang lain, khususnya atasan dan orang-orang yang mempunyai hubungan kerja dengannya. Pertanyaannya adalah; Apakah mereka yang menjadi 'orang sulit bagi kita'? Ataukah kita yang justru merupakan orang sulit bagi mereka? Merenungkan pertanyaan itu bisa membantu kita untuk melihat lebih jernih dan mengambil tindakan yang lebih konstruktif.
Film The Horse Whisperer berkisah tentang seekor kuda yang mengalami trauma setelah tertabrak trailer di New York City. Mengingat lukanya yang parah, dokter hewan menyarankan untuk lakukan eutanasia. Namun pemiliknya bersikukuh untuk mempertahankannya. Kuda itu sembuh secara fisik, tapi secara mental tetap sakit. Dia berubah menjadi sangat ganas melebihi keganasan kuda liar dialam bebas. Kuda itu membenci manusia, khususnya sang pemilik yang menungganginya saat kecelakaan terjadi. Di pegunungan Montana, ada seorang koboi yang cakap mengurus kuda hingga dijuluki sebagai Sang Pembisik Kuda. Melalui perjalanan panjang dan melelahkan, akhirnya kuda itu berhasil disembuhkan kembali. Manusia, bisa lebih liar dari hewan. Tetapi manusia memiliki perangkat akal dan nurani dengan derajat yang jauh melampaui mahluk manapun. Makanya, seliar-liarnya manusia; selalu punya peluang untuk menjadi pribadi yang berbudi. Apalagi sekedar orang yang kita sebut sebagai
'orang sulit', tentu bisa menjadi orang yang mudah bekerjasama. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar memahami orang sulit, saya ajak memulainya dengan menerapkan 5 prinsip Natural Intelligence berikut ini:
1. Jadilah orang yang 'mudah' bagi orang lain. Ini adalah prinsip paling mendasar yang sering dilupakan orang. Dalam pengamatan saya, begitu banyak orang yang menilai orang lain sebagai orang yang sulit padahal dia tidak menyadari bahwa dirinyalah sebenarnya orang yang sulit itu. Sebuah hubungan tidak bisa disokong oleh satu pihak; Anda saja, atau dia saja. Harus Anda dan dia. Jika Anda dan dia sama-sama sulit, maka hubungan itu tidak akan berjalan sebagaimana mestinya. Jika Anda mudah dan dia sulit, maka Anda masih punya peluang untuk tetap menjaga performa. Namun jika yang sulit itu justru Anda bukan dia, maka Anda nyaris tidak memiliki harapan untuk memperbaiki keadaan selama tidak menyadarinya. Jadi, langkah paling awal yang mesti kita ambil adalah memastikan bahwa kita sendiri bisa menjadi orang yang mudah bagi orang lain. Maka sekarang, mata kita tidak sepenuhnya tertuju kepada orang lain; melainkan berintrospeksi kedalam diri sendiri
juga. Anda yakin Anda bukan orang sulit? Tidak ada salahnya jika mengeceknya sekali lagi.
2. Fahami kebutuhan emosionalnya. Perhatikanlah sekali lagi orang-orang yang kita beri label sebagai orang sulit itu. Ternyata mereka bisa bekerjasama dengan sangat baik bersama orang-orang tertentu. Apa yang menyebabkannya tidak bisa bekerjasama dengan kita? Begitulah pertanyaan yang selayaknya kita ajukan. Hambatan emosional sering menjadi faktor penyebab yang paling menonjol. Akarnya bisa dari hal yang sangat sederhana, sampai kepada hal yang rumit hingga tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Untuk memahaminya, Anda bisa mengamati dari jauh, atau berdiskusi dengan orang-orang yang bisa bekerjasama dengannya. Atau lebih banyak menyediakan diri untuk mengenal orang itu lebih mendalam. Seseorang yang sulit misalnya, ternyata hanya membutuhkan pengakuan atas senioritasnya dari atasannya yang lebih muda. Setelah pengakuan itu didapatkan, dia menjadi respek kepada sang atasan. Merasa lebih berpengalaman atau pernah memimpin lebih banyak orang
juga demikian. Boleh jadi, ada kebutuhan emosi lainnya yang perlu kita kenali dan fahami. Jika dengan orang lain dia bisa bekerjasama dengan baik, maka tentu kita pun bisa mengelola orang itu dengan lebih baik melalui pemahaman terhadap kebutuhan emosionalnya.
3. Fahami masalah yang melatarbelakanginya. Setiap orang memiliki alasan untuk suka atau tidak dalam berhubungan dengan orang lain. Maka apakah seseorang suka atau tidak suka bergaul dan bekerjasama dengan Anda, tentu ada latar belakangnya. Misalnya, seseorang mengatakan kepada saya sambil marah-marah; "saya ini juga pernah menjabat seperti kamu selama 10 tahun, bla bla bla," Lalu beliau membeberkan fakta tentang betapa mengecewakannya kepemimpinan saya. Saya menghormati penilaiannya, namun saya tegaskan bahwa caranya berbicara dengan saya sama sekali tidak bisa memperbaiki keadaan. "Anda ingin semuanya berjalan lebih baik?". Tidak ada jawaban yang lebih pintar atas pertanyaan itu selain mengiyakan. "Jika demikian," lanjut saya "marilah kita bicarakan baik-baik." Dalam perbincangan selanjutnya beliau bercerita tentang masalah yang sedang dihadapinya di rumah hingga menjadi mudah marah dan cepat emosi. Saya hanya menunjukkan
respek dan empati, tidak lebih dari itu. Di akhir pembicaraan saya dipeluknya sambil dihujani permintaan maaf atas sikapnya selama ini. Dan saya mengimbanginya dengan kesadaran bahwa memang sudah menjadi kewajiban saya untuk melayani orang-orang yang saya pimpin semaksimal mungkin. Sejak saat itu, hubungan kami menjadi sangat baik. Ini kejadian sungguhan. Pada awalnya saya pun ikut terbawa suasana sehingga menilai beliau sebagai orang yang sulit. Tetapi setelah memahami latar belakangnya, terbukalah jalan untuk memperbaiki kualitas hubungan.
4. Seimbang antara tuntutan dan kemanfaatan. Sulitnya seseorang untuk diajak kerjasama bisa jadi karena mereka tidak melihat manfaat bagi dirinya sendiri. Misalnya, seorang bawahan yang menilai atasannya tidak bisa memperjuangkan kepentingannya. Mereka tentu akan cuek melebihi bebek. Terlebih lagi jika atasannya terlalu banyak menuntut. Bawahan Anda, akan semakin sulit dikelola jika Anda tidak dapat menyeimbangkan antara tuntutan dengan manfaat yang bisa Anda berikan kepada mereka. Bahkan sahabat baik Anda pun cepat atau lambat akan mempertanyakan; 'mengapa gue mesti mendukung elu yang cuma bisa membesarkan nama elu doank?' Faktanya, masih banyak atasan yang terlalu sibuk mempertahankan posisi atau imej pribadinya dihadapan atasan yang lebih tinggi. Hingga mereka lupa bahwa kinerjanya justru sangat ditentukan oleh bawahan. Sama seperti halnya Anda yang 'mengharapkan' sesuatu dari atasan Anda, maka bawahan Anda pun mengharapkannya dari
Anda. Seseorang yang percaya bahwa atasannya bisa melakukan sesuatu untuk membantu pengembangan karirnya, tentu akan lebih respek dan mudah diajak kerjasama. Maka menunjukkan kepada orang lain bahwa kehadiran kita bisa memberi manfaat bagi mereka merupakan faktor penting untuk melunakkan orang-orang sulit. Kelinci liar sekalipun, kalau ditawari wortel; tentu mendekat juga, bukan?
5. Lakukan dengan ketulusan. Menjadi pemimpin itu memang perlu tulus. Pemimpin yang tulus, jarang sakit hati. Meski ditentang atau dipersulit oleh orang-orang yang sulit. Dia terus berusaha mengajaknya untuk berubah menjadi lebih baik demi kepentingan orang itu sendiri. Dia terus mengupayakannya, meski tetap ditentang atau diremehkan. Sampai kapan? Sampai lepas kewajibannya selama dia memimpin. Artinya, selama jabatan itu melekat dia berkewajiban untuk mengupayakan rekonsiliasi dengan orang-orang sulit agar kinerjanya tetap tinggi. Tapi perlu juga diingat, bahwa 'jabatan' kita mempunyai konsekuensi 2 arah, yaitu; kita sebagai atasan dan/atau kita sebagai bawahan. Faktanya, setinggi apapun jabatan Anda, tetap saja Anda adalah bawahan bagi orang yang jabatannya lebih tinggi. Maka konteks pembicaraan kita ini berlaku baik kita memposisikan diri sebagai atasan yang berhubungan dengan bawahan yang kita anggap sulit. Juga berlaku pada saat kita
memposisikan diri sebagai bawahan yang mengira bahwa atasan kita adalah orang yang sulit. Dan selama kita melakukannya dengan ketulusan, maka kita bisa menikmatinya terlepas dari posisi apa yang kita mainkan. Karena dengan ketulusan, Anda bisa mengelola orang-orang sulit dengan lebih baik. Termasuk jika yang sulit itu ternyata adalah diri Anda sendiri.
Tidak hanya atasan yang suka menilai bawahannya sebagai orang sulit. Banyak juga bawahan yang menilai atasannya yang justru sulit. Di banyak organisasi atau perusahaan hal seperti itu terjadi. Walhasil kedua pihak saling tuduh sebagai orang yang tidak bisa diajak kerjasama. Atasan memvonis anak buahnya sebagai pembangkang, sedangkan bawahan menganggap atasannya sebagai pemimpin yang sewenang-wenang. Mana yang benar? Yang jelas, seorang pribadi yang baik bersedia melakukan introspeksi kedalam dirinya sendiri sebelum mengarahkan telunjuk kepada orang lain. Lalu dia berusaha untuk melayani demi kebaikan orang lain. Entah dia sebagai atasan, atau bawahan. Entah orang lain membalasnya dengan kebaikan, atau tetap menyulitkannya dengan beragam polah dan keburukan. Dia terus konsisten dalam usahanya mewujudkan perbaikan. Sedangkan untuk dirinya sendiri, dia cukupkan Tuhannya sebagai penyantun. "Hasbunallah wani'mal wakil," katanya. Cukuplah Allah
bagiku, dan Dialah sebaik-baiknya pelindung. Dengan prinsip itu, dia tetap teguh untuk mengupayakan rekonsiliasi dan perbaikan. Dan dengan cara itu, dia memastikan bahwa dirinya sendiri bukanlah orang yang sulit itu.
Mari Berbagi Semangat!
DEKA - Dadang Kadarusman – 27 Oktober 2011
Penulis buku "Natural Intelligence Leadership"(Tahap editing di penerbit)
Catatan Kaki:
Orang yang kita anggap sulit belum tentu benar-benar sulit. Boleh jadi, kita belum mengetahui cara untuk bekerjasama dengannya.
Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda tidak berkurang karenanya.
Follow DK on Twitter @dangkadarusman
[Non-text portions of this message have been removed]