Artikel:
Bersaing Dengan Teman Secara Sportif
Hore, Hari Baru! Teman-teman.
"Sesama bis kota dilarang
saling mendahului," dulu dikaca belakang bis umum selalu ada tulisan seperti
itu. Saya selalu tergelitik setiap kali ingat kalimat itu. Mengapa 'sesama bis
kota', ya? Tapi benar juga, soalnya bis kota kan tidak mungkin saling
mendahului dengan kereta api. Apalagi dengan pesawat terbang. Meski sekarang
sudah tidak ada lagi tulisan seperti itu, tetapi tidak berarti kalimat itu
tidak relevan lagi. Khususnya bagi kita yang bukan pengemudi bis kota. Lho, kok
kita? Iya, karena perilaku 'mengemudi' ugal-ugalan yang kita lakukan dalam
mengarungi roda kehidupan sering jauh lebih parah dari persaingan antar bis
kota. Persis seperti bis kota yang bersaing dengan sesama bis kota, kita hanya
bersaing dengan sesama kita juga. Dan, persaingan kita sering dikasih bonus
berupa rasa iri didalam hati.
Persaingan terjadi
dimana-mana. Di panggung politik. Di lingkungan tempat tinggal. Di kantor.
Dimana saja. Zaman sekarang, kita sudah jarang melihat persaingan yang sportif.
Contoh tidak sportif yang paling buruk ada di panggung politik yang penuh
dengan intrik. Disusul oleh persaingan dikantor yang sering dicederai oleh manuver-manuver
kotor. Di lapangan olah raga, sesekali kita juga melihat ada noda. Mungkin
sudah saatnya kita galakan lagi semangat bersaing secara sportif. Bagi
kebanyakan orang sportivitas itu bukan dalam konteks panggung politik atau
lapangan olah raga, melainkan dalam persaingan dengan teman di kantor. Bagi Anda
yang tertarik untuk menemani saya belajar bersaing dengan teman di kantor
secara sportif, saya ajak untuk memulainya dengan menerapkan 5 prinsip Natural
Intellligence berikut ini:
1. Mencari kelebihan sang pesaing. Dalam bersaing, kebanyakan
orang gemar mencari-cari kesalahan orang lain. Padahal, kesalahan orang lain sama sekali tidak memberi energy
positif bagi diri kita. Belajarlah untuk mencari kelebihan dan keunggulan orang
lain. Dengan begitu kita akan semakin termotivasi untuk terus meningkatkan
diri. Inti dari sebuah persaingan bukan sekedar bisa 'meraih' sesuatu yang
diperebutkan, melainkan 'bisa melakukan apa' dengan sesuatu yang kita raih itu.
Setelah meraihnya, kita bisa apa. Salah satu sumber kekecewaan kita kepada para
'juara' adalah ketika kita tahu bahwa setelah memenangkan persaingan itu,
ternyata sang juara tidak bisa melakukan sesuatu yang kita harapkan. Maka
ketika kita yang menjadi juaranya, orang lain juga memiliki tuntutan yang sama
kepada kita. Hanya jika kita benar-benar 'mampu' saja orang lain akan
menghargai 'kemenangan' kita. Jika tidak? Mereka akan berpaling kepada orang
lain sekalian berharap kita segera tergantikan. Maka carilah kelebihan yang
dimiliki oleh orang lain. Dan jadikan hal itu motivasi untuk terus meningkatkan
kualitas diri.
2. Menggandeng tangan sang pesaing. Dijalan-jalan, sekarang
kita sudah mulai melihat banyak bis gandengan. Ada 2 bis yang berjalan
bersama-sama. Dengan bis gandeng itu, lebih banyak penumpang yang bisa diangkut
dalam satu waktu. Lebih sedikit bahan bakar yang dihabiskan. Dan lebih efisien
tenaga sopir yang dikeluarkan. Ini adalah symbol indahnya sinergi yang bisa
kita bangun dengan sesama pesaing kita. Mari kita tengok teman-teman yang
menjadi pesaing terkuat di kantor. Bagaimana kalau kita konversi saja energy untuk
saling menyalip itu dengan kesediaan untuk berkolaborasi. Dijamin, manfaat yang
bisa kita kontribusikan kepada perusahaan akan jauh lebih baik dibandingkan
dengan ketika kita sama-sama ngotot untuk saling sikut. Tapi kan jabatan yang
diperebutkan hanya ada satu. Yang diperlukan oleh perusahaan bukanlah sekedar
kemampuan untuk mengalahkan pesaing. Tetapi ada soft skill yang jarang dimiliki
orang namun sangat penting, yaitu; 'mengelola kekuatan orang lain'. Ketika Anda
mendemonstrasikan kemauan dan kemampuan untuk berkolaborasi dengan pesaing
terkuat Anda; maka Anda sudah menunjukkan kemampuan langka itu.
3. Berikan pujian yang tulus kepada pesaing. Saat bersaing,
kita sering enggan untuk memberi pujian kepada lawan. Padahal, pujian
memberikan efek energy positif bagi kedua belah pihak. Lebih dari itu, pujian
tulus yang kita lontarkan bagi orang lain mengundang simpati pihak-pihak yang
tidak memiliki hubungan secara langsung. Jika saya memuji Anda dengan tulus
hati, maka bukan hanya Anda yang bisa merasakan ketulusan saya. Orang-orang
lain yang melihat saya memuji Anda pun merasakan hal yang sama. Sebagai bonusnya,
orang lain itu mempunyai kesan yang positif terhadap saya. Sama halnya jika
pujian atau kredit poin tulus itu Anda yang memberikan kepada pesaing Anda. Dan
biarkan orang lain mengetahui Anda melakukan itu. Maka selain Anda bisa
membangun hubungan emosi positif dengan pesaing Anda, maka orang-orang lain
yang 'berada di luar arena' akan memberikan simpatinya kepada Anda. Bagaimana
jika pujian itu malah membuat pesaing Anda semakin besar kepala? Bagus. Karena
semua orang akan semakin tahu kualitas yang sesungguhnya. Bukankah orang
menyukai sifat sportif dan ketulusan?
4. Menyokong kemajuan pesaing. Menjegal langkah orang lain? Ah,
itu sudah terlampau biasa kita temukan. Selain bukan perilaku bermartabat, itu
juga tidak menunjukkan keunggulan apa-apa. Kualitas kepemimpinan seseorang
justru terlihat dari kemampuannya untuk menyokong kemajuan orang lain. Mengapa harus
begitu? Karena menjadi pemimpin adalah tentang bagaimana membantu orang-orang
yang kita pimpin maju lebih pesat dan mengembangkan dirinya lebih cepat.
Mengapa banyak pemimpin yang tidak mampu untuk mengembangkan bawahannya? Karena
sebelum menjadi pemimpin mereka tidak belajar menyokong kemajuan orang lain.
Maka jadikanlah pesaing terdekat Anda sebagai 'murid' yang bisa Anda gunakan
untuk berlatih mengembangkan orang lain. Jika memang dia pesaing hebat, tentu
dia punya bakat. Sehingga Anda dijamin akan berhasil mengembangkannya. Dan itu
adalah prestasi kepemimpinan yang layak Anda rayakan. Lalu Anda pikirkan lagi, "aspek
apa lagi yang bisa Anda kembangkan dari pesaing yang satu ini?" Secara tidak
langsung, Anda telah menempa diri sendiri menjadi seorang pemimpin sejati.
5. Adopsi kualitas yang mutlak harus
dimiliki seorang pemimpin.Ada satu hal yang sulit untuk
dipahami, namun harus kita terima dengan lapang dada. Apakah itu? Itu adalah
fakta bahwa yang mendapatkan promosi di kantor, tidak selalu merupakan orang
yang paling terampil. Tidak juga selalu orang yang pencapaian kerjanya paling
tinggi. Misalnya, orang yang menjadi Sales Manager tidaklah selalu orang yang
persentase pencapaian salesnya paling tinggi. Mungkin hanya 101% saja. Fakta
ini sering membuat mereka yang meraih sales 110% uring-uringan. Mengapa? Karena
mereka tidak faham bahwa untuk memimpin, dibutuhkan banyak aspek. Bukan sekedar
angka-angka diatas kertas. Lihatlah point 1,2,3 dan 4 yang baru kita bahas. Itu
adalah aspek-aspek lain yang mutlak dibutuhkan dari seorang pemimpin. Karena kepemimpinan
bukanlah soal penguasaan aspek-aspek teknis belaka. Melainkan sebuah seni
mengelola orang lain, mengenali potensi-potensi mereka, dan menggunakannya
untuk mencapai tujuan perusahaan.
Tanpa
disadari, kita sering menganggap teman sebagai ancaman. Ambisi-ambisi pribadi
kita sering membisikan jika mereka bisa menjadi penghalang atas apa yang kita
inginkan. Mulai sekarang, mari kita ubah cara pandang terhadap para pesaing.
Bantulah mereka untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Tolonglah mereka untuk bisa
menghasilkan kinerja yang lebih tinggi. Doronglah mereka untuk terus
berprestasi. Kembangkanlah mereka, karena itulah hakekat kemimpinan yang harus
Anda miliki didalam diri Anda.
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman - 10 Agustus 2011
Natural
Intelligence Learning Facilitator
Website: http://www.dadangkadarusman.com
Buktikan "SEIKHLASNYA"; mulai 17 Agustus 2011
Catatan Kaki:
Sangat
mudah untuk menemukan orang-orang yang siap bersaing, namun sangat sedikit
orang yang bisa bersaing secara sportif.
Silakan di-share jika naskah ini Anda
nilai bermanfaat bagi yang lain. Tapi tolong, jangan diperjualbelikan ya.
Follow DK on Twitter @dangkadarusman
[Non-text portions of this message have been removed]
Blogger templates
[gudang-ilmu] Artikel: Bersaing Dengan Teman Secara Sportif
[gudang-ilmu] Artikel: Memudahkan Urusan Orang Lain
Artikel:
Memudahkan Urusan Orang Lain
Hore, Hari Baru! Teman-teman.
Ini adalah salah satu kalimat
paling popular diantara kita;"Jika bisa di bikin sulit, mengapa dibuat mudah…?"
Awalnya kita hanya menganggap itu sebagai sindiran. Lalu berubah menjadi
guyonan. Kemudian berevolusi menjadi kebiasaan yang menggoda kita untuk
melakukannya juga. Maka tidak heran jika semakin hari, semakin jarang kita
temukan orang-orang yang melayani dengan semangat untuk memudahkan urusan orang
lain. Cobalah ingat-ingat kembali, mana yang lebih banyak Anda rasakan;
pelayanan yang memudahkan urusan Anda atau sebaliknya?
Istri saya memiliki
pengalaman menarik. Suatu ketika dia menemani ibunya untuk kebutuhan pelayanan
kesehatan di tempat yang jauh. Dia sudah membawa ibu kami ke berbagai tempat,
sehingga mempunyai referensi pelayanan dari pengalaman sebelumnya. Di tempat
terakhir ini, dia mendapatkan pengalaman berbeda. Sebagai orang baru dia tidak
mengenal budaya setempat. Bukan itu saja, beberapa kelengkapan administrasi
tidak terbawa pula. Apa yang terjadi? Dia diminta untuk duduk di ruang tunggu, sedangkan
'semua urusan' ditangani oleh seseorang yang melayaninya di tempat itu. "Kenapa
sih tempat kita sendiri aku tidak menemukan pelayanan seperti ini?" begitulah
kalimat yang dilontarkannya. Jawabannya sederhana saja; kita tidak terbiasa
untuk memudahkan urusan orang lain. Bagi Anda yang tertarik untuk menemani saya
belajar memudahkan urusan orang lain, saya ajak untuk memulainya dengan
menerapkan 5 prinsip Natural Intellligence berikut ini:
1. Mulailah dengan tujuan yang tepat dalam
bekerja.Apa tujuan Anda bekerja?.
Uang? Bagus. Namun berhati-hati dengan efek sampingnya. Misalnya, meminta
imbalan yang tidak seharusnya Anda terima. Terimalah hanya uang yang memang
sudah menjadi hak Anda. Uang sering menjadi ukuran 'seberapa bersedianya kita memudahkan
urusan orang lain". Maka bekerja dengan tujuan uang, bisa menjadikan kita orang
yang benar atau salah. Bagaimana kalau kita mengganti tujuan bekerja itu dari
sekedar uang, menjadi 'ibadah'? Dengan niat itu Anda sudah pasti mendapatkan
uang yang menjadi hak Anda sepenuhnya. Tidak akan dikurangi. Dan dengan niat
ibadah itu, kita bisa memposisikan diri untuk melayani. Maka bagi orang yang
niatnya bekerja adalah ibadah, sangat mudah untuk memudahkan urusan orang lain.
Karena dalam ibadah, kinerja kita tercermin dari kemudahan yang dirasakan oleh
orang-orang yang kita layani. Jika didalam hati kita masih ada bisikan untuk 'melambat-lambatkan'
yang bisa cepat, mungkin niat bekerja kita belum tepat. Jika dalam bekerja kita
'mengabaikan kepentingan orang lain', mungkin niat kita masih salah. Jika kita hanya
mau memudahkan urusan orang lain jika dan hanya jika mereka memberi 'imbalan'
tambahan diluar hak kita; maka boleh jadi; tujuan kita dalam bekerja belum
diubah menjadi 'ibadah'.
2. Bangunlah reputasi yang baik untuk diri sendiri. Mari kita
coba perhatikan semua orang atau semua departemen di kantor kita. Ada
departemen yang mudah untuk diajak bekerja sama. Ada juga departemen yang semua
orang juga tahu betapa sulitnya untuk bekerjasama dengan mereka.Kita juga bisa melihat hal
itu di tingkat individu. Ada orang-orang yang kita semua kenal dia sebagai
pribadi yang senang sekali menolong orang lain. Ada yang dikenal sebagai orang
usil. Ada yang pemarah. Rajin. Malas. Dan ada pula orang-orang yang dikenal
sebagai orang yang paling gemar menyusahkan orang lain. Kata 'dikenal' yang
saya sebut berulang-ulang itu mengindikasikan reputasi. Sebab reputasi merujuk
kepada "bagaimana kualitas pribadi seseorang 'dikenal' oleh orang lain". Selalu
bersedia memudahkan urusan orang lain adalah salah satu kualitas yang mutlak
harus dimiliki oleh siapa pun yang ingin memiliki reputasi yang baik. Mengapa?
Karena reputasi kita dinilai oleh orang lain, bukan kita sendiri yang mengklaimnya.
Apakah Anda ingin memiliki reputasi pribadi yang baik? Jika ya, maka mulailah
dengan membiasakan diri untuk memudahkan urusan orang lain.
3. Tetaplah menegakkan prosedur dan kedisiplinan. Kadang-kadang
kita suka menjerumuskan diri kedalam sudut pandang negatif. "Kalau kita
memudahkan urusan orang lain berarti kita melanggar prosedur," kita bilang. Kita
berpikir begitu, mungkin karena kita belum bisa keluar dari kebiasaan buruk
untuk melanggar prosedur. Padahal, memudahkan urusan orang lain tidak selalu
harus melanggar prosedur. Justru untuk memudahkan urusan orang lain, kita harus
menegakkan prosedur; baik yang tertulis maupun yang sudah menjadi norma umum.
Misalnya, first come, first serve. Yang pertama datang, itulah yang dilayani.
Atau mengacu kepada KPI. Misalnya, dokumen di meja kita harus segera keluar
paling lambat dalam 1 hari. Semua permintaan disposisi dari departemen lain
harus sudah selesai selambat-lambat dalam 3 hari. Justru dengan mengikuti
prosedur itu kita bisa memudahkan urusan orang lain, karena prosedur dibuat
untuk memudahkan urusan semua orang. Jika
ada orang yang menegur Anda karena menegakkan prosedur, Anda tidak akan pernah
dipersalahkan.
4. Gunakan judgement profesional dan buatlah pengecualian. Prosedur
di perusahaan tidak selalu bisa mengakomodasi situasi khusus. Orang-orang yang
tugasnya berhubungan dengan pihak luar tahu benar tentang hal ini. Sayangnya,
seringkali tidak dimengerti oleh orang-orang supporting function. Makanya, orang
yang berhubungan dengan pihak luar sering tergencet diantara kewajiban untuk
melayani pihak luar dengan kengototan membabi buta orang dalam. Jika Anda yang
orang dalam itu, maka saya ingin mengajak untuk belajar menggunakan judgment
profesional Anda. Kita bukanlah robot yang bekerja sesuai dengan 'setelan'
program. Kita adalah manusia yang memiliki kemampuan untuk menilai dan
mengambil keputusan. Perhatikanlah jika teman Anda didepartemen lain meminta
pengecualian pada kondisi khusus. Janganlah bersembunyi dibalik kata 'prosedur'.
Justru kengototan kita bisa merusak reputasi perusahaan. "Maaf Bung,
prosedurnya 14 hari kerja," misalnya. Gunakan kemampuan berpikir dan
pengambilan keputusan Anda, maka Anda akan tahu bahwa; menyelesaikannya dengan lebih
cepat menjaga reputasi perusahaan dimata pihak luar yang menjadi mitra bisnis atau
pelanggan Anda. Lagipula, logika umum mengatakan bahwa dalam hal melayani
berlaku hukum;"lebih cepat, lebih baik'. Maka gunakanlah judgment profesional
Anda.
5. Balaslah keburukan dengan kebaikan. Ada juga orang yang menyulitkan
orang lain karena mereka merasa kesal kepada orang itu. Misalnya, "orangnya
jutek, ngapain saya mudahin!" Lho, yang jutek salah satu atau keduanya ya? Ada
juga yang bilang;"Dia kebiasaannya mau cepat melulu, biar kita lambatin aja
sekalian…" Ada lho orang yang berprinsip demikian. Mereka hanya memikirkan
untuk 'membalas' orang yang tidak 'cocok' dengannya tanpa mempertimbangkan
dampaknya bagi orang-orang lain yang tidak kelihatan. Ketika kita membuat susah
satu orang dikantor, mungkin efeknya terbawa ke rumah. Disana mungkin ada istri
yang sedang hamil. Atau anaknya yang demam. Balita yang membutuhkan susu. Atau,
mungkin ada anak yatim yang menantikan sesuatu. Kita tidak pernah tahu. Maka perlakuan
buruk kita kepada orang yang tidak kita sukai itu telah salah sasaran. Dan kita
jadi berdosa kepada mereka. "Tapi, saya tidak suka dengan cara orang itu
menyuruh-nyuruh saya. Bos saya juga nggak gitu-gitu amat!" Apakah Anda pernah
mendengar kalimat itu? Sounds familiar, ya. Hey, ingatlah bahwa kita hidup
bukan untuk saling berbalas keburukan. Anda adalah orang baik. Maka janganlah
ikut terseret untuk meninggalkan sikap dan perilaku baik. Bahkan jika orang
lain melakukan keburukan kepada Anda. Balaslah keburukan mereka dengan
kebaikan. Mengapa? Karena Anda adalah orang baik.
Memang
tidak mudah untuk memudahkan urusan orang lain. Khususnya memudahkan mereka
yang menurut penilaian kita sering menyulitkan kita. Sulit juga untuk
memudahkan urusan orang yang suka meminta kita cepat-cepat. Tetapi, bukankah
nilai diri kita meningkat semakin tinggi justru ketika kita bisa membuat mudah
urusan mereka? Jika hati Anda masih terganjal oleh kedongkolan atas perilaku
mereka yang hendak Anda mudahkan urusannya itu, barangkali nasihat dari guru
kehidupan saya bisa menjadi bahan renungan. Beliau mengatakan;"Siapa saja yang selama
hidupnya gemar memudahkan urusan orang lain, Maka Allah akan memudahkan segala
urusannya di dunia dan diakhirat." Oh, siapakah gerangan yang bisa memudahkan
urusan kita secara sempurna selain Dia Yang Maha Kuasa? Maukah Anda dimudahkan
urusannya oleh Tuhan? Jika demikian, belajarlah untuk memudahkan urusan orang
lain.
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman - 9 Agustus 2011
Natural
Intelligence Learning Facilitator
Website: http://www.dadangkadarusman.com
Buktikan "SEIKHLASNYA"; mulai 17 Agustus 2011
Catatan Kaki:
Keikhlasan
seseorang dalam melayani tercermin dari usahanya untuk memudahkan urusan
orang-orang yang dilayaninya.
Silakan di-share jika naskah ini Anda
nilai bermanfaat bagi yang lain. Tapi tolong, jangan diperjualbelikan ya.
Follow DK on Twitter @dangkadarusman
[Non-text portions of this message have been removed]
[gudang-ilmu] Pengumuman: Tarip ’BARU’ Seminar Dadang Kadarusman
Pengumuman:
Tarip 'BARU' Seminar Dadang Kadarusman
Hore, Hari Baru! Teman-teman.
Yth. Moderator Milist. Mohon
ijin untuk menyampaikan pengumuman ini. Jika isinya tidak sejalan dengan misi
milist, mohon dengan hormat untuk tidak ditampilkan di milist. Terimakasih.
Hari ini, posting saya khusus
sehubungan dengan tarip baru seminar 2 jam yang saya selenggarakan. Bersama ini
kami umumkan bahwa efektif mulai tanggal 17 Agustus 2011 bertepatan dengan
tanggal 17 Ramadhan 1432H, tarip seminar 2 jam yang dibawakan langsung oleh
Dadang Kadarusman adalah "SEIKHLASNYA".
Dadang Kadarusman mempunyai variasi
program pelatihan Natural Intelligence sbb: Seminar 2 jam, Pelatihan 1hari, 2hari,
dan 3hari. Mulai tanggal 17 Agustus 2011 (17 Ramadhan 1432H) Dadang berkomitmen
untuk menggunakan 30 hari waktu dalam sebulan dengan rumus 17:9:4. Dengan rumus
itu Dadang siap menggunakan 17 hari setiap bulan untuk melayani permintaan
seminar 2 jam dengan tarip SEIKHLASNYA, Mengalokasikan 9 hari untuk
menyelenggarakan training regular 1, 2, dan 3 hari dengan tarip normal, sedangkan
4 hari lainnya untuk istirahat bersama keluarganya. Total 30 hari.
Bagi Anda yang tertarik
mengetahui lebih lanjut tentang tarip SEIKHLASNYA untuk seminar 2 jam Natural
Intelligence langsung oleh Dadang Kadarusman; saya ajak untuk terlebih dahulu menyimak
5 catatan berikut ini:
1. Siapa saja yang berhak mendapatkan
pelayanan seminar 2 jam dengan tarip seikhlasnya?Lembaga-lembaga
baik swasta maupun pemerintah, profit, non profit, PMA dan PMDN. Program seminar
2 jam ini terbuka untuk semua kalangan.
2. Dimanakah lokasi seminar 2 jam bisa dilakukan? Jabodetabek
dan Ibu kota provinsi seluruh Indonesia. Mohon maaf untuk sementara ini kami
tidak melayani acara di daerah yang sulit dijangkau karena pertimbangan efektivitas
waktu dan energy.
3. Berapakah jumlah MINIMAL peserta seminar? Sampai saat ini
kami tidak menentukan jumlah minimal peserta. Tetapi untuk efektivitas dan
dampak yang optimal; kami menganjurkan agar peserta diupayakan bisa mencapai
sekurang-kurangnya 100 orang. Jika jumlah karyawan di perusahaan Anda tidak
sampai 100 orang misalnya, Anda bisa berkolaborasi dengan perusahaan lain, dan
mengorganisir acara ini bersama-sama. Selain bisa saling berbagi semangat, kita
juga bisa bersilaturahindengan lebih banyak orang dan menjadikan mereka
saudara.
4. Topik apa yang dibawakan? Dadang telah mengembangkan konsep
Natural Intelligence modern. Apakah itu Natural Intelligence? Bagaimana
aplikasinya untuk meningkatkan efektivitas pribadi, atau membangun keunggulan dalam
karir dan pekerjaan, serta aspek-aspek kehidupan lainnya? Untuk mendapatkan
gambaran umum tentang Natural Intelligence silakan menyimak artikel-artikel
yang ditulis oleh Dadang di www.dadangkadarusman.com atau melalui buku-buku karya Dadang yang sudah diterbitkan. (catatan: Dadang
tidak melayani permintaan berbicara dengan topik 'agama' karena bukan merupakan
bidang keahliannya).
5. Tentang Dadang Kadarusman. Lahir dan besar di Bandung. Lulus
dari Institut Teknologi Bandung (Angkatan 1989). Berpengalaman kerja selama
belasan tahun sebagai eksekutif profesional di perusahaan multinasional.
Penerima William E. Upjohn Award, USA tahun 2004. Sejak tahun 1999 mengikuti
berbagai pelatihan untuk menjadi trainer profesional di dalam dan luar negeri. Mengundurkan
diri sebagai pekerja professional bulan Januari 2009, kemudian beralih profesi
menjadi trainer dan pembicara publik. Dinobatkan sebagai The Best Performer
Trainer dalam event Trainer BootCamp & Contest - February 2011, oleh
Indonesia Inspiring Movement (I2Move). Menulis buku-buku inspiratif. Mengembangkan
konsep Natural Intelligence modern.
Tidak
perlu khawatir lagi dengan budget Anda. Bagi perusahaan-perusahaan atau lembaga
pemerintah maupun swasta yang tertarik untuk menyelenggarakan program seminar 2
jam Natural Intelligence langsung dari Dadang Kadarusman dengan tarip
SEIKHLASNYA dapat menghubungi kami melalui website kami: www.dadangkadarusman.com di bagian 'hubungi kami'.
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman - 8 Agustus 2011
Natural
Intelligence Learning Facilitator
Website: http://www.dadangkadarusman.com
Catatan Kaki:
Mohon
doa dari teman-teman semua semoga Dadang bisa melayani lebih baik, mendapatkan
nafkah lebih berkah, dan membangun keluarga yang tambah sakinah.
Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai
bermanfaat bagi yang lain.
Follow DK on Twitter @dangkadarusman
[Non-text portions of this message have been removed]
[gudang-ilmu] Artikel: Rendah Hati Ditengah Dominasi Dan Arogansi
Artikel:
Rendah Hati Ditengah Dominasi Dan Arogansi
Hore, Hari Baru! Teman-teman.
Dulu, kita diajari untuk
bersikap rendah hati. Sekarang, orang sering keliru menerjemahkan kerendahan
hati sebagai kelemahan. Walhasil, banyak orang yang bersikap rendah hati
bukannya dihormati, melainkan direndahkan. Kelihatannya nyaris tidak ada lagi
tempat untuk kerendahan hati ketika kita lebih mementingkan penampilan fisik,
dan pencapaian yang sifatnya materialistik. Padahal, tanpa kerendahan hati,
kita tidak mungkin sekedar mau menerima kehadiran orang lain, mendengar
kata-kata mereka, atau saling menghormati dengan setulus hati. Konsekuensinya,
banyak orang yang harus membusungkan dada atau memperlihatkan kepemilikan serta
'power' untuk sekedar mendapatkan pengakuan. Mereka yang 'berani' menampilkan
siapa dirinya adalah orang-orang yang diterima. Namun mereka yang rendah hati
cenderung tidak mendapat tempat. Akhirnya, kita lebih banyak mendapatkan 'tong
kosong' daripada yang benar-benar memiliki isi. Menurut pendapat Anda, masihkah
kita perlu bersikap rendah hati?
Di belakang panggung sebuah
forum keilmuan, saya menyaksikan seseorang mendapatkan 'teguran keras'. Saya sungguh
terkesan dengan sikap orang yang ditegur itu. Dia tersenyum, sambil
memperhatikan teguran yang ditujukan kepadanya. Meski saya tidak mengenalnya,
namun saya menyadari bahwa orang ini jauh lebih berilmu daripada orang yang menegurnya.
Beberapa pekan kemudian, tanpa diduga kami berjumpa lagi dan bisa berinteraksi
selama beberapa hari. Saya semakin menyadari jika beliau adalah orang yang 'berisi'.
Beberapa minggu setelah pertemuan itu, saya tahu jika ternyata beliau ini
memang bukan orang sembarangan. Sering tampil di radio dan beberapa kali di televisi;
bukti pencapaian pribadi yang melampaui kebanyakan orang. Saya tertegun. Oh, Tuhan
baru saja mengirimkan pelajaran penting melalui sosok pribadi berilmu tinggi
namun rendah hati. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar menjadi
pribadi yang berilmu tinggi namun tetap rendah hati; saya ajak untuk memulainya
dengan memahami 5 sudut pandang Natural Intelligence berikut ini:
1. Milikilah ilmunya, dan kuasailah keterampilannya. Ada orang yang
berpendaat bahwa kalau kita bersikap rendah hati, maka kita akan dilecehkan. Benarkah?
Ada benarnya juga. Kenyataannya memang ada orang-orang yang jika kita bersikap
sopan kepada mereka, malah menerjemahkan kesopanan dan kerendahan hati kita
sebagai kelemahan. Lalu mereka melecehkan. Jadi, apakah kita harus tetap rendah
hati? Ya. Tetaplah rendah hati. Lho, bukankah orang ini akan melecehkan kita?
Tidak. Mengapa? Karena tak seorang pun dapat melecehkan orang yang 'tidak bisa
dilecehkan'. Meskipun rendah hati, Anda tidak akan dilecehkan jika memang Anda tidak
dapat dilecehkan. Bagaimana caranya supaya kita tidak dilecehkan? Milikilah
ilmunya. Percayalah, tak seorang pun sanggup melecehkan orang-orang yang
berilmu tinggi. Dan kuasailah keterampilannya, karena tak seorang pun mampu
melecehkan mereka yang terampil. Maka tetaplah bersikap rendah hati, sambil
terus menambah ilmu dan meningkatkan keterampilan.
2. Berikan kemudinya, dan peganglah kunci kontaknya. Orang yang
rendah hati juga beresiko untuk dilucuti. Artinya, orang lain cenderung
mendominasi. Dikasih hati, makan jantung. Jadi, masihkah kita perlu bersikap
rendah hati? Tetep….. Teruslah bersikap rendah hati. Kalaupun orang lain ingin
mendominasi, izinkan dia. Perhatikan kata 'izinkan'. Jika Anda yang memberinya 'izin'
untuk mendominasi, siapa yang sesungguhnya memegang kendali? Minimal Anda tidak
akan merasa sakit hati. Maksimalnya? Anda bisa memegang kendali atas
orang-orang yang mengira bisa menguasai Anda, padahal tidak sama sekali. Dia
berkuasa karena Anda mengizinkannya. Perhatikanlah orang-orang di lingkungan
Anda, apakah ada yang 'rindu' dengan dominasi? Jika ada, maka Anda tidak perlu
menantang dominasinya. Berikan izin kepadanya untuk terus mendominasi, namun
jangan biarkan keputusan-keputusan penting yang berkaitan dengan diri Anda
diambil alih olehnya. Tetaplah mendengarkannya, namun Andalah yang menentukan
apakah kata-katanya boleh diikuti, atau tidak. Ibaratnya, Anda memberikan strir
kemudi kepada seseorang namun Andalah yang memegang kunci kontaknya.
3. Seraplah energinya, dan duplikasilah kekuatannya. Orang-orang yang dominan juga
cenderung untuk 'memamerkan kekuatannya'. Jika memang kekuatan itu
sangat bermakna maka memberi kesempatan kepada mereka untuk mendominasi namun
tetap memegang kendali bisa memberi kita kesempatan mendapatkan tambahan energy
dan kekuatan. Akui saja jika kita tidak serba tahu. Maka boleh jadi memang
seseorang yang mendominasi mempunyai sesuatu yang bisa kita pelajari. Kita
beruntung jika dapat menyerap energinya, karena kita bisa mendapatkan tambahan
kekuatan. Bagaimana jika tidak ada hal positif yang bisa kita serap darinya? Maka
itu artinya Anda berada dalam lingkungan berisi tong kosong. Jangan terlalu
lama di tempat seperti itu. Atau terlibatlah, hanya seperlunya saja. Tidak usah
terikat ditempat yang tidak bisa memberi manfaat. Carilah tempat lain dimana
Anda bisa secara leluasa untuk tetap bersikap rendah hati tanpa harus
kehilangan harga diri. Jika ditempat lain pun Anda temukan orang-orang yang
cenderung mendominasi? Seraplah energinya, dan duplikasilah kekuatannya.
4. Berpijaklah di dunia yang datar. "The world is flat," kata Thomas
Friedman. Dia merujuk kepada kemajuan teknologi informasi. Dalam konteks ini, saya
ingin meminjam istilah itu untuk menjelaskan bahwa kita semua berpijak didataran
yang sama tinggi. Tidak ada tinggi atau rendah. Di tempat datar, kita semua setara, sebanding,
setimbang. Karenanya, tidak relevan jika kita bersikap rendah hati sambil
pilih-pilih orang. Sangat
mudah untuk bersikap rendah hati kepada orang-orang yang mempunyai hirarki
lebih tinggi. Makanya, gampang untuk bersikap hormat kepada atasan tapi sulit
untuk sekedar sopan kepada bawahan. Mudah untuk ramah kepada orang yang mempunyai
pengaruh, tetapi rumit untuk sekedar melirik mereka yang 'bukan siapa-siapa'. Ringan
untuk menghargai orang-orang yang kita nilai lebih berilmu, namun berat rasanya
untuk sekedar mengakui keberadaan mereka yang kita anggap tak lebih pintar dari
diri kita. Ingatlah nasihat para Nabi;"Yang membedakan manusia dihadapan Tuhan,
hanyalah tingkat ketakwaannya." Dan ketakwaan tidak ada kaitannya dengan
jabatan, kebangsawanan, maupun kepemilikian. So, berpijaklah di dunia yang
datar.
5. Menyerahlah…. Salah satu kata terindah yang paling saya
sukai dari guru Yoga saya adalah 'surrender…'. Menyerahlah… Ini bertolak
belakang dengan kalimat-kalimat motivasi pada umumnya; "fight!" Lawanlah!. Oh, no
no,no…. Humbleness is to fight with surrender. Melawan dengan penyerahan diri.
Ehm, rada berat nih. Ya, ya, ya. Dalam Yoga, justru kita meraih kekuatan
melalui penyerahan diri. Bukan menyerah kepada lawan kita, melainkan kepada
alam semesta. Jika tubuh ini kita biarkan melebur dengan alam, maka dia akan menjadi
bagian dari alam. Mengikuti gerakan dan nafas yang dimainkan oleh alam. Sehingga
kita mulai memahami energy alam, sedangkan alam memberikan perlindungannya. Semua
hal di alam ini adalah energy. Dan kita tahu bahwa jumlah energy itu tetap. Tidak
berkurang. Tidak bertambah. Alias abadi. Jika kita mampu menyelaraskan energy didalam
diri kita dengan energy alam, maka energy itu akan menyatu sedemikian rupa
sehingga kita akan menjadi bagian dari energy alam. Bukankah tidak ada orang
yang bisa melawan kekuatan energy alam? Maka siapa saja yang surrender pasti
menjadi bagian dari alam. Sedangkan mereka yang 'melawan' harus berhadapan
dengannya. Ketika Anda tetap rendah hati, alam merespon Anda secara positif.
Dan dia akan melindungi Anda dari perlakukan buruk orang-orang yang arogan.
Benarkah? Benar. Buktinya, tidak ada orang yang simpati kepada mereka yang
arogan.
Kita
sudah cukup jauh membicarakan tentang resiko orang-orang yang bersedia untuk
tetap bersikap rendah hati. Dan kita juga sudah membicarakan orang-orang yang
memandang sebelah mata kepada mereka yang rendah hati. Pertanyaannya adalah;
apakah kita termasuk orang yang rendah hati itu, ataukah justru kita yang bersikap
negatif kepada orang-orang yang rendah hati itu? Jangan-jangan kitalah yang
termasuk kedalam kelompok kedua yang sedang kita bicarakan itu. Halah, betapa
gampangnya membicarakan kekurangan orang lain. Padahal ternyata, kekurangan itu
justru ada dalam diri kita sendiri. Kalau begitu, ayolah kita dengarkan kembali
nasihat orang tua kita untuk bersikap rendah hati. Karena bersikap rendah hati
berarti kita memiliki kemampuan yang tinggi namun tetap respek kepada orang
lain. Tidak usah risau dengan mereka yang merendahkan karena kerendahan hati
yang kita tunjukkan. Sebab Tuhan pun telah berfirman; "Adapun hamba-hamba Tuhan
Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan dimuka bumi dengan
rendah hati. Dan apabila ada orang yang merendahkan mereka, maka mereka
membalasnya dengan ucapan 'salam'. (kudoakan engkau selamat)."
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman - 5 Agustus 2011
Master
Trainer & Natural Intelligence Inventor
Website: http://www.dadangkadarusman.com
Catatan Kaki:
Jika
kita masih memilih-milih orang untuk bersikap rendah hati, mungkin kita belum
benar-benar mempunyai sikap rendah hati. Padahal kerendahan hati adalah milik
hamba Tuhan.
Silakan di-share jika naskah ini Anda
nilai bermanfaat bagi yang lain. Tapi tolong, jangan diperjualbelikan ya.
Follow DK on Twitter @dangkadarusman
[Non-text portions of this message have been removed]
[gudang-ilmu] Artikel: Apakah Anda Menyukai Tebu Atau Gulanya?
Artikel:
Apakah Anda Menyukai Tebu Atau Gulanya?
Hore, Hari Baru! Teman-teman.
"Habis manis, sepah dibuang,"
betapa pandainya para sepuh kita membuat perumpamaan. Orang-orang yang dinilai
sudah tidak berguna lagi disisihkan begitu saja. Kadang kita marah,
kalau diperlakukan seperti sepah. Padahal, kita juga akan membuang sepah itu
jika sudah tidak ada lagi rasa manisnya. Ini soal siapa pelaku dan siapa
korbannya saja. Kita tidak suka jadi korban, itu saja. Bukankah kita juga tidak
ingin menyimpan sepah dirumah? Wajar jika sepah itu dibuang. Yang tidak wajar
adalah yang belum menjadi sepah sudah dibuang. Juga tidak wajar jika kita sudah
menjadi sepah, tetapi menuntut orang lain untuk terus menerus menikmati rasa
manis yang sudah tidak kita miliki lagi. Ngomong-ngomong, 'sepah' itu apa sih?
Meski bukan daerah penghasil
gula, namun di rumah masa kecil saya terdapat rumpun-rumpun pohon tebu. Kami
menggunakan parang untuk memotong batangnya, lalu mengupas kulitnya. Kemudian
memotong batang tebu itu menjadi seukuran jari-jari telunjuk. Setelah itu? Kami
mengungahnya. Rasa manis memenuhi mulut kami. Lalu tiba saatnya dimana kunyahan
itu hanya menyisakan rasa tawar saja. Di mulut kami sekarang hanya tertinggal
ampas. Kami meludahkan ampas itu ke tanah. Benda tak berdaya diatas tanah
itulah yang kita sebut sebagai sepah. Habis manis, sepah dibuang. Memangnya
harus diapakan lagi sepah itu jika tidak dibuang? Kita sering menggambarkan
hidup yang sudah tidak berguna sebagai sepah. Kita sadar jika sudah tidak
berguna, tetapi masih ngotot untuk tidak dibuang. Itu mengindikasikan bahwa ini
adalah saatnya untuk mengubah paradigma tentang hidup. Bagi Anda yang tertarik menemani
saya belajar memperbaiki paradigma hidup itu; saya ajak untuk memulainya dengan
memahami 5 sudut pandang Natural Intelligence berikut ini:
1. Jadilah pemanis kehidupan. Disekitar kita begitu banyak orang yang suka
minum kopi. Tetapi, saya hampir tidak pernah mengenal orang yang minum kopi
tanpa gula. Bahkan sekalipun kita menyebutnya 'kopi pahit', ternyata ya
menggunakan gula juga. Mengapa gula selalu ada dalam setiap cangkir kopi yang
disajikan? Karena gula membuat rasa pahit pada kopi terasa menjadi manis. Anda
yang mengetahui rasa asli kopi tentu tahu jika sebenarnya kopi itu mirip arang.
Karbon yang tersisa dari benda hangus. Makanya rasanya tidak benar-benar enak.
Tetapi, ketika kedalam seduhan kopi pahit itu kita bubuhkan gula; tiba-tiba
saja kita menikmatinya. Bahkan menjadikannya sebagai minuman favorit. Bayangkan
jika kita bisa membuat rasa pahit kehidupan menjadi terasa manis. Tentunya kita
tidak akan lagi harus disiksa oleh rasa pahit itu. Bahkan boleh jadi, kita
menjadi penikmat rasa pahit itu. Kita bisa menari dalam deraan tantangan dan
rintangan. Kita masih bisa tersenyum ditengah terpaan angin cobaan. Dan kita
masih bisa bersyukur meski tengah berada dalam pahit getirnya cobaan hidup.
Semoga kita bisa menjadi pribadi yang mampu memaniskan kehidupan.
2. Jadilah pribadi yang manis, maka pasti selalu dikerubuti. Ditempat
tidur saya tiba-tiba saja banyak sekali semut. Setelah diperiksa, ternyata ada
sisa-sisa gula dari kue kering yang kami makan bersama anak-anak. Ternyata
benar; ada gula, ada semut. Para semut tidak lagi memperdulikan lokasi dan
situasi. Dimana ada gula, kesitulah mereka berbondong beriringan. Ini tidak
hanya benar bagi para semut. Coba saja perhatikan orang-orang yang bisa memberi
manfaat bagi lingkungannya. Para dermawan, selalu dikerubungi oleh para
pengikut setianya. Para alim ulama dan orang-orang berilmu, selalu menjadi
rujukan para pencari pencerahan. Siapapun yang bisa memberi manfaat kepada
orang lain, bisa dipastikan selalu dibutuhkan oleh mereka. Kita? Sesekali orang
lain itu mbok ya membutuhkan kita gitu loh. Tapi mengapa yang terjadi malah
sebaliknya ya? Mereka malah mengira
seolah kita ini tidak ada. Sekalipun kita sudah menyodor-nyodorkan wajah kita.
Tetap saja masih tidak mereka lihat. Sudah beriklan, bahkan. Tapi juga tidak
ditanggapi. Barangkali, karena kita belum bisa menjadi pribadi yang manis bagi
mereka. Karena sudah menjadi fitrah manusia untuk mengerubuti segala sesuatu
yang terasa manis.
3. Tetaplah manis, maka sepahmu tidak pernah dibuang. Mari
berhenti untuk marah atau kecewa jika orang lain membuang kita karena mereka
menilai kita sudah menjadi sepah. Mereka tidak salah. Kitalah yang harus
berpikir bagaimana caranya supaya tidak menjadi sepah. Sebab jika kita masih
tetap memiliki rasa manis itu, mereka tidak akan membuang kita, percayalah.
Saya mengenal seorang eksekutif senior yang mumpuni. Setelah memasuki masa
pensiun dari jabatanya yang tinggi, saya pikir beliau akan menjadi seperti 'tebu-tebu'
yang lainnya. Ternyata saya keliru. Perusahaan kemudian memperpanjang masa
kerjanya dengan system kontrak. Lalu beliau berpindah ke perusahaan lain. Lalu
beliau ditarik lagi oleh perusahaan lainnya. Bagi saya, beliau inilah salah
satu living legend mereka yang tidak pernah membiarkan dirinya 'kehilangan rasa
manis'. Meski usianya sudah jauh melampaui masa pensiun, beliau tetap manis. Rasa
manis yang masih tetap lestari didalam dirinya itulah yang menjadikan beliau
tetap menjadi rebutan perusahaan-perusahaan besar. Jadi jika kita tidak ingin menjadi sepah yang dibuang,
maka kita harus memastikan bahwa kita tetap menjadi pribadi yang manis.
4. Nikmatilah rasa manis secukupnya, tidak berlebihan. Sekarang,
cobalah ambil sesendok gula terbaik yang Anda miliki. Lalu suapkan sesendok
gula itu kedalam mulut Anda, dan kunyahlah. Apakah Anda masih menikmati rasa
manisnya? Pada dasarnya, semua orang menyukai rasa manis. Namun, tak seorang
pun bisa melahapnya terlalu banyak. Kita semua mendambakan manisnya kehidupan. Dan
kita sering terlalu serakah untuk merengkuhnya sendirian. Bahkan gula pun mengajari
kita bahwa terlalu banyak rasa manis membuat kepala kita pusing, bahkan kita
bisa mengalami sindrom toleransi insulin. Sungguh keliru jika kita mengira
hidup yang manis itu adalah yang semuanya serba indah. Tidak. Justru hidup yang
terlalu indah cenderung menjadikan kita pribadi yang serakah. Semacam sindrom
toleransi insulin kehidupan. Tidak peduli betapa banyak insulin yang diproduksi
dalam tubuh Anda, gula akan tetap menumpuk dalam darah Anda. Tahukah Anda apa
yang terjadi ketika dalam darah kita terdapat lebih banyak gula dari yang
seharusnya? Hmmmh, Anda tentu paham yang saya maksudkan. Bahkan rasa manis
kehidupan yang terlalu banyak pun bisa membahayakan kehidupan diri Anda
sendiri. Maka nikmatilah rasa manisnya kehidupan, namun tidak perlu berlebihan.
5. Semanis apapun kita, tidak bisa lepas dari fitrah. Sepah di
kebun tebu kami jumlahnya tidak terlalu melimpah. Namun jika dibiarkan tetap
saja menjadi sampah. Kami punya banyak pilihan untuk memperlakukannya. Jika kami
membuangnya ke kolong kandang domba, maka sepah itu akan menambah nutrisi pada
pupuk kandang yang kami dapatkan. Jika kami membuangnya ke kolam ikan, maka dia
akan menjadi tempat tumbuhnya plankton dan jentik-jentik makanan penggemuk ikan.
Jadi, apanya yang terbuang dari seonggok sepah? Tidak ada. Sepah benar-benar
menyadari bahwa dia tidak bisa melawan fitrah. Semua orang yang pernah muda
akan menjadi tua. Semua yang gagah perkasa akan menjadi tak berdaya. Semua yang
kuat menjadi lemah. Itulah fitrah. Tetapi mari sekali lagi kita lihat sang
sepah. Bahkan setelah masuk tempat sampah, dia tetap saja menjadi anugerah.
Jika kita ikut mengimani konsepsi hidup setelah mati, maka kita lebih beruntung
lagi. Karena dengan keyakinan itu kita kita bisa berharap memetik buah manis
tabungan kebaikan yang pernah kita lakukan semasa hidup. Kita boleh berharap
itu, karena iman kita mengajarkan bahwa setiap amal baik yang pernah kita lakukan
atas nama Tuhan, akan membuahkan imbalan yang sepadan. Beruntunglah kita yang
percaya, karena setidak-tidaknya kita memiliki harapan; bahwa fitrah kita
adalah untuk mempersiapkan tempat pulang alam keabadian.
Tidak perlu lagi untuk merasa
kecewa karena telah dihempaskan oleh lingkungan yang Anda harapkan memberikan
penerimaan. Mungkin mereka benar telah menghempaskan kita karena kita belum
bisa memberi rasa manis yang mereka butuhkan. Mungkin juga mereka keliru karena
tidak bisa menghargai rasa manis yang kita miliki. Tetapi, bukan itu yang perlu
menjadi fokus perhatian kita sekarang. Cukuplah untuk selalu memikirkan,
bagaimana caranya agar kita bisa memberikan lebih banyak lagi rasa manis?
Karena dengan rasa manis yang kita tebarkan, kita tidak perlu meneriaki para
semut untuk mengerubuti. Insya Allah, cepat atau lambat; mereka akan datang
sendiri.
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman - 4 Agustus 2011
Master
Trainer & Natural Intelligence Inventor
Website: http://www.dadangkadarusman.com
Catatan Kaki:
Jika kita merasa dibuang dari lingkungan
yang kita inginkan, mungkin itu karena kita sudah tidak memiliki rasa manis
yang bisa kita berikan. Atau, rasa manis kita lebih dibutuhkan ditempat yang
lain.
Silakan di-share jika naskah ini Anda
nilai bermanfaat bagi yang lain. Tapi tolong, jangan diperjualbelikan ya.
Follow DK on Twitter @dangkadarusman
[Non-text portions of this message have been removed]
[gudang-ilmu] Artikel: Finding The True Human Best Friend
Artikel:
Finding The True Human Best Friend
Hore, Hari Baru! Teman-teman.
Every human being needs a
best friend. Menurut pendapat Anda, apakah itu betul? Saya kira iya. Kita semua
mendambakan untuk memiliki sahabat dalam hidup kita. Sekarang cobalah
ingat-ingat kembali tentang sahabat-sahabat yang pernah Anda miliki. Lalu pilihlah
siapakah diantara mereka yang layak mendapatkan gelar sebagai sahabat terbaik bagi
Anda. Jika Anda sudah memilihnya, lalu tanyakan kembali; mengapa dia bisa
disebut sebagai sahabat terbaik bagi Anda?
Saya lahir dan dibesarkan di
daerah pertanian yang masih dilingkupi suasana alam bebas. Ayah saya memiliki
berbagai hewan ternak yang harus dijaga siang dan malam. Oleh sebab itu, kami
memelihara beberapa ekor anjing. Kami sepenuhnya sadar jika banyak orang yang
menilai buruk kepada anjing. Namun diantara sejumlah sisi buruk itu, kami
menemukan banyak sisi baik yang mengagumkan. Bahkan, anjing memperlihatkan
banyak kualitas positif yang diabaikan oleh manusia. Padahal, mestinya sih
manusia yang memiliki semua kebaikan itu. Bagi Anda yang tertarik menemani saya
belajar tentang kebaikan dari perilaku anjing; saya ajak untuk memulainya dengan
memahami 5 sudut pandang Natural Intelligence berikut ini:
1. Tutur kata yang baik selalu mendapat tempat yang baik. Kualitas seekor anjing
dinilai dari gonggongannya. Bahkan sekalipun Anda tidak memiliki anjing, Anda
bisa membedakan gonggongan bernada mengancam dengan gonggongan yang hangat bersahabat. Manusia
juga sama. Kita menilai seseorang dari apa yang diucapkan oleh lidahnya. Kita
cenderung menyukai orang-orang yang memiliki tutur kata santun dan sopan. Sebaliknya,
kita tidak terlalu nyaman berkomunikasi dengan mereka yang kasar dan arogan.
Maka pantaslah jika orang tua kita menasihatkan untuk senantiasa menjaga lisan.
Karena lisan sering 'menentukan nasib' seseorang. Meski para pemilik anjing cenderung menyukai
gonggongan anjing mereka sendiri, namun mereka pun mengakui jika anjing orang
lain mempunyai gonggongan yang lebih baik dari anjing miliknya. Meskipun manusia
memiliki banyak perbedaan dan cenderung menyukai pendapat kelompok
masing-masing, namun setiap orang memahami 'bahasa universal' yang berisi
pesan-pesan tentang kebaikan. Makanya, ketika Anda menyuarakan pesan kebaikan, pasti
kebanyakan orang menyukainya. Mereka tidak mempertanyakan agama Anda apa, atau jumlah
uang Anda berapa. Karena setiap tutur kata yang baik, selalu mendapat tempat yang
baik, dihati orang-orang baik.
2. Perilaku yang baik menghasilkan reputasi yang baik. Kualitas
seekor anjing juga dinilai dari perilakunya. Di kampung saya, dulu ada anjing
yang sangat galak milik seorang saudagar. Dia sering menyerang orang yang
lewat, bahkan sampai menggigitnya. Orang sekampung mengetahui reputasi buruk
itu. Setiap kali anjing itu berkeliaran, orang melemparinya dengan batu. Ada juga
anjing yang bersahabat, sehingga orang dikampung kami tahu tentang kebaikan
anjing itu. Kepadanya, tak seorang pun berani mengganggu. Bukan hanya anjing
yang reputasinya dibangun oleh perilakunya. Manusia lebih dari itu. Kita
menilai seseorang bukan sekedar dari kata-katanya, melainkan lebih kepada
perilakunya. Bagi manusia, perilaku bisa menjadi satu-satunya faktor penentu
reputasinya. Bayangkan jika Anda sering membaca artikel saya, lalu Anda
mendapati perilaku saya bertolak belakang dengan apa yang saya tulis dalam
artikel-artikel itu. Bayangkan Anda mendengarkan seseorang berceramah, tetapi
perilakunya berbeda 180 derajat dengan kata-katanya. Tidak mungkin seseorang
mempunyai reputasi yang baik dengan perilaku yang buruk. Karena hanya perilaku
yang baik saja yang bisa menghasilkan reputasi yang baik.
3. Membuang kecederungan untuk kurang ajar. Program Dog
whisperer di National Geographic berkisah tentang anjing-anjing yang mengambil
alih kekuasaan dari tuannya. Kita mengira bahwa anjing itu adalah mahluk
penurut. Ternyata tidak. Justru anjing bisa menjadi mahluk yang penuntut dan ingin
berkuasa. Cesar Millan the dog whisperer menjelaskan bahwa 'kekurang-ajaran' anjing
terjadi karena tuannya keliru mencurahkan kasih sayangnya. Jika tuannya selalu
memberikan apa yang diinginkan sang anjing misalnya, maka 'ekspektasinya' akan
meningkat terus sehingga dia akan marah jika suatu saat keinginannya tidak
terpenuhi. Lho, kok persis seperti sifat manusia ya? Jika 'apapun' keinginan
kita dengan mudah dipenuhi, maka kita sering terjerumus kedalam keserakahan. Jika
suatu ketika keinginan itu tidak dipenuhi, maka kita marah. Kita marah kepada orang
tua, atasan, bawahan, atau pemimpin. Bahkan kita marah kepada Tuhan yang 'tak mengabulkan
doa-doa kita'. Dog whisperer menunjukkan bahwa justru rasa sayang kita harus
disalurkan dengan cara yang mendidik. Antara lain dengan 'tidak mudah
memberikan' apa yang diinginkan oleh anjing kita. Anjing harus tahu bahwa tidak
ada hasil tanpa usaha. Bahkan dia harus tahu jika ada keinginan yang tidak
boleh dipenuhi. Dengan begitu, dia akan tumbuh menjadi anjing yang berperilaku bagus.
Barangkali, kita juga mesti sadar bahwa ketika tidak semua doa kita
terkabulkan, boleh jadi Tuhan sedang mendidik kita untuk menjadi pribadi yang
lebih baik.
4. Memiliki kesetiaan dan kepatuhan yang tinggi. Sudah sejak
lama anjing disebut sebagai hewan yang setia. Namun, ketika kesetiaan sudah
menjadi sifat umum maka itu tidak lagi menjadi faktor penentu keunggulan anjing
atas anjing lainnya. Sekarang, kualitas seekor anjing juga diukur dari
kepatuhannya kepada perintah tuannya. Banyak lomba yang diselenggarakan untuk
mempertandingkan aspek keunggulan itu. Jika tuannya bilang "Duduk!" , anjing
yang patuh akan duduk. "Berbaring!". "Melompat!".
"Kejar!". "Ambil!" dan berbagai macam perintah lainnya. Anjing yang paling
patuhlah yang dinilai paling baik. Manusia sering mengakui bahwa kita ini
menghamba kepada Tuhan. "Hamba," begitulah kita memberi label kepada diri kita
sendiri. Kita berikrar untuk menempatkan Tuhan sebagai tuan bagi kita. Maka
kesetiaan manusia juga diukur dari kepatuhannya kepada perintah Tuhannya. "Sami'na.
Wa-atho'na. Kami mendengar dan kami mematuhinya." Apapun titah perintah Tuhan,
kita bersedia mengikutinya. Tuhan bilang;"jaga akhlakmu," maka kita menjaganya.
Tuhan perintahkah;"jauhi harta yang bukan hakmu," kita menjauhinya. Tuhan katakan;"tundukkan
hawa nafsumu," maka kita pun menundukkannya. Kesetiaan kita ditentukan oleh
kepatuhan kita kepada perintahNya. Minimal, kita bisa menunaikan
perintah-perintah Tuhan yang hukumnya wajib. Lebih baik lagi jika kita bisa
melengkapinya dengan yang hukumnya sunnah.
5. Bersahabat dengan the real human best friend. Baru-baru ini
ada artikel yang merilis hasil penelitian yang menyatakan bahwa anjing sudah
bukan lagi human best friend. Posisinya sudah digantikan oleh komputer. Ya,
setidaknya itulah yang terjadi pada saya. Sudah tidak mungkin lagi untuk
memelihara anjing di lingkungan tempat tinggal saya saat ini. Tetapi, apakah
fakta ini benar-benar telah menggeser gelar anjing sebagai human best friend?
Siapakah human best friend sesungguhnya? Anjing atau Komputer? Mungkin kita
bisa menjawabnya dengan terlebih dahulu menentukan kriteria best friend. Apakah
"Selalu Ada Didekat Kita," bisa mewakili kebutuhan Anda terhadap sang best
friend? Ya. Sahabat terbaik adalah dia yang selalu ada kapan saja dan dimana
saja kita membutuhkan kehadirannya. Apakah anjing, atau komputer yang bisa
memenuhi kriteria itu? Anjing saya tidak boleh ikut ke sekolah. Komputer saya
sering kehabisan baterai. Jika demikian, tidak dua-duanya. Lalu adakah yang
bisa memenuhi kriteria berat itu? Guru kehidupan saya menceritakan firman Tuhan;"Jika
mereka bertanya kepadamu tentangKu, maka katakanlah bahwa Aku ini dekat." Beliau menambahkan, "Bahkan lebih dekat dari
urat lehermu sendiri." Bukankah Dia yang selalu menjaga jantung kita tetap
berdegup? Indeed, we have the real human best friend.
Kita sering menilai anjing
sebagai binatang yang kotor dan najis. Mungkin itu benar. Tetapi anjing memiliki sifat-sifat mulia yang
patut kita tiru. Meniru anjing? Tentu janggal jika yang kita tiru adalah sifat
hewaninya. Tetapi, bukankah Tuhan tidak menciptakan apapun untuk sebuah
kesia-siaan? Boleh jadi, Tuhan menciptakan anjing agar kita bisa lebih sadar
bahwa kita ini mahluk dengan derajat yang lebih tinggi. Maka jika kita masih
meniru perilaku buruk anjing, kita perlu malu lalu berhenti berperilaku seperti
itu. Tidak patut kita memelihara perilaku buruk itu. Dan jika kita melihat ada sisi
positif pada anjing, maka sudah sepantasnya jika kita belajar untuk memiliki
kualitas yang lebih baik dari itu. Dengan begitu, kita bisa menempatkan diri pada
posisi yang seharusnya. Posisi yang Tuhan anugerahkan, yaitu; menjadi mahluk
yang lebih mulia dari mahluk lainnya.
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman - 3 Agustus 2011
Master
Trainer & Natural Intelligence Inventor
Website: http://www.dadangkadarusman.com
Catatan Kaki:
Dimana letaknya kemuliaan yang kita
agung-agungkan itu, jika kita masih saja meniru perilaku buruk hewani?
Silakan di-share jika naskah ini Anda
nilai bermanfaat bagi yang lain.
Follow DK on Twitter @dangkadarusman
[Non-text portions of this message have been removed]
[gudang-ilmu] Artikel: Terbang Bersama Sang Layang-layang
Artikel:
Terbang Bersama Sang Layang-layang
Hore, Hari Baru! Teman-teman.
"Biarkan hidup mengalir
seperti air," begitulah nasihat yang sering kita dengarkan. Namun, ada kalanya
aliran air tidak membawa kita ke tempat yang semestinya. Maka mulailah kita
mempertanyakan banyak hal. Sewaktu dihadapkan pada situasi sulit, kita mempertanyakan;
mengapa Tuhan membiarkan saya mengalami ini? Saat dituntut untuk mengikuti
aturan, kita menggugat; mengapa saya tidak diberi kebebasan? Ketika mengalami
kehilangan, kita menghujat; mengapa saya tidak bisa memilikinya selamanya? Kadang
kita merasa bosan mengikuti aliran air, sehingga kemudian kita bertanya;
bisakah kita terbang saja?
Salah satu mimpi masa kecil
yang sering hadir dalam tidur saya adalah saat bermain layang-layang. Tadi
malam pun saya memimpikan hal itu lagi. Pagi ini saya bertanya-tanya, mengapa
saya sering memimpikan tentang layang-layang? Saya tidak bisa melepaskan diri
dari pertanyaan itu meski telah berusaha untuk melupakannya. Di kamar mandi, di
ruang tivi, di depan komputer. Kepala saya hanya dipenuhi oleh pertanyaan;'mengapa
harus bermimpi tentang layang-layang?" Saya belum benar-benar terpuaskan hingga
menemukan bahwa layang-layang menyembunyikan berbagai isyarat tentang
kehidupan. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar terbang bersama sang layang-layang;
saya ajak untuk memulainya dengan memahami 5 sudut pandang Natural Intelligence
berikut ini:
1. Untuk bisa terbang tinggi kita membutuhkan tempaan. Layang-layang
hanya bisa terbang jika ada angin yang menerpanya. Coba ingat-ingat kembali,
bukankah sewaktu kecil dulu Anda kecewa jika disore hari tidak ada angin untuk
menerbangkan layang-layang Anda? Hidup kita kira-kira juga demikian. Angin yang
bertiup kencang itu tidak ubahnya dengan terpaan yang menempa hidup kita. Kita
sering mengira bahwa kehidupan yang serba tenang itu jauh lebih baik. Lebih
nyaman mungkin iya. Tetapi lebih baik? Belum tentu. Justru dalam kehidupan yang
serba tenang dan nyaman, kita tidak terdorong untuk mengerahkan segenap kemampuan
yang kita miliki. Bayangkan ketika segala sesuatunya dalam hidup Anda sedang
baik-baik saja. Bukankah Anda tidak tertarik untuk berkeringat lebih banyak?
Padahal, boleh jadi dengan berkeringat itulah justru kegigihan diri Anda
semakin teruji. Rasa syukur Anda tergali. Dan nilai empati Anda kepada orang
lain menjadi semakin tereksplorasi. Layang-layang membutuhkan terpaan angin
untuk bisa terbang tinggi. Kita, membutuhkan tempaan dan ujian kehidupan untuk bisa
naik kepada tingkatan nilai pribadi yang lebih tinggi. Maka saat memasuki
masa-masa yang penuh dengan ujian dan cobaan, mungkin kita perlu lebih banyak
bersyukur. Karena kita punya kesempatan untuk bisa terbang lebih tinggi.
2. Untuk bisa bertahan kita membutuhkan kendali dan aturan. Apa
yang terjadi jika benang itu terputus?Layang-layang Anda akan hilang, bukan? Dia membutuhkan benang
yang mengikatnya untuk bisa terbang dengan baik. Benang yang mengendalikan dan
memberinya arah untuk berbelok ke kanan, ke kiri, atau bahkan berputar. Pendek
kata, layang-layang itu membutuhkan alat pengendali yang mengaturnya. Bayangkan
jika hidup kita dibiarkan tanpa kendali. Kita mengira bisa terbang bebas?
Tidak. Justru kita membutuhkan sesuatu yang mengendalikan hidup kita. Sistem
nilai, tatanan sosial, struktur kemasyarakatan, atau seperangkat peraturan yang
mesti kita patuhi. Keliru jika kita mengira hidup akan lebih baik tanpa aturan.
Mengapa? Karena orang-orang kuat cenderung bernafsu untuk mengambil keuntungan
paling banyak. Sedangkan orang-orang lemah cenderung diinjak-injak. Tanpa
aturan, kita cenderung bertindak sesuka hati. Yang penting tujuan kita
tercapai. Perhatikan kembali layang-layang yang talinya terputus itu. Apakah
dia terbang makin tinggi? Mungkin. Ketika angin memihak kepadanya. Tetapi setelah
angin berhenti bertiup, dia akan jatuh tanpa ada yang memperdulikannya lagi.
Seperti itulah hidup kita, jika tanpa kendali dan aturan.
3. Hidup adalah tentang menarik dan mengulur. Apa asyiknya
bermain layang-layang jika dia hanya dibiarkan diam. Kenikmatannya justru kita
rasakan ketika kita menarik dan mengulur benang nilon yang mengikat layang-layang
itu. Dengan tarikan itu dia bisa berbalik arah atau melakukan manuver-manuver
yang mengagumkan. Lalu kita ulur lagi, tarik lagi, dan ulur lagi. Kadang dia
menjauh, kadang mendekat lagi. Hidup kita tampaknya juga begitu. Ada begitu
banyak hal dalam hidup kita yang pergi menjauh. Kita sering sedih karenanya.
Ada banyak hal lain yang datang mendekat. Kita sering merasa berat menerimanya.
Padahal hidup memang tentang mendekat dan menjauh. Datang dan pergi. Timbul dan
tenggelam. Begitulah hidup yang sesempurna-sempurnanya. Yaitu hidup yang
memiliki kelengkapan dinamika yang dimainkannya. Tidak ada orang yang hidupnya
bahagia terus, percayalah. Bahkan mereka yang hartanya melimpah ruah. Warna
dalam kehidupan tidak didapatkan dari kehidupan yang serba nikmat. Faktanya,
kenikmatan yang kita miliki sering kehilangan makna jika kita tidak pernah tahu
'tidak nikmat' itu seperti apa. Sesuap nasi yang kita kunyah, akan terasa lebih
nikmat jika kita baru saja merasakan betapa perihnya tidak memiliki makanan.
Nikmat sehat tubuh ini justru mulai benar-benar kita sadari setelah kita diberi
sakit. Keindahan hidup terletak pada kombinasi tarik dan ulur itu.
4. Belajar untuk terbang dalam keindahan. Dulu, bentuk layang-layang
tidak terlalu banyak. Variasinya paling-paling pada sirip dan ekornya yang ditambahi
asesoris lebih panjang. Sekarang, kita bisa melihat layang-layang dalam kreasi
yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Ada yang berupa pesawat terbang,
naga, bahkan kapal pesiar. Banyak hal baru disekitar kita. Kita sering tidak
menyadari jika orang-orang disekitar kita terus berkreasi tanpa henti. Kita
sering merasa semua yang ada pada diri kita sudah menjadi yang terbaik, padahal
kita tidak memperhatikan kemajuan seperti apa yang telah berhasil diraih oleh
orang lain. Pergilah ke festival layang-layang. Disana akan Anda temukan
berbagai macam kreasi yang mencengangkan. Pergilah ke komunitas yang berisi
orang-orang kreatif, maka kita akan menyadari bahwa kita harus lebih kreatif
lagi. Bertemulah dengan orang-orang baik, maka kita akan terdorong untuk
menjadi lebih baik. Mereka bukan sekedar mengajak kita untuk terbang, melainkan
mengajarkan bagaimana caranya untuk terbang dalam keindahan perangai, dan
perilaku positif lainnya.
5. Terbangkan layang-layangmu setinggi-tingginya. Saat bermain layang-layang,
kita selalu ingin menerbangkannya setinggi mungkin. Kita biarkan mereka naik
menuju ke langit tertinggi. Semakin tinggi, semakin baik. Mengapa begitu?
Karena sudah menjadi sifat dasar kita untuk menyukai sesuatu yang bernilai
tinggi. Kualitas tinggi. Daya juang tinggi. Nilai-nilai pribadi yang tinggi.
Akhlak dan moral yang tinggi. Bahkan kita menyebut perilaku manusia yang
menyerupai binatang sebagai moral yang rendah. Mengumbar nafsu. Tidak tahu
malu. Serakah. Semuanya tidak cocok dengan cetak biru kepribadian kita. Secara
inheren kita memahami bahwa manusia diciptakan dengan nilai yang lebih tinggi
dibandingkan dengan mahluk lainnya. Oleh sebab itu, sudah sepantasnya jika
perilaku dan tindak tanduk kita mencerminkan hal itu. Jika kita tergoda untuk
melakukan perbuatan 'mirip binatang', ingatlah bahwa kita diciptakan dengan
derajat yang lebih tinggi dari mereka. Pantas jika kita belajar membebaskan
diri dari perilaku dan nafsu hewani. Karena Tuhan, telah menciptakan kita dalam
derajat dan tingkatan yang jauh lebih tinggi. Pantasnya, dengan semua
ketinggian yang sudah Tuhan anugerahkan itu, kita bisa belajar untuk semakin
mempertinggi nilai kemanusiaan kita. Karena Tuhan itu tinggi, dan tidak ada
yang lebih tinggi darinya. Dan Dia, hanya bisa dicapai oleh pribadi-pribadi yang
memiliki akhlak mulia yang tercermin dalam perilakunya yang bernilai tinggi.
Setiap hari, kita berhadapan
dengan tempaan dan terpaan angin kehidupan. Kita sering ingin berhenti karena
jengah menghadapi cobaan yang datang bertubi-tubi. Padahal, cobaan yang kita hadapi itu adalah
jalan menuju kepada tingkatan nilai pribadi yang lebih tinggi. Guru kehidupan
saya pernah mengingatkan;"Janganlah engkau mengira dirimu sebagai orang yang
baik, padahal Tuhan belum mengujimu dengan cobaan-cobaan yang menyulitkan."
Guru saya benar. Betapa mudahnya untuk menjadi baik ketika keadaan sedang serba
indah. Namun, cobalah sesekali membayangkan seandainya kehidupan kita tidak
sebaik itu. Apakah kita bisa menjadi pribadi yang juga baik? Semoga kita dapat
menjalani setiap ujian dan cobaan hidup dengan sebaik-baiknya. Dan kita lulus
untuk naik ke tingkatan yang lebih tinggi.
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman - 2 Agustus 2011
Master
Trainer & Natural Intelligence Inventor
Website: http://www.dadangkadarusman.com
Catatan Kaki:
Tuhan tidak memberi cobaan melebihi
kemampuan hambanya. Jika kita belum sanggup menjalaninya, mungkin kita belum
sungguh-sungguh menerimanya sebagai fitrah.
Silakan di-share jika naskah ini Anda
nilai bermanfaat bagi yang lain.
Follow DK on Twitter @dangkadarusman
[Non-text portions of this message have been removed]