Artikel: Siapa Bilang Dipromosi Itu Sulit?
Hore, Hari Baru! Teman-teman.
Kita semua tahu jika kebanyakan karyawan tidak pernah dipromosikan. Ada pula yang jarang. Tetapi kita juga tahu jika ada orang-orang yang sering mendapatkan promosi. Tentu saja, orang yang termasuk kelompok ketiga adalah mereka yang langka. Anda, termasuk kedalam kelompok yang mana? Jika Anda belum termasuk kelompok yang ketiga itu, maka ada baiknya Anda mengetahui beberapa faktor penting yang menyebabkan mengapa mereka bisa mudah mendapatkan promosi.
Saya beruntung karena termasuk kelompok orang-orang yang langka itu. Bahkan, pernah sampai belum genap 6 bulan menangani suatu jabatan baru sudah ditawari lagi untuk menangani posisi lainnya. Semua itu berakhir ketika saya berkomitmen untuk mengejar mimpi saya sendiri, dan saya harus mengatakan;"maaf, ini saaatnya untuk mengejar mimpi-mimpi pribadi saya sendiri. So let me say a good bye…" Beruntungkah saya dan orang-orang yang seperti saya lainnya? Mungkin iya. Tetapi, kelihatannya itu bukanlah seluruhnya soal keberuntungan. Ada sesuatu yang kami kondisikan sehingga kami mendapatkan kesempatan yang lebih besar dari kebanyakan karyawan lainnnya. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar bagaimana memperbesar peluang untuk mendapatkan promosi dalam pekerjaan; saya ajak untuk memulainya dengan mempraktekkan 5 pemahaman Natural Intelligence berikut ini:
1. Tebuslah kelangkaan dengan kelangkaan lagi. Jabatan yang lebih tinggi itu jumlahnya hanya sedikit alias langka. Maka untuk mendapatkannya Anda juga harus menjadi orang yang langka. Caranya? Jika jabatan yang lebih tinggi itu membutuhkan keterampilan yang tinggi, maka Anda harus memiliki keterampilan yang tinggi. Jika jabatan itu memerlukan kemampuan komunikasi yang tinggi, maka Anda harus memiliki kemampuan komunikasi yang tinggi. Jika jabatan tinggi itu membutuhkan keteladanan yang baik, maka Anda harus terlebih dahulu menunjukkan keteladanan. Jika jabatan yang tinggi itu butuh kemampuan memimpin yang solid, maka Anda harus memastikan bahwa diri Anda memiliki kemampuan memimpin yang juga solid. Jika Anda mampu 'menyamakan diri' dengan jabatan yang Anda inginkan itu, maka cepat atau lambat; para pengambil keputusan di perusahaan Anda tahu bahwa Anda, adalah orang yang pantang mendapatkan jabatan itu. Karena Anda, telah berhasil menebuh
kelangkaan dengan kelangkaan juga.
2. Bersikaplah proaktif terhadap penugasan yang sulit. Keliru, jika kita mengira bahwa jabatan yang lebih tinggi selalu berarti kenikmatan yang lebih tinggi. Beberapa jabatan menyebabkan Anda naik gaji, tapi sekaligus kehilangan tunjangan tertentu sehingga boleh jadi take home pay Anda menurun. Beberapa jabatan lebih tinggi bisa jadi menyebabkan Anda bekerja lebih berat dan lebih lama. Beberapa jabatan yang lebih tinggi itu boleh jadi memposisikan diri Anda pada situasi yang lebih tidak nyaman. Faktanya, promosi jabatan tidak selalu soal 'tempat yang lebih enak'. Syukur jika demikian, namun jika untuk pengembangan karir jangka panjang Anda harus sedikit perih, maka saran saya persiapkanlah diri Anda untuk menikmati perih itu. Caranya? Jangan biarkan keadaan memaksa Anda untuk menjalani perih itu. Sebaliknya, bawalah diri Anda untuk secara proaktif menyongsongnya. Mengapa? Karena dengan sikap proaktif itu, Anda membawa serta seluruh jiwa
raga Anda secara suka rela. Dengan begitu, Anda bisa lebih ringan hati dalam menjalaninya.
3. Bangunlah hubungan baik dengan atasan. Setiap promosi jabatan selalu melibatkan atasan Anda, baik secara langsung maupun tidak langsung. Meskipun bukan atasan Anda yang mempromosikan karena keterbatasan otoritas mereka, namun satu hal yang pasti; atasan Anda akan ditanya mengenai 'kualitas kerja' Anda. Kualitas kerja tidak semata-mata berkaitan dengan penyelesaian tugas secara teknis, melainkan juga aspek-aspek lainnya dalam pekerjaan. Membangun hubungan yang baik dengan atasan itu tidak pernah membuat diri Anda kecewa lho. Bahkan boleh jadi, hubungan itu bisa semakin melapangkan jalan menuju promosi jabatan Anda. Hanya ada satu kondisi dimana Anda boleh membangkang kepada atasan Anda. Kondisi seperti apakah itu? Ketika atasan Anda memerintahkan Anda untuk melakukan hal-hal nista. Atasan Anda tidak memerintahkan hal-hal nista bukan? Maka bersikap koperatiflah dengan atasan Anda. Karena sikap koperatif Anda bisa menjadi landasan
terbangunnya hubungan yang baik dengan atasan.
4. Bangunlah hubungan baik dengan departemen lain. Jabatan yang lebih tinggi itu kadang-kadang berada di departemen yang berbeda. Mungkin di departemen Anda tidak ada lowongan posisi yang lebih tinggi, padahal Anda sudah memiliki kualitas yang tinggi. Apakah Anda akan menunggu sampai jabatan itu ada, atau Anda bersedia untuk 'menjelajah' ke departemen yang berbeda? Jika Anda memilih alternatif kedua, maka itu berarti Anda harus berlatih menikmati perubahan suasana, budaya, serta kebiasaan belajar Anda. Hal paling alami dalam melakukannya adalah dengan membiasakan diri untuk bergaul dan berinteraksi dengan kolega-kolega Anda di departemen lain. Biarkan diri Anda terekspos disana. Lebih baik lagi jika Anda bersedia terlibat dalam proyek-proyek mereka. 'Perlihatkanlah' kualitas diri Anda kepada penangambil keputusan di departemen itu. Saya jamin; Anda akan masuk kedalam 'radar' talenta mereka.
5. Berpikir – bertindak – beperilaku layaknya pemegang jabatan yang Anda incar. Jika Anda ingin menjadi seorang manager misalnya, maka Anda harus terlebih dahulu memperlihatkan bahwa Anda memiliki kualitas pemikiran sekelas seorang manager. Bertindaklah sekualitas manager, dan bersikaplah layaknya seorang manager yang hebat. Lho, tapi kan sekarang saya belum menjadi manager? Justru sebelum menjadi managerlah Anda harus membangun kemampuan itu. Karena jika Anda sudah terlanjur menjadi manager padahal belum mampu untuk itu, maka Anda akan menjadi bahan tertawaan anak buah Anda. Tetapi jika sebelum menjadi manager Anda sudah membuktikan 'kualitas manager' dalam diri Anda, maka semua orang juga tahu jika Anda memang pantas untuk mendapatkan jabatan itu. Ingin menjadi direktur? Hmmmh, caranya juga sama saja. Berpikir, bertindak, dan berperilakulah sekelas seorang direktur. Cepat atau lambat juga Anda akan mendapatkan kesempatan untuk menjadi
direktur.
Banyak orang yang berangan-angan untuk mendapatkan promosi jabatan yang lebih tinggi. Tetapi mereka membiarkan kualitas dirinya biasa-biasa saja. Mereka memperlihatkan perilaku negatif terhadap penugasan atau kebijakan perusahaan. Mereka juga tidak koperatif dengan atasannya. Enggan pula untuk berkolaborasi dengan kolega di departemen lain. Karyawan seperti ini laksana punguk merindukan bulan. Saya mengajak Anda yang ingin dipromosi untuk menggunakan teknik yang saya tawarkan diatas. Jika Anda berhasil untuk melakukannya, maka Anda akan mendapatkan lebih banyak kesempatan untuk dipromosikan. Jadi, siapa bilang dipromosi itu sulit?
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman - 18 Juli 2011
Master Trainer & Natural Intelligence Inventor
Website: http://www.dadangkadarusman.com
Catatan Kaki:
Cara paling logis untuk menuntut promosi jabatan adalah menunjukkan bahwa kualitas kerja dan pribadi kita sudah seperti pemegang jabatan itu.
Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain.
Follow DK on Twitter @dangkadarusman
[Non-text portions of this message have been removed]
Blogger templates
[gudang-ilmu] Artikel: Siapa Bilang Dipromosi Itu Sulit?
[gudang-ilmu] Artikel: Mari Kita Berpikir Kecil Sajah......
Artikel: Mari Kita Berpikir Kecil Sajah......
Hore, Hari Baru! Teman-teman.
Size doesn't matter. Kita masih percaya itu? Bisa iya. Bisa juga tidak, sih. Yang jelas, dengan berpikir besar kita terdorong untuk menjadi pribadi besar dengan pencapaian yang besar. Kita sudah sejak lama memahami hal itu. Kali ini saya ingin mengajak Anda untuk melakukan sebuah eksperimen yang sebaliknya. Apakah itu? Berpikir kecil. Lho, kok berpikir kecil? Bukankah semua orang ingin menjadi besar dan sangat mendambakan ukuran yang besar-besar? Betul, tetapi faktanya kita sering sekali membutuhkan yang kecil-kecil. Bahkan ketika sedang berhadapan dengan suatu masalah, kita dinasihatkan; jangan membesar-besarkan hal yang kecil-kecil.
Kegandrungan kita terhadap teknologi nano adalah fakta tidak terbantahkan lainnya bahwa semakin hari, kebutuhan manusia semakin mengarah kepada 'hal-hal yang kecil'. Sebagian besar perangkat pendukung kehidupan kita dibuat menjadi semakin kecil, semakin compact, dan semakin percayalah kita bahwa semuanya semakin sesuai dengan kebutuhan kita yang sesungguhnya. Hal ini menunjukkan bahwa disadari atau tidak, sesungguhnya saat ini tengah terjadi 'revolusi' dimana 'yang kecil' mengambil alih peran dominan 'yang besar'. Dalam cara berpikirpun, sudah saatnya kita menyesuaikan diri dengan arus 'revolusi' itu. Bagi Anda yang tertarik menemani saya bereksperimen dengan cara berpikir kecil; saya ajak untuk memulainya dengan memahami 5 sudut pandang Natural Intelligence berikut ini:
1. Membangkitkan sikap rendah hati. Pernahkah Anda melihat seseorang patantang petenteng sekalian membangga-banggakan 'kebesaran' dirinya? Bagaimana kesan Anda terhadap orang itu? Kita bisa menilai orang dari cara berjalannya, cara berbicaranya, juga dari caranya memperlakukan orang lain. Sudah banyak bukti yang menunjukkan bahwa orang-orang yang mengira dirinya besar cenderung terjebak oleh 'jubah kebesarannya' sehingga mereka harus mengimbangi 'kebesaran' itu dengan semakin membesarkan egonya sendiri. Sebaliknya, orang-orang yang merasa dirinya masih kecil meskipun pencapaiannya sudah sangat besar tetap bisa bersikap rendah hati. Kepada siapa Anda menaruh rasa hormat paling tinggi; mereka yang mengira dirinya besar dan bersikap arogan; atau kepada orang-orang yang memiliki pencapaian tinggi namun tetap bersikap rendah hati? Meskipun Anda sudah berhasil memperoleh pencapaian tinggi, tetapi berpikirlah kecil; karena diatas gunung
masih ada gunung. Dan dengan kesadaran itu, Anda memupuk sikap rendah hati.
2. Merangsang untuk bermain di 'playing ground' yang lebih besar. Mungkin Anda pernah bertemu dengan seseorang yang pencapaian hidupnya termasuk luar biasa. Namun dia berkata begini;"Saya ini belum ada apa-apanya, Mas…." Hanya karena berendam didalam bathtub, tidak berarti bahwa kita sudah menjadi orang yang besar. Mengapa? Bukan karena kitanya yang besar, tetapi bathtub-nya yang kecil. Berenanglah di kolam, maka tubuh Anda tidak lagi bisa menutupi semua permukaannya. Bersampanlah di sebuah danau, maka Anda akan tahu besarnya diri Anda itu masih terlalu kecil untuk luasnya danau. Dan berlayarlah di samudera, maka Anda akan lebih sadar bahwa diri kita ini tidak ada apa-apanya dihadapan jagat raya. Maka sekarang saya mengerti, mengapa orang-orang yang berhasil menjaga dirinya untuk tetap rendah hati tidak pernah berhenti untuk terus berprestasi. Semakin besar pencapaian mereka, semakin sadar betapa kecilnya mereka. Dan semakin
terdoronglah mereka untuk bermain di 'playing ground' yang lebih besar. Jadi, jika Anda sering merasa diri sudah sangat besar, mungkin Anda perlu ikut mereka yang bermain di 'playing ground' yang lebih besar.
3. Segala hal besar dibangun dengan komponen-komponen kecil. Sebesar apa rumah tinggal Anda? Tidak akan sebesar itu tanpa butiran-butiran pasir. Sebesar apa perusahaan Anda? Tidak akan bisa besar seperti sekarang jika tidak ada 'orang-orang kecil' yang mau bekerja untuk Anda. Seberapa besar gaji yang Anda terima? Tidak akan sebesar itu jika tanpa kontribusi orang-orang bergaji lebih kecil yang Anda pimpin. Faktanya, semua hal besar yang ada dalam kehidupan kita dibangun dengan komponen-komponen kecil. Semoga hal ini semakin memperkuat kesadaran kita bahwa kebesaran yang saat ini kita miliki adalah hasil dari kontribusi peran-peran kecil yang mungkin sering tidak kita sadari, bahkan mungkin terabaikan. Dengan kesadaran ini, maka kita bisa menjadi pribadi yang tetap berpijak diatas bumi. Terutama ketika berhadapan dengan orang lain yang kita nilai 'kecil' dihadapan kita.
4. Membangun rasa percaya diri. Salah satu masalah yang paling sering menghambat kesuksesan seseorang adalah rendahnya rasa percaya diri. Percayalah, sekecil apapun peran yang bisa kita mainkan pasti akan memberi dampak yang besar jika kita melakukannya dengan kesungguhan. Cobalah perhatikan orang-orang yang paling sukses di kantor Anda. Sebagian terbesar mereka adalah 'mantan orang kecil' seperti Anda beberapa belas atau puluhan tahun sebelumnya. Jadi, sungguh tidak relevan jika sekarang kita membanding-bandingkan diri dengan mereka. Berfokuslah dengan kemampuan diri Anda, mengoptimalkan penggunaannya, dan perbaikilah apa yang kurang didalamnya. Lama kelamaan, Anda akan memiliki kemampuan yang sama baiknya dengan mereka yang sudah menjadi besar. Bahkan, boleh jadi Anda bisa melampaui pencapaian mereka. Apakah Anda masih merasa minder dengan pencapaian kecil yang hari ini Anda dapatkan? Jika demikian, pupuklah rasa percaya diri Anda. Dan
berfokuslah untuk mengaktualisasikan hal terbaik didalam diri Anda, dalam setiap karya yang Anda persembahkan.
5. Hal-hal kecil yang konsisten lebih berdampak daripada hal besar sekali tembak. Dalam banyak hal, kita sering tergoda untuk melakukan sesuatu yang 'besar' namun angin-anginan. Ketika semangat kita sedang memuncak, kita begitu menggebu-gebunya melakukan sesuatu. Begitu kita bosan? Kita mencampakkannya begitu saja. Pergilah ke fitness center setahun sekali. Lalu berolah ragalah sampai seluruh tenaga Anda terkuras habis dan setiap tetes keringat Anda mengering. Alih-alih menjadi sehat, Anda malah beresiko terkena serangan jantung. Begitu pula dalam aspek kehidupan kita yang lainnya. Kita tidak akan mungkin menghasilkan sesuatu yang benar-benar berdampak dengan melakukan hal besar sekali tembak. Melakukan hal kecil secara konsisten, itulah yang bisa membangun kemampuan terbesar kita. Membaca buku bagus, misalnya. Jika langsung lahap semuanya, maka kepala Anda akan pusing. Tetapi jika dicerna perlahan-lahan; Anda akan mampu memahaminya dengan
baik. Saat menjalani hidup, lebih baik melakukan hal-hal kecil secara konsisten daripada mengerjakan hal besar namun hanya sekali tembak.
Berpikir kecil bisa membantu kita untuk menuju kepada pencaian yang semakin tinggi. Pada saat yang sama, berpikir kecil juga menjaga diri kita untuk tetap berada dalam sikap bersahaja dan kerendahan hati. Sebab, dengan berpikir kecil; kita tetap bisa melihat peran orang-orang kecil. Dan semakin hari, kita semakin menyadari bahwa sebesar apapun kita, sungguh sangat kecil dihadapan Dia Yang Maha Besar.
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman - 15 Juli 2011
Master Trainer & Natural Intelligence Inventor
Website: http://www.dadangkadarusman.com
Catatan Kaki:
Mereka yang memiliki pencapaian tinggi namun tetap rendah hati, jauh lebih indah perangainya dibandingkan mereka yang sudah merasa dirinya terlalu besar untuk mengakui peran orang-orang kecil terhadap kebesaran dirinya.
Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain.
Follow DK on Twitter @dangkadarusman
[Non-text portions of this message have been removed]
[gudang-ilmu] Artikel: Menikmati Saat-Saat Kita ’Merasa’ Dijadikan Sebagai Bumper
Artikel: Menikmati Saat-Saat Kita 'Merasa' Dijadikan Sebagai Bumper
Hore, Hari Baru! Teman-teman.
"$#!^!, gua melulu yang dijadikan bumper!" Ini adalah umpatan yang cukup sering kita dengar. Rupanya banyak juga ya orang yang 'merasa' dirinya dijadikan sebagai bumper bagi kepentingan pihak lain. Selama ini, saya tidak benar-benar memahami makna umpatan itu. Tetapi tadi malam, saya mendapatkan 'penjelasan' yang terang benderang. Saya dalam perjalanan pulang dari sebuah sesi training di Bandung ketika di kilometer 66 tol Cikampek mobil di depan saya mengerem mendadak. Dia melakukan itu karena truck raksasa didepannya mengerem mendadak. Dan saya yakin, truck itu mengerem mendadak karena kendaraan didepannya juga mengerem mendadak. Semua mobil yang kompak mengerem mendadak didepan saya itu selamat dari hantaman mobil dibelakangnya. Sayang, mobil saya ditabrak oleh mobil lain di belakang saya. Benturan keras itu menimbulkan kerusakan berat di bumper belakang mobil saya.
Sekarang, saya mulai bisa memahami apa yang dirasakan oleh mereka yang 'merasa' dirinya dijadikan sebagai bumper. Mereka 'merasa' dirinya harus menanggung resiko dan kesulitan untuk melindungi orang atau pihak lain. Boleh jadi sebenarnya saya juga pernah diposisikan seperti itu. Mungkin, Anda juga demikian. Kita semua sama-sama pernah berada pada posisi sebagai bumper itu. Bedanya, ada orang yang 'merasa' dan ada yang 'tidak merasa'. Oleh sebab itu, kita perlu belajar untuk menikmatinya. Jika tidak, maka kita akan 'merasa' sangat tersiksa. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar menikmati saat-saat menjadi bumper; saya ajak untuk memulainya dengan merenungkan 5 pemahaman Natural Intelligence berikut ini:
1. Ikhlas menerima peran yang memang seharusnya kita mainkan. Saya memandang bumper mobil itu dengan perasaan sayang. Apa yang akan dia katakan seandainya bisa bicara? Apakah dia akan mengeluhkan perannya? "Mengapa aku yang harus menanggung sakit ini, sedangkan jok kulit itu enak-enakan bertengger di ruang ber-AC!" Setelah mengerahkan seluruh daya imajinasi yang saya miliki, saya menyimpulkan bahwa sang bumper tidak mengeluh seperti itu. Bersama baut, roda, tuas transmisi, pedal gas, lampu, serta semua komponen pembentuk mobil itu dia telah memahami perannya masing-masing. Mereka faham apa yang menjadi bagian tanggungjawabnya, serta resiko yang harus dipikulnya. Maka ketika resiko itu terjadi, mereka tidak mengeluhkannya sama sekali. Pedal gas tidak pernah mengeluh sekalipun diinjak-injak. Roda tidak kesal karena harus terus berlari sepanjang perjalanan yang tanpa henti. Mesin tidak mengomel sekalipun selalu berada pada tempat yang paling
panas. Dan bumper itu? Menerima dengan ikhlas ketika perannya sedang sangat dibutuhkan. Malam itu, saya mendapatkan pelajaran bahwa setiap orang memiliki peran dan fungsi masing-masing. Selama kita ikhlas menerima peran itu, maka kita akan dapat menikmatinya.
2. Setiap peran dan tindakan pasti ada perhitungannya. Pagi-pagi sekali, saya mendatangi bumper itu. Lalu mengelusnya dengan lembut, dan saya katakan;"Terimakasih, kamu telah menyelamatkan jiwa kami…." Itulah 'reward' terbaik yang bisa saya berikan. Tidak lebih. Karena bahkan bengkel pun tidak akan bisa mengembalikan bentuknya. Selesai sudah perjalanan hidupnya. Manusia, jauh lebih beruntung daripada benda-benda. Karena setelah 'selesai' menunaikan tugasnya, setiap insan akan memasuki 'dunia baru' dimana disana setiap peran dan tindakan yang kita mainkan diperhitungkan. Orang-orang yang telah secara ikhlas memainkan peran dan tanggunjawabnya pasti akan mendapatkan pahala yang memuaskan. Sedangkan mereka yang menggerutu atau melarikan diri dari tanggungjawabnya pasti akan ditanya;"mengapa kamu begitu?". Dunia hanyalah sekedar persinggahan bagi kita. Disini, kita hanya sekedar berhenti sebentar untuk mengumpulkan cukup
bekal. Agar di kehidupan berikutnya, kita bisa tinggal dengan nyaman dan menyenangkan.
3. Periksa apakah Anda sudah berada posisi yang seharusnya. Ikhlas, tidak sama artinya dengan selalu menerima apapun yang ditimpakan kepada kita. Ikhlas berarti bertanggungjawab penuh terhadap fungsi dan peran yang sepatutnya kita mainkan. Dan ikhlas, juga berarti menempatkan segala sesuatu pada posisi dan proporsinya masing-masing. Saya membayangkan jika bumper itu ditukar posisinya dengan stir pengendali kemudi. Atau sebaliknya. Tentu mobil itu tidak lagi bisa berfungsi. Begitu juga halnya kita. Jika fungsi dan peran kita adalah sebagai bumper, maka tidak fair jika kita iri pada fungsi orang lain yang kita pandang 'lebih enak'. Tetapi, jika peran kita sebagai baut, namun difungsikan sebagai bumper; maka kita berhak untuk menolak. Bukan menolak karena kita tidak menyukainya, melainkan karena fungsi kita tidak akan pernah optimal jika diposisikan tidak pada tempatnya. Maka jika Anda masih 'merasa' sering dijadikan sebagai bumper, ada
baiknya juga untuk melihat dimana sebenarnya posisi Anda. Jika memang itulah posisi Anda, maka ikhlasnya Anda berarti menerima kenyataan bahwa memang Anda adalah bumper. Jika posisi Anda bukan bumper, maka ikhlas bagi Anda adalah untuk mengingatkan 'sang pemilik mobil' bahwa Anda bisa berkontribusi optimal pada tempat dimana Anda seharusnya berada.
4. Memasang penyerap guncangan bagi jiwa kita. Makna harafiah dari kata 'bumper' adalah 'shock absorber'. Merenungkan makna ini saya menjadi ingat tentang betapa banyaknya hal yang bisa membuat jiwa kita shock. Kabar yang tidak kita inginkan, perlakukan yang mengecewakan, kehilangan sesuatu yang kita sayangi; adalah beberapa contoh peristiwa yang bisa mengguncangkan jiwa kita. Ada orang yang sedemikian terguncangnya hingga kehilangan akal sehat. Ada yang terus tenggelam dalam guncangan itu hingga tidak lagi memiliki semangat. Namun, ada pula orang-orang yang setelah diterpa berbagai persoalan; tetap tangguh dan tegar. Apa yang membedakannya? Mereka yang tegar itu memiliki penyerap guncangan bagi jiwanya. Mereka memasang jenis penyerap guncangan yang paling bisa diandalkan. Tahukah Anda apakah gerangan itu? Brand terbaik untuk bumper depan adalah 'sabar'. Sedangkan bumper belakang yang paling handal adalah 'tawakal'. Hanya dengan
dua jenis 'shock absorber itulah kita bisa menjaga agar jiwa kita tetap terlindung dari pengaruh buruk yang menyesakkan.
5. Kita dilindungi oleh bumper yang tangguh dan tidak pernah lengah. Fungsi utama sebuah bumper adalah untuk melindungi mobil dari kerusakan dan resiko yang membahayakan. Maka sebuah bumper harus sanggup melindunginya sepanjang waktu tanpa sedetikpun lengah. Sayangnya, bumper mobil itu memiliki kelemahan, yaitu; kekuatannya yang terbatas. Selain dia sendiri bisa hancur, mungkin ada bagian body mobil lainnya yang tidak terlindung. Kita semua sungguh sangat beruntung karena memiliki pelindung yang selain sangat kuat, juga tidak pernah sedetikpun berhenti menjaga kita. Masih ingatkah Anda siapa pelindung kita itu? Dia adalah Dzat yang tidak pernah tidur. Dia adalah sang pemilik segala kekuatan. Dan Dia, adalah sang pemilik hidup dan mati setiap mahluk. Mobil kesayangan Anda, mungkin menggunakan bumper tambahan yang selain berfungsi sebagai penguat, juga menjadi asesoris penghias yang indah. Kepada diri sendiri, bersediakah kita untuk menjadikan
Dia yang maha pelindung sebagai penjaga dan penghias hidup kita?
Setiap detik dalam hidup kita adalah kombinasi agung dari resiko dan kesempatan. Setiap detik dalam hidup kita adalah kesempatan untuk mendapatkan kebahagiaan. Tetapi, pada detik yang sama juga tersimpan kemungkinan kesedihan, bahkan kematian. Bisakah kita memohon keselamatan dan kebahagiaan selain kepada Tuhan? Dengan kata lain; Adakah pelindung yang lebih baik selain Allah? Tidak. Dialah Tuhan yang hanya satu. Dan satu-satunya yang bisa menjawab doa-doa kita. Dan Dialah satu-satunya yang layak kita sembah. Dialah sebaik-baiknya pelindung; dalam setiap detak detik-detik, yang kita lalui. Yuk, kita berserah diri hanya kepadaNya saja…..
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman - 14 Juli 2011
Master Trainer & Natural Intelligence Inventor
Website: http://www.dadangkadarusman.com
Catatan Kaki:
Beruntunglah mereka yang bersedia menjadikan Tuhan sebagai pelindung utamanya. Karena Dialah Yang Maha Perkasa. Dan Dialah Yang Maha Terjaga.
Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain.
Follow DK on Twitter @dangkadarusman
[Non-text portions of this message have been removed]
[gudang-ilmu] Artikel: Menerima Diri Kita Apa Adanya
Artikel: Menerima Diri Kita Apa Adanya
Hore, Hari Baru! Teman-teman.
I love you just the way you are, itulah yang kita katakan kepada seseorang yang kita cintai dengan sepenuh hati. Ciri jika kita menerima kekasih hati apa adanya antara lain adalah; tidak mempermasalahkan kekurangan yang dimilikinya, dan mensyukuri kelebihannya. Meski mempunyai kelemahan, namun perasaan sayang kita tidak berkurang kepadanya. Saat mengkritik pun kita usahakan agar tetap halus agar perasaannya senantiasa terpelihara. Dengan begitu, kita berharap dia membalasnya dengan cinta yang setara kepada kita. Lantas, kepada diri sendiri; apakah kita bersedia mengatakan kalimat indah itu? Artinya, bersediakah kita untuk menerima diri kita sendiri apa adanya?
Mencintai diri sendiri sama pentingnya dengan mencintai pujaan hati kita. Sedangkan hal terindah dalam mencinta adalah ketika kedua belah pihak saling berbalas cinta sejatinya. Bayangkan jika kita telah berhasil mencintai diri kita sendiri, maka 'diri kita' pun akan membalas cinta kita dengan seutuhnya. Cinta kepada diri sendiri bukanlah roman picisan. Bukan pula kisah nascistis. Melainkan sebuah penerimaan kepada ada adanya kita. Yaitu penerimaan secara sadar bahwa fitrah kita adalah untuk menjadi mahluk yang disukai oleh Tuhan. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar menerima diri kita apa adanya; saya ajak untuk memulainya dengan mempraktekkan 5 pemahaman Natural Intelligence berikut ini:
1. Kita adalah sesempurna-sempurnanya penciptaan. Dengan tubuh yang kurus dan kerempeng, masa kecil saya diwarnai oleh cemoohan. 'Siga aki-aki' – 'seperti kakek-kakek' – adalah sebutan paling tepat bagi teman-teman untuk menggambarkan bentuk fisik saya. Karena selain kerempeng, saya juga dianugerahi dengan tulang punggung 'bungkuk udang'. Melihat orang lain yang memiliki bentuk fisik yang jauh lebih baik, kadang saya merasa iri. Untungnya kita semua pernah mengakui bahwa sempurnanya kita sebagai manusia tidak diukur dari bentuk fisiknya, karena jika demikian; kita kalah sempurna dibanding binatang. Ada aqal yang menyertai penciptaan kita. Lebih dari itu, ada qalbu untuk mengimbangi fungsi aqal itu. Sekarang saya lebih memahami bahwa dengan menggunakan aqal dan qalbu itulah seorang manusia bisa mencapai kesempurnaan penciptaan yang telah diperolehnya. Sebab, memang kita ini adalah sesempurna-sempurnanya penciptaan.
2. Hasil karya kita adalah bukti kesempurnaan diri kita. 'Karya apa yang sudah engkau hasilkan?' Inilah pertanyaan yang sering mendatangi saya setiap kali menjelang tidur. Pertanyaan inilah juga yang sering membangunkan saya dari tidur dimalam senyap ketika sebagian besar orang nyenyak terlelap. Jika setiap manusia berhasil memenuhi misinya saat dikirim Tuhan, dunia pasti menjadi tempat yang lebih baik. Mereka yang dianugerahi kelapangan rezeki berkarya dengan rezekinya untuk memudahkan orang-orang yang membutuhkan. Mereka yang berilmu membuat karya-karya berkualitas dengan ilmunya bagi mereka yang haus pencerahan. Mereka yang kuat, mereka yang ramah, mereka yang tinggi, dan mereka yang rendah. Semuanya pasti bisa menghasilkan sebuah karya karena tak seorang pun lahir tanpa kemampuan untuk berbuat. Bahkan, saya melihat seseorang yang dilahirkan tanpa tangan dan kaki sanggup menghasilkan sebuah karya inspiratif yang menyadarkan jutaan umat
manusia, bahwa; anugerah Tuhan sungguh tiada terhingga.
3. Ada sisi baik didalam diri kita. Guru kehidupan saya mengajarkan bahwa kedalam diri seseorang Tuhan telah mengilhamkan kecenderungan untuk berbuat kebaikan. Tapi mengapa ada orang yang seolah hidupnya diisi oleh hal-hal negatif saja? Mungkin karena kita tidak pernah melihat orang itu saat dia sedang melakukan kebaikan. Atau, boleh jadi karena kita tidak berhasil membantunya menemukan sisi baik didalam dirinya. Atau, boleh jadi juga karena kita yang tinggal bersamanya tidak memberi cukup ruang kepadanya untuk memperlihatkan sisi baiknya. Bagaimana jika orang itu adalah diri kita sendiri? Bersediakah kita melihat saat diri kita berbuat baik? Bersediakah kita membantu diri kita sendiri untuk menjadi baik? Dan bersediakah kita untuk memberi ruang yang cukup agar diri kita sendiri bisa leluasa; untuk belajar menjadi pribadi yang lebih baik? Sungguh, siapapun kita; ada sisi baik didalam diri kita.
4. Mengijinkan orang lain berbuat baik kepada kita. Apa jadinya jika didunia ini tidak ada lagi orang yang mengijinkan orang lain untuk berbuat kebaikan? Bayangkan, jika senyum itu baik; maka kita dilarang untuk tersenyum. Jika saling menasihati itu baik, kita dilarang saling menasihati. Jika menghormati pendapat orang lain itu baik, maka kita dilarang untuk menghormati pendapat orang lain. Bagaimana jadinya ya? Saya menemukan bahwa manusia, memiliki sifat dasar untuk mengijinkan orang lain berbuat baik kepada mereka. Makanya, kita senang saat seseorang tersenyum kepada kita. Kita juga senang saat seseorang mengingatkan tentang sesuatu yang tidak patut pada perilaku kita. Dan kita juga senang ketika orang lain menghormati pendapat kita. Kita senang saat orang lain berbuat baik kepada kita. Dengan rasa senang itu, kemudian kita membalas kebaikan mereka sama seperti perlakuan baik mereka kepada kita. Bukankah indah dunia jadinya?
5. Memberi ruang kepada diri sendiri untuk melakukan perbaikan. Manusia adalah tempatnya salah dan alpa. Maka wajar jika manusia melakukan kesalahan atau kesilapan. Yang tidak wajar adalah ketika menyadari sudah melakukan kesalahan masih terus berendam dalam kubangan nista itu. Padahal, Tuhan pun berjanji untuk selalu memberi ruang kepada orang-orang yang ingin kembali. Masalahnya, maukah kita mengambil putaran untuk berbalik arah menuju kepada jalan yang disukai Tuhan? Jika kita tidak mau, maka tidak seorang pun bisa memaksa kita. Nasihat dan seruan tidak mungkin akan kita indahkan. Karena jika pintu hati kita tertutup rapat, maka kita tidak akan pernah mampu memberi ruang kepada diri sendiri untuk melakukan perbaikan.
Kita apa adanya adalah diri kita, yang memiliki segala hal yang dibutuhkan untuk menjalani hidup dengan baik. Menerima diri kita apa adanya adalah merenungkan betapa Tuhan telah menganugerahi kita dengan kesempurnaan penciptaan; sehingga kita sadar bahwa tidak ada sedikitpun celah untuk mengeluh. Jika masih ada keluh itu, mungkin karena kita terlalu berfokus kepada wujud fisik dan jasad kasar. Padahal, ketika menyebut diri sebagai mahluk sempurna; manusia tidak merujuk kepada kekuatan fisiknya, melainkan 'isi' didalam dirinya. Sebagai manusia, kita bisa salah – bisa benar. Dan sebagai manusia, kita memiliki sisi baik, dan sisi buruk. Sebagai manusia, kita juga mempunyai sisi lemah dan sisi kuat. Tak seorang pun bisa mencapai kesempurnaan sendirian. Karena kesempurnaan manusia terletak kepada kemauan untuk saling menyokong. Dan saling mengingatkan satu sama lain, bahwa; ada sesuatu yang bisa kita perbaiki dari hari ke hari.
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman - 13 Juli 2011
Master Trainer & Natural Intelligence Inventor
Website: http://www.dadangkadarusman.com
Catatan Kaki:
Menemukan sisi baik dalam diri sendiri adalah wujud rasa syukur kepada penciptanya. Sedangkan menggunakan kebaikan didalam diri itu untuk kebaikan sesama adalah pesta perayaannya.
Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain.
Follow DK on Twitter @dangkadarusman
[Non-text portions of this message have been removed]
[gudang-ilmu] Artikel: Keseimbangan Antara Penghidupan dan Kehidupan
Artikel: Keseimbangan Antara Penghidupan dan Kehidupan
Hore, Hari Baru! Teman-teman.
Ketika seseorang tengah berjuang untuk mendapatkan nafkahnya, kita biasa menyebutnya 'sedang mencari penghidupan'. Sedangkan ketika seseorang memberi nilai kepada dunia dengan apa yang bisa dilakukannya, maka kita menyebutnya; 'berkontribusi kepada kehidupan'. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun mirip, namun antara 'penghidupan' dan 'kehidupan' itu terdapat perbedaan yang signifikan. Albert Schweitzer menggambarkannya dalam sebuah kalimat yang indah; "We make a living by what we get, but we make a life by what we give". Kita memperoleh penghidupan dengan apa yang kita dapatkan, namun kita membangun kehidupan dengan apa yang kita berikan. Dalam nasihat itu ada sebuah isyarat untuk terus gigih berusaha agar mendapatkan nafkah yang layak. Namun pada saat yang sama, kita diingatkan untuk berkontribusi kepada orang lain. Mengapa? Karena nilai hidup kita tidak semata-mata ditentukan oleh pendapatan kita, melainkan oleh kontribusi kita.
Mana yang harus didahulukan; penghidupan ataukah kehidupan? Idealnya, keduanya bisa berjalan saling beriringan. Namun, hal itu bukan soal yang mudah. Kebutuhan nafkah sering menempatkan saya pada situasi dimana 'mendapatkan' sesuatu harus menjadi prioritas sehingga 'memberikan' sesuatu sering terabaikan. Awalnya saya percaya bahwa 'nanti kalau saya sudah sukses' maka saya akan bisa 'memberi atau melakukan sesuatu' untuk orang lain. Namun, kenyataannya saya tidak pernah sampai kepada titik yang bernama 'nanti' itu. Hal itu berlangsung terus sampai saya menemukan bahwa kita bisa berkontribusi melalui hal-hal yang paling sederhana. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar berkontribusi melalui hal-hal sederhana seperti yang saya maksud; saya ajak untuk memulainya dengan mempraktekkan 5 pemahaman Natural Intelligence berikut ini:
1. Berkontribusi tidak selalu berupa materi. Selama masih mengira bahwa berkontribusi harus selalu dengan materi maka seseorang akan selalu dihadapkan kepada perbenturan antara kebutuhan keluarganya dengan 'panggilan hati'. Oleh sebab itu, wacana kontribusi sering menjadi seperti hak istimewa orang-orang yang memiliki kelapangan harta. Jika untuk memenuhi keperluan biaya sekolah anak saya saja masih harus pusing tujuh keliling, bagaimana saya bisa melakukan sesuatu bagi orang lain? Untungnya, guru kehidupan saya mengingatkan bahwa memberi tidak harus selalu berupa materi. "Jika Engkau punya tenaga, maka tenagamu adalah sumberdaya utama dalam berkontribusi," begitu nasihatnya. Mungkin dengan waktu, atau ilmu yang Engkau miliki. Mungkin dengan sekedar sebuah kalimat penyemangat. Atau, bahkan sekedar dengan senyum yang menyenangkan hati orang-orang yang melihatmu. Ada banyak cara untuk berkontribusi. Dan semuanya itu, tidak harus berupa
materi.
2. Menemukan misi hidup. Kita sering melihat orang-orang yang tanpa lelah terus berkontribusi kepada kehidupan orang lain. Sekalipun untuk itu mereka harus berbagi energy dan usaha. Bahkan disaat hidupnya sendiri sedang 'tidak terlampau indah', mereka terus gigih untuk membuat hidupnya berarti. Mengapa begitu? Seseorang mengajarkan sebuah jawaban yang membuat hati saya terpana. "Misi hidup," katanya. Yakinlah bahwa kehadiran kita di muka bumi bukanlah tanpa misi. Sayangnya, kita sering lupa atas misi yang kita emban itu sehingga kita terlena dalam jibaku perjuangan mempertahankan hidup. Akhirnya kita tenggelam dalam kesibukan mencari penghidupan. Suatu hari, seseorang bertanya kepada saya "Apa misi hidupmu Nak?" Saya tidak dapat menjawabnya. "Temukan itu didalam hatimu," katanya. "Tanpa itu, Engkau tidak akan pernah menjadi rahmatan lil'alamin"
3. Hidup bukan sekedar soal duniawi. Kita sudah sejak lama percaya akan adanya kehidupan setelah kematian. Jika hal itu benar, maka setiap tindakan kita selama hidup di dunia menjadi patokan seberapa baiknya kualitas kehidupan kita dialam setelah kematian. Semakin banyak kontribusi yang kita berikan semasa hidup, semakin baik pula apa yang bisa kita dapatkan di dunia baru yang kelak akan kita huni. Jika kontribusi kita hanya sedikit, barangkali hanya sedikit juga apa yang akan kita dapat. Lantas, bagaimana jadinya kehidupan kita nanti jika kita tidak berkontribusi sama sekali? Pantaslah jika guru kehidupan saya selalu mengingatkan bahwa;"sebaik-baiknya manusia adalah dia yang paling banyak memberi manfaat bagi orang lain." Beliau mengingatkan agar tidak terlalu sering terjebak untuk mengurusi kepentingan-kepentingan pribadi semata. Apalagi sampai terjebak dalam ego yang menutupi hati sehingga sangat sulit untuk dimasuki panggilan-panggilan
suci. Padalah, hidup bukan sekedar soal duniawi.
4. Bertemanlah dengan orang-orang yang positif. Hidup adalah pertanda masih adanya energy didalam diri kita. Sedangkan energy didalam setiap individu merupakan perpaduan antara energy positif dan energy negatif. Maka wajar jika bentuk aliran energy didalam diri kita sangat dipengaruhi oleh bentuk energy yang ada di sekitar kita. Sangat sulit untuk menjadi positif jika kita dikelilingi oleh orang-orang yang bersikap negatif, misalnya. Atau sebaliknya, saat berinteraksi dengan orang-orang yang bersikap dan bertindak secara positif, kita jadi lebih mudah untuk melakukan hal-hal yang positif. Hal itu pasti terjadi baik secara terpaksa maupun sukarela. Di lingkungan orang-orang positif kita akan ikut 'terbawa arus' positif. Jadi jika ingin 'merasa ringan hati' saat melakukan hal-hal yang positif, maka sebaiknya kita memperbanyak teman yang bersikap positif.
5. Memberi ruang kepada orang-orang yang berkontribusi. Meskipun kita percaya bahwa cara untuk berkontribusi itu begitu banyaknya, tetapi tidak berarti kita bisa ikut berkontribusi. Boleh jadi karena kondisi tidak memungkinkan. Atau mungkin karena kita tidak ingin berkontribusi saja. Bagaimana pun juga kita adalah tuan bagi kehidupan kita sendiri sehingga kita berhak untuk menentukan apapun yang 'kita lakukan' atau 'tidak kita lakukan'. Namun, kebebasan itu juga berarti bahwa kita tidak memiliki hak untuk menghalangi orang lain yang hendak berkontribusi untuk kehidupan dunia yang lebih baik. Artinya, bersamaan dengan kewenangan kita untuk menentukan pilihan hidup kita sendiri terselip sebuah kewajiban untuk menghargai aspirasi orang lain untuk berkontribusi. Maka sudah sepatutnya kita memberi ruang kepada orang-orang yang berkontribusi, bukan? Sebentar dulu. Jika Anda memberi ruang kepada orang-orang yang hendak berkontribusi; maka
sesungguhnya Anda pun sudah berkontribusi lho.
Jika kita masih percaya akan keberadaan sisi baik dan sisi buruk dalam diri kita, maka kita pasti percaya bahwa kita bisa berkontribusi untuk menebarkan nilai-nilai kebaikan yang kita miliki. Untuk memulainya, kita bisa bertanya kepada diri sendiri; nilai-nilai kebaikan apa yang bisa saya kontribusikan hari ini?
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman - 12 Juli 2011
Master Trainer & Natural Intelligence Inventor
Website: http://www.dadangkadarusman.com
Catatan Kaki:
Banyak orang bersedekah karena percaya bahwa harta mereka akan bertambah banyak seiring dengan semakin banyaknya sedekah yang mereka berikan. Agar semakin bersemangat untuk berbagi kebaikan dengan orang lain, mungkin kita juga harus belajar percaya bahwa kebaikan didalam diri kita akan bertambah seiring dengan bertambahnya kebaikan yang kita tebarkan.
Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain.
Follow DK on Twitter @dangkadarusman
[Non-text portions of this message have been removed]
[gudang-ilmu] Artikel: Proporsi Toleransi Terhadap Kesalahan Karyawan
Artikel: Proporsi Toleransi Terhadap Kesalahan Karyawan
Hore, Hari Baru! Teman-teman.
Saya pernah menegur seorang pemimpin yang memarahi bawahannya sampai menangis. Tidak ada kesalahan yang boleh dibiarkan, memang. Tetapi apakah harus sampai sejauh itu? Saya sepakat jika pada situasi tertentu sikap keras itu sangat diperlukan. Tetapi tidak pada semua situasi. Saya juga termasuk tipe pribadi 'whatever it takes'. Tetapi, memarahi karyawan sampai menangis; tentu ada rambu-rambunya. Sangat mudah untuk membuat bawahan menangis, asal tahu saja jika hatinya balas memaki dan melaknat selama-lamanya. Tetapi saya percaya bahwa ada cara ampuh untuk membuat orang menangis, tanpa menyakiti hatinya. Sejauh yang saya ingat, ada 3 kejadian dimana orang yang saya pimpin menangis di ruangan saya. Dan saya yakin semuanya tidak menyebabkan saya dikutuk oleh mereka. Namun hanya satu kejadian yang akan saya ceritakan disini dengan harapan bisa memberi inspirasi bagi proses pematangan jiwa kepemimpinan kita.
Jika Anda termasuk pemimpin yang gampang mengeluarkan kata-kata kasar kepada bawahan, mungkin ini saatnya untuk berlatih dengan cara yang berbeda. Jika Surat Peringatan sangat mudah tercetak dari printer Anda, ini juga saat yang tepat untuk menghemat kertas sekaligus menemukan cara lain yang lebih berdampak. Meskipun dibenarkan oleh aturan yang berlaku, tetapi coba secara fair melihat fakta bahwa ternyata SP sama sekali tidak bisa mengubah seseorang. Saya lebih memilih membuat 'gentlement agreement' secara langsung daripada mengeluarkan SP. Dan saya tidak pernah meleset dengan hal itu. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar tentang bagaimana menemukan proporsi toleransi terhadap kesalahan karyawan; saya ajak untuk memulainya dengan mempraktekkan 5 kemampuan Natural Intelligence berikut ini:
1. Fahamilah bahwa mereka sama manusianya seperti kita. Sungguh beruntung jika kita menyadari bahwa sebagai manusia, kita pun bisa melakukan kesalahan yang sama. Tidak ada gunanya memelihara sifat takabur dan terlampau yakin jika kita ini adalah manusia yang bersih dari kesalahan. Jika bukan berbohong, maka kita mungkin sudah lupa apa yang pernah kita lakukan dimasa lalu. Atau, barangkali kita bisa tergelincir dimasa yang akan datang. Kesadaran semacam ini penting agar ketika menemukan adanya kesalahan yang dilakukan oleh bawahan, kita menyikapinya secara proporsional. Bersikap over-reactive sama sekali bukanlah cara seorang pemimpin sejati menangani kesalahan yang dilakukan oleh anak buahnya. Sebab ketika menangani sebuah kesalahan, Anda tidak hanya berurusan dengan pelakunya. Anda sedang mengirimkan sinyal kepada semua orang yang Anda pimpin. Mereka menilai cara Anda mengatasinya, dan mereka mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan bagi dirinya
sendiri. Sinyal itu sangat menentukan sikap semua orang di team Anda. Jadi, fahamilah bahwa mereka sama manusianya seperti Anda.
2. Dahulukan keteladanan yang Anda sendiri lakukan. Berapa kali Anda mendengar seorang pemimpin memarahi bawahannya untuk suatu kesalahan yang dia sendiri melakukannya? Maka tidak heran jika hukum menjadi lelucon umum (1) atasan selalu benar, (2) jika atasan salah, lihat hukum nomor (1). Sungguh sangat sulit untuk mendapatkan komitmen karyawan tanpa keteladanan para pemimpinnya. Saya memanggil seseorang ke kantor, lalu menyodorkan 2 lembar kertas. Satu data absensi saya, satunya lagi miliknya. "Kasih tahu gue, berapa kali gue terlambat ke kantor bulan ini. Dan kasih tahu gue, berapa kali elu masuk ke kantor tidak terlambat bulan ini." Dia menatap saya "Iya, Pak." Katanya. "Elu nggak pantes ngomong apapun sebelum mengerti isi kertas itu." Begitu saya bilang. "Tapi Pak, teman-teman lain juga sering terlambat nggak apa-apa," Itulah resiko demokratisasi yang harus saya terima. "Mereka bukan urusan gue. Selama elu masih mau
gabung di team gue, elu musti ikut aturan main disini. Kalau elu kepengen seperti mereka, elu boleh pindah ke departemen mereka. Gue bantu elu pindah kesana." Jam 7 pagi, biasanya saya sudah berada di kantor sehingga teman saya bisa melihat bahwa kedisiplinan itu bukan sekedar untuk memperindah lidah. Saya tidak menuntut mereka datang pagi sekali. Tapi jam 8 tepat, sebaiknya mereka sudah berada ditempat. Lakukan, dan jadilah teladan bagi orang-orang yang Anda pimpin.
3. Ambillah tanggungjawab kepemimpinan secara utuh. Apa sih tanggungjawab kepemimpinan itu? Salah satunya; memastikan semua proses berjalan sehingga menghasilkan profit yang tinggi bagi perusahaan dengan tetap menjaga etika dan rambu-rambu operasionalnya. Kalau ada penyimpangan? Ya harus dipertanggungjawabkan oleh sang pemimpin. Lho, bukannya oleh pelakunya? Tidak cukup. Karena seorang pemimpin bertanggungjawab untuk memastikan tidak ada pelanggaran dan penyalahgunaan seperti itu. Bukankah 'tanggungjawab' yang menjadikannya dibayar lebih mahal dari orang lain? Memang tidak ada seorang pun dimuka bumi yang bersedia untuk mempertanggungjawabkan kesalahan yang dilakukan oleh orang lain. Jadi supaya tidak tertimpa kejadian seperti itu, maka seorang pemimpin mesti benar-benar memastikan agar semua proses dan operasional berjalan sebagaimana mestinya. Manusia mempunyai kecenderungan untuk melakukan kesalahan, bahkan 'to test the fence'. Tugas
pemimpinlah untuk memastikan jika pagar selalu kokoh agar setiap kali serigala mencoba masuk bisa segera dihalau. Dengan begitu, Anda tidak akan pernah kehilangan seekor ayam pun dari dalam kandang. Serigala itu pengaruh buruk, sedangkan ayam adalah aset mental.
4. Sentuhlah hati nuraninya, bukan menyayatnya. Sebagai pemimpin, tentu Anda bersedia memperjuangkan hal terbaik untuk anak buah Anda. Tetapi, bagaimana jika ternyata dia menyalahgunakannya? Saya langsung memanggilnya ke ruang kerja saya. Setelah memaparkan semua temuan dan dia mengakuinya, saya hanya berkata begini;"Saya tidak menyangka kamu melakukan itu. Setelah semua yang saya lakukan untukmu selama ini? Saya mengira, saya bisa membantu kamu untuk menjadi kebanggaan bagi keluargamu. Ternyata saya salah. Saya sungguh berharap anak-anakmu bisa berdiri didepan kelas sambil menceritakan kepada teman-teman mereka tentang kebanggaan terhadap Ayahnya yang hebat. Saya mengimpikan kamu kelak menjadi seseorang yang bisa berdiri tegak dengan penuh kebanggaan dan kehormatan. Tapi, kelihatannya mimpi kita tidak sama." Saya mengenal keluarganya. Dan sungguh, saya melihat meleleh air matanya. "Kamu menangis karena saya menegurmu?" saya penasaran.
"Bukan…" katanya. "Saya sangat menyesali tindakan saya…." Sejak saat itu, dia tidak pernah mengecewakan lagi. Dan saya bangga kepadanya. Mungkin, inilah tangisan karyawan yang tidak menjadikan atasannya dilaknat didalam hati mereka.
5. Berteguh-hatilah saat harus mengambil keputusan paling pahit. Dari beragam kesalahan yang dilakukan oleh anak buah, kadang memang ada yang melampaui batas. Jika itu berupa pelanggaran terhadap integritas, maka solusinya memang harus tuntas tas tas. Seorang Manager di team saya berhasil menemukan penyalahgunaan data penting yang dilakukan oleh salah satu staff di team kami. Selain melanggar integritas, tindakan itu juga sangat membahayakan kelangsungan hidup perusahaan, dan bisa mencelakai pelanggan, serta merusak kredibilitas team secara keseluruhan. Saat mendapatkan rincian laporan dan bukti-buktinya, saya bertanya; "Then what is your recommendation?" Saya paham ketika pilihannya hanya ada dua; diminta mengundurkan diri, atau diberhentikan. Saya memastikan bahwa saya mendukungnya 100%. Apa yang kagumi dari sahabat saya ini? Dia mengkomunikasikannya secara senyap, dingin dan bersih. Bahkan saya tidak perlu mengeluarkan satu kata pun
untuk menghasilkan penyelesaian yang 'win-win' itu. Hubungan personal kami masih tetap baik, meskipun hubungan professional kami terhenti. Memang, kami kehilangan seseorang. Tetapi, teman-teman didalam teamnya memahami mengapa keputusan itu harus diambil. Dengan begitu, lebih banyak lagi sahabat kami yang selamat dari godaan untuk melakukan kesalahan yang sama.
Kita sering sedemikian mudahnya memvonis orang lain. Padahal sebagai manusia, kita juga punya peluang untuk melakukan kesalahan yang sama. Mari kita belajar menyikapi kesalahan orang lain secara proporsional. Apalagi jika yang melakukannya adalah orang-orang yang kita pimpin sendiri. Kitalah yang bertanggungjawab untuk memperkecil kemungkinan terjadinya kesalahan itu. Namun jika terlanjur terjadi, kita pun tidak sepatutnya melepaskan diri dari tanggungjawab itu. Apalagi sampai menimpakan seluruh kesalahan itu kepada orang-orang yang tindak tanduknya sangat ditentukan oleh keteladanan yang kita tunjukkan.
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman - 6 Juli 2011
Master Trainer & Natural Intelligence Inventor
Website: http://www.dadangkadarusman.com
Catatan Kaki:
Di rumah kita, sebuah cermin bisa memperlihatkan seperti apa wajah kita. Di kantor, cermin itu mewujud dalam perilaku orang-orang yang kita pimpin. Sebaik apa kita memimpin? Semuanya terlihat dari perilaku mereka.
Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain.
Follow DK on Twitter @dangkadarusman
[Non-text portions of this message have been removed]
[gudang-ilmu] Mohon Ijin ’Menghilang’ Selama Beberapa Hari
Hore, Hari Baru! Teman-teman.
Mulai hari ini sampai tanggal 10 Juli 2011 mohon ijin untuk keluar dari dunia maya sehubungan dengan panggilan tugas di suatu tempat. Saya tidak tahu apakah selama rentang waktu itu ada fasilitas dan kesempatan untuk online atau tidak. Namun untuk sementara waktu kemungkinan besar saya 'unconnected' sehingga tidak akan dapat merespon email atau melakukan aktivitas online lainnya.
Semoga di lain kesempatan kita masih diberi ruang dan kemampuan untuk saling sharing lagi dengan teman-teman sekalian. Love you all.
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman - 3 Juli 2011
Master Trainer & Natural Intelligence Inventor
Website: http://www.dadangkadarusman.com
Catatan Kaki:
Ciri persahabatan yang murni adalah ketika hati kita merasa terhubung bahkan meski tidak saling mengenal satu sama lain.
Follow DK on Twitter @dangkadarusman
[Non-text portions of this message have been removed]