Artikel: Pendek dan Kecil Versus Panjang dan Besar
Hore, Hari Baru! Teman-teman.
Daya imajinasi memungkinkan kita untuk mereka-reka rupa seseorang yang belum pernah kita temui secara fisik. Makanya Anda punya gambaran sosok sahabat pena yang Anda kenal didunia maya. Saya sering mengalami hal itu. Orang yang pertama kali bertemu dengan saya mengatakan;"Oh, ini toh Kang Dadang itu?". Kejadian itu terulang lagi pada pertemuan dengan pengurus baru Alumni ITB Angkatan '89 hari sabtu lalu. Meski satu angkatan, semasa kuliah saya jarang sekali bertemu dengan mereka. Meski sama-sama aktivis berat, tetapi saya lebih banyak beraktivitas di luar kampus. "Kirain Dadang itu badannya tinggi dan besar, gitu." Demikian kata teman saya begitu melihat bahwa sebenarnya saya ini pendek dan kecil. Tinggi 165 cm, berat 55 kg. Saya tidak keberatan menyebut diri sebagai orang yang 'pendek dan kecil'. Karena kedua kosa kata itu bukanlah kebalikan dari 'panjang dan besar'. Jadi, ya santai saja…
Meski demikian, kita tidak bisa benar-benar lepas dari dikotomi panjang dan pendek. Besar dan kecil. Dalam konteks umur, misalnya; kita selalu mendoakan agar orang yang sedang berulang tahun itu dianugerahi umur panjang. Kita juga selalu ingin menjadi orang besar, dan tidak ingin menjadi orang kecil. Jadi, mau tidak mau memang harus diakui jika kita ini lebih menyukai yang panjang dan besar, daripada yang pendek dan kecil. Bagi Anda yang tertarik untuk menemani saya belajar cara mendapatkan yang panjang dan besar, saya ajak untuk memulainya dengan menerapkan 5 kemampuan Natural Intelligence berikut ini:
1. Menerima kenyataan bahwa segalanya sudah dijatah. Hidup dan mati kita. Jodoh dan rezeki kita. Nasib kita. Semuanya sudah tertulis dalam buku besar diharibaan Tuhan. Hal itu sama sekali tidak berarti Tuhan pilih kasih dan otoriter dalam menentukan semuanya, melainkan semakin menegaskan bahwa Tuhan sudah mengetahui apa yang akan terjadi dalam hidup kita sebelum kita sendiri mengalaminya. Tuhan sudah tahu kapan dan bagaimana cara kita akan mati, sehingga Dia sudah mencatatkan dalam buku itu. Jadi, sudahlah tidak perlu terlalu pusing apakah umur kita akan panjang atau pendek karena dalam konteks umur, size doesn't matter. Yang menjadikannya 'matter' adalah apa yang kita lakukan dalam mengisi jatah umur yang kita miliki itu. Mau diisi dengan tindakan yang baik dan produktif atau dengan keburukan dan kesia-siaan belaka.
2. Panjangkanlah 'umur manfaat' Anda, bukan 'umur fisik'. Bukan hanya di dalam novel-novel fiksi kita bisa melihat betapa manusia mabuk dengan umur panjang. Dalam dunia nyata pun demikian. Padahal, kita melihat fakta bahwa diantara manusia yang umurnya panjang itu banyak yang secara mental kembali lagi kepada keadaan semasa mereka masih kecil. Sebaliknya, banyak orang yang sudah meninggal namun hasil karyanya masih digunakan oleh banyak orang. Temuan-temuannya masih terus digunakan. Ajaran-ajarannya masih tetap ditaati. Kalimat-kalimat penuh hikmahnya masih tetap diingat. Bukankah mereka inilah yang secara hakekat memiliki umur yang panjang? Bahkan Anda sendiri sering menyebut nama seseorang yang sudah meninggal sejak berabad-abad lamanya, bukan? Mungkinkan nama kita masih disebut oleh orang-orang yang hidup 500 tahun dari sekarang?
3. Besarkanlah nilai manfaat diri Anda bukan ukuran tubuh Anda. Anda memiliki sebuah amplop berisi ratusan juta rupiah. Itu adalah uang berlebih Anda setelah dikurangi alokasi untuk kebutuhan hidup layak dan keperluan lainnya. Anda punya dua pilihan untuk menggunakan uang itu. Pertama, pergi ke dokter bedah platik, maka Anda akan awet muda. Uang itu cukup untuk melakukan perawatan seumur hidup. Kedua, pergi ke panti asuhan lalu Anda meletakkan amplop itu didepan pintu dengan pesan "Untuk Merenovasi Atap Panti Yang Bocor". Jika Anda mengambil pilihan kedua, maka saya menjamin bahwa Anda akan berhasil membuat nilai hidup Anda jauh lebih besar tanpa harus membeli BH baru dengan nomor yang lebih besar.
4. Berusaha untuk mendapatkan yang besar dan panjang. Kata orang, hanya ada dua kemungkinan mengapa seseorang sangat setia pada pameo 'size doesn't matter', yaitu; size miliknya minimalis atau sedang berpura-pura puas dengan yang minimalis itu. Saya tidak tahu benar apa tidaknya. Tapi jika dipikir-pikir; kalau kita bisa mendapatkan yang panjang dan besar, mengapa harus terus mendekap yang pendek dan kecil? Bayangkan jika Anda bisa memiliki umur panjang hingga 110 tahun. Jika Anda mencapai akil baligh pada usia 10 tahun maka itu artinya Anda bisa memupuk amal dan kebajikan selama 100 tahun. Bukankah umur panjang dan besarnya nilai pahala yang Anda kumpulkan itu bisa menjadi bekal yang sangat banyak untuk mendapatkan karunia Tuhan? Masalahnya, kita tidak tahu sampai umur berapa kita beroleh hidup? Makanya hanya satu hal saja yang bisa kita lakukan, yaitu; memperbanyak amal baik. Jika bisa dengan uang, maka lakukan dengan uang. Jika hanya
bisa dengan kata-kata bijak, maka lakukan dengan saling menasihati dalam kebaikan. Jika hanya bisa dengan perilaku baik, maka berperilaku baik yang tidak merugikan orang lainpun sudah menjadi amal saleh. Dengan begitu kita beroleh pahala besar.
5. Mengoptimalkan yang pendek dan kecil. Semuanya ada ukurannya. Termasuk diri kita sendiri. Kalau memang DNA atau gennya pendek dan kecil mau diubah menjadi sepanjang dan sebesar apa lagi? Sudahlah terima saja. Anak ke-4 saya umurnya sangat pendek. Dia sudah meninggal saat berada dalam kandungan ibundanya pada usia kehamilan 12 minggu saja. Kami sedih. Tapi lebih banyak bahagianya. Kami yakin bahwa sang jabang bayi telah kembali keharibaan ilahi dalam keadaan suci. Kita yang terlanjur akil baligh ini tidak bisa kembali dalam keadaan suci seperti bayi. Tetapi, kita patut mensyukuri anugerah umur ini meskipun seandainya umur kita pendek. Kita ikuti saja meskipun takdir kita kecil, yang berarti kita memang hanya cocok untuk yang kecil-kecil. Sungguh tidak pas jika kita yang memiliki gen kecil ini melakukan dosa-dosa besar. Tahu dirilah sedikit jika mau melakukan dosa besar. Orang-orang yang punya ukuran pendek dan kecil mah cocoknya mengisi umur
yang pendek itu dengan amal-amal yang banyak, meskipun hanya bisa melakukan hal-hal yang kecil.
Size doesn't matter. Bisa iya, bisa juga tidak. Selama kita bersedia untuk menerima diri sendiri dengan ikhlas, maka panjang atau pendeknya umur kita tidak akan menjadi kekhawatiran. Semoga saja dalam panjang atau pendeknya umur itu, Tuhan memperkenankan kita untuk mengumpulkan bekal hidup dan pahala dalam jumlah besar dan menjauhi dosa-dosa hingga sekecil-kecilnya.
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman - 20 Juni 2011
Natural Intelligence Inventor
http://www.dadangkadarusman.com/training-programs/
Contact person in-house training: Ms. Vivi - 0812 1040 3327
Catatan Kaki:
Orang besar itu beruntung, karena dengan kebesarannya dia bisa berkontribusi kepada orang-orang kecil. Orang kecil itu beruntung, karena dengan kekecilannya itu dia memberi tempat kepada orang-orang besar untuk menyalurkan jalan amalnya.
Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain.
Follow DK on Twitter @dangkadarusman
[Non-text portions of this message have been removed]
Blogger templates
[gudang-ilmu] Artikel: Pendek dan Kecil Versus Panjang dan Besar
[gudang-ilmu] Artikel: Ketika Jantung Berhenti Berdetak
Artikel: Ketika Jantung Berhenti Berdetak
Hore, Hari Baru! Teman-teman.
Beberapa hari yang lalu, saya menyaksikan seseorang yang terkena serangan jantung. Meskipun cukup sering mendengar cerita-cerita tentang bagaimana menegangkannya saat-saat terjadi serangan itu, namun baru sekali itu saya menyaksikannya secara langsung. Pada saat yang paling kritis, saya mendengar suara seperti 'mengorok' di kerongkongan. Suara aneh itu membuat saya kalang kabut karena tidak tahu apa yang harus dilakukan. Di rumah sakit dokter mengajak saya untuk masuk ke sebuah ruangan yang didalamnya terdapat beberapa monitor komputer. Melalui perangkat komputer yang dihubungkan dengan selang kepada jantung itu dokter meminta saya untuk melihat secara langsung, apa yang terjadi didalam jantung. Sungguh, seluruh bulu kuduk saya serasa merinding.
Jantung adalah organ pertama yang terbentuk ketika jabang bayi memulai proses penciptaan atas seizin Tuhan. Dan jantung jugalah yang menandai akhir hidup seseorang. Hari itu, saya benar-benar mendapatkan kehormatan untuk memperoleh sebuah proses penyadaran diri tentang betapa berharganya hidup ini. Bagi Anda yang tertarik untuk menemani saya belajar memaknai hidup, saya ajak untuk memulainya dengan menerapkan 5 kemampuan Natural Intelligence berikut ini:
1. Menyadari betapa rentannya tubuh kita. Tubuh saya ini kurus, kecil; jauh dari bentuk ideal seorang pria jantan idaman para pemburu ketampanan. Bagaimana dengan Anda, apakah berperawakan sama seperti saya yang kerempeng? Ataukah Anda dianugerahi otot-otot yang kekar membentuk 6 gumpalan membanggakan ditengah-tengah perut seperti yang biasa dimiliki oleh para lelaki atletis? Betapapun indahnya bentuk luar tubuh kita, boleh jadi isi didalamnya sama saja. Jantung yang saya lihat didalam tayangan langsung di ruang operasi itu menunjukkan bahwa tidak peduli sebesar dan sekekar apapun tubuh kita; kita ini sesungguhnya adalah mahluk yang rentan. Ketika Tuhan menyuruh jantung itu berhenti berdegup, maka tumbanglah tubuh setiap insan.
2. Menyadari bahwa kita tidak tahu kapan hidup akan berakhir. Dua kakek saya meninggal dalam usia senja. Namun, salah satu anak saya meninggal hanya dalam hitungan minggu sejak dokter kandungan memberitahu kabar baik tentang detak jantungnya yang mulai terdeteksi oleh alat USG. Betapa penuh misterinya hidup yang kita miliki. Hingga tak seorangpun tahu kapan hidupnya akan berakhir. Setiap kali mengingat hal itu, saya selalu terdorong untuk bersegera menunaikan sembahyang yang sejak tadi masih tertunda-tunda. Setiap kali mengingatnya, kita termotivasi untuk mengurangi berbuat dosa. Dan setiap kali menyadarinya, kita kehilangan selera untuk berbuat curang atau nista. Semoga Tuhan berkenan membantu kita untuk selalu sadar bahwa kita tidak tahu kapan hidup ini akan berakhir.
3. Menyadari bahwa kita akan dimintai pertanggungjawaban atas hidup. Ketika nafsu dan keserakahan memenuhi pikiran dan hati kita, biasanya kita tidak segan untuk melakukan apapun. Termasuk didalamnya perbuatan-perbuatan yang melanggar norma, atau mengambil sesuatu yang bukan hak kita. Sesungguhnya kita tahu jika perbuatan itu salah, namun dorongan hawa nafsu jauh lebih besar daripada pengetahuan tentang kebenaran. Ya sudah lakukan saja, mumpung tidak ada yang memergoki atau berani menghalangi. Mungkin kita perlu ingat kembali bahwa setiap perbuatan itu harus dipertanggungjawabkan. Dengan begitu, mungkin kita masih sempat berpikir ulang, setiap kali hendak berbuat curang. Atau melakukan tindakan-tindakan yang tidak disukai oleh Tuhan.
4. Menyadari bahwa kita tidak bisa membayangkan kerasnya sisksaan Tuhan. Jika Anda pernah memegang palu, mungkin tangan Anda pernah secara tidak sengaja terpukul palu saat hendak memaku. Rasa sakitnya tentu bukanlah tandingan bagi pukulan palu malaikat yang marah karena kenistaan yang pernah kita lakukan semasa hidup. Jika Anda pernah memasak, mungkin tangan Anda pernah melepuh terkena kompor yang tengah menyala. Rasa panasnya bukanlah tandingan kobaran api didalam neraka yang menyala-nyala. Perlu berlatih dipukul martil sekeras apa supaya bisa tahan dari pukulan palu godam Tuhan? Harus latihan dibakar dengan api sebesar apa supaya bisa mengatasi panasnya api kemarahan Tuhan? Menyadari bahwa kita tidak bisa membayangkan kerasnya siksaan Tuhan, mungkin bisa lebih memotivasi kita untuk mengisi hidup dengan tindakan-tindakan yang bernilai.
5. Menyadari bahwa kita tidak berhak untuk menyulitkan orang lain. Kita sering mengira bahwa wacana tentang sorga dan neraka itu hanya cocok untuk dijadikan dongeng pengantar tidur saja. Hanya anak-anak yang layak mempercayainya. Orang dewasa seperti kita, tidak pantas lagi terbuai oleh cerita-cerita yang tidak ada bukti empiris tentang kebenarannya. Memang, hidup ini adalah pilihan. Kita boleh memilih untuk percaya, atau ingkar saja. Maka berbuat sesuka hati adalah hak kita. Namun, ada bagusnya jika kita sadar kita ini sama sekali tidak berhak untuk menyulitkan orang lain. Meski boleh berbuat nista, kita harus memastikan bahwa kenistaan yang kita buat itu tidak menjadikan orang lain menderita. Meski boleh mengambil yang bukan hak kita, namun kita tidak patut menyebabkan orang lain kehilangan kepemilikannya. Meski boleh mengambil sesuka hati kita, tapi kita tidak berhak menjadikan perusahaan mengalami kerugian. Menyadari bahwa kita tidak berhak
untuk menyulitkan orang lain, mungkin membantu kita untuk menyadari bahwa tidak ada tindakan dan perilaku kita yang tidak terhubung dengan orang lain. Maka perilaku positif, hanya itulah pilihan yang kita miliki.
Menepuk dada adalah pertanda bahwa kita percaya diri dan yakin akan semua kemampuan yang kita miliki. Namun, kita sering tidak sadar bahwa didalam dada yang kita tepuk-tepuk itu ada sebuah organ penting yang menentukan hidup dan mati kita. Organ itu bernama jantung. Maka setiap kali kita menepuk dada, alangkah baiknya sambil mengatakan;"Tuhan, terimakasih telah Engkau izinkan aku memiliki jantung ini." Dengan begitu, mungkin kita bisa semakin termotivasi untuk mengisi hidup yang singkat ini dengan segala hal yang Dia sukai.
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman - 17 Juni 2011
Natural Intelligence Inventor
http://www.dadangkadarusman.com/training-programs/
Contact person in-house training: Ms. Vivi - 0812 1040 3327
Catatan Kaki:
Tubuh kekar atau langsing. Wajah tampan atau cantik. Dompet tebal atau tipis. Semuanya tidak memiliki arti yang lebih besar daripada makna yang dikandung dalam sebuah organ bernama jantung.
Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain.
Follow DK on Twitter @dangkadarusman
[Non-text portions of this message have been removed]
[gudang-ilmu] Artikel: Meningkatkan Employee Engagement Di Kantor Anda
Artikel: Meningkatkan Employee Engagement Di Kantor Anda
Hore, Hari Baru! Teman-teman.
Employee engagement (EE) bukanlah masalah yang hangat dibicarakan hanya di Negara berkembang seperti Indonesia saja. Perusahaan-perusahaan di Negara paling maju sekalipun menghadapi masalah yang sangat pelik untuk diselesaikan ini. Banyak yang masih secara keliru mengira bahwa para karyawan bisa diikat oleh gaji tinggi. Padahal, hanya mereka yang tidak mampu mendapatkan pekerjaan di tempat lain saja yang masih rela melakukan apapun demi gajinya. Mereka yang memiliki daya jual dan daya juang tinggi pasti akan hengkang juga. Sungguh, ini bukan semata-mata soal uang. Jadi apa dong penyebab utamanya?
Penelitian menunjukkan bahwa salah satu faktor paling utama yang menyebabkan rendahnya tingkat EE ternyata adalah atasannya. Jadi, jika Anda memiliki masalah serius dengan rendahnya EE dikalangan anak buah Anda, maka sudah waktunya untuk bercermin sambil bertanya; "Apakah saya sudah menjadi atasan yang baik bagi para bawahan saya?" Bagi Anda yang tertarik untuk menemani saya mamahami peran atasan dalam meningkatkan Employee Engagement, saya ajak untuk memulainya dengan menerapkan 5 kemampuan Natural Intelligence berikut ini:
1. Memahami kebutuhan dan keinginan karyawan. Ada bedanya antara kebutuhan dengan keinginan. Memahami keduanya membantu atasan untuk menentukan mana yang layak untuk diperjuangkan atau diberikan kepada bawahan, dan mana yang tidak perlu terlalu dihiraukan. Kebutuhan mengacu kepada apa yang pantas mereka dapatkan berkaitan dengan hubungan kerja, sedangkan keinginan berkaitan dengan tuntutan-tuntutan yang belum tentu patut untuk mereka dapatkan. Segala sesuatu yang pantas mereka peroleh itulah yang wajib hukumnya untuk diperjuangkan oleh seorang atasan. Harapan karyawan itu beragam macam sehingga tidak mungkin seluruhnya bisa dipenuhi. Memahami antara kebutuhan dan keinginan mereka membantu atasan untuk melakukan penyaringan sehingga lebih efektif dalam menggunakan sumberdaya.
2. Bersedia mendengarkan masukan dan keluhan bawahan. Tidak semua masukan dari bawahan relevan dan bisa diimplementasikan. Juga tidak semua keluhan bawahan bersifat objektif dan berada dalam kewenangan atasan. Tetapi, kesediaan seorang atasan untuk mendengarkan memberikan sinyal positif terhadap kepercayaan bawahan. Mereka bisa merasakan bahwa di kantornya masih ada kesempatan untuk menyalurkan aspirasi. Tersumbatnya saluran penampung aspirasi sering menyebabkan hilangnya kepercayaan bawahan. Dalam jangka panjang hal ini bisa berubah menjadi gejolak yang sulit untuk diredam. Bahkan sekalipun atasan tidak sanggup untuk memenuhinya, bawahan mendapatkan kepuasan ketika suaranya didengar oleh atasan.
3. Menjaga ketulusan hati dalam hubungan dengan bawahan. Saya meyakini bahwa ketulusan adalah kunci terpenting dalam membangun sebuah hubungan. Khususnya antara atasan dan bawahan. Hubungan yang didasari oleh ketulusan tidak sekedar diukur dari keramahan, sebab atasan yang berkarakter keras bukanlah tipe orang yang bisa dipaksa untuk berubah wajah menjadi ramah dan murah senyum. Sebaliknya, bawahan yang kurang supel juga tidak bisa dipaksa untuk hay-hay-hey-hey dengan atasannya. Ketulusan hubungan mengijinkan bawahan untuk mengkritik atasannya, dan memberi keleluasaan bagi atasan untuk menegur bawahannya yang kurang baik. Selama ada ketulusan itu, seseorang tidak harus mengubah kepribadian untuk memastikan bahwa hubungannya dengan rekan di kantor tetap sehat
4. Memenuhi kebutuhan pengembangan bawahan. Seperti halnya Anda, para bawahan membutuhkan kesempatan untuk berkembang. Begitu banyak karyawan yang tidak mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan dirinya. Salah satu penyebabnya adalah karena atasannya keliru mengira bahwa pengembangan karyawan itu harus selalu berupa kenaikan jabatan. Bukan. Berkembang bisa berarti mendapatkan pengalaman baru, makanya menugaskan bawahan untuk bergabung dengan proyek yang melibatkan departemen lain bisa sangat membantu. Berkembang juga bisa berarti meningkatnya pengetahuan. Untuk hal ini juga tidak harus selalu mahal, karena dengan kreativitasnya seorang atasan bisa melakukan sesuatu yang bisa menambah pengetahuan bawahan dengan biaya yang sangat rendah. Mengirimi mereka artikel-artikel yang berkualitas tinggi misalnya.
5. Memberi kesempatan karyawan untuk mencurahkan seluruh kemampuannya. Jika Anda memiliki kemampuan yang sangat tinggi namun perusahaan tempat Anda bekerja tidak dapat memberikan cukup ruang bagi Anda untuk menggunakan seluruh kemampuan Anda, maka Anda akan meninggalkan perusahaan itu. Sebab, Anda tahu kalau terus tinggal di perusahaan itu akan menyebabkan kemampuan Anda mengecil bahkan menghilang seperti kaki ular yang mengalami proses rudimenter. Atau Anda akan menjadi seperti ikan besar yang berada di kolam yang sangat kecil. Begitu pula dengan bawahan Anda yang pintar dan berkemampuan tinggi. Maka tidak ada kompromi bagi Anda selain memberinya kesempatan untuk mencurahkan segenap kemampuannya. Bawahan tangguh seperti ini tidak terlalu pusing dengan uang. Mereka pusing karena terlalu banyak membiarkan kapasitas dirinya menganggur.
Jika Anda seorang atasan yang memiliki anak buah, maka Anda adalah orang pertama yang bertanggungjawab terhadap Employee Engagement. Tidak ada bawahan yang betah tinggal dan bekerja dengan atasan yang tidak berusaha maksimal untuk membuat mereka kerasan di kantor. Boleh jadi masih banyak karyawan yang tetap tinggal bersama Anda, tetapi Anda kehilangan orang-orang terbaiknya. Karena mereka yang tinggal di tempat yang tidak menyenangkan mungkin saja sedang menunggu peluang ditempat lain yang lebih baik. Jadi, inilah saatnya bagi setiap atasan untuk benar-benar memikirkan dan memberikan perhatian pada upaya-upaya mewujudkan Employee Engagement.
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman - 16 Juni 2011
Natural Intelligence Inventor
http://www.dadangkadarusman.com/training-programs/
Contact person in-house training: Ms. Vivi - 0812 1040 3327
Catatan Kaki:
Seorang atasan itu seperti lem yang berfungsi untuk merekatkan antara bawahannya dengan perusahaan yang memberinya tanggungjawab kepemimpinan.
Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain.
Follow DK on Twitter @dangkadarusman
[Non-text portions of this message have been removed]
[gudang-ilmu] Artikel: Menghadapi Mereka Yang Menolak Seruan Kepada Kebaikan
Artikel: Menghadapi Mereka Yang Menolak Seruan Kepada Kebaikan
Hore, Hari Baru! Teman-teman.
Apakah Anda pernah mendengar seseorang berkata begini;"Gue kasih tahu dia, eh malah dia marah-marah!"? Ketika seseorang menasihatkan sesuatu, atau mengingatkan orang lain atas perilaku buruknya, atau sekedar berbagi ajaran dan ajakan terhadap kebaikan; belum tentu semua orang bersedia menerimanya. Bahkan boleh jadi mereka yang tidak senang itu malah balik menyerang. Para alim ulama, para pendeta, para biksu, dan orang-orang yang berkomitmen menjadi bagian dari mata rantai penyampai nilai-nilai mulia banyak yang mengalami perlakuan-perlakuan tidak pantas dari mereka yang tidak menyukai nilai-nilai positif yang disebarkannya. Jika Anda juga ingin menjadi penyeru kebaikan, apakah Anda sudah memiliki kesiapan mental seperti beliau?
Jika Anda mengira semua orang akan menyukai seruan tentang hal-hal positif dan nilai-nilai kebaikan, maka Anda keliru. Faktanya, ada saja orang-orang yang gigih melakukan penentangan. Padahal, peran Anda dalam menyebarkan nilai-nilai positif sangatlah besar sehingga perlu memiliki kesiapan mental untuk menghadapi kemungkinan serangan balik mereka. Bagi Anda yang tertarik untuk menemani saya meningkatkan daya tahan mental ini, saya ajak untuk memulainya dengan menerapkan 5 kemampuan Natural Intelligence berikut ini:
1. Menyadari bahwa bahkan para Nabi pun banyak yang ditentang. Jika mengingat betapa beratnya perjuangan para Nabi dan Rasul; sungguh, kita akan faham benar bahwa menyerukan kebaikan itu sebenarnya sangat beresiko. Bukan sekedar dibenci dan dimusuhi, bahkan banyak Nabi yang diburu dan dibunuh. Jika Anda sudah berkomitmen menjadi bagian dari mata rantai penebar nilai-nilai kebaikan, maka Anda tidak perlu berkecil hati ketika ada orang lain yang melecehkan Anda, mengucapkan kata-kata yang sinis tentang Anda, bahkan membongkar keburukan-keburukan Anda. Teruslah berpegang teguh pada komitmen Anda, karena boleh jadi Tuhan sedang menguji kesungguhan Anda dalam perjuangan itu. Ingatlah betapa beratnya tantangan dan tentangan yang dihadapi para Nabi; maka Anda akan tegar kembali.
2. Berfokus kepada menasihati diri sendiri, bukan orang lain. Setiap kalimat seruan kepada kebaikan yang Anda sampaikan akan mengundang cercaan orang-orang yang tidak menginginkannya. Bukan hanya mentertawakan Anda, mereka juga bahkan bisa balik memojokkan Anda dengan fakta bahwa Anda pun belum menjadi pribadi yang baik. Mereka ingin melemahkan mental Anda supaya segera berhenti dan menutup mulut saja. Namun jika pun Anda belum menjadi manusia sempurna, tidak perlu malu untuk mengajak sesama pada kebaikan, karena memang tidak ada manusia yang sempurna. Tetapi dengan komitmen itu, kita sendiripun sadar bahwa masih banyak hal yang patut kita perbaiki. Diri kita sendirilah yang membutuhkan nasihat pertama kali. Dengan nasihat yang Anda serukan, Anda mengajak diri sendiri untuk melakukannya. Insya Allah melalui seruan itu sebenarnya kita menyeru diri sendiri untuk terus berbenah. Syukur beribu syukur jika ada orang lain yang tersentuh oleh seruan
itu, sehingga Anda akan memiliki teman untuk sama-sama menuju perbaikan.
3. Menyadari bahwa banyak jalan menuju ke Roma. Orang yang mencaci maki Anda karena ajakan kebaikan yang Anda sampaikan kepadanya bisa jadi memiliki pemikiran yang benar. Setidak-tidaknya benar bagi dirinya sendiri. Namun, itu juga tidak berarti Anda salah. Lho, jika mereka yang mencerca itu benar dan Anda benar; apa iya ada dua kebenaran yang saling bertentangan? Hey, ingatlah bahwa untuk pergi ke Roma ada banyak jalan yang bisa kita tempuh. Semua jalan itu benar. Dan tidak saling bertentangan. Manusia yang sempit ilmu seperti kitalah yang mempertentangkannya. Kesinisan kita, kepicikan cara berpikir kita, kedengkian didalam hati kita adalah cerminan dari ketidakpahaman diri kita pada ilmu dan esensi kebenaran yang kita miliki. Jika Anda seorang yang berilmu, maka Anda pasti akan menyampaikan nilai-nilai kebenaran Anda dengan santun, bukan dengan sikap sinis atau melecehkan dan saling menghina. Berdamailah dengan orang yang berbeda pendapat
dengan Anda, karena tidak ada gunanya memperdebatkan jalan menuju ke Roma.
4. Menyadari bahwa kebenaran mutlak itu hanyalah milik Tuhan. Ilmu Tuhan itu meliputi segala sesuatu. Maknanya, Tuhan mengetahui semua nilai kebenaran yang ada. Sedangkan esensi kebenaran itu adalah saling menguatkan. Maka tidak mengherankan jika Tuhan memiliki kebenaran yang mutlak karena Dia bisa melihat secara utuh bentuk 'gajah kebenaran' itu. Jika kita atau orang lain memaksakan kebenaran sendiri, itu adalah pertanda bahwa kita atau mereka belum memiliki ilmu yang cukup luas untuk melihat kebenaran itu secara utuh. Jadi, jika ada yang memaki Anda karena nilai-nilai kebaikan yang Anda sebarkan, tidak perlu tersinggung. Bisa jadi memang mereka benar dengan pendapatnya. Sedangkan soal cara menyampaikannya yang kasar kepada Anda, itu bukan soal esensial melainkan hanya sekedar pertanda bahwa orang itupun sedang memerlukan proses pembelajaran menuju kearifan yang lebih tinggi.
Menyadari bahwa tugas kita hanyalah menyampaikan. Kebaikan dan kebenaran itu bersahabat erat dengan ketegasan. Dikala Anda berhadapan dengan penentangan keliru yang hanya berlandaskan emosi dan nafsu, maka Anda pun perlu tegas untuk tetap menyatakan bahwa mereka keliru. Namun bukan dengan cara balik menyerang mereka. Jika mereka memaki Anda, mengapa Anda harus balik memaki mereka? Jika mereka melontarkan kata-kata sinis kepada Anda, mengapa Anda harus membalas kesinisan mereka? Mari mengingat kembali perjuangan berat para Nabi. Sedemikian beratnya sehingga pribadi-pribadi suci itu menangis dimalam hari mengadukan para penentang itu kepada Tuhannya. Bukankah Tuhan menyambut pengaduan mereka dengan nasihat "Wahai Nabi," titahNya. "Tugasmu itu hanyalah menyampaikan risalah." Sungguh bahkan para Nabi pun tidak memiliki kewenangan untuk memberikan hidayah. Masuknya petunjuk kedalam sanubari seseorang adalah hak dan kewenangan Tuhan. Tugas para Nabi
hanyalah menyampaikan saja. Sedangkan tugas kita adalah mencontoh para Nabi, dan menyampaikan nilai-nilai kebenaran itu kepada orang lain; meski hanya satu kalimat.
Tuhan sudah tidak lagi mengutus Nabi. Sedangkan dunia yang kita huni ini masih membutuhkan orang-orang yang berkomitmen untuk terus mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari perilaku-perilaku munkar. Mengajak bukan untuk orang lain, melainkan terlebih dahulu untuk diri sendiri. Itulah fitrah dan amanah yang Tuhan berikan kepada kita. Namun, janganlah berharap bahwa jalan yang kita tempuh itu akan mulus-mulus saja. Karena jalan yang terlalu mudah hanya sedikit menyediakan pahala. Semua pahala yang bernilai tinggi Tuhan letakkan dijalan terjal yang susah ditempuh dan tanjakan tajam yang sulit didaki. Maka saat Anda menghadapi tantangan dan penentangan, tidak usah berkecil hati. Karena tantangan yang kita hadapi itu, bahkan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kesulitan yang dahulu dijalani oleh para Nabi suci.
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman - 15 Juni 2011
Natural Intelligence Inventor
http://www.dadangkadarusman.com/training-programs/
Contact person in-house training: Ms. Vivi - 0812 1040 3327
Catatan Kaki:
Tidak semua seruan kepada kebaikan dan kebenaran akan menghasilkan penerimaan. Maka siapa saja yang berkomitmen untuk berkontribusi sebagai penyampai pesan, harus bersiap diri terhadap tantangan dan penentangan.
Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain.
Follow DK on Twitter @dangkadarusman
[Non-text portions of this message have been removed]
[gudang-ilmu] Artikel: Dua Jenis Helm Dan Isi Kepalanya
Artikel: Dua Jenis Helm Dan Isi Kepalanya
Hore, Hari Baru! Teman-teman.
Kami termasuk keluarga yang beruntung untuk mendapatkan doorprize pada saat mengikuti acara Family Gathering beberapa hari yang lalu. Hadiahnya berupa sebuah helm sepeda gunung. Anak saya yang berusia 7 tahun sangat terkesan dengan helm itu sehingga sepanjang hari dia memakainya terus bahkan dibawanya hingga menjelang tidur. Helm seyogyanya berfungsi untuk menjaga kepala kita agar tidak ada benda dari luar yang masuk kedalam. Namun selain helm sepeda gunung seperti yang dimainkan anak saya itu, kita juga memiliki jenis helm lain yang menutup kepala kita rapat-rapat. Saya menyebutnya sebagai 'helm pikiran'. Apakah Anda sudah bisa menebak maksudnya?
Tujuan kita mengenakan helm adalah untuk melindungi kepala agar jangan sampai terkena pengaruh dari luar. Tetapi, menyimak perilaku anak saya dengan helm barunya itu, saya teringat betapa terbiasanya kita menggunakan 'helm pikiran' hingga sering terjebak dalam kesempitan pemikiran sendiri. Ciri orang yang mengenakan helm pikiran secara baik adalah selalu bisa menghalau pengaruh buruk yang datang dari luar, sambil terus menerima hikmah yang datang. Sedangkan ciri orang yang mengenakan helm pikiran secara buruk adalah senantiasa bersikap picik, skeptis, dan menolak hikmah yang ditebarkan oleh orang lain. Bagi Anda yang tertarik untuk menemani saya memahami lebih lanjut tentang helm pikiran ini, saya ajak untuk memulainya dengan menerapkan 5 kemampuan Natural Intelligence berikut ini:
1. Bersikaplah protektif tetapi tetap terbuka. Tidak salah jika kita mengira bahwa diluar sana banyak sekali pengaruh buruk yang mengancam kebersihan dan kejernihan pikiran. Namun diantara pengaruh buruk itu ada begitu banyak pemikiran yang justru sangat mencerdaskan dan mencerahkan. Oleh karenanya, kita perlu pandai memilah mana pengaruh luar yang buruk dan mana yang baik. Setelah mengenalinya, lalu lindungilah jangan sampai pengaruh pemikiran buruk itu memasuki otak kita. Pada saat yang sama, ijinkanlah pengaruh pemikiran positif untuk masuk kedalamnya. Caranya; abaikan gagasan-gagasan dan pemikiran negatif yang dihembuskan kepada Anda. Dan terimalah pemikiran positif dengan hati terbuka.
2. Milikilah pemikiran yang bersih. Kita tidak akan bisa menerima pemikiran yang bersih, baik dan positif jika otak kita sendiri dipenuhi oleh pemikiran kotor. Sebaik apapun hikmah yang disampaikan oleh seseorang tidak akan dinilai baik dimata kita jika kita sendiri memiliki pemikiran yang buruk. Kebaikan tidak bisa berteman dengan keburukan, bukan? Hanya jika kita memiliki pemikiran yang bersih saja, kita akan mampu mengenali permikiran yang bersih. Jadi, untuk bisa menerima pemikiran yang bersih dari luar, kita harus terlebih dahulu memiliki pikiran yang juga bersih didalam kepala kita.
3. Rajin-rajinlah membilas pemikiran. Otak kita sudah diisi oleh beragam pemikiran. Diantaranya ada yang bersifat buruk atau bercampur kedengkian. Jika pemikiran negatif itu dibiarkan terus bersemayam disana maka dia akan berkembang menjadi kerak yang menempel dan semakin mengeras. Jika sudah seperti itu, sangat sulit untuk diajak positif. Makanya otak kita mesti sering dibilas. Berdekat-dekatanlah dengan orang-orang yang positif. Sering-seringlah membaca tulisan-tulisan yang inspiratif. Giat-giatlah untuk mendengarkan perkataan para penebar hikmah. Dengan cara itu, maka perlahan-lahan pemikiran buruk kita terdesak keluar sehingga yang tersisa nanti hanyalah pemikiran yang baik-baik saja.
4. Menyadari bahwa helm pikiran itu sering dicemari oleh ego. Banyak orang yang keberatan menerima masukan dari luar dikarenakan oleh egonya yang terlalu tinggi. Rasanya sulit menerima nasihat dari orang yang tingkat jabatannya lebih rendah. Apalagi dari seseorang yang jelas-jelas uangnya tidak banyak. Padahal hikmah bukanlah monopoli mereka yang menduduki posisi tinggi atau para pemilik keberlimpahan harta. Hikmah adalah anugerah bagi siapa saja yang bersedia melumerkan egonya untuk mendengar bisik kebijaksanaan tanpa memandang siapa yang mengatakannya, berapa banyak uangnya, atau bagaimana status sosialnya.
5. Menyadari bahwa otak kita adalah sebuah lahan kosong. Kita sering merasa serba tahu. Padahal, pengetahuan kita belum sanggup untuk sekedar mengisi 5% saja dari kapasitas otak yang sesungguhnya. Jika ada sebuah wadah besar yang baru terisi sedikit, kita tidak ragu untuk menyebutnya wadah kosong atau nyaris kosong. Tetapi, dengan otak yang hanya sedikit diisi ini kita masih tersinggung jika disebut sebagai si otak kosong. Kita perlu lebih sadar dengan kenyataan bahwa otak kita ini seperti sebuah lahan kosong yang memerlukan banyak tambahan isi. Jika tidak ingin lahan itu dipenuhi dengan belukar dan hewan-hewan liar, maka kita harus segera mengisinya dengan pemikiran-pemikiran yang bersih.
Kita percaya bahwa kualitas diri seseorang sering sangat ditentukan oleh isi otaknya. Namun kita sering lupa bahwa otak itu tidak akan berfungsi secara maksimal sebelum kita benar-benar bersedia menerima masukan dari pihak luar. Meskipun itu tidak berarti boleh menerima segala hal yang orang lain katakan, tetapi ada begitu banyak hikmah yang mengandung beragam manfaat tak ternilaikan.
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman - 14 Juni 2011
Natural Intelligence Inventor
http://www.dadangkadarusman.com/training-programs/
Contact person in-house training: Ms. Vivi - 0812 1040 3327
Catatan Kaki:
Helm pikiran itu seperti seorang konsultan. Dia membuat rekomendasi untuk menerima atau menolak sebuah gagasan, namun kliennyalah yang menentukan keputusan akhir.
Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain.
Follow DK on Twitter @dangkadarusman
[Non-text portions of this message have been removed]
[gudang-ilmu] Artikel: Memuliakan Pelanggan – Case Aqua Danone
Artikel: Memuliakan Pelanggan – Case Aqua Danone
Hore, Hari Baru! Teman-teman.
Biasanya Anda menggunakan terminologi 'Melayani Pelanggan', bukan? Saya kira, konsep itu sudah sangat usang. Tidak cocok lagi untuk diterapkan dizaman sekarang. Menurut hemat saya; ini mah, eranya sudah bukan lagi melayani, melainkan memuliakan. Makanya, sharing saya kali ini bertema "Memuliakan Pelanggan". Saya tidak akan berteori, karena bisa megundang perdebatan dan penyangkalan. Orang bisa mendebat hanya karena tidak sependapat. Dan orang juga bisa menyangkal hanya karena merasa kepentingannya terusik. Saya hanya ingin berbagi pandangan tentang apa yang saya lihat didalam dunia nyata. Tepatnya saya akan mengangkat hasil pengamatan saya terhadap Aqua Danone. Jika ada komentar dari rekan-rekan di Aqua Danone, tentu saya akan sangat terbuka untuk menerimanya.
Pada tahun 2009 dan 2010 saya mendapatkan kesempatan untuk memfasilitasi beberapa program pelatihan untuk teman-teman di Aqua Danone; khususnya mereka yang langsung berhadapan dengan pelanggan. Sekalipun demikian, sebenarnya bukan mereka yang belajar kepada saya. Melainkan sayalah yang belajar begitu banyak hal dari teman-teman di Aqua-Danone tentang bagaimana memuliakan pelanggannya. Dari mereka saya melihat nilai-nilai yang patut kita teladani. Andai saja perusahaan-perusahaan di Indonesia bersedia belajar kepada cara Aqua Danone memuliakan pelangganya, saya yakin bukan hanya kualitas pelayanan yang akan membaik sehingga penilaian pelanggan kepada mereka pun baik. Hal yang terlebih penting lagi adalah; terbentuknya iklim bisnis yang lebih baik di negeri tercinta ini. Bagi Anda yang tertarik untuk ikut bersama saya belajar kepada Aqua Danone cara memuliakan pelanggan, saya ajak untuk memulainya dengan menerapkan 5 kemampuan Natural Intelligence berikut
ini:
1. Menetapkan mindset untuk memuliakan. Mindset atau cara berpikir itu sungguh sangat penting loh... Orang-orang yang berpikir negatif terhadap pelanggan tidak mungkin bisa memuliakan pelanggannya. Ciri mindset yang buruk misalnya; menyikapi keluhan pelanggan dengan rasa kesal, mencari-cari alasan dan pembenaran, atau bahkan balik memaki dan menghina pelanggan yang sudah dengan jujur mengemukakan pendapatnya. Hanya jika Anda memiliki mindset memuliakan pelanggan, Anda akan bisa memperlakukan mereka dengan baik. Di Aqua Danone, saya melihat itu. Bagaimana saya bisa seyakin itu? Saya pernah melakukan perjalanan bersama mereka, bercanda bersama mereka, bersama-sama menemui pelanggan mereka, dan saya memperhatikan betul bagaimana mereka menjalaninya.
2. Membentuk gugus tugas yang penuh dedikasi. Kesadaran untuk melayani pelanggan dengan baik itu sering sekali hanya sebatas konsep saja. Namun, ada jurang pemisah antara jargon pelayanan yang dipajang di dinding kantor dan website-website dengan kenyataan bagaimana sebenarnya mereka memperlakukan pelanggan. Di Aqua Danone, saya melihat; mereka bukan hanya membuat slogan dan jargon-jargon. Mereka membentuk gugus tugas khusus untuk memastikan pelanggannya benar-benar bahagia dalam bermitra. Mereka adalah orang-orang yang santun, rendah hati, menghormati, dan bersedia memuliakan pelanggannya. Bagaimana saya tahu soal ini? Saya pernah bersama mereka duduk di sebuah lapak pelanggannya dibawah lintasan kabel listrik bertegangan tinggi. Dari cara mereka menjalani tugasnya, saya tahu; merekalah orangnya.
3. Memperdalam pemahaman terhadap karakter pelanggan. Kita merasa telah memahami pelanggan dengan sangat baik. Makanya kita sering sewot jika pelanggan yang 'sudah kita pahami' itu menyampaikan keluhan. Di Aqua Danone, saya melihat nilai yang berbeda; mereka bertanya, bagaimana cara memahami karakter pelanggan yang jumlahnya sedemikian banyak itu? Menyimak antusiasme mereka dalam mengikuti proses pembelajaran itu, saya merasakan kehadiran ruh komitmen untuk memuliakan pelanggannya. Terlihat sekali jika Top Management di Aqua Danone benar-benar peduli untuk memastikan bahwa orang-orang yang bersentuhan langsung dengan pelanggan mampu membawa amanat perusahaan untuk memuliakan mereka.
4. Membangun kesadaran bahwa memuliakan pelanggan adalah tugas semua karyawan. Di perusahaan Anda, ada berapa divisi? Banyak sekali, bukan? Deperteman apa yang bertugas untuk melayani pelanggan di perusahaan Anda? Petugas customer service. Tidak heran jika orang-orang di departemen lain tersinggung rasa cinta buta kepada almamaternya ketika pelanggan komplain. Atau acuh tak acuh saja dengan urusan pelanggan. Di Aqua Danone saya menyaksikan; dibangunnya kesadaran bahwa memuliakan pelanggan adalah tugas semua karyawan. Bukan hanya gugus tugas penjamin mutu pelayanan kepada pelanggan saja yang ikut belajar tentang prinsip-prinsip memuliakan pelanggan. Mereka yang bertanggungjawab dengan kualitas produk, penerima telepon, dan 'fungsi lainnya' pun ikut didorong untuk mempelajarinya. Bagaimana saya tahu soal itu? Saya pernah berinteraksi dengan mereka.
5. Tidak sekedar mengharapkan 'apa yang ingin Anda dengar'. Banyak orang yang ingin pelanggan memuji-muji dan menceritakan kebaikan-kebaikan produk dan pelayanan yang mereka berikan. Mereka tersinggung jika pelanggan mengeluh. Mengapa? Karena mereka membuka saluran komunikasi dengan pelanggannya hanya untuk mendengar 'apa yang ingin mereka dengar'. Di Aqua Danone, mereka menerima komplain kasar tentang air kemasan yang keruh pun masih dengan senyum yang merekah indah menghias wajah. Apakah Anda bisa membayangkan orang yang setiap hari berada di lapak pengap dibawah terik matahari Jakarta? Kira-kira seperti apa sikap mereka disaat marah? Tapi sahabat-sahabat saya di Aqua Danone diajari dan berkomitmen untuk tidak balik marah, malah segera berterimakasih kepada pelanggan yang sedemikian tulus ikhlasnya memberi umpan balik; untuk menjadikan mereka setingkat lebih baik.
Ketika di tahun 2009 dan 2010 saya berinteraksi cukup intensif dengan sahabat-sahabat di Aqua Danone, mereka baru saja belajar untuk memuliakan pelanggan. Dan di tahun 2011 ini saya melihat begitu banyak perkembangan dan perwujudan atas komitmen mereka. Sungguh sebuah teladan berharga yang patut kita contoh dalam memuliakan pelanggan. Saya yang orang luar Aqua Danone ini, hanya sedikit menyimak perjalanan dan perjuangan mereka. Namun saya melihat begitu banyak lompatan yang telah berhasil mereka buat.
Meski demikian, saya yakin jika sahabat-sahabat saya di Aqua Danone menyadari benar bahwa kesempurnaan itu bukanlah titik akhir. Melainkan sebuah proses untuk menemukan tindakan-tindakan lain yang bisa memberi nilai lebih kepada pelanggannya. Sahabat-sahabat saya di Aqua Danone itu belum sempurna, dan tidak akan pernah menjadi sempurna. Karena kesempurnaan hanyalah monopoli mereka yang cepat berpuas diri.
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman - 13 Juni 2011
Natural Intelligence Inventor
http://www.dadangkadarusman.com/training-programs/
Contact person in-house training: Ms. Vivi - 0812 1040 3327
Catatan Kaki:
Melayani pelanggan itu bisa Anda lakukan dengan cara yang sangat baik, dan bisa juga dengan cara yang sangat buruk sekali. Tetapi, MEMULIAKAN PELANGGAN, hanya mengajak Anda untuk melakukan yang terbaik bersama para pelanggan.
Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain.
Follow DK on Twitter @dangkadarusman
[Non-text portions of this message have been removed]
[gudang-ilmu] Artikel: Mendambakan The Best Place To Work For
Artikel: Mendambakan The Best Place To Work For
Hore, Hari Baru! Teman-teman.
Dalam terminology management ada yang kita sebut sebagai 'the best place to work for'. Makanya banyak perusahaan yang berlomba untuk berebut predikat sebagai 'tempat terbaik untuk bekerja' itu. Implikasinya tentu sangat besar, karena talenta-talenta terbaik pasti akan tertarik kepada perusahaan terbaik seperti halnya laron-laron yang mengerubungi lampu terang dimalam yang kelam. Bagaimana dengan lingkungan kerja yang buruk? Jangankan talenta terbaik dari luar, yang sudah ada di dalam pun pada ingin hengkang. Kalaupun Anda ingin ikut hengkang, kan tidak mudah untuk mendapatkan tempat kerja baru seperti yang Anda dambakan. Bahkan boleh jadi, Anda keluar dari tempat kerja yang buruk, lalu masuk ke perusahaan yang lingkungan kerjanya lebih buruk lagi.
Banyak orang yang mengira bahwa nama besar perusahaan, tingginya gaji yang ditawarkan, dan lokasi elit gedung perkantoran merupakan jaminan sebuah perusahaan untuk bisa menjadi tempat terbaik itu. Realitanya tidaklah demikian. Indikasi tempat terbaik untuk bekerja tidak diukur oleh aspek-aspek fisik seperti itu, melainkan oleh sebuah ciri sederhana. Apakah itu? The best place to work for itu cirinya; orang-orang yang bekerja disana merasa senang dan bahagia. Bagi Anda yang tertarik untuk belajar mewujudkan tempat kerja yang menyenangkan, saya ajak untuk memulainya dengan menerapkan 5 kemampuan Natural Intelligence berikut ini:
1. Anda sendirilah yang bisa mewujudkannya. Keliru jika Anda masih mengira bahwa menjadikan perusahaan sebagai 'the best place to work for' adalah tanggungjawab top management. Sudah banyak bukti bahwa management hanya bisa memfasilitasi dengan mengeluarkan seperangkat kebijakan dan sarana yang dibutuhkan. Banyak perusahaan yang menagementnya sudah baik pun tidak berhasil mewujudkannya. Mengapa demikian? Karena hanya karyawan yang bisa menciptakan lingkungan kerja yang menyenangkan, bukan management. Apakah karyawannya mau memanfaatkan fasilitas dan kebijakan yang telah disediakan oleh management atau tidak; itulah yang paling menentukan. Jadi tengoklah kedalam diri Anda, karena Anda sendirilah yang bisa mewujudkannya.
2. Berperan secara aktif untuk mewujudkannya. Peran seperti apa yang bisa membantu perusahaan menjadi 'tempat terbaik untuk bekerja' itu? Peran aktif. Kita tahu bahwa yang namanya peran itu berarti bertindak secara aktif. Anehnya, kita sering memilih untuk pasif dan mengharapkan orang lain yang menciptakan suasana yang kita inginkan. Padahal, ukuran apakah tempat kerja kita menyenangkan atau tidak itu adanya dalam hati kita. Bagaimana mungkin kita bisa senang ditempat kerja jika kita membiarkan kertas-kertas bertumpuk-tumpuk tak karuan di meja kerja kita, misalnya. Bahkan sekretaris Anda pun tidak akan mungkin bisa membereskannya untuk Anda. Jadi berperanlah secara aktif karena ada bagian-bagian tertentu yang hanya Anda sendiri yang bisa melakukannya.
3. Menjadi sahabat yang baik untuk rekan kerja. Bayangkan Anda bekerja dengan bayaran yang tinggi. Namun tak seorang pun yang bersedia menjadi sahabat baik bagi Anda. Enak apa tidak ya tinggal lama-lama disana? Sebagai mahluk sosial, kita memerlukan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan interpersonal itu. Sepi hidup Anda jika hanya mementingkan diri sendiri. Begitu juga teman-teman Anda. Sekarang coba bayangkan seandainya Anda memiliki sahabat atau teman yang bisa Anda ajak untuk saling berbagi perasaan dan gagasan. Betapa indahnya hidup kita, bukan? Bahkan sekalipun pekerjaan sedang banyak, kita tetap senang karena ada sahabat disamping kita. Dan karena persahabatan itu bersifat dua arah; maka Andalah yang harus terlebih dahulu menjadi sahabat yang baik untuk rekan kerja.
4. Bekerjasama dengan para atasan. Sangat sulit untuk menciptakan lingkungan kerja yang menyenangkan bersama orang-orang yang tidak mau bekerjasama. Disatu sisi kita menuntut perbaikan-perbaikan lingkungan kerja, namun disisi lain kita memposisikan diri untuk berseberangan dengan para atasan. Padahal, bukan hanya Anda yang menginginkan lingkungan kerja yang menyenangkan itu. Atasan Anda pun demikian. Jadi, daripada terus menjadi lasykar oposisi, lebih baik Anda bekerjasama dengan para atasan untuk menciptakan suasana kerja yang menyenangkan yang didambakan bersama. Karena tanpa kerjasama yang konstruktif dari Anda, tidak akan pernah ada atasan yang bisa membantu Anda menciptakan suasana kerja yang menyenangkan.
5. Bawalah keindahan dari rumah Anda ketika berangkat ke kantor. Saya ingin mengajak untuk menjadikan suasana di rumah Anda sebagai model dalam upaya menciptakan lingkungan kerja yang menyenangkan. Untuk itu, Anda harus terlebih dahulu menciptakan suasana di rumah Anda sendiri yang menyenangkan. Sebab jika suasana di rumah Anda sendiri berantakan, maka akan sangat sulit bagi Anda untuk membangun suasana yang menyenangkan di kantor. Namun, jika Anda sudah berhasil menciptakan suasana yang sejuk dan indah di rumah, maka Anda memiliki model faktual tentang suasana seperti apa yang ingin Anda ciptakan di tempat kerja.
Menjadikan kantor sebagai tempat terbaik untuk bekerja itu bukanlah proyek yang sulit, jika kita benar-benar menginginkannya. Dan berkomitmen untuk mewujudkannya. Jika Anda belum bisa mewujudkannya di tingkat korporat pun, Anda masih bisa menciptakannya di tingkat unit kerja Anda. Jika di tingkat unit kerja pun Anda masih kesulitan, maka Anda bisa mewujudkan tempat kerja yang menyenangkan di ruang kerja Anda sendiri. Karena ruang kerja Anda, adalah tempat terbaik bagi Anda untuk bekerja.
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman - 10 Juni 2011
Natural Intelligence Inventor
http://www.dadangkadarusman.com/training-programs/
Contact person in-house training: Ms. Vivi - 0812 1040 3327
Catatan Kaki:
Mengharapkan orang lain untuk menjadikan tempat kerja Anda menyenangkan adalah sebuah kemustahilan.
Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain.
Follow DK on Twitter @dangkadarusman
[Non-text portions of this message have been removed]