Artikel: Core Values Perusahaan – Penting Untuk Siapa?
Hore, Hari Baru! Teman-teman.
Salah satu aspek terpenting dalam bisnis adalah membangun visi perusahaan yang disokong oleh nilai-nilai inti atau budaya perusahaan yang menjadi fondasinya. Setiap perusahaan maju pasti memiliki visi dan nilai-nilai inti budaya kerjanya. Dengan visi dan budaya kerja itulah mereka menggerakkan roda bisnisnya menuju kearah yang jelas dengan tuntunan dan panduan atau cara mencapainya. Setiap orang yang ada dalam perusahaan harus bahu membahu untuk mewujudkan visi itu, serta patuh pada aturan main yang sudah digariskan oleh perusahaan. Maka disinilah letak pentingnya penerapan nilai-nilai perusahaan.
Dalam karir profesional saya, ada beberapa eposide dimana saya terlibat langsung dalam proses perumusan nilai inti perusahaan, dan bagaimana membangun kesadaran seluruh elemen perusahaan untuk menerapkannya. Sebagai trainer dan konsultan pun saya telah berkali-kali berhadapan dengan tugas menantang untuk membantu perusahaan-perusahaan mengupayakan terciptanya pemahaman dan pengamalan nilai-nilai budaya perusahaan dikalangan karyawannya. Sejauh pengamatan saya, sebagian besar perusahaan mempunyai masalah serius dalam penerapan system nilainya. Silakan cek di perusahaan Anda; Apakah di dinding tembok atau buku putih perusahaan terdapat 'Core Values'? Lalu, dapatkah Anda MENGINGAT core values perusahaan Anda itu apa saja? Saya bisa pastikan jika sebagian bersar karyawan bahkan tidak mampu untuk sekedar mengingat item-itemnya. Inilah yang menjadi tantangan terbesar saya dalam membantu perusahaan-perusahaan merumuskan Nilai Inti dan melatih
karyawannya.Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar menerapkan Core Values perusahaan, saya ajak memulainya dengan menerapkan 5 teknik Natural Intellligence berikut ini:
1. Mengingat. Anda mungkin mentertawakan saya. Mengingat? Bukankah ini hal yang sangat sederhana? Ya. Sangat sederhana. Namun dibalik kesederhanaannya, kata 'mengingat' ini menyimpan berjuta makna. Bayangkan, Anda wajib menerapkan nilai-nilai inti perusahaan dimana Anda bekerja. Tetapi Anda tidak dapat mengingat nilai-nilai inti itu apa saja. Mungkinkah Anda dapat menerapkannya? Tidak. Banyak fakta yang menunjukkan bahwa 'tugas sederhana' menjadi sedemikian rumitnya bagi sebagian besar karyawan. Walhasil, Core Values hanya menjadi hiasan dinding kantor belaka. Semacam asesoris korporasi tanpa makna. Anda, hanya bisa menerapkan nilai-nilai inti itu jika dan hanya jika terlebih dahulu Anda mampu mengingatnya.
2. Memahami. Apalah artinya Core Values jika kita hanya bisa mengingat tanpa memahami maknanya? Ironis. Karena tanpa pemahaman itu, kita menempatkan diri kita sendiri setara dengan burung beo. Dia bisa mengatakan apa saja, namun tidak benar-benar faham apa sih sebenarnya isi kata-katanya. Begitu banyak orang yang hanya sekedar mengingat tapi kalau ditanya apa maknanya mereka menjadi gelagapan. Coba sekali lagi introspeksi, apakah kita sudah benar-benar memahami makna dari setiap poin nilai-nilai budaya perusahaan? Jika belum, maka ini adalah saat yang tepat untuk memulainya. Karena memahami nilai-nilai itu, membantu Anda untuk bukan sekedar melakukan pekerjaan. Melainkan menemukan esensi dari pekerjaan yang Anda lakukan.
3. Meresapi. Orang yang memahami sesuatu belum tentu melaksanakannya dalam praktek sehari-hari. Bahkan, banyak orang yang faham, namun secara sengaja melanggarnya. Misalnya, mereka faham apa artinya nilai 'Kejujuran'. Namun, berkubang dalam praktek-praktek yang justru berkebalikan. Mengapa begitu? Karena mereka tidak memasukkan pemahaman itu kedalam hati sanubari mereka. Mereka tidak meresapi maknanya. Sedangkan 'meresapi' itu sama artinya dengan menerima dengan ketulusan hati. Orang-orang yang bersedia menerima system nilai itu dengan ketulusan hati adalah mereka yang rela untuk tunduk pada aturan main perusahaan sebagai pemandu dalam menjalankan aktivitasnya sehari-hari.
4. Mempraktekkan. Sistem nilai perusahaan adalah pembeda utama antara perusahaan yang menerapkan cara berbisnis yang baik dengan cara yang buruk. Banyak cara untuk mencapai tujuan, tetapi ada yang etis dan ada yang tidak. Dengan semakin tingginya kesadaran manusia untuk melakukan tindakan-tindakan etis, maka tuntutan terhadap cara berbisnis yang etis pun menjadi semakin menguat. Di zaman ini; perusahaan-perusahaan yang tidak etis bisa tersingkir dari arena. Mengapa? Karena konsumen menuntut cara berbisnis yang etis, regulasi mengharuskan tata kelola yang bermartabat, dan para pesaing saling berlomba untuk menjadi lebih baik. Maka tidak ada pilihan lain selain mempraktekkan core values perusahaan dengan sebaik-baiknya. Jika tidak, maka reputasi perusahaan dipertaruhkan. Sebagai karyawan, Anda memiliki tanggungjawab untuk berperan secara aktif. Dengan cara itu, Anda menambahkan nilai moral, etika, dan spiritual kedalam pekerjaan yang Anda lakukan.
5. Membiasakan. Mengapa sesuatu disebut sebagai budaya? Alasannya adalah karena hal itu sudah menjadi kebiasaan yang mendarah daging dikalangan semua elemen masyarakatnya. Makanya kemudian kita menyebutnya 'sudah membudaya' atau sudah 'menjadi budaya'. Semua poin dalam Core Values hanya akan benar-benar menjadi budaya kerja perusahaan jika dan hanya jika sudah menjadi kebiasaan dalam setiap aspek bisnis yang dilakukan. Jikapun ada penyimpangan, mungkin itu hanya oknum. Tetapi jika system nilai itu sudah membudaya, maka kehadiran para oknum selalu bisa segera diidentifikasi dan dieliminasi. Membiasakan penerapan nilai-nilai inti bukan hanya sekedar bisa menjadikan identitas perusahaan. Lebih dari itu, pembiasaan juga membantu setiap karyawan untuk melakukannya dengan nyaman. Tidak perlu 'mikir' lagi, karena secara refleks mereka bisa melakukannya. Maka berlatih untuk membiasakan penerapan nilai-nilai itu merupakan sebuah kebutuhan.
Core values bukanlah semata-mata milik pendiri perusahaan atau para eksekutif puncak yang merumuskannya. Core values adalah milik setiap individu dalam perusahaan. Mengapa? Karena tidak ada perusahaan baik yang mencanangkan nilai-nilai yang buruk. Setiap karyawan yang berkomitmen menerapkan nilai-nilai baik yang dirumuskan oleh perusahaan tempat kerjanya, akan merasakan manfaat dan efek positifnya. Dimana saja, dan kapan saja. Maka siapapun Anda, dan apapun jabatan Anda. Belajarlah untuk mengingat, memahami, dan meresapi nilai-nilai luhur yang terpampang di dinding tembok kantor Anda. Lalu mempraktekkannya. Dan menjadikannya kebiasaan yang baik dalam hidup Anda. Karena core values itu, penting untuk perusahaan kita. Penting untuk pelanggan kita. Juga penting untuk diri kita sendiri. Dan penting untuk orang-orang yang terkait dengan kita. Core values, penting bagi kita semua.
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman – 13 September 2011
Penulis buku "Natural Intelligence Leadership"(jadwal terbit Oktober 2011)
Training for Everyone! ™ & http://www.dadangkadarusman.com
Catatan Kaki:
Core values perusahaan itu bisa menjadi sarana bagi setiap karyawan untuk melatih dan menanamkan nilai-nilai pribadi yang berkualitas tinggi.
Jika pertanyaan-pertanyaan Anda belum mendapatkan jawaban dari saya, silakan untuk mengeceknya di Frequently Asked Question (FAQ) dalam website kami.
Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain. Tapi tolong, jangan diperjualbelikan ya. Dan tolong, indahkan norma umum.
Follow DK on Twitter @dangkadarusman
[Non-text portions of this message have been removed]
Blogger templates
[gudang-ilmu] Artikel: Core Values Perusahaan – Penting Untuk Siapa?
[gudang-ilmu] Artikel: Memuliakan Bawahan
Artikel: Memuliakan Bawahan
Hore, Hari Baru! Teman-teman.
Coba perhatikan baik-baik, apakah ada yang aneh dengan judul artikel ini? Sekalipun tidak terlalu aneh, tetapi tidak lazim. Saya sendiri tidak pernah mendengar nasihat atau kuliah kepemimpinan yang membicarakan topik tentang memuliakan bawahan. Kata-kata itu meluncur begitu saja seolah ada tangan yang sengaja menjatuhkannya dari langit lalu secara akurat mendarat diatas kepala saya yang nyaris plontos. Tanpa ada yang menghalangi, dia merasuki otak saya lalu mencair dan mengalir melalui seluruh jaringan syaraf menuju ke sekujur tubuh saya. Seolah terkena sengatan setrum listrik, seluruh sel didalam setiap organ tubuh saya tertegun. Mengapa harus memuliakan bawahan?
Jika Anda bertemu orang yang jabatannya lebih tinggi; sangat mudah menghormati mereka. Tetapi, sungguh sangat sulit untuk menghormati bawahan. Jika Anda bertemu dengan pelanggan, maka Anda bersikap seramah mungkin kepada mereka, bukan? Anda melayani apapun yang diinginkannya dengan wajah penuh senyum dan semangat keikhlasan yang paling tinggi sampai pelanggan itu pulang. Setelah itu, Anda kembali ke ruang kerja dimana disepanjang koridor yang Anda lintasi ada banyak anak buah dilewati. Selama melintas itu sebagai atasan merasa memiliki derajat yang lebih tinggi karena memang kita ini adalah bos. Anda tidak demikian? Bagus sekali. Sekarang, tinggal bagaimana melakukannya secara konsisten. Dan untuk bisa konsisten, kita perlu terus melatih diri. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar memuliakan bawahan, saya ajak memulainya dengan memahami 5 prinsip Natural Intellligence berikut ini:
1. Tanpa mereka, kita bukan siapa-siapa. Coba ingat-ingat kembali suasana ketika beberapa orang yang Anda pimpin tidak masuk kantor karena sakit, atau cuti, atau alasan lainnya. Bagaimana Anda menangani tugas-tugas yang mereka tinggalkan? Apakah Anda bisa memperoleh data-data yang diperlukan secepat seperti bisanya? Apakah team Anda bisa menyelesaikan penugasan sama banyaknya? Apakah group Anda bisa meraih pencapaian yang sama tingginya? Apakah Anda bisa melayani pelanggan yang sama banyaknya? Setinggi apapun jabatan kita, tidak memiliki banyak makna tanpa kehadiran orang-orang yang kita pimpin yang selama ini menentukan keseluruhan kinerja yang kita raih. Itu membuktikan bahwa tanpa mereka, kita ini bukan siapa-siapa.
2. Pelangganpun tidak lebih penting dari bawahan. Apakah pelanggan penting? Tidak diragukan lagi. Lantas, apakah bawahan kita sedemikian pentingnya? Oh, itu benar, meski belum disadari banyak atasan. Sekarang, bayangkan seandainya orang-orang yang kita pimpin tersakiti hatinya oleh perilaku kita. Dapatkah mereka melayani pelanggan dengan sebaik-baiknya? Jika suatu saat Anda mendatangi suatu kantor, lalu orang di kantor itu memperlakukan Anda sebagai pelanggan dengan cara yang tidak patut; maka bisa dipastikan jika orang itu tidak diperlakukan dengan baik oleh atasannya. Sungguh, perilaku melayani pelanggan dengan buruk seperti itu pulalah yang akan diterapkan oleh anak buah kita jika sebagai atasan kita tidak memperlakukan mereka dengan baik.Jadi meskipun pelanggan itu penting, mereka tidak lebih penting dari bawahan untuk kita muliakan dengan sama baiknya.
3. Merekalah yang paling berjasa pada karir kita. Selama bekerja, saya mengalami kenaikan jabatan yang relatif cepat. Selama itu pula saya menganggap bahwa saya ini orang yang hebat. Terbukti dengan tangga karir saya yang terus melesat. Padahal, tidak ada satupun pencapaian karir yang benar-benar kita raih sendiri. Jika jabatan Anda naik lagi, itu tentu karena prestasi kepemimpinan Anda pada posisi sebelumnya. Tetapi coba perhatikan sekali lagi, bagaimana Anda bisa meraih semua pencapaian itu? Bukankah semua terjadi karena kerja keras orang-orang yang Anda pimpin? Jadi jika ada orang yang paling berjasa dalam memajukan karir Anda, maka para bawahan Anda adalah orangnya.
4. Sumber kerendahan hati yang tinggi. Jika kita santun kepada orang yang lebih tinggi, maka itu sama sekali bukanlah ciri kerendahan hati. Itu bisa dengan mudah dilakukan baik dengan sukarela ataupun terpaksa. Tetapi, santun kepada orang-orang yang lebih rendah merupakan tantangan kelas tinggi. Kenapa gue mesti sopan pada anak buah? Untuk sekedar sopan saja rasanya kok tidak logis, ya? Apalagi untuk melakukan sesuatu yang lebih dari itu. Maka menjelmalah hidup kita menjadi ironi bagi ilmu padi; semakin berisi, semakin merunduk. Kita? Semakin berisi, semakin tinggi hati. Entah mengapa. Yang jelas, begitu kita naik jabatan, rasanya derajat kita memang sudah lebih tinggi dari mereka. Lalu kita dibisiki oleh kata hati dan perilaku yang merendahkan. Padahal, rendah hati kepada mereka menunjukkan budi pekerti yang tinggi.
5. Bukan 'melayani atau dilayani', tapi 'saling melayani'. Kepemimpinan egaliter dicirikan oleh adanya kesamaan derajat dan harkat martabat antara atasan dengan bawahannya. Banyak pemimpin yang lupa melayani, karena memposisikan dirinya untuk terus dilayani. Meski sudah menjadi tugas bawahan untuk melayani atasannya, tetapi atasannya juga berkewajiban untuk melayani kebutuhan dan hak-hak para bawahan. Kita sering merasa sudah menjadi pemimpin yang baik. Padahal tak seorang pun bisa menjadi pemimpin yang baik seperti klaim pribadinya jika tidak mau melayani bawahannya. Apakah Anda pernah mendengar sekelompok bawahan yang mengajukan mosi tidak percaya kepada atasannya? Atau sekedar tidak menaruh rasa hormat? Itu adalah indikasi bahwa kemuliaan seorang atasan sangat ditentukan oleh kemampuannya untuk memuliakan bawahannya. Mengapa? Karena atasan dan bawahan ada untuk saling melayani.
Jika hari ini Anda masuk kantor dan bertemu dengan bawahan Anda, maka cobalah ubah cara pandang Anda pada mereka. Mulai sekarang, posisikan diri Anda setara dengan mereka, dan mulailah untuk lebih banyak melayani mereka. Selama ini, mereka sudah banyak melayani Anda. Saatnya Anda untuk membalas semua pelayanan mereka dengan kemuliaan yang Anda bangun untuk mereka. Percayalah, orang-orang yang Anda pimpin itu akan secara refleks dan sigap membalas perlakuan agung Anda kepada mereka dengan pelayanan dan kesetiaan yang jauh lebih tinggi dari mereka. Dan Anda, akan menjadi pemimpin yang bukan sekedar ditakuti, dipatuhi atau diikuti. Anda, akan menjadi pemimpin yang mereka rindukan dan cintai.
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman – 12 September 2011
Penulis buku "Natural Intelligence Leadership"(jadwal terbit Oktober 2011)
Training for Everyone! ™ & http://www.dadangkadarusman.com
Catatan Kaki:
Jika para bawahan berdoa untuk para atasannya, maka pasti isi doanya sangat ditentukan oleh perlakuan atasannya kepada mereka.
Jika pertanyaan-pertanyaan Anda belum mendapatkan jawaban dari saya, silakan untuk mengeceknya di Frequently Asked Question (FAQ) dalam website kami.
Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain. Tapi tolong, jangan diperjualbelikan ya. Dan tolong, indahkan norma umum.
Follow DK on Twitter @dangkadarusman
[Non-text portions of this message have been removed]
[gudang-ilmu] Artikel: Menjadi Pribadi Yang Lebih Baik Di Kantor
Artikel: Menjadi Pribadi Yang Lebih Baik Di Kantor
Hore, Hari Baru! Teman-teman.
Salah satu hal paling gampang yang bisa kita lakukan adalah mengkritisi perilaku orang lain. Mata kita dapat dengan mudah melihat kesalahan tindakan mereka. Atau memergoki perilaku tidak senonoh mereka. Telinga kita bisa dengan gampangnya mendengar kabar tidak sedap tentang mereka. Atau dijejali gosip-gosip tentang hubungan aneh mereka. Semuanya itu bisa dengan mudah kita lakukan. Sedangkan salah satu hal paling sulit untuk kita lakukan adalah; menyadari kelemahan, kekurangan dan keburukan diri kita sendiri. Lebih sulit lagi adalah; memperbaiki keburukan-keburukan perilaku kita itu. Padahal, tidak seorang pun harus mempertanggungjawabkan pribadi orang lain. Karena setiap pribadi hanya akan dimintai pertanggungjawaban atas dirinya sendiri. Maka, tugas utama kita bukanlah untuk merecoki kehidupan orang lain, melainkan terlebih dahulu memastikan bahwa diri kita sendiri bisa menjadi pribadi yang baik.
Meskipun banyak orang yang mencerca, tetapi tayangan infotainment di televisi selalu mendapatkan rating yang tinggi. Mengapa ya? Mungkin karena kita memang paling seneng untuk mengetahui tentang orang lain. Bayangkan seandainya kita memiliki ketertarikan untuk 'mengetahui tentang diri kita sendiri' seperti halnya kegemaran kita untuk tahu urusan orang. Saya yakin, kita akan semakin mengenal diri sendiri. Mengetahui apa yang harus diperbaiki. Dan menyadari apa yang menjadi kelebihan dan kekurangan diri kita. Serta memahami kelemahan dan kekuatan diri kita. Dengan begitu, hidup kita bisa menjadi lebih baik dari saat ini. Semuanya itu adalah bagian yang sangat penting dalam usaha kita melatih diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik.Khususnya dikantor yang menjadi sumber penghasilan dan pergaulan kita. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar menjadi pribadi yang lebih baik di kantor, saya ajak memulainya dengan mempraktekkan 5 prinsip Natural
Intellligence berikut ini:
1. Mengevaluasi perilaku negatif pribadi. Ini adalah latihan yang bisa dan perlu dilakukan oleh setiap orang yang ingin menjadi pribadi yang lebih baik. Karena, semua orang selalu memiliki ruang untuk melakukan perbaikan. Ingatlah kembali sikap dan perilaku negatif yang masih sering Anda tunjukkan di kantor, lalu tuliskanlah dalam selembar kertas bergaris. Pastikan setiap baris hanya memuat satu item sikap dan perilaku negatif yang tersusun ke bawah. Beri nomor, jika perlu.
2. Mendefinisikan perilaku positif. Setiap perilaku, adalah pilihan yang kita tentukan sendiri. Artinya, sebenarnya kita memiliki alternatif lain yang lebih baik. Tetapi kita terlanjur untuk memilih yang ini dan mengabaikan yang itu. Maka langkah selanjutnya adalah secara sadar mendefinisikan perilaku kebalikannya. Disamping setiap sikap dan perilaku negatif itu, tuliskanlah perilaku yang sebaliknya (positif). Misalnya, jika tadi Anda menuliskan kata 'lelet', maka sekarang tuliskan perilaku kebalikannya disamping kata itu. Maka Anda akan mendapatkan catatan seperti; Lelet ßàCekatan, Pemarah ßàPenyayang, pemurung ßàPeriang, dan seterusnya.
3. Mengganti perilaku negatif dengan positif. Jika perilaku negatif itu sudah menjadi kebiasaan, maka bisa dipastikan jika kita cenderung terus tergoda untuk melakukannnya. Sekarang, kita akan coba untuk memperbaikinya. Setiap kali Anda akan menunjukkan sikap dan perilaku negatif itu, berhentilah sejenak. Lalu, lakukanlah perilaku yang sebaliknya (positif). Lakukanlah proses itu terus menerus sampai Anda tidak lagi tergoda untuk berperilaku negatif.
4. Meminta bantuan dari orang yang berperilaku positif. Mengubah perilaku itu bukanlah perkara mudah. Makanya, kadang kegigihan saja tidaklah cukup. Kita sering berhenti berusaha hanya karena merasa itu akan sia-sia saja. Bayangkan, kita harus mengubah sesuatu yang sudah kita lakukan selama bertahun-tahun. Tentu tidak mudah. Tapi, ada sebuah cara yang bisa kita lakukan untuk menguatkan langkah kita, yaitu; meminta bantuan dari orang yang berperilaku positif.Mintalah feedback atau umpan balik pada teman atau atasan Anda tentang perkembangan diri Anda, misalnya. Tapi, pastikan orang itu sudah terbiasa berperilaku positif.
5. Membuka diri terhadap kritik. Tidak mudah untuk menerima kritik. Meskipun bibir kita tersenyum, tapi boleh jadi hati kita merasa kesal. Tetapi, Anda harus mengizinkan orang-orang yang Anda pilih di point #4 tadi untuk mengkritik Anda. Artinya, Anda setuju menjadikan mereka sebagai pelatih bagi Anda. Dengarkan masukan dan kritikan dari mereka, kemudian tindaklanjuti dengan melakukan hal-hal positif yang sudah Anda tulis lebih sering lagi.Jangan pernah memecat mereka sebagai pelatih. Karena perjalanan memperbaiki diri, bukanlah pertandingan sepak bola.
Untuk mengubah diri menjadi pribadi yang lebih baik, kita tidak harus memulainya dari hal-hal yang besar. Mengawalinya dengan mengurangi kebiasaan buruk yang kecil-kecil juga bisa membantu. Jika kita melakukannya secara konsisten, maka lama kelamaan kita akan terbiasa untuk hanya berperilaku baik saja di kantor. Sekalipun demikian, ada satu hal yang proses perbaikannya tidak boleh ditunda. Karena menunda-nunda proses perbaikannya hanya akan mencelakakan diri Anda. Apakah hal yang tidak boleh ditunda itu? Yaitu; menghentikan setiap tindakan yang merusak integritas Anda. Soal ini, sebaiknya segera saja Anda lakukan. Mumpung Tuhan masih memberi kesempatan.
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman – 9 September 2011
Penulis buku "Natural Intelligence Leadership"(jadwal terbit Oktober 2011)
Training for Everyone! ™ & http://www.dadangkadarusman.com
Catatan Kaki:
Puncak kesempurnaan perilaku manusia hanya akan bisa dicapai melalui latihan untuk terus memperbaiki diri yang dilakukannya sepanjang masa.
Jika pertanyaan-pertanyaan Anda belum mendapatkan jawaban dari saya, silakan untuk mengeceknya di Frequently Asked Question (FAQ) dalam website kami.
Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain. Tapi tolong, jangan diperjualbelikan ya.
Follow DK on Twitter @dangkadarusman
[Non-text portions of this message have been removed]
[gudang-ilmu] Artikel: Menjadi Pribadi Yang Memiliki Nilai Tambah
Artikel: Menjadi Pribadi Yang Memiliki Nilai Tambah
Hore, Hari Baru! Teman-teman.
Nilai tambah itu bukanlah terminology yang hanya cocok untuk menjelaskan barang atau jasa yang bagus. Melainkan juga bisa digunakan untuk menjelaskan keberadaan seseorang didalam lingkungannya, terutama dalam lingkungan kerja. Kita semua suka sekali dengan benda yang memiliki nilai tambah. Kita juga suka kepada pelayanan yang bernilai tambah. Kita, juga sangat suka kepada orang-orang yang memiliki nilai tambah didalam dirinya. Maka jika kita bisa menjadi pribadi yang mempunyai nilai tambah bagi lingkungan, kita akan disukai oleh banyak orang. Di kantor, hanya mereka yang mampu memberikan nilai tambah itulah yang kita sebut sebagai karyawan yang unggul. Mereka yang tidak memiliki nilai tambah hanya disebut sebagai karyawan biasa saja, alias mediocre. Anda, tentu tidak terlalu senang kalau disebut mediocre, bukan?
Di supermarket, kita melihat begitu banyak barang sejenis dengan beragam pilihan. Lantas, apa yang menyebabkan Anda memilih salah satu dari jenis-jenis barang itu? Anda tentu memiliki alasan yang kuat. Mungkin Anda memilih karena harganya yang murah. Mungkin karena kualitasnya yang bagus. Mungkin karena kualitas bagus dengan harga yang ekonomis. Semua alasan yang Anda miliki itu adalah sesuatu yang Anda anggap sebagai nilai tambah. Di setiap kantor, ada begitu banyak karyawan dengan karakter dan perilakunya masing-masing. Mengapa ada karyawan yang disukai orang sekantor, dan mengapa ada yang menjadi bahan pergunjingan? Mengapa ada karyawan yang dihormati meski jabatannya tidak tinggi, dan mengapa ada yang dipandang sebelah mata? Itu juga soal nilai tambah yang dimilikinya dimata orang lain. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar menjadi pribadi yang memiliki nilai tambah, saya ajak memulainya dengan memahami 5 prinsip Natural Intellligence berikut
ini:
1. Nilai tambah sering terletak pada hal-hal yang sederhana. Bayangkan ada 5 orang karyawan yang bekerja dalam sebuah unit. Atasan mereka selalu mengawasi dan memberitahu apa yang harus mereka lakukan. Setiap kali ada masalah di unit kerja itu, mereka selalu datang kepada atasan dan meminta petunjuk bagaimana menyelesaikannya. Jika atasan tidak ada, maka mereka menunggunya untuk mendapatkan solusi. Tiba-tiba salah satu dari ke-5 orang itu bilang; "Pak, tolong ajari saya cara menyelesaikan masalah yang timbul agar saya tidak harus menyulitkan Bapak jika hal serupa terjadi lagi." Itu nilai tambah. Contoh lain. Sekelompok karyawan sudah 'selesai' dengan tugasnya. Lalu mereka menunggu perintah atasan selanjutnya sambil kongkow-kongkow di kantin. Salah seorang dari mereka mengambil inisiatif untuk membersihkan perlengkapan kerjanya, merapikan meja kerja, memeriksa lagi kalau-kalau ada yang terlewat saat mengerjakan tugasnya, memastikan
laporannya benar-benar lengkap sehingga atasannya tidak harus bolak-balik menelepon. Itu adalah nilai tambah. Perhatikanlah; nilai tambah sering terletak pada hal-hal sederhana seperti itu.
2. Nilai tambah itu menghemat banyak waktu. Banyak orang yang enggan memberikan nilai tambah bagi perusahaan karena mengira bahwa hal itu menuntut waktu bekerja yang lebih lama. Nilai tambah tidak sama artinya dengan lembur, atau pulang larut malam. Nilai tambah adalah sesuatu yang kita lakukan dengan kualitas yang melebihi rata-rata karyawan ditempat itu. Misalnya, coba Anda perhatikan, apakah atasan Anda sering kesal karena pekerjaan yang harus diulang-ulang akibat kecerobohan team Anda? Atau mungkin karena kurang lengkapnya data yang disediakan? Jika Anda bisa bekerja secara fokus, teliti, dan komprehensif sehingga hasil kerja Anda nyaris tidak mengandung kesalahan, dan semuanya Anda sajikan dengan lengkap sehingga atasan Anda puas tanpa harus terlebih dahulu mengomel, maka itu adalah nilai tambah. Justru, mereka yang sering membuat kesalahan karena ketidaktelatenan itulah yang memhabiskan waktu lebih lama. Sedangkan Anda yang telaten dan
bekerja dengan baik, menghemat banyak waktu. Jadi, nilai tambah Anda itu justru menghemat banyak waktu.
3. Nilai tambah tidak berada di jalur umum. Jika Anda ingin memiliki nilai tambah, maka mengikuti arus yang diciptakan oleh kebanyakan orang bukanlah tindakan bijaksana. Kebanyakan orang hanya akan menghasilkan 'nilai umum', yaitu nilai rata-rata. Bahkan, jika Anda perhatikan baik-baik, banyak orang yang bahkan nilai pribadinya lebih rendah dari nilai umum. Contoh, berapa banyak orang yang tidak memiliki motivasi untuk bekerja secara maksimal? Mereka bekerja dengan baik? Mungkin. Tetapi, mereka bekerja hanya atas dasar gaji atau juklak belaka. Bahkan, banyak yang asal-asalan. Di back office, banyak orang yang berprinsip; "pokoknya udah gue kerjain!" atau "yang penting muka gua kelihatan jam 8 sampai jam 5". Mereka tidak memikirkan apa hasil kerjanya. Di lapangan, banyak juga orang yang menyia-nyiakan amanah. Waktu untuk bertemu klien, misalnya. Meski tidak benar-benar bertemu tapi tercatat dalam laporan, lengkap dengan tanda
tangan klien yang entah didapatkan dari mana. Apakah Anda bekerja dilapangan atau di back office, nilai tambah tidak terletak pada kebiasaan yang dilakukan oleh kebanyakan orang. Asal dikerjakan, atau asal 'selesai'. Nilai tambah, adalah soal kualitas kerja yang lebih baik dari orang lain. Artinya, itu tidak berada dijalur umum.
4. Nilai tambah ada dibalik hal-hal baru. Tidak semua orang yang berada dalam jalur umum bekerja kurang bagus seperti yang saya uraikan dalam point sebelumnya. Banyak juga orang-orang dijalur umum yang tetap berkinerja bagus. Pada umumnya, mereka adalah orang-orang yang berdedikasi dan berprestasi tinggi. Apakah masih ada nilai tambah yang bisa kita bangun di lingkungan kerja yang sudah bagus itu? Ada. Perhatikanlah, biasanya unit kerja yang berkinerja bagus itu punya efek samping. Apakah efek sampingnya? Mereka cenderung terpaku kepada hal-hal yang itu-itu saja. Kebanyakan orang enggan untuk mengganti metode atau bereksperimen dengan pola, cara, atau hal baru. Kita cenderung ingin bermain aman, sehingga selama bertahun-tahun lamanya tidak beranjak kepada hal lain. Apakah itu bagus? Mungkin. Jika kompetitor tidak melakukan yang lebih baik. Atau pelanggan tidak menuntut lebih banyak. Faktanya tidak selalu begitu. Makanya, kita mempunyai konsep
'continuous improvement'. Artinya perbaikan terus-menerus, meskipun kita merasa apa yang saat ini dilakukan sudah baik. Anda bisa mempeboleh nilai tambah dengan cara belajar hal baru dari orang-orang pilihan yang Anda nilai punya sesuatu yang bernilai lebih.
5. Nilai tambah berasal dari energy positif. Hanya orang-orang yang memiliki energy positif yang akan mampu memberi nilai tambah bagi dirinya sendiri. Mereka yang suka mengeluh, mau menang sendiri, atau ingin gampangnya saja; tidak akan bisa memberi nilai tambah. Mengapa? Karena nilai tambah itu membutuhkan komitmen untuk terus melakukan pelatihan baik secara formal maupun informal. Sulit untuk memiliki nilai tambah pribadi jika kita berhenti belajar. Kita perlu terus mencari dan berhubungan dengan orang-orang yang mampu memberi inspirasi, lalu berlajar menyerap energy positif yang dipancarkannya. Untungnya, untuk mendapatkan pencerahan inspiratif itu kita tidak harus selalu mengeluarkan uang. Banyak sekali orang yang bersedia berbagi semangat dan system nilai yang baik secara cuma-cuma. Cari orang-orang seperti itu. Kunjungi blog dan websitenya secara rutin. Dan seraplah energy positifnya. Energy didalam tubuh kita itu kadang naik, kadang juga
turun. Maka untuk menjaganya tetap tinggi, kita harus mengisinya terus. Kita membutuhkan para pencerah yang tidak henti-hentinya berbagi semangat.
Anda, tentu menginginkan perbaikan dalam karir. Dipromosi kepada jabatan yang lebih tinggi, dan mendapatkan kenaikan gaji serta fasilitas yang bagus. Semua itu hanya akan bisa Anda raih jika Anda menjadi karyawan yang unggul. Sedangkan keunggulan Anda dari kolega-kolega lain sangat ditentukan oleh nilai tambah apa yang bisa Anda berikan kepada perusahaan. Jadi, mulai sekarang; mari belajar dan berkomitmen untuk meberikan nilai tambah yang lebih banyak. Karena hanya dengan cara itu kita bisa menjadi pribadi yang unggul. Baik dihadapan teman-teman. Dimata atasan. Dan terlebih lagi, dalam penilaian Tuhan. Hasilnya? Insya Allah, akan mengikutinya kemudian.
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman – 7 September 2011
Penulis buku "Natural Intelligence Leadership"(jadwal terbit Oktober 2011)
2 HOURS AT YOUR BUDGET™ Since 17 August 2011
http://www.dadangkadarusman.com
Catatan Kaki:
Jika kita masih berperilaku seperti kebanyakan orang, maka kita hanya akan menjadi karyawan biasa-biasa saja, tanpa memiliki keunggulan.
Jika pertanyaan-pertanyaan Anda belum mendapatkan jawaban dari saya, silakan untuk mengeceknya di Frequently Asked Question (FAQ) dalam website kami.
Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain. Tapi tolong, jangan diperjualbelikan ya.
Follow DK on Twitter @dangkadarusman
[Non-text portions of this message have been removed]
[gudang-ilmu] Artikel: Training Karyawan Itu Tanggungjawab Atasan
Artikel: Training Karyawan Itu Tanggungjawab Atasan
Hore, Hari Baru! Teman-teman.
Dalam pengamatan saya, masih sangat banyak karyawan yang mendapatkan training kurang dari 8 jam per tahun. Banyak juga yang hanya 2 jam. Bahkan mereka yang sudah bekerja selama bertahun-tahun banyak sekali yang tidak mendapatkan training sama sekali. Mobil Anda, pasti membutuhkan perawatan setiap 20,000 kilometer. Ganti oli setiap 5,000 kilometer. Dan tambahan tekanan angin pada ban kapanpun dibutuhkan. Orang-orang yang Anda pimpin kira-kira membutuhkan perawatan serupa itu. Setiap bulan, mereka membutuhkan lebih dari sekedar gaji. Mereka juga butuh penyegaran bagi jiwanya, motivasi yang mengobarkan semangatnya. Pencerahan yang mampu menumbuhkan optimisme didalam dirinya. Jika Anda merasa tidak memiliki cukup budget training untuk mengirimkan semua karyawan ke ruang-ruang training yang mahal, Anda tenang saja. Bukan hanya Anda yang mengalami hal itu. Semua atasan mengalami masalah serupa. Ada sih atasan yang tidak pusing. Yaitu, atasan yang tidak begitu
memikirkan program pengembangan bagi anak buahnya. Apakah Anda termasuk atasan yang peduli pada pengembangan anak buah?
Selama Anda peduli pada mereka, maka sudah bisa dipastikan jika berapapun budget training yang Anda dapatkan tidak akan pernah cukup. Mengapa? Karena ilmu itu begitu banyaknya. Oleh sebab itu, para pemimpin seperti kita ini dituntut untuk bisa melakukan suatu program pengembangan yang sesuai dengan kondisi yang ada. Itulah yang saya lakukan dulu ketika masih bekerja sebagai seorang profesional. Meski sekarang saya sudah berprofesi sebagai Trainer Profesional yang memang mendapatkan bayaran dari pelayanan training yang saya berikan, namun saya tidak pernah henti memikirkan; bagaimana caranya para atasan mengelola program pengembangan anak buahnya tanpa tergantung kepada budget training mereka. Bagi Anda yang tertarik menemani saya terus belajar merancang dan melakukan program training untuk bawahannya dengan mengoptimalkan sumberdaya yang ada, saya ajak memulainya dengan mempraktekkan 5 kemampuan Natural Intellligence berikut ini:
1. Mulailah dengan hal-hal yang sederhana. Kerumitan kita dalam berpikir sering berdampak buruk kepada tindakan yang kita ambil. Banyak orang yang masih mengira bahwa training adalah urusan yang rumit. Padahal training bagi bawahan Anda itu memiliki tingkatan-tingkatannya dari yang sangat sederhana hingga hal yang sangat rumit. Lupakan hal-hal yang rumit jika Anda sudah lama tidak mentraining anak buah Anda. Mengapa? Karena mereka yang sudah lama tidak ditraining – hampir pasti – memiliki agenda penting untuk membenahi hal-hal sederhana. Contohnya; perhatikan jika beberapa anak buah Anda sering terlambat masuk kantor. Atau, perhatikan jika mereka masih sering mengambil waktu istirahat lebih banyak dari seharusnya. Atau, mereka masih mengulangi pekerjaan karena kesalahan yang tidak perlu. Hal-hal sederhana seperti itu bisa jadi merupakan agenda penting untuk ditangani. Training yang Anda lakukan untuk mereka bisa mulai dari hal-hal aktual
seperti itu. Dan untuk melakukannya, Anda tidak membutuhkan Trainer Profesional seperti saya. Anda bisa melakukannya sendiri at no cost at all.
2. Fokuslah kepada pemberdayaan. Training terbaik menurut pendapat saya adalah; training yang mampu meningkatkan kesadaran peserta untuk memberdayakan diri mereka sendiri. Bukan training yang mahal. Bukan training yang rumit. Bukan training yang dibawakan oleh orang-orang terkenal…..seperti saya (terkenal dari hongkong?). Siapa yang memberi training menjadi tidak terlalu penting, selama dia bisa membuka kesadaran itu. Pilihlah topik training atau materi diskusi soft skills yang mendorong pemberdayaan diri untuk mendampingi training-training technical skills yang Anda berikan. Mengapa? Banyak orang yang sudah terampil bekerja, tetapi tidak memiliki motivasi untuk bekerja secara maksimal. Banyak orang yang mampu, tetapi tidak percaya pada kemampuan dirinya sendiri. Dan banyak orang yang sudah dewasa namun masih suka menggandoli atasannya untuk suatu urusan yang seharusnya sudah bisa diselesaikannya sendiri. Bukankah prinsip kepemimpinan itu
adalah mendapatkan hasil dengan cara mengoptimalkan efek dari pekerjaan orang-orang yang kita pimpin? Jika demikian, maka pemberdayaan diri anak buah kita menjadi salah satu faktor paling penting untuk mewujudkannya. So, fokuslah kepada pemberdayaan.
3. Pertimbangkanlah minat mereka. Sesekali Anda boleh menanyakan kepada anak buah Anda; topik training apa sih yang mereka inginkan? Banyak atasan yang mengira bahwa apapun yang dipikirkannya pasti cocok untuk anak buahnya. Dulu, saya pernah begitu. Dan ternyata saya keliru. Saya baru menyadarinya ketika mengajukan pertanyaan diatas kepada mereka. Hal itu juga membantu saya 'menemukan' topik yang tepat untuk mereka. Lebih dari itu, juga membantu saya mendapatkan komitmen mereka. Selama topik itu bisa memperkaya jiwa mereka, menambah energy positif mereka, meningkatkan wawasan mereka; ya hayu-in aja. Percayalah, Anda tidak akan pernah rugi mendengarkan mereka. Bahkan, Anda bisa meminta salah satu dari mereka itu yang menjadi narasumbernya. Hah?! Benarkah? Sungguh, jabatan sebagai atasan tidak menjadikan kita tahu segalanya. Dan posisi mereka sebagai bawahan tidak berarti ilmunya tidak mumpuni. Tidak percaya? Coba saja buktikan sendiri. Anda
akan belajar banyak hal dari mereka. Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Saat mengembangkan mereka, kita sendiripun ikut berkembang pula.
4. Pastikan adanya proses implementasi. Sungguh, begitu banyak training hebat yang ilmunya menguap segera setelah peserta keluar dari ruang training. Begitu banyak modul tebal yang sama sekali tidak bisa diimplementasikan. Jika Anda meragukan apa yang saya katakan, silakan cek; sebagai atasan apakah Anda pernah mengikuti training seharga ribuan dollar atau puluhan juta? Jika ya, cek lagi, berapa persen dari ilmu mahal yang Anda pelajari itu benar-benar diimplementasikan? Percayalah, saya sendiri pernah begitu. Maka kriteria lain dari training yang berhasil adalah ketika ada perubahan perilaku dan cara bekerja setelah mengikuti training. Soal ini juga tidak terlalu dipengaruhi oleh trainernya. Undanglah trainer yang terbaik dikelasnya menurut penilaian Anda (bukan menurut klaim trainernya). Lalu biarkanlah anak buah Anda yang sudah ikut training itu tanpa Anda intervensi. Maka saya yakin, sehebat apapun trainer dan trainingnya, para peserta
tidak akan secara voluntary mengimplementasikannya dalam aktivitas kerja sehari-hari. Mereka hanya akan mengimplementasikannya, jika dan hanya jika sebagai atasannya; Anda mengkondisikan dan memastikan adanya proses implementasi.
5. Jagalah konsistensi iramanya.Ingatlah kembali mobil Anda yang membutuhkan perawatan rutin dan berkala. Hanya dengan kedisiplinan dan menjaga konsistensi perawatannya saja Anda akan bisa menjaga performanya. Begitu pula dengan kualitas kerja orang-orang yang Anda pimpin. Butuh konsistensi dalam pengembangan dan penyegaran pribadinya agar Anda mendapatkan hasil optimal. Bahkan oli mesin terbaik pun harus dikuras, lalu diganti lagi dengan yang baru. Begitu pula dengan motivasi dan moral kerja anak buah kita. Harus selalu kita ganti dengan yang baru dan lebih menyegarkan. Jika tidak, maka mereka akan mengalami keausan dalam mesin kinerjanya. Anda pun kehilangan performanya. Setiap 5,000 kilometer, oli mesin Anda diganti. Setiap bulan, karyawan Anda pun membutuhkan penyegaran tanpa harus selalu bergantung kepada berbagai keterbatasan. Percayalah, saya pernah berada pada posisi seperti Anda. Tetapi, untuk team saya; masih ada 1 kali pertemuan
penyegaran setiap bulan yang kami lakukan secara mandiri. Biayanya? Rp. 100,000.- pun cukup untuk membuat graham semua orang mengunyah sesuatu. Soal ini, saya berani katakan; "ANDA BISA!", Insya Allah.
Mari sekali lagi kita perhatikan ke-5 hal diatas. Anda bisa melakukan semuanya. Meskipun Anda tidak sanggup mengundang trainer eksternal ke ruang kelas Anda. Caranya? Banyak. Sesekali, Anda sendiri yang harus tampil didepan kelas. Anda bisa menunjuk seorang staf untuk berbagi ilmu kepada teman-temannya. Anda bisa meminta kepala departemen lain untuk mengisi acara di team Anda. Atau, Anda juga bisa MENGGUNAKAN salah satu artikel yang saya tulis untuk dibahas didalam kelas. Silakan lho, dibayar pakai doa pun sudah lunas. Anda bisa melakukannya dengan mengoptimalkan sumber daya internal yang ada. Janganlah lagi menjadikan keterbatasan budget training sebagai alasan untuk menihilkan proses pelatihan bawahan Anda. Berhentilah berangan-angan untuk selalu mengundang pembicara dari luar. Fungsi Trainer Profesional itu seperti 'pemeran pembantu' dalam sebuah film. Sedangkan Anda, adalah pemeran utamanya. You are the movie star! Memang banyak manfaatnya
untuk mengundang trainer dari luar. Tetapi percayalah, diluar sana tidak ada trainer yang bisa menggantikan Anda sebagai pemeran utama dalam film berjudul; "GROW YOUR PEOPLE!"
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman – 6 September 2011
Penulis buku "Natural Intelligence Leadership"(rencana terbit Oktober 2011)
2 HOURS AT YOUR BUDGET™ Since 17 August 2011
http://www.dadangkadarusman.com
Catatan Kaki:
Tidak ada seorang pun yang bisa mengambil alih tanggung jawab pengembangan anak buah kita, selain kita sendiri sebagai atasannya.
Jika pertanyaan-pertanyaan Anda belum mendapatkan jawaban dari saya, silakan untuk mengeceknya di Frequently Asked Question (FAQ) dalam website kami.
Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain. Tapi tolong, jangan diperjualbelikan ya.
Follow DK on Twitter @dangkadarusman
[Non-text portions of this message have been removed]
[gudang-ilmu] File - Salam Kenal dari Owner Gudang Ilmu
From : Mufli (Moderator Gudang-Ilmu)
Hello Kawan,
Terima kasih telah bergabung di milinglist GUDANG-ILMU
yang saya kelola. Melalui milinglist ini saya persembahkan
untuk anda semua berbagi ilmu untuk pemberdayaan bersama.
Saya undang anda berpartisi aktif, dengan mengirimkan
artikel, komentar, tips yang bermanfaat, serta jangan lupa
tetap mematuhi aturan main yang saya jelaskan di bagian
depan halaman description milinglist Gudang-Ilmu:
http://groups.yahoo.com/group/gudang-ilmu
Untuk selalu mendapatkan informasi terbaru dari saya langsung
ke email Anda, silahkan set EMAIL DELIVERY anda sebagai INDIVIDUAL,
atau setidaknya SPECIAL NOTICE.
Oya, salam kenal lebih dekat :)
Saya Mufli, tinggal di Jalan Merak 6/44 Rewwin, Sidoarjo
Indonesia. Saya banyak mengelola situs online, yg umumnya
merupakan support system untuk bisnis, training dan publikasi.
Thank you rekans :)
Best Regards
Mufli
Moderator, Gudang-Ilmu
Bila Anda ingin mengundang teman untuk join milinglist ini,
Silahkan copy undangan berikut ini, silahkan ganti informasi
tentang Anda di bagian akhir (Salam), lalu kirimkan undangan
kepada kawan-kawan Anda.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Subject: Undangan Join Gudang-Ilmu
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Hi kawan,
Ilmu bukanlah yg nomor satu,
bahkan percuma tanpa dibawa dalam tindakan.
Dengan ilmu dan hasrat yang menggebu,
banyak orang berjaya dan bermakna untuk sekitarnya.
Ilmu tentang bisnis internet, cara membangun team,
security online, forex, adsense, network marketing,
business broker, franchising, autosurf, serta juga
home based business, affiliate program, reseller,
dan sebagainya dengan cemerlang dapat ANDA dipaparkan
di forum ini, saya undang anda para pakar dan
praktisioner yang komptens.
JOIN US NOW, Semoga hanya yang terbaik buat Anda !
Cara bergabung adalah dengan mengirimkan email kosong
alamat ini:
gudang-ilmu-subscribe@yahoogroups.com
Atau silahkan berkunjung ke sini:
http://groups.yahoo.com/group/gudang-ilmu
Salam sukses paling sukses buat Anda.
Thanks Again.
[gudang-ilmu] File - Indonesia Online Ribuan anak bangsa ada di sini
Indonesia Online, Ribuan anak bangsa ada di sini
Media komunikasi online anak bangsa baik di Indonesia maupun di manca negera, dimanapun Anda berada. Silahkan ngobrol di sini, bebas dan tetap sopan tentunya. Selalu Posting dengan LENGKAP sebutkan DENGAN JELAS identitas anda (Nama, web/blog, boleh HP) dalam setiap bagian akhir posting. Dilarang: beriklan langsung kecuali di bagian footer email anda, maksimum 3 baris. Tidak diperkenankan: posting yang vulgar, argumentatif, sara, menyinggung privacy member lain, atau posting yang berulang-ulang, atau yang bertendensi iklan berlebihan. Semoga Milinglist ini dapat membuat kita bersama semakin berdaya.
Join us now: http://groups.yahoo.com/group/indonesia-online
Best regards
Indonesia-Online Moderator