Pages

feature content slider

Powered by Blogger.

Pages - Menu

Popular Posts

Blogger templates

[gudang-ilmu] Info: Proses Facelift Website www.dadangkadarusman.com

[gudang-ilmu] Info: Proses Facelift Website www.dadangkadarusman.com

 

Dear teman-teman,
Hari senin ini saya tidak posting artikel, tapi
mohon izin untuk menginformasikan bahwa selama seminggu terakhir website saya www.dadangkadarusman.com mengalami
facelift. Hari ini, prosesnya nyaris rampung, sehingga hampir semua 'penampakannya'
berubah total dari yang sebelumnya.
 
Saya mengundang teman-teman untuk mampir ke website www.dadangkadarusman.com dengan
wajah barunya.  Mohon doa untuk bisa
terus berkarya. Masukan dan kritikan untuk terus memperbaikinya diterima dengan
tangan terbuka dan ucapan terimakah.
 
Mari Berbagi Semangat!
DEKA - Dadang Kadarusman  
2 HOURS AT
YOUR BUDGET™  Since 17 August 2011
Penulis buku "Tuhan Terimalah
Taubatku"
Website: http://www.dadangkadarusman.com

Follow DK on Twitter @dangkadarusman

[Non-text portions of this message have been removed]

__._,_.___
Recent Activity:
.

__,_._,___
[gudang-ilmu] Artikel: Mengapa Sebalum Bekerja Kita Perlu Berdoa?

[gudang-ilmu] Artikel: Mengapa Sebalum Bekerja Kita Perlu Berdoa?

 

Artikel:
Mengapa Sebalum Bekerja Kita Perlu Berdoa?   
 
Hore, Hari Baru! Teman-teman.
                                                                                              
Diantara semua hal baik yang
pernah diajarkan oleh orang tua, pasti terselip tentang doa. Semua orang tua
pasti mengajari anak-anaknya untuk berdoa. Mungkin kita jarang berdoa, tetapi;
kita pun ingin agar anak-anak kita belajar berdoa. Minimal, kita pun berdoa
pada saat sembahyang. Atau, paling tidak; kita pasti berdoa saat sedang
menghadapi kesulitan. Anda, mungkin termasuk orang yang rajin berdoa setiap
hari. Mungkin juga tidak. Apapun itu, tidak menjadi masalah bagi saya. Tetapi sekarang,
izinkan saya untuk mengajak Anda berdoa setiap kali hendak berangkat ke tempat
kerja.
 
Mungkin Anda pernah mendengar
istilah 'Ulil Albab. Itu adalah gelar yang diberikan Tuhan kepada orang-orang
yang sudah mampu mencapai derajat tertentu dalam kualitas kepribadiannya. Kualitas
Ulil Albab itu antara lain adalah selalu mengingat Tuhannya dalam keadaan papapun;
pada saat berdiri, waktu duduk, dan ketika berbaring. Wah, benar-benar kelas berat
nih. Mana bisa hal itu dilakukan oleh manusia biasa, ya? Eit, tunggu dulu. Ada
sebuah resep yang diajarkan para guru kehidupan agar kita bisa melakukannya.
Resep itu berbunyi; "Awali dan akhiri segala aktivitas kerja kita dengan doa." Itu
saja? "Dan, pastikan bahwa selama mengerjakannya kita mencurahkan yang terbaik
untuk pekerjaan kita." Maka doa menjadi salah satu kunci menuju kualitas
pribadi yang mumpuni. Bagi Anda yang tertarik untuk menemani saya belajar menemukan
makna dibalik doa yang kita ucapkan sebelum bekerja, saya ajak untuk memulainya
dengan memahami 5 sudut pandang Natural Intellligence berikut ini:
 
1.      Doa mencerminkan rasa syukur pada pekerjaan. Pekerjaan yang
kita miliki adalah anugerah. Namun, kita sering tidak menyadarinya. Nikmat
pekerjaan sering terhalang oleh kurangnya pendapatan, perlakuan buruk dari
atasan, omelan menyakitkan dari pelanggan, kemacetan di jalan dan berbagai
macam hal lainnya. Tidak heran jika setiap kali pergi ke kantor, berasa berat
hati kita. Kita lupa, bahwa pekerjaan ini adalah anugerah yang tiada tara.
Sekarang, cobalah bayangkan; bagaimana seandainya kita tidak memiliki pekerjaan
itu. Apakah sudah ada alternatif lain yang bisa menjadi sumber penghasilan?
Pekerjaan kita ini bukan sekedar bisa memberi penghasilan untuk memenuhi
kebutuhan fisik belaka. Penghasilan itu juga sangat menentukan 'harga diri kita'.
Bukankah orang-orang yang tidak punya penghasilan sering disepelekan oleh
lingkungan? Ternyata, pekerjaan ini bukan sekedar memberi kita pemenuhan
kebutuhan materi, melainkan juga menjaga harga diri kita. Maka patutlah jika
kita mensyukurinya. Doa itulah ungkapan rasa syukur kita. Mulai sekarang,
sebelum pergi ke kantor, biasakanlah untuk berdoa, dan katakanlah;"Tuhan,
terimakasih telah Engkau berikan anugerah pekerjaan ini kepadaku. Izinkan hamba
untuk merengkuh hidup dan meraih nafkahmu melalui pekerjaan hari ini."
 
2.      Doa melindungi kita dari rasa kecewa. Ketika berdoa, kita
menyerahkan segala urusan kepada Sang Maha Pengurus. Itu berarti kita berkomitmen untuk menerima apapun yang
diputuskan olehNya untuk diri kita. Maka jika selama bekerja hari itu, ada
sesuatu yang mengecewakan hati, kita akan tetap menerimanya dengan ikhlas dan
lapang dada. Meski atasan Anda marah-marah. Walau bawahan Anda mengesalkan.
Biarpun pelanggan Anda memaki-maki. Namun, doa yang tadi pagi Anda panjatkan
melindungi hati Anda dari rasa kecewa. Jika tadi pagi Anda belum sempat berdoa,
sekarang berdoalah. Dan buktikan sendiri, bahwa dengan doa itu hati Anda akan
semakin lapang. Mengapa demikian? Karena saya telah membuktikannya sendiri.
Namun, saya tidak menyetahui hal itu dari hasil penelusuran sendiri. Guru
kehidupan saya yang mengajarkannya pertama kali. Beliau mengajarkan tentang
firman Tuhan yang mengatakan bahwa; "hanya dengan mengingat Allah saja hati
bisa tenteram." Tidak ada cara lain untuk membuat hati tenteram, kecuali dengan
selalu mengingatNya. Melalui doa itu, kita menunjukkan kepada Tuhan bahwa kita
selalu mengingatNya. Dan dengan doa itu, hati kita terlindung dari rasa kecewa.
 
 
3.      Doa menumbuhkan semangat untuk melayani. Tidak masalah jenis
pekerjaan apapun yang Anda tangani. Sales, finance, HR, manufacturing,
marketing, legal, apapun. Semua pekerjaan yang berbeda-beda itu mempunyai inti
fungsi yang sama, yaitu; melayani. Pekerjaan kita adalah melayani orang lain.
Coba perhatikan, apakah yang saya katakan itu benar? Anda bertugas untuk
melayani orang lain, bukan? Bahkan sekalipun setiap hari Anda selalu berkutat
dengan benda mati; komputer, mesin, kertas-kertas. Tetapi, Anda melakukan semua
itu untuk menghasil sebuah produk atas jasa yang bisa melayani orang lain.
Mungkin ada yang melayani orang lain di luar kantor, ada juga yang melayani
orang di dalam perusahaan. Makanya kita mengenal external maupun internal
customer. Bahkan sekalipun Anda sudah menjadi manager dan direktur, tugas Anda
tetap melayani orang lain. Doa yang kita panjatkan tadi itu, merupakan komitmen
kepada Tuhan bahwa kita akan mengerjakan pekerjaan dengan sebaik-baiknya.
Artinya, kita bertekad untuk melayani orang lain dengan sebaik-baiknya. Maka
pada hari ini, Anda pasti memperlakukan orang lain dengan sebaik-baiknya.
Mengapa? Karena Anda sudah berkomitmen kepada Tuhan, untuk memperlakukan mereka
sebaik mungkin. Maka pantas, jika Tuhan pun memperlakukan Anda dengan
sebaik-baiknya.
 
4.      Doa menghalangi kita dari perbuatan tercela. Tidak masalah,
apapun keyakinan atau agama Anda. Satu hal yang saya percaya; Tuhan kita adalah
sama. Karena tidak ada Tuhan lain selain Dia. Tuhan yang kita yakini ini tidak
pernah menyukai perbuatan tercela. Justru Dia memerintahkan untuk
menghindarinya. Bahkan, kepada orang-orang yang berhasil menjaga dirinya dari
perbuatan tercela Tuhan memberikan reward yang tidak ternilai harhanya, yaitu;
menjadikan dia pribadi yang mulia. Bayangkan, kita dijadikan oleh Tuhan sebagai
pribadi yang mulia hanya karena kita menghindari perbuatan tercela. Tengoklah,
fakta hidup disekitar kita. Tidak peduli setinggi apapun jabatannya, seseorang
yang melakukan perbuatan tercela pasti hina dihadapan orang lain. Kita tidak
pernah menaruh respek kepada pejabat tinggi yang perilakunya tidak senonoh,
bukan? Semua perilaku buruk kita di tempat kerja bukan seluruhnya datang dari
dalam diri kita, melainkan dikompori oleh syetan. Hanya ada satu cara untuk
selamat dari godaannya, yaitu berlindung kepada Tuhan. Doa yang pagi tadi kita
panjatkan, menghalangi kita dari perbuatan tercela. Mengapa? Karena kita akan
merasa malu jika menodai niat baik untuk bekerja dihadapan Tuhan itu, dengan perilaku
buruk ditempat kerja. Atau perbuatan-perbuatan nista lainnya di di jam kerja.  
 
5.      Doa menjadikan pekerjaan kita bernilai
ibadah.Berapa
banyak gaji yang Anda terima? Tidak peduli sebanyak apapun itu, tapi
belum tentu sepadan dengan pengorbanan yang Anda berikan. Waktu Anda yang
tersita. Kepentingan keluarga Anda yang dinomorduakan. Perasaan dan gengsi Anda
yang dikorbankan. Bahkan sampai resiko kematian. Semua sudah Anda pertaruhkan. Di
beberapa lokasi kerja, kita menemukan orang yang cedera, bahkan sampai
kehilangan nyawa. Santunan miliaranpun belum tentu sepadan dengan pengorbanan
kita. Maka dari itu, kita harus berani 'menaikkan' imbalan itu tanpa harus
bergantung kepada persetujuan managemen. Apa ada imbalan yang dinaikkan tanpa
tergantung pada managemen? Ada. Yaitu imbalan yang Anda minta dari Tuhan. Guru
kehidupan saya mengajarkan nasihat Rasulullah bahwa orang yang bekerja dengan
ikhlas dan meniatkannya untuk beribadah pada hakekatnya sedang berjihad di
jalan Allah. Bahkan jika sampai mereka meninggal karena bekerja, mereka dijamin
mendapatkan pahala terbaik disisiNya. Sungguh, doa yang kita panjatkan setiap
pagi sebelum berangkat bekerja menjadikan segala sesuatunya bernilai ibadah.
 
Doa
itu sangat sederhana. Tetapi implikasinya sarat dengan makna. Orang yang
mengawali kerjanya dengan doa, tidak pelit untuk mengerahkan semua daya
dirinya. Orang yang berdoa sebelum bekerja berani menunjukkan yang terbaik dari
dirinya. Mereka melakukan itu bukan hanya sekedar menyenangkan para
stakehordernya; melainkan dia sedang menyenangkan Tuhannya. Maka, mari dari
sekarang kita belajar memulai pekerjaan dengan doa. Sebelum melangkahkan kaki
ke tempat kerja, berdoalah. Maka pekerjaan kita hari itu, akan bernilai ibadah.
 
Mari Berbagi Semangat!
DEKA - Dadang Kadarusman  - 18 Agustus 2011
2 HOURS AT YOUR
BUDGET™  Since 17 August 2011
Penulis
buku "Tuhan Terimalah Taubatku"
Website: http://www.dadangkadarusman.com
 
Catatan Kaki:
Doa
itu adalah investasi murah yang pasti menghasilkan laba yang melimpah ruah.
 
Silakan di-share jika naskah ini Anda
nilai bermanfaat bagi yang lain. Tapi tolong, jangan diperjualbelikan ya.

Follow DK on Twitter @dangkadarusman

[Non-text portions of this message have been removed]

__._,_.___
Recent Activity:
MARKETPLACE
A bad score is 598. A good idea is checking yours, at freecreditscore.com.
.

__,_._,___
[gudang-ilmu] Artikel: Menyambut Kedatangan Si Kembar

[gudang-ilmu] Artikel: Menyambut Kedatangan Si Kembar

 

Artikel:
Menyambut Kedatangan Si Kembar
 
Hore, Hari Baru! Teman-teman.
                                                                                              
Saya tidak tahu apa yang
dirasakan oleh orang tua yang mempunyai anak kembar. Tapi setiap kali melihat
anak kembar, saya selalu tekagum-kagum. Ada 'nilai lebih' pada segala sesuatu yang
kembar. Makanya si kembar selalu mampu menarik perhatian. Pada 17 Agustus 2011
kita kedatangan si kembar. Satunya adalah peringatan hari kemerdekaan Republik
Indonesia, dan satu lagi adalah peringatan turunnya kitab suci Al-Qur'an yang
bertepatan dengan 17 Ramadhan 1432H. Jika bukan pemeluk Islam, mungkin Anda
tidak merasa berkepentingan. Tetapi, mengapa tidak kita gunakan momentum ini
untuk sama-sama menilai kembali pemahaman kita terhadap kitab suci
masing-masing?
 
Saya bertanya kepada
teman-teman di facebook; apa hikmah kembaran hari kemerdekaan dengan hari
turunnya Al-Quran? Teman saya menjawab begini; kalau ingin merdeka, maka
bacalah kitab sucimu. Sungguh, hal itu merupakan sebuah jawaban yang memiliki
begitu banyak makna. Bagi Anda yang tertarik untuk menemani saya belajar menemukan
makna apa saja yang bisa kita dapatkan dari fenomena kembaran itu, saya ajak
untuk memulainya dengan memahami 5 sudut pandang Natural Intellligence berikut
ini:
 
1.      Bacalah kitab sucimu. Sudah bukan rahasia lagi jika kitab
suci dirumah-rumah sering menjadi mahluk yang kesepian. Karena jarang disentuh
oleh pemiliknya, kitab suci juga menderita penyakit jablay. The Book of Eli
adalah sebuah film futuristik yang menceritakan tentang zaman dimana manusia
kehilangan pegangan. Perang nuklir menyebabkan segala sesuatu di muka bumi musnah
kecuali sedikit orang yang sempat bersembunyi di bunker perlindungan. Setelah
itu, manusia harus berjuang untuk mengumpulkan sisa-sisa peradaban. Hampir
semua faktor penting berhasil ditemukan. Namun ada satu buku yang masih hilang.
Buku apakah itu? Holy book alias kitab suci. Tanpa kitab suci, ternyata manusia
tidak bisa merekonstruksi kehidupannya. Mengapa? Karena hanya kitab suci yang
bisa membimbing kita menuju peradaban yang sebenarnya. Film itu mengingatkan
kita; jangan menunggu bumi hancur dulu baru mau membaca kitab suci. Bacalah
sekarang, karena hanya kitab suci yang bisa menjadikan hidupmu bermakna. Maka,
bacalah kitab sucimu.
 
2.      Berdayakanlah dirimu. Apalah artinya kemerdekaan jika kita
masih terbelenggu dalam ketidakberdayaan. Jika segala sesuatunya masih
bergantung kepada orang lain, kita belum benar-benar merdeka. Lho, bukankah
sebagai mahluk sosial kita ini saling membutuhkan? Iya, tapi derajatnya setara.
Kita membutuhkan orang lain, dan orang lain membutuhkan kita juga. Artinya, ada
sesuatu yang bisa kita lakukan sehingga bisa memberi nilai tambah bagi
kehidupan orang lain. Jangan pernah mau menjadi benalu yang hanya bisa menerima
tetapi tidak bisa memberi. Mengapa? Karena ketika kita tidak bisa memberi, maka
itu berarti kita menyerahkan nasib kepada orang lain. Ketika orang lain menilai
tidak ada lagi gunanya kita, maka pasti kita akan dicampakkan juga. Orang lain
hanya akan mau menerima kita, jika dan hanya jika kita cukup berharga. Jadi, berdayakanlah
dirimu. Karena harga
diri kita, ditentukan oleh daya diri kita.
3.      Berikanlah kontribusimu. Salah satu ciri manusia merdeka
adalah; bersedia melakukan sesuatu bagi orang lain tanpa takut akan menjadi
miskin. Saat saya mencanangkan program 2 JAM SEIKLASNYA™ Since 17 August 2011,ada angin sepoi berkata;"Seperti
pembicara murahan." Kan hanya 'seperti', bukan murahan beneran. Itulah respon
saya. Profesi saya adalah penulis dan pembicara publik. Untuk ikut berkontribusi,
saya baru bisa menggunakan lidah dan jari jemari. Belum bisa dengan uang atau
pengaruh, apalagi kekuasaan. Kalau biasanya saya pasang tarip untuk bicara 2
jam, sekarang saya tidak mau begitu lagi. Harapannya, perusahaan atau lembaga
yang ingin 'nanggap' saya tidak lagi terjajah oleh tarip yang belum tentu cocok
dengan budget mereka. Sejak dulu pun saya bertekad untuk melakukan itu,
tapi  'nanti' kalau saya sudah kaya. Sekarang
saya belum kaya, tapi sudah merdeka. Maka saya mempercepat keputusan untuk
tidak menetapkan tarip bukan 'nanti', tapi sejak hari kemerdekaan ini. Saya
menyediakan diri untuk berkontribusi. Sekarang, apa yang akan Anda kontribusikan
bagi bangsa ini?  Devisa, hasil karya,
lapangan kerja, pemikiran, gagasan, atau apa saja. Rakyat berterimakasih kepada
Anda.
 
4.      Hargailah pendahulumu. Ini bukan soal senioritas. Tetapi soal
fakta bahwa kemerdekaan ini tidak didapatkan dengan penjuangan kita. Sudah kesiangan
untuk menjadi pahlawan. Lagipula, kita tidak bisa melepaskan diri dari masa
lalu yang sudah susah payah dibangun oleh para pendahulu kita. Salah satu hal
yang telah secara gamblang kita sepelekan adalah bagaimana para founding
fathers kita meletakkan dasar-dasar kenegaraan. Bahkan kita masih sering
mentertawakan Dasar Negara Pancasila. Kritik kita begitu pedasnya. Padahal kita
pun belum tentu sanggup merancang pengganti yang sepadan apalagi lebih baik
darinya. Sudah cukup mengobrak-abrik fondasi bangsa kita. Kalau mau berdebat,
tidak perlu menjadikan Pancasila sebagai sasaran. Fokuslah kepada apa yang
benar-benar bisa kita lakukan untuk bangsa ini. Berhentilah menggugat para
pendahulu kita. Perjuangan mereka, sudah nyata hasilnya. Sekarang, giliran kita
untuk meneruskan. Jika ada yang harus diperbaiki dari kiprah mereka, lakukan
saja tanpa harus mencederai nama baik dan jasa-jasanya.
 
5.      Merdekakanlah dirimu dari sifat
penjarah.Kita
sudah lama tidak lagi berhadapan dengan penjajah. Sebagai gantinya, kita
dipusingkan oleh para penjarah. Ironisnya, sang penjarah bisa jadi sebelumnya
adalah orang yang paling lantang suaranya ketika berdiri diatas mimbar orasi
demokrasi. Benar, kita memang punya sifat menghujat orang lain. Tetapi, begitu
mencicipi nikmatnya keju yang dipercayakan untuk kita jaga, kita tergoda oleh
aromanya yang menggiurkan. Setelah menduduki kursi empuk, janganlah
sampai ikut-ikutan menjadi tikus yang sama rakusnya dengan tikus-tikus yang sebelumnya
kita berangus. Hati-hati dengan tikus, karena wajahnya mirip kelelawar. Hati-hati
dengan kelelawar, karena dia dia temannya vampire. Hati-hati dengan vampire karena
gigitannya menyebabkan virus para tikus menular. Nah. Kalau sudah tertulas virus
tikus itu, biasanya kita berubah dari pejuang demokrasi menjadi tikus yang
lebih rakus lagi. Maka masa penjajahan yang sudah lewat, digantikan oleh masa
penjarahan yang sulit dihentikan. Jadi, merdekakanlah dirimu dari sifat penjarah.
 
Merdeka!
Itu tidak berarti hidup tanpa aturan hingga boleh melakukan apa saja sesuka
hati kita. Merdeka! Itu adalah isyarat untuk secara leluasa mengekspresikan
nilai tertinggi kita sebagai manusia. Peringatan hari kemerdekaan kita tahun
ini diiringi oleh peringatan turunnya kitab suci. Bukankah ini isyarat dari
langit agar kita bisa mau kembali membaca kitab suci? Jika mau menjadi pemimpin
Negara yang baik, bacalah kitab suci. Jika ingin menjadi warga Negara yang
baik, bacalah kitab suci.
 
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman  - 16 Agustus 2011
Penulis
buku "Tuhan Terimalah Taubatku"
Website: http://www.dadangkadarusman.com
2 JAM SEIKLASNYA™  Since 17 August 2011
 
Catatan Kaki:
Kemerdekaan
paling tinggi adalah ketika kita tidak lagi membiarkan diri sendiri dijajah
oleh hawa nafsu untuk melakukan tindakan yang tidak disukai oleh Tuhan.
 
Silakan di-share jika naskah ini Anda
nilai bermanfaat bagi yang lain. Tapi tolong, jangan diperjualbelikan ya.

Follow DK on Twitter @dangkadarusman

[Non-text portions of this message have been removed]

__._,_.___
Recent Activity:
.

__,_._,___
[gudang-ilmu] Alhamdulillah, buku terbaru saya sudah selesai dicetak

[gudang-ilmu] Alhamdulillah, buku terbaru saya sudah selesai dicetak

 

Dear teman-teman,
 
Alhamdulillah naskah buku terbaru yang bulan lalu saya mintakan doa dari teman-teman sudah selesai dicetak. Insya Allah pekan ini sudah mulai memasuki toko buku secara bertahap. Judul buku kali ini adalah; "Tuhan, Terimalah Taubatku." Didalamnya saya tidak berteori tentang bagaimana caranya bertaubat. Justru saya membeberkan dosa-dosa yang dimasa lalu pernah saya perbuat. Dosa kepada orang tua, dosa kepada mertua, dosa kepada istri, dosa kepada anak, dosa kepada tetangga, dosa kepada atasan, dosa kepada bawahan, dosa kepada orang-orang yang saya kenal, dan dosa kepada orang-orang yang tidak saya kenal. Juga, dosa saya kepada Tuhan.
 
Melalui buku itu, saya tidak sedang menelanjangi diri sendiri. Atau menggurui orang lain. Justru saya ingin mengajak pembaca untuk menemani saya bertaubat. Khusus bagi orang-orang yang pernah saya sakiti, buku itu adalah pengakuan dosa saya. Semoga berkenan memaafkan saya.
 
Salam,
Dadang Kadarusman  - 15 Agustus 2011
Penulis
buku "Tuhan Terimalah Taubatku"
Website: http://www.dadangkadarusman.com
 
Follow DK on Twitter @dangkadarusman

[Non-text portions of this message have been removed]

__._,_.___
Recent Activity:
.

__,_._,___
[gudang-ilmu] Artikel: Pengacara Dalam Persidangan Setiap Orang

[gudang-ilmu] Artikel: Pengacara Dalam Persidangan Setiap Orang

 

Artikel:
Pengacara Dalam Persidangan Setiap Orang
 
Hore, Hari Baru! Teman-teman.
                                                                                              
Salah satu hal yang ingin
saya hindari dalam hidup adalah; terlibat masalah hukum. Saya ingin terhindar
dari urusan seperti itu karena jika menyimak kasus-kasus hukum yang terjadi di
sekitar kita, kelihatannya sungguh sangat menyulitkan. Sidang bolak-balik.
Masuk bui. Kehilangan harga diri, serta sejumlah konsekuensi lainnya. Setiap
orang yang menghadapi masalah hukum harus didampingi oleh pengacara. Makanya
pengacara menjadi salah satu profesi yang paling bergengsi sekaligus paling
menghasilkan di seluruh dunia. Namun ada satu jenis persidangan dimana
pengacara paling kondang sekalipun tidak akan sanggup untuk memberikan
pembelaan. Jangankan membela orang lain. Membela dirinya sendiri pun belum
tentu berhasil. Ingatkah Anda persidangan apakah gerangan itu?
 
Dalam sebuah majlis ilmu
seorang pengacara kawakan berkata begini;"Di dunia Anda bisa menyewa pengacara seperti
saya. Di akhirat, Anda harus bisa membela diri Anda sendiri."  Saya sungguh tergelitik dengan pernyataan
beliau. Kalimat itu meluncur dari mulut seorang ahli hukum yang profesinya
adalah mendampingi orang-orang yang sedang berperkara di persidangan. Maka
bobot perkataannya sungguh sangat tinggi. Oleh karenanya, setiap pribadi wajib
mempersiapkan diri menghadapi persidangan yang harus kita hadapi sendiri itu. Bagi
Anda yang tertarik untuk menemani saya belajar mempersiapkan diri menghadapi majlis
persidangan Tuhan, saya ajak untuk memulainya dengan menerapkan 5 prinsip
Natural Intellligence berikut ini:
 
1.      Mempersiapkan saksi-saksi kita. Dalam setiap persidangan
selalu ada saksi.
Perannya sangat krusial dalam menentukan keputusan hakim. Maka mempersiapkan
saksi menjadi bagian yang sangat penting untuk memenangkan sebuah perkara dalam
persidangan. Kita sering mendengar pernyataan yang berbeda 180 derajat dari
saksi-saksi di persidangan. Padahal, sebelum bersaksi mereka terlebih dahulu bersumpah.
Jika untuk satu perkara ada 2 pernyataan yang bertolak belakang, ada kemungkinan
salah satunya berisi kebohongan. Dalam syairnya yang dipopulerkan oleh Chrisye,
Pak Taufik Ismail menyatakan jika akan datang hari ketika mulut dikunci, dan
kata tak ada lagi. Akan tiba masa dimana tak ada suara dari mulut kita. Berkata
tangan kita, tentang apa yang dilakukannya. Berkata kaki kita, kemana saja
melangkah. Bersama anggota badan lainnya mereka akan menjadi saksi bagi kita.
Oleh sebab itu, kita perlu mempersiapkan saksi-saksi itu untuk memberikan
pembelaan kepada diri kita. Karena kesaksian mereka akan menentukan keputusan
sidang Tuhan yang akan kita terima.
 
2.      Memperbanyak amal-amal kita. Salah satu kabar tak sedap yang
melanda dunia peradilan kita adalah kentalnya peran uang dalam sebuah
persidangan. Ruang sidang seolah sudah menjadi milik mereka yang banyak uang.
Di persidangan Tuhan juga demikian. Bedanya, yang berperan disana bukan uang,
melainkan amal saleh yang pernah kita lakukan. Setiap kebaikan yang kita
kerjakan dengan tulus ikhlas hendaknya disertai dengan pengharapan balasan
Tuhan. Semakin lurus niat kita, semakin murni pahala yang kita terima. Itulah
yang akan menjadi tabungan akhirat kita. Amal saleh tidak harus selalu
dilakukan dengan sokongan materi. Tidak mesti menjadi orang kaya untuk berbuat
baik. Tidak perlu menunggu hingga mempunyai banyak uang untuk melakukan
kebaikan. Tanpa uang pun kita bisa mengambil peran. Amal saleh juga tidak
selalu harus berupa tindakan besar. Hal-hal kecil pun tetap dihitung. Bahkan
sekedar menyingkirkan paku yang kita temukan di jalan. Karena dimata Tuhan,
bahkan amalan sekecil biji sawi ada hitungannya. Maka perbanyaklah amal saleh.
Karena amal-amal itulah yang bisa menentukan kemenangan dalam persidangan.
 
3.      Menghindari perbuatan-perbuatan tercela. Berapa banyak
kesaksian di ruang pengadilan yang dibalas oleh teriakan; bohong!. Mungkin kita
ingin sekali meneriakan kata yang sama ketika sekujur tubuh kita memberikan
kesaksian yang memberatkan. Percuma. Tidak ada kesaksian palsu dalam sidang
Tuhan. Maka hanya ada satu cara untuk bisa mencegah kesaksian memberatkan,
yaitu; menghindari perbuatan yang tidak disukai oleh Tuhan. Berhentilah berbuat
dosa-dosa yang disengaja. Apa saja dosa yang disengaja itu? Hanya Anda sendiri
yang mengetahuinya. Memang berat menghentikan sebuah kebiasaan yang memberikan
rasa nikmat. Meski kita sadar bahwa kenikmatan itu berselumur dosa. Namun
sungguh, setiap anggota tubuh kita yang terlibat dalam perbuatan itu akan
memberikan kesaksian yang memberatkan bagi kita. Yuk, kita hentikan semua
perbuatan dosa itu. Lalu sama-sama berkomiten untuk menghindari perbuatan
tercela lainnya.
 
4.      Banyak-banyaklah meminta maaf. Perilaku terdakwa selama
menjalani persidangan juga merupakan faktor penting. Mereka yang kooperatif,
tidak berbelit-belit, serta menunjukkan penyesalan biasanya mendapatkan penilaian
positif dari hakim. Itu dalam persidangan manusia. Di persidangan Tuhan tidak
demikian. Mengapa? Karena sejak di dunia Tuhan sudah tahu perilaku buruknya,
dan Dia telah menyerunya untuk berhenti. Namun, orang tidak menggubris  peringatan itu. Pantas jika Tuhan marrrrahh. Penyesalan
sudah tidak memiliki makna lagi, karena tempat menyesal itu adalah dunia. Jika
sungguh menyesali perbuatan-perbuatan nista, maka tunjukkanlah sejak kita masih
punya kesempatan di dunia. Minta maaflah sebanyak-banyaknya kepada sesama
manusia. Ikutilah permintaan maaf itu sengan insyaf. Dan tinggalkanlah semua
perilaku keliru yang pernah kita terjadi. Hanya itu cara satu-satunya untuk
menunjukkan kesungguhan dan kerjasama kita dengan majlis hakim di sidang Tuhan.
Kita harus melakukannya sebelum memasuki ruang sidang, sebab setelah berada
didalamnya; tidak berlaku lagi kata taubat. Maka bertaubatlah secara
sungguh-sungguh. Kemudian, katakanlah dengan sepenuh ketulusan "Tuhan,
terimalah taubatku."
 
5.      Memilih pembela terbaik.Sang
pengacara benar ketika mengatakan bahwa diakhirat kita harus bisa membela diri
kita sendiri. Tetapi guru kehidupan saya pernah menjelaskan bahwa didalam
pengadilan akhirat kelak ada satu orang manusia istimewa yang bersedia membela
kita. Siapakah gerangan orang itu? Dia adalah Nabimu. Utusan yang engkau taati
seruannya dalam iman. Maka penting bagi setiap orang untuk menentukan siapa
Nabi bagi dirinya dan benar-benar mengikuti ajarannya. Saya tidak tertarik
untuk mengajak Anda agar mengimani Nabi yang saya yakini. Karena mengimani para
Rasul suci utusan Tuhan adalah bagian dari keimanan yang diajarkan oleh Nabi
yang saya imani. Saya lebih tertarik untuk mengajak Anda bersama-sama
mengimani mereka dengan sungguh dan utuh, karena hanya dengan kepatuhan itu
saja kita berharap Sang Nabi berkenan menjadi pembela kita dihadapan Tuhan.
Jika kita tidak patuh kepada ajarannya, mengapa pribadi suci itu harus
memberikan pembelaan? Maka, patuhilah Nabi-mu dan murnikanlah kepatuhan pada
ajarannya. Karena dia adalah satu-satunya orang yang bisa menjadi pembela bagi
kita.
 
Setiap
orang perlu memiliki kemampuan untuk membela diri. Latihlah kemampuan membela
dirimu. Karena hal itu akan sangat diperlukan ketika kita menghadapi pengadilan
Tuhan. Caranya, bukan dengan sekolah di fakultas hukum. Bukan pula ikut kelas
kursus debat. Melainkan dengan menggunakan seluruh bagian tubuh kita untuk
belajar melakukan kebaikan-kebaikan. Karena dalam sidang Tuhan; tangan, kaki,
telinga, mulut, kulit dan seluruh bagian dalam tubuh kita memiliki argumennya
sendiri-sendiri ketika mengatakan apa yang sudah kita lakukan semasa hidup.
 
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman  - 11 Agustus 2011
Penulis
buku "Tuhan Terimalah Taubatku"
Website: http://www.dadangkadarusman.com
Buktikan "SEIKHLASNYA";  mulai 17 Agustus 2011
 
Catatan Kaki:
Cara
terbaik melatih diri sendiri untuk menjadi pembela dalam sidang Tuhan adalah;
menggunakan seluruh anggota tubuh kita untuk melakukan sebanyak mungkin
kebaikan.
 
Silakan di-share jika naskah ini Anda
nilai bermanfaat bagi yang lain. Tapi tolong, jangan diperjualbelikan ya.

Follow DK on Twitter @dangkadarusman

[Non-text portions of this message have been removed]

__._,_.___
Recent Activity:
.

__,_._,___
[gudang-ilmu] Artikel: Bersaing Dengan Teman Secara Sportif

[gudang-ilmu] Artikel: Bersaing Dengan Teman Secara Sportif

 

Artikel:
Bersaing Dengan Teman Secara Sportif
 
Hore, Hari Baru! Teman-teman.
                                                                                              
"Sesama bis kota dilarang
saling mendahului," dulu dikaca belakang bis umum selalu ada tulisan seperti
itu. Saya selalu tergelitik setiap kali ingat kalimat itu. Mengapa 'sesama bis
kota', ya? Tapi benar juga, soalnya bis kota kan tidak mungkin saling
mendahului dengan kereta api. Apalagi dengan pesawat terbang. Meski sekarang
sudah tidak ada lagi tulisan seperti itu, tetapi tidak berarti kalimat itu
tidak relevan lagi. Khususnya bagi kita yang bukan pengemudi bis kota. Lho, kok
kita? Iya, karena perilaku 'mengemudi' ugal-ugalan yang kita lakukan dalam
mengarungi roda kehidupan sering jauh lebih parah dari persaingan antar bis
kota. Persis seperti bis kota yang bersaing dengan sesama bis kota, kita hanya
bersaing dengan sesama kita juga. Dan, persaingan kita sering dikasih bonus
berupa rasa iri didalam hati.
 
Persaingan terjadi
dimana-mana. Di panggung politik. Di lingkungan tempat tinggal. Di kantor.
Dimana saja. Zaman sekarang, kita sudah jarang melihat persaingan yang sportif.
Contoh tidak sportif yang paling buruk ada di panggung politik yang penuh
dengan intrik. Disusul oleh persaingan dikantor yang sering dicederai oleh manuver-manuver
kotor. Di lapangan olah raga, sesekali kita juga melihat ada noda. Mungkin
sudah saatnya kita galakan lagi semangat bersaing secara sportif. Bagi
kebanyakan orang sportivitas itu bukan dalam konteks panggung politik atau
lapangan olah raga, melainkan dalam persaingan dengan teman di kantor. Bagi Anda
yang tertarik untuk menemani saya belajar bersaing dengan teman di kantor
secara sportif, saya ajak untuk memulainya dengan menerapkan 5 prinsip Natural
Intellligence berikut ini:
 
1.      Mencari kelebihan sang pesaing. Dalam bersaing, kebanyakan
orang gemar mencari-cari kesalahan orang lain. Padahal, kesalahan orang lain sama sekali tidak memberi energy
positif bagi diri kita. Belajarlah untuk mencari kelebihan dan keunggulan orang
lain. Dengan begitu kita akan semakin termotivasi untuk terus meningkatkan
diri. Inti dari sebuah persaingan bukan sekedar bisa 'meraih' sesuatu yang
diperebutkan, melainkan 'bisa melakukan apa' dengan sesuatu yang kita raih itu.
Setelah meraihnya, kita bisa apa. Salah satu sumber kekecewaan kita kepada para
'juara' adalah ketika kita tahu bahwa setelah memenangkan persaingan itu,
ternyata sang juara tidak bisa melakukan sesuatu yang kita harapkan. Maka
ketika kita yang menjadi juaranya, orang lain juga memiliki tuntutan yang sama
kepada kita. Hanya jika kita benar-benar 'mampu' saja orang lain akan
menghargai 'kemenangan' kita. Jika tidak? Mereka akan berpaling kepada orang
lain sekalian berharap kita segera tergantikan. Maka carilah kelebihan yang
dimiliki oleh orang lain. Dan jadikan hal itu motivasi untuk terus meningkatkan
kualitas diri.
 
2.      Menggandeng tangan sang pesaing. Dijalan-jalan, sekarang
kita sudah mulai melihat banyak bis gandengan. Ada 2 bis yang berjalan
bersama-sama. Dengan bis gandeng itu, lebih banyak penumpang yang bisa diangkut
dalam satu waktu. Lebih sedikit bahan bakar yang dihabiskan. Dan lebih efisien
tenaga sopir yang dikeluarkan. Ini adalah symbol indahnya sinergi yang bisa
kita bangun dengan sesama pesaing kita. Mari kita tengok teman-teman yang
menjadi pesaing terkuat di kantor. Bagaimana kalau kita konversi saja energy untuk
saling menyalip itu dengan kesediaan untuk berkolaborasi. Dijamin, manfaat yang
bisa kita kontribusikan kepada perusahaan akan jauh lebih baik dibandingkan
dengan ketika kita sama-sama ngotot untuk saling sikut. Tapi kan jabatan yang
diperebutkan hanya ada satu. Yang diperlukan oleh perusahaan bukanlah sekedar
kemampuan untuk mengalahkan pesaing. Tetapi ada soft skill yang jarang dimiliki
orang namun sangat penting, yaitu; 'mengelola kekuatan orang lain'. Ketika Anda
mendemonstrasikan kemauan dan kemampuan untuk berkolaborasi dengan pesaing
terkuat Anda; maka Anda sudah menunjukkan kemampuan langka itu.
 
3.      Berikan pujian yang tulus kepada pesaing. Saat bersaing,
kita sering enggan untuk memberi pujian kepada lawan. Padahal, pujian
memberikan efek energy positif bagi kedua belah pihak. Lebih dari itu, pujian
tulus yang kita lontarkan bagi orang lain mengundang simpati pihak-pihak yang
tidak memiliki hubungan secara langsung. Jika saya memuji Anda dengan tulus
hati, maka bukan hanya Anda yang bisa merasakan ketulusan saya. Orang-orang
lain yang melihat saya memuji Anda pun merasakan hal yang sama. Sebagai bonusnya,
orang lain itu mempunyai kesan yang positif terhadap saya. Sama halnya jika
pujian atau kredit poin tulus itu Anda yang memberikan kepada pesaing Anda. Dan
biarkan orang lain mengetahui Anda melakukan itu. Maka selain Anda bisa
membangun hubungan emosi positif dengan pesaing Anda, maka orang-orang lain
yang 'berada di luar arena' akan memberikan simpatinya kepada Anda. Bagaimana
jika pujian itu malah membuat pesaing Anda semakin besar kepala? Bagus. Karena
semua orang akan semakin tahu kualitas yang sesungguhnya. Bukankah orang
menyukai sifat sportif dan ketulusan?
 
4.      Menyokong kemajuan pesaing. Menjegal langkah orang lain? Ah,
itu sudah terlampau biasa kita temukan. Selain bukan perilaku bermartabat, itu
juga tidak menunjukkan keunggulan apa-apa. Kualitas kepemimpinan seseorang
justru terlihat dari kemampuannya untuk menyokong kemajuan orang lain. Mengapa harus
begitu? Karena menjadi pemimpin adalah tentang bagaimana membantu orang-orang
yang kita pimpin maju lebih pesat dan mengembangkan dirinya lebih cepat.
Mengapa banyak pemimpin yang tidak mampu untuk mengembangkan bawahannya? Karena
sebelum menjadi pemimpin mereka tidak belajar menyokong kemajuan orang lain.
Maka jadikanlah pesaing terdekat Anda sebagai 'murid' yang bisa Anda gunakan
untuk berlatih mengembangkan orang lain. Jika memang dia pesaing hebat, tentu
dia punya bakat. Sehingga Anda dijamin akan berhasil mengembangkannya. Dan itu
adalah prestasi kepemimpinan yang layak Anda rayakan. Lalu Anda pikirkan lagi, "aspek
apa lagi yang bisa Anda kembangkan dari pesaing yang satu ini?" Secara tidak
langsung, Anda telah menempa diri sendiri menjadi seorang pemimpin sejati.
 
5.      Adopsi kualitas yang mutlak harus
dimiliki seorang pemimpin.Ada satu hal yang sulit untuk
dipahami, namun harus kita terima dengan lapang dada. Apakah itu? Itu adalah
fakta bahwa yang mendapatkan promosi di kantor, tidak selalu merupakan orang
yang paling terampil. Tidak juga selalu orang yang pencapaian kerjanya paling
tinggi. Misalnya, orang yang menjadi Sales Manager tidaklah selalu orang yang
persentase pencapaian salesnya paling tinggi. Mungkin hanya 101% saja. Fakta
ini sering membuat mereka yang meraih sales 110% uring-uringan. Mengapa? Karena
mereka tidak faham bahwa untuk memimpin, dibutuhkan banyak aspek. Bukan sekedar
angka-angka diatas kertas. Lihatlah point 1,2,3 dan 4 yang baru kita bahas. Itu
adalah aspek-aspek lain yang mutlak dibutuhkan dari seorang pemimpin. Karena kepemimpinan
bukanlah soal penguasaan aspek-aspek teknis belaka. Melainkan sebuah seni
mengelola orang lain, mengenali potensi-potensi mereka, dan menggunakannya
untuk mencapai tujuan perusahaan.
 
Tanpa
disadari, kita sering menganggap teman sebagai ancaman. Ambisi-ambisi pribadi
kita sering membisikan jika mereka bisa menjadi penghalang atas apa yang kita
inginkan. Mulai sekarang, mari kita ubah cara pandang terhadap para pesaing.
Bantulah mereka untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Tolonglah mereka untuk bisa
menghasilkan kinerja yang lebih tinggi. Doronglah mereka untuk terus
berprestasi. Kembangkanlah mereka, karena itulah hakekat kemimpinan yang harus
Anda miliki didalam diri Anda.  
 
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman  - 10 Agustus 2011
Natural
Intelligence Learning Facilitator
Website: http://www.dadangkadarusman.com
Buktikan "SEIKHLASNYA";  mulai 17 Agustus 2011
 
Catatan Kaki:
Sangat
mudah untuk menemukan orang-orang yang siap bersaing, namun sangat sedikit
orang yang bisa bersaing secara sportif.  
 
Silakan di-share jika naskah ini Anda
nilai bermanfaat bagi yang lain. Tapi tolong, jangan diperjualbelikan ya.

Follow DK on Twitter @dangkadarusman

[Non-text portions of this message have been removed]

__._,_.___
Recent Activity:
.

__,_._,___
[gudang-ilmu] Artikel: Memudahkan Urusan Orang Lain

[gudang-ilmu] Artikel: Memudahkan Urusan Orang Lain

 

Artikel:
Memudahkan Urusan Orang Lain
 
Hore, Hari Baru! Teman-teman.
                                                                                              
Ini adalah salah satu kalimat
paling popular diantara kita;"Jika bisa di bikin sulit, mengapa dibuat mudah…?"
Awalnya kita hanya menganggap itu sebagai sindiran. Lalu berubah menjadi
guyonan. Kemudian berevolusi menjadi kebiasaan yang menggoda kita untuk
melakukannya juga. Maka tidak heran jika semakin hari, semakin jarang kita
temukan orang-orang yang melayani dengan semangat untuk memudahkan urusan orang
lain. Cobalah ingat-ingat kembali, mana yang lebih banyak Anda rasakan;
pelayanan yang memudahkan urusan Anda atau sebaliknya?
 
Istri saya memiliki
pengalaman menarik. Suatu ketika dia menemani ibunya untuk kebutuhan pelayanan
kesehatan di tempat yang jauh. Dia sudah membawa ibu kami ke berbagai tempat,
sehingga mempunyai referensi pelayanan dari pengalaman sebelumnya. Di tempat
terakhir ini, dia mendapatkan pengalaman berbeda. Sebagai orang baru dia tidak
mengenal budaya setempat. Bukan itu saja, beberapa kelengkapan administrasi
tidak terbawa pula. Apa yang terjadi? Dia diminta untuk duduk di ruang tunggu, sedangkan
'semua urusan' ditangani oleh seseorang yang melayaninya di tempat itu. "Kenapa
sih tempat kita sendiri aku tidak menemukan pelayanan seperti ini?" begitulah
kalimat yang dilontarkannya. Jawabannya sederhana saja; kita tidak terbiasa
untuk memudahkan urusan orang lain. Bagi Anda yang tertarik untuk menemani saya
belajar memudahkan urusan orang lain, saya ajak untuk memulainya dengan
menerapkan 5 prinsip Natural Intellligence berikut ini:
 
1.      Mulailah dengan tujuan yang tepat dalam
bekerja.Apa tujuan Anda bekerja?.
Uang? Bagus. Namun berhati-hati dengan efek sampingnya. Misalnya, meminta
imbalan yang tidak seharusnya Anda terima. Terimalah hanya uang yang memang
sudah menjadi hak Anda. Uang sering menjadi ukuran 'seberapa bersedianya kita memudahkan
urusan orang lain". Maka bekerja dengan tujuan uang, bisa menjadikan kita orang
yang benar atau salah. Bagaimana kalau kita mengganti tujuan bekerja itu dari
sekedar uang, menjadi 'ibadah'? Dengan niat itu Anda sudah pasti mendapatkan
uang yang menjadi hak Anda sepenuhnya. Tidak akan dikurangi. Dan dengan niat
ibadah itu, kita bisa memposisikan diri untuk melayani. Maka bagi orang yang
niatnya bekerja adalah ibadah, sangat mudah untuk memudahkan urusan orang lain.
Karena dalam ibadah, kinerja kita tercermin dari kemudahan yang dirasakan oleh
orang-orang yang kita layani. Jika didalam hati kita masih ada bisikan untuk 'melambat-lambatkan'
yang bisa cepat, mungkin niat bekerja kita belum tepat. Jika dalam bekerja kita
'mengabaikan kepentingan orang lain', mungkin niat kita masih salah. Jika kita hanya
mau memudahkan urusan orang lain jika dan hanya jika mereka memberi 'imbalan'
tambahan diluar hak kita; maka boleh jadi; tujuan kita dalam bekerja belum
diubah menjadi 'ibadah'.
 
2.      Bangunlah reputasi yang baik untuk diri sendiri. Mari kita
coba perhatikan semua orang atau semua departemen di kantor kita. Ada
departemen yang mudah untuk diajak bekerja sama. Ada juga departemen yang semua
orang juga tahu betapa sulitnya untuk bekerjasama dengan mereka.Kita juga bisa melihat hal
itu di tingkat individu. Ada orang-orang yang kita semua kenal dia sebagai
pribadi yang senang sekali menolong orang lain. Ada yang dikenal sebagai orang
usil. Ada yang pemarah. Rajin. Malas. Dan ada pula orang-orang yang dikenal
sebagai orang yang paling gemar menyusahkan orang lain. Kata 'dikenal' yang
saya sebut berulang-ulang itu mengindikasikan reputasi. Sebab reputasi merujuk
kepada "bagaimana kualitas pribadi seseorang 'dikenal' oleh orang lain". Selalu
bersedia memudahkan urusan orang lain adalah salah satu kualitas yang mutlak
harus dimiliki oleh siapa pun yang ingin memiliki reputasi yang baik. Mengapa?
Karena reputasi kita dinilai oleh orang lain, bukan kita sendiri yang mengklaimnya.
Apakah Anda ingin memiliki reputasi pribadi yang baik? Jika ya, maka mulailah
dengan membiasakan diri untuk memudahkan urusan orang lain.
 
3.      Tetaplah menegakkan prosedur dan kedisiplinan. Kadang-kadang
kita suka menjerumuskan diri kedalam sudut pandang negatif. "Kalau kita
memudahkan urusan orang lain berarti kita melanggar prosedur," kita bilang. Kita
berpikir begitu, mungkin karena kita belum bisa keluar dari kebiasaan buruk
untuk melanggar prosedur. Padahal, memudahkan urusan orang lain tidak selalu
harus melanggar prosedur. Justru untuk memudahkan urusan orang lain, kita harus
menegakkan prosedur; baik yang tertulis maupun yang sudah menjadi norma umum.
Misalnya, first come, first serve. Yang pertama datang, itulah yang dilayani.
Atau mengacu kepada KPI. Misalnya, dokumen di meja kita harus segera keluar
paling lambat dalam 1 hari. Semua permintaan disposisi dari departemen lain
harus sudah selesai selambat-lambat dalam 3 hari. Justru dengan mengikuti
prosedur itu kita bisa memudahkan urusan orang lain, karena prosedur dibuat
untuk memudahkan urusan semua orang.  Jika
ada orang yang menegur Anda karena menegakkan prosedur, Anda tidak akan pernah
dipersalahkan.
 
4.      Gunakan judgement profesional dan buatlah pengecualian. Prosedur
di perusahaan tidak selalu bisa mengakomodasi situasi khusus. Orang-orang yang
tugasnya berhubungan dengan pihak luar tahu benar tentang hal ini. Sayangnya,
seringkali tidak dimengerti oleh orang-orang supporting function. Makanya, orang
yang berhubungan dengan pihak luar sering tergencet diantara kewajiban untuk
melayani pihak luar dengan kengototan membabi buta orang dalam. Jika Anda yang
orang dalam itu, maka saya ingin mengajak untuk belajar menggunakan judgment
profesional Anda. Kita bukanlah robot yang bekerja sesuai dengan 'setelan'
program. Kita adalah manusia yang memiliki kemampuan untuk menilai dan
mengambil keputusan. Perhatikanlah jika teman Anda didepartemen lain meminta
pengecualian pada kondisi khusus. Janganlah bersembunyi dibalik kata 'prosedur'.
Justru kengototan kita bisa merusak reputasi perusahaan. "Maaf Bung,
prosedurnya 14 hari kerja," misalnya. Gunakan kemampuan berpikir dan
pengambilan keputusan Anda, maka Anda akan tahu bahwa; menyelesaikannya dengan lebih
cepat menjaga reputasi perusahaan dimata pihak luar yang menjadi mitra bisnis atau
pelanggan Anda. Lagipula, logika umum mengatakan bahwa dalam hal melayani
berlaku hukum;"lebih cepat, lebih baik'. Maka gunakanlah judgment profesional
Anda.
 
5.      Balaslah keburukan dengan kebaikan. Ada juga orang yang menyulitkan
orang lain karena mereka merasa kesal kepada orang itu. Misalnya, "orangnya
jutek, ngapain saya mudahin!" Lho, yang jutek salah satu atau keduanya ya? Ada
juga yang bilang;"Dia kebiasaannya mau cepat melulu, biar kita lambatin aja
sekalian…" Ada lho orang yang berprinsip demikian. Mereka hanya memikirkan
untuk 'membalas' orang yang tidak 'cocok' dengannya tanpa mempertimbangkan
dampaknya bagi orang-orang lain yang tidak kelihatan. Ketika kita membuat susah
satu orang dikantor, mungkin efeknya terbawa ke rumah. Disana mungkin ada istri
yang sedang hamil. Atau anaknya yang demam. Balita yang membutuhkan susu. Atau,
mungkin ada anak yatim yang menantikan sesuatu. Kita tidak pernah tahu. Maka perlakuan
buruk kita kepada orang yang tidak kita sukai itu telah salah sasaran. Dan kita
jadi berdosa kepada mereka. "Tapi, saya tidak suka dengan cara orang itu
menyuruh-nyuruh saya. Bos saya juga nggak gitu-gitu amat!" Apakah Anda pernah
mendengar kalimat itu? Sounds familiar, ya. Hey, ingatlah bahwa kita hidup
bukan untuk saling berbalas keburukan. Anda adalah orang baik. Maka janganlah
ikut terseret untuk meninggalkan sikap dan perilaku baik. Bahkan jika orang
lain melakukan keburukan kepada Anda. Balaslah keburukan mereka dengan
kebaikan. Mengapa? Karena Anda adalah orang baik.
 
Memang
tidak mudah untuk memudahkan urusan orang lain. Khususnya memudahkan mereka
yang menurut penilaian kita sering menyulitkan kita. Sulit juga untuk
memudahkan urusan orang yang suka meminta kita cepat-cepat. Tetapi, bukankah
nilai diri kita meningkat semakin tinggi justru ketika kita bisa membuat mudah
urusan mereka? Jika hati Anda masih terganjal oleh kedongkolan atas perilaku
mereka yang hendak Anda mudahkan urusannya itu, barangkali nasihat dari guru
kehidupan saya bisa menjadi bahan renungan. Beliau mengatakan;"Siapa saja yang selama
hidupnya gemar memudahkan urusan orang lain, Maka Allah akan memudahkan segala
urusannya di dunia dan diakhirat." Oh, siapakah gerangan yang bisa memudahkan
urusan kita secara sempurna selain Dia Yang Maha Kuasa? Maukah Anda dimudahkan
urusannya oleh Tuhan? Jika demikian, belajarlah untuk memudahkan urusan orang
lain.  
 
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman  - 9 Agustus 2011
Natural
Intelligence Learning Facilitator
Website: http://www.dadangkadarusman.com
Buktikan "SEIKHLASNYA";  mulai 17 Agustus 2011
 
Catatan Kaki:
Keikhlasan
seseorang dalam melayani tercermin dari usahanya untuk memudahkan urusan
orang-orang yang dilayaninya.
 
Silakan di-share jika naskah ini Anda
nilai bermanfaat bagi yang lain. Tapi tolong, jangan diperjualbelikan ya.

Follow DK on Twitter @dangkadarusman

[Non-text portions of this message have been removed]

__._,_.___
Recent Activity:
.

__,_._,___

Blogger news