Artikel: Menikmati Saat-Saat Kita 'Merasa' Dijadikan Sebagai Bumper
Hore, Hari Baru! Teman-teman.
"$#!^!, gua melulu yang dijadikan bumper!" Ini adalah umpatan yang cukup sering kita dengar. Rupanya banyak juga ya orang yang 'merasa' dirinya dijadikan sebagai bumper bagi kepentingan pihak lain. Selama ini, saya tidak benar-benar memahami makna umpatan itu. Tetapi tadi malam, saya mendapatkan 'penjelasan' yang terang benderang. Saya dalam perjalanan pulang dari sebuah sesi training di Bandung ketika di kilometer 66 tol Cikampek mobil di depan saya mengerem mendadak. Dia melakukan itu karena truck raksasa didepannya mengerem mendadak. Dan saya yakin, truck itu mengerem mendadak karena kendaraan didepannya juga mengerem mendadak. Semua mobil yang kompak mengerem mendadak didepan saya itu selamat dari hantaman mobil dibelakangnya. Sayang, mobil saya ditabrak oleh mobil lain di belakang saya. Benturan keras itu menimbulkan kerusakan berat di bumper belakang mobil saya.
Sekarang, saya mulai bisa memahami apa yang dirasakan oleh mereka yang 'merasa' dirinya dijadikan sebagai bumper. Mereka 'merasa' dirinya harus menanggung resiko dan kesulitan untuk melindungi orang atau pihak lain. Boleh jadi sebenarnya saya juga pernah diposisikan seperti itu. Mungkin, Anda juga demikian. Kita semua sama-sama pernah berada pada posisi sebagai bumper itu. Bedanya, ada orang yang 'merasa' dan ada yang 'tidak merasa'. Oleh sebab itu, kita perlu belajar untuk menikmatinya. Jika tidak, maka kita akan 'merasa' sangat tersiksa. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar menikmati saat-saat menjadi bumper; saya ajak untuk memulainya dengan merenungkan 5 pemahaman Natural Intelligence berikut ini:
1. Ikhlas menerima peran yang memang seharusnya kita mainkan. Saya memandang bumper mobil itu dengan perasaan sayang. Apa yang akan dia katakan seandainya bisa bicara? Apakah dia akan mengeluhkan perannya? "Mengapa aku yang harus menanggung sakit ini, sedangkan jok kulit itu enak-enakan bertengger di ruang ber-AC!" Setelah mengerahkan seluruh daya imajinasi yang saya miliki, saya menyimpulkan bahwa sang bumper tidak mengeluh seperti itu. Bersama baut, roda, tuas transmisi, pedal gas, lampu, serta semua komponen pembentuk mobil itu dia telah memahami perannya masing-masing. Mereka faham apa yang menjadi bagian tanggungjawabnya, serta resiko yang harus dipikulnya. Maka ketika resiko itu terjadi, mereka tidak mengeluhkannya sama sekali. Pedal gas tidak pernah mengeluh sekalipun diinjak-injak. Roda tidak kesal karena harus terus berlari sepanjang perjalanan yang tanpa henti. Mesin tidak mengomel sekalipun selalu berada pada tempat yang paling
panas. Dan bumper itu? Menerima dengan ikhlas ketika perannya sedang sangat dibutuhkan. Malam itu, saya mendapatkan pelajaran bahwa setiap orang memiliki peran dan fungsi masing-masing. Selama kita ikhlas menerima peran itu, maka kita akan dapat menikmatinya.
2. Setiap peran dan tindakan pasti ada perhitungannya. Pagi-pagi sekali, saya mendatangi bumper itu. Lalu mengelusnya dengan lembut, dan saya katakan;"Terimakasih, kamu telah menyelamatkan jiwa kami…." Itulah 'reward' terbaik yang bisa saya berikan. Tidak lebih. Karena bahkan bengkel pun tidak akan bisa mengembalikan bentuknya. Selesai sudah perjalanan hidupnya. Manusia, jauh lebih beruntung daripada benda-benda. Karena setelah 'selesai' menunaikan tugasnya, setiap insan akan memasuki 'dunia baru' dimana disana setiap peran dan tindakan yang kita mainkan diperhitungkan. Orang-orang yang telah secara ikhlas memainkan peran dan tanggunjawabnya pasti akan mendapatkan pahala yang memuaskan. Sedangkan mereka yang menggerutu atau melarikan diri dari tanggungjawabnya pasti akan ditanya;"mengapa kamu begitu?". Dunia hanyalah sekedar persinggahan bagi kita. Disini, kita hanya sekedar berhenti sebentar untuk mengumpulkan cukup
bekal. Agar di kehidupan berikutnya, kita bisa tinggal dengan nyaman dan menyenangkan.
3. Periksa apakah Anda sudah berada posisi yang seharusnya. Ikhlas, tidak sama artinya dengan selalu menerima apapun yang ditimpakan kepada kita. Ikhlas berarti bertanggungjawab penuh terhadap fungsi dan peran yang sepatutnya kita mainkan. Dan ikhlas, juga berarti menempatkan segala sesuatu pada posisi dan proporsinya masing-masing. Saya membayangkan jika bumper itu ditukar posisinya dengan stir pengendali kemudi. Atau sebaliknya. Tentu mobil itu tidak lagi bisa berfungsi. Begitu juga halnya kita. Jika fungsi dan peran kita adalah sebagai bumper, maka tidak fair jika kita iri pada fungsi orang lain yang kita pandang 'lebih enak'. Tetapi, jika peran kita sebagai baut, namun difungsikan sebagai bumper; maka kita berhak untuk menolak. Bukan menolak karena kita tidak menyukainya, melainkan karena fungsi kita tidak akan pernah optimal jika diposisikan tidak pada tempatnya. Maka jika Anda masih 'merasa' sering dijadikan sebagai bumper, ada
baiknya juga untuk melihat dimana sebenarnya posisi Anda. Jika memang itulah posisi Anda, maka ikhlasnya Anda berarti menerima kenyataan bahwa memang Anda adalah bumper. Jika posisi Anda bukan bumper, maka ikhlas bagi Anda adalah untuk mengingatkan 'sang pemilik mobil' bahwa Anda bisa berkontribusi optimal pada tempat dimana Anda seharusnya berada.
4. Memasang penyerap guncangan bagi jiwa kita. Makna harafiah dari kata 'bumper' adalah 'shock absorber'. Merenungkan makna ini saya menjadi ingat tentang betapa banyaknya hal yang bisa membuat jiwa kita shock. Kabar yang tidak kita inginkan, perlakukan yang mengecewakan, kehilangan sesuatu yang kita sayangi; adalah beberapa contoh peristiwa yang bisa mengguncangkan jiwa kita. Ada orang yang sedemikian terguncangnya hingga kehilangan akal sehat. Ada yang terus tenggelam dalam guncangan itu hingga tidak lagi memiliki semangat. Namun, ada pula orang-orang yang setelah diterpa berbagai persoalan; tetap tangguh dan tegar. Apa yang membedakannya? Mereka yang tegar itu memiliki penyerap guncangan bagi jiwanya. Mereka memasang jenis penyerap guncangan yang paling bisa diandalkan. Tahukah Anda apakah gerangan itu? Brand terbaik untuk bumper depan adalah 'sabar'. Sedangkan bumper belakang yang paling handal adalah 'tawakal'. Hanya dengan
dua jenis 'shock absorber itulah kita bisa menjaga agar jiwa kita tetap terlindung dari pengaruh buruk yang menyesakkan.
5. Kita dilindungi oleh bumper yang tangguh dan tidak pernah lengah. Fungsi utama sebuah bumper adalah untuk melindungi mobil dari kerusakan dan resiko yang membahayakan. Maka sebuah bumper harus sanggup melindunginya sepanjang waktu tanpa sedetikpun lengah. Sayangnya, bumper mobil itu memiliki kelemahan, yaitu; kekuatannya yang terbatas. Selain dia sendiri bisa hancur, mungkin ada bagian body mobil lainnya yang tidak terlindung. Kita semua sungguh sangat beruntung karena memiliki pelindung yang selain sangat kuat, juga tidak pernah sedetikpun berhenti menjaga kita. Masih ingatkah Anda siapa pelindung kita itu? Dia adalah Dzat yang tidak pernah tidur. Dia adalah sang pemilik segala kekuatan. Dan Dia, adalah sang pemilik hidup dan mati setiap mahluk. Mobil kesayangan Anda, mungkin menggunakan bumper tambahan yang selain berfungsi sebagai penguat, juga menjadi asesoris penghias yang indah. Kepada diri sendiri, bersediakah kita untuk menjadikan
Dia yang maha pelindung sebagai penjaga dan penghias hidup kita?
Setiap detik dalam hidup kita adalah kombinasi agung dari resiko dan kesempatan. Setiap detik dalam hidup kita adalah kesempatan untuk mendapatkan kebahagiaan. Tetapi, pada detik yang sama juga tersimpan kemungkinan kesedihan, bahkan kematian. Bisakah kita memohon keselamatan dan kebahagiaan selain kepada Tuhan? Dengan kata lain; Adakah pelindung yang lebih baik selain Allah? Tidak. Dialah Tuhan yang hanya satu. Dan satu-satunya yang bisa menjawab doa-doa kita. Dan Dialah satu-satunya yang layak kita sembah. Dialah sebaik-baiknya pelindung; dalam setiap detak detik-detik, yang kita lalui. Yuk, kita berserah diri hanya kepadaNya saja…..
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman - 14 Juli 2011
Master Trainer & Natural Intelligence Inventor
Website: http://www.dadangkadarusman.com
Catatan Kaki:
Beruntunglah mereka yang bersedia menjadikan Tuhan sebagai pelindung utamanya. Karena Dialah Yang Maha Perkasa. Dan Dialah Yang Maha Terjaga.
Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain.
Follow DK on Twitter @dangkadarusman
[Non-text portions of this message have been removed]
Blogger templates
[gudang-ilmu] Artikel: Menikmati Saat-Saat Kita ’Merasa’ Dijadikan Sebagai Bumper
[gudang-ilmu] Artikel: Menerima Diri Kita Apa Adanya
Artikel: Menerima Diri Kita Apa Adanya
Hore, Hari Baru! Teman-teman.
I love you just the way you are, itulah yang kita katakan kepada seseorang yang kita cintai dengan sepenuh hati. Ciri jika kita menerima kekasih hati apa adanya antara lain adalah; tidak mempermasalahkan kekurangan yang dimilikinya, dan mensyukuri kelebihannya. Meski mempunyai kelemahan, namun perasaan sayang kita tidak berkurang kepadanya. Saat mengkritik pun kita usahakan agar tetap halus agar perasaannya senantiasa terpelihara. Dengan begitu, kita berharap dia membalasnya dengan cinta yang setara kepada kita. Lantas, kepada diri sendiri; apakah kita bersedia mengatakan kalimat indah itu? Artinya, bersediakah kita untuk menerima diri kita sendiri apa adanya?
Mencintai diri sendiri sama pentingnya dengan mencintai pujaan hati kita. Sedangkan hal terindah dalam mencinta adalah ketika kedua belah pihak saling berbalas cinta sejatinya. Bayangkan jika kita telah berhasil mencintai diri kita sendiri, maka 'diri kita' pun akan membalas cinta kita dengan seutuhnya. Cinta kepada diri sendiri bukanlah roman picisan. Bukan pula kisah nascistis. Melainkan sebuah penerimaan kepada ada adanya kita. Yaitu penerimaan secara sadar bahwa fitrah kita adalah untuk menjadi mahluk yang disukai oleh Tuhan. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar menerima diri kita apa adanya; saya ajak untuk memulainya dengan mempraktekkan 5 pemahaman Natural Intelligence berikut ini:
1. Kita adalah sesempurna-sempurnanya penciptaan. Dengan tubuh yang kurus dan kerempeng, masa kecil saya diwarnai oleh cemoohan. 'Siga aki-aki' – 'seperti kakek-kakek' – adalah sebutan paling tepat bagi teman-teman untuk menggambarkan bentuk fisik saya. Karena selain kerempeng, saya juga dianugerahi dengan tulang punggung 'bungkuk udang'. Melihat orang lain yang memiliki bentuk fisik yang jauh lebih baik, kadang saya merasa iri. Untungnya kita semua pernah mengakui bahwa sempurnanya kita sebagai manusia tidak diukur dari bentuk fisiknya, karena jika demikian; kita kalah sempurna dibanding binatang. Ada aqal yang menyertai penciptaan kita. Lebih dari itu, ada qalbu untuk mengimbangi fungsi aqal itu. Sekarang saya lebih memahami bahwa dengan menggunakan aqal dan qalbu itulah seorang manusia bisa mencapai kesempurnaan penciptaan yang telah diperolehnya. Sebab, memang kita ini adalah sesempurna-sempurnanya penciptaan.
2. Hasil karya kita adalah bukti kesempurnaan diri kita. 'Karya apa yang sudah engkau hasilkan?' Inilah pertanyaan yang sering mendatangi saya setiap kali menjelang tidur. Pertanyaan inilah juga yang sering membangunkan saya dari tidur dimalam senyap ketika sebagian besar orang nyenyak terlelap. Jika setiap manusia berhasil memenuhi misinya saat dikirim Tuhan, dunia pasti menjadi tempat yang lebih baik. Mereka yang dianugerahi kelapangan rezeki berkarya dengan rezekinya untuk memudahkan orang-orang yang membutuhkan. Mereka yang berilmu membuat karya-karya berkualitas dengan ilmunya bagi mereka yang haus pencerahan. Mereka yang kuat, mereka yang ramah, mereka yang tinggi, dan mereka yang rendah. Semuanya pasti bisa menghasilkan sebuah karya karena tak seorang pun lahir tanpa kemampuan untuk berbuat. Bahkan, saya melihat seseorang yang dilahirkan tanpa tangan dan kaki sanggup menghasilkan sebuah karya inspiratif yang menyadarkan jutaan umat
manusia, bahwa; anugerah Tuhan sungguh tiada terhingga.
3. Ada sisi baik didalam diri kita. Guru kehidupan saya mengajarkan bahwa kedalam diri seseorang Tuhan telah mengilhamkan kecenderungan untuk berbuat kebaikan. Tapi mengapa ada orang yang seolah hidupnya diisi oleh hal-hal negatif saja? Mungkin karena kita tidak pernah melihat orang itu saat dia sedang melakukan kebaikan. Atau, boleh jadi karena kita tidak berhasil membantunya menemukan sisi baik didalam dirinya. Atau, boleh jadi juga karena kita yang tinggal bersamanya tidak memberi cukup ruang kepadanya untuk memperlihatkan sisi baiknya. Bagaimana jika orang itu adalah diri kita sendiri? Bersediakah kita melihat saat diri kita berbuat baik? Bersediakah kita membantu diri kita sendiri untuk menjadi baik? Dan bersediakah kita untuk memberi ruang yang cukup agar diri kita sendiri bisa leluasa; untuk belajar menjadi pribadi yang lebih baik? Sungguh, siapapun kita; ada sisi baik didalam diri kita.
4. Mengijinkan orang lain berbuat baik kepada kita. Apa jadinya jika didunia ini tidak ada lagi orang yang mengijinkan orang lain untuk berbuat kebaikan? Bayangkan, jika senyum itu baik; maka kita dilarang untuk tersenyum. Jika saling menasihati itu baik, kita dilarang saling menasihati. Jika menghormati pendapat orang lain itu baik, maka kita dilarang untuk menghormati pendapat orang lain. Bagaimana jadinya ya? Saya menemukan bahwa manusia, memiliki sifat dasar untuk mengijinkan orang lain berbuat baik kepada mereka. Makanya, kita senang saat seseorang tersenyum kepada kita. Kita juga senang saat seseorang mengingatkan tentang sesuatu yang tidak patut pada perilaku kita. Dan kita juga senang ketika orang lain menghormati pendapat kita. Kita senang saat orang lain berbuat baik kepada kita. Dengan rasa senang itu, kemudian kita membalas kebaikan mereka sama seperti perlakuan baik mereka kepada kita. Bukankah indah dunia jadinya?
5. Memberi ruang kepada diri sendiri untuk melakukan perbaikan. Manusia adalah tempatnya salah dan alpa. Maka wajar jika manusia melakukan kesalahan atau kesilapan. Yang tidak wajar adalah ketika menyadari sudah melakukan kesalahan masih terus berendam dalam kubangan nista itu. Padahal, Tuhan pun berjanji untuk selalu memberi ruang kepada orang-orang yang ingin kembali. Masalahnya, maukah kita mengambil putaran untuk berbalik arah menuju kepada jalan yang disukai Tuhan? Jika kita tidak mau, maka tidak seorang pun bisa memaksa kita. Nasihat dan seruan tidak mungkin akan kita indahkan. Karena jika pintu hati kita tertutup rapat, maka kita tidak akan pernah mampu memberi ruang kepada diri sendiri untuk melakukan perbaikan.
Kita apa adanya adalah diri kita, yang memiliki segala hal yang dibutuhkan untuk menjalani hidup dengan baik. Menerima diri kita apa adanya adalah merenungkan betapa Tuhan telah menganugerahi kita dengan kesempurnaan penciptaan; sehingga kita sadar bahwa tidak ada sedikitpun celah untuk mengeluh. Jika masih ada keluh itu, mungkin karena kita terlalu berfokus kepada wujud fisik dan jasad kasar. Padahal, ketika menyebut diri sebagai mahluk sempurna; manusia tidak merujuk kepada kekuatan fisiknya, melainkan 'isi' didalam dirinya. Sebagai manusia, kita bisa salah – bisa benar. Dan sebagai manusia, kita memiliki sisi baik, dan sisi buruk. Sebagai manusia, kita juga mempunyai sisi lemah dan sisi kuat. Tak seorang pun bisa mencapai kesempurnaan sendirian. Karena kesempurnaan manusia terletak kepada kemauan untuk saling menyokong. Dan saling mengingatkan satu sama lain, bahwa; ada sesuatu yang bisa kita perbaiki dari hari ke hari.
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman - 13 Juli 2011
Master Trainer & Natural Intelligence Inventor
Website: http://www.dadangkadarusman.com
Catatan Kaki:
Menemukan sisi baik dalam diri sendiri adalah wujud rasa syukur kepada penciptanya. Sedangkan menggunakan kebaikan didalam diri itu untuk kebaikan sesama adalah pesta perayaannya.
Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain.
Follow DK on Twitter @dangkadarusman
[Non-text portions of this message have been removed]
[gudang-ilmu] Artikel: Keseimbangan Antara Penghidupan dan Kehidupan
Artikel: Keseimbangan Antara Penghidupan dan Kehidupan
Hore, Hari Baru! Teman-teman.
Ketika seseorang tengah berjuang untuk mendapatkan nafkahnya, kita biasa menyebutnya 'sedang mencari penghidupan'. Sedangkan ketika seseorang memberi nilai kepada dunia dengan apa yang bisa dilakukannya, maka kita menyebutnya; 'berkontribusi kepada kehidupan'. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun mirip, namun antara 'penghidupan' dan 'kehidupan' itu terdapat perbedaan yang signifikan. Albert Schweitzer menggambarkannya dalam sebuah kalimat yang indah; "We make a living by what we get, but we make a life by what we give". Kita memperoleh penghidupan dengan apa yang kita dapatkan, namun kita membangun kehidupan dengan apa yang kita berikan. Dalam nasihat itu ada sebuah isyarat untuk terus gigih berusaha agar mendapatkan nafkah yang layak. Namun pada saat yang sama, kita diingatkan untuk berkontribusi kepada orang lain. Mengapa? Karena nilai hidup kita tidak semata-mata ditentukan oleh pendapatan kita, melainkan oleh kontribusi kita.
Mana yang harus didahulukan; penghidupan ataukah kehidupan? Idealnya, keduanya bisa berjalan saling beriringan. Namun, hal itu bukan soal yang mudah. Kebutuhan nafkah sering menempatkan saya pada situasi dimana 'mendapatkan' sesuatu harus menjadi prioritas sehingga 'memberikan' sesuatu sering terabaikan. Awalnya saya percaya bahwa 'nanti kalau saya sudah sukses' maka saya akan bisa 'memberi atau melakukan sesuatu' untuk orang lain. Namun, kenyataannya saya tidak pernah sampai kepada titik yang bernama 'nanti' itu. Hal itu berlangsung terus sampai saya menemukan bahwa kita bisa berkontribusi melalui hal-hal yang paling sederhana. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar berkontribusi melalui hal-hal sederhana seperti yang saya maksud; saya ajak untuk memulainya dengan mempraktekkan 5 pemahaman Natural Intelligence berikut ini:
1. Berkontribusi tidak selalu berupa materi. Selama masih mengira bahwa berkontribusi harus selalu dengan materi maka seseorang akan selalu dihadapkan kepada perbenturan antara kebutuhan keluarganya dengan 'panggilan hati'. Oleh sebab itu, wacana kontribusi sering menjadi seperti hak istimewa orang-orang yang memiliki kelapangan harta. Jika untuk memenuhi keperluan biaya sekolah anak saya saja masih harus pusing tujuh keliling, bagaimana saya bisa melakukan sesuatu bagi orang lain? Untungnya, guru kehidupan saya mengingatkan bahwa memberi tidak harus selalu berupa materi. "Jika Engkau punya tenaga, maka tenagamu adalah sumberdaya utama dalam berkontribusi," begitu nasihatnya. Mungkin dengan waktu, atau ilmu yang Engkau miliki. Mungkin dengan sekedar sebuah kalimat penyemangat. Atau, bahkan sekedar dengan senyum yang menyenangkan hati orang-orang yang melihatmu. Ada banyak cara untuk berkontribusi. Dan semuanya itu, tidak harus berupa
materi.
2. Menemukan misi hidup. Kita sering melihat orang-orang yang tanpa lelah terus berkontribusi kepada kehidupan orang lain. Sekalipun untuk itu mereka harus berbagi energy dan usaha. Bahkan disaat hidupnya sendiri sedang 'tidak terlampau indah', mereka terus gigih untuk membuat hidupnya berarti. Mengapa begitu? Seseorang mengajarkan sebuah jawaban yang membuat hati saya terpana. "Misi hidup," katanya. Yakinlah bahwa kehadiran kita di muka bumi bukanlah tanpa misi. Sayangnya, kita sering lupa atas misi yang kita emban itu sehingga kita terlena dalam jibaku perjuangan mempertahankan hidup. Akhirnya kita tenggelam dalam kesibukan mencari penghidupan. Suatu hari, seseorang bertanya kepada saya "Apa misi hidupmu Nak?" Saya tidak dapat menjawabnya. "Temukan itu didalam hatimu," katanya. "Tanpa itu, Engkau tidak akan pernah menjadi rahmatan lil'alamin"
3. Hidup bukan sekedar soal duniawi. Kita sudah sejak lama percaya akan adanya kehidupan setelah kematian. Jika hal itu benar, maka setiap tindakan kita selama hidup di dunia menjadi patokan seberapa baiknya kualitas kehidupan kita dialam setelah kematian. Semakin banyak kontribusi yang kita berikan semasa hidup, semakin baik pula apa yang bisa kita dapatkan di dunia baru yang kelak akan kita huni. Jika kontribusi kita hanya sedikit, barangkali hanya sedikit juga apa yang akan kita dapat. Lantas, bagaimana jadinya kehidupan kita nanti jika kita tidak berkontribusi sama sekali? Pantaslah jika guru kehidupan saya selalu mengingatkan bahwa;"sebaik-baiknya manusia adalah dia yang paling banyak memberi manfaat bagi orang lain." Beliau mengingatkan agar tidak terlalu sering terjebak untuk mengurusi kepentingan-kepentingan pribadi semata. Apalagi sampai terjebak dalam ego yang menutupi hati sehingga sangat sulit untuk dimasuki panggilan-panggilan
suci. Padalah, hidup bukan sekedar soal duniawi.
4. Bertemanlah dengan orang-orang yang positif. Hidup adalah pertanda masih adanya energy didalam diri kita. Sedangkan energy didalam setiap individu merupakan perpaduan antara energy positif dan energy negatif. Maka wajar jika bentuk aliran energy didalam diri kita sangat dipengaruhi oleh bentuk energy yang ada di sekitar kita. Sangat sulit untuk menjadi positif jika kita dikelilingi oleh orang-orang yang bersikap negatif, misalnya. Atau sebaliknya, saat berinteraksi dengan orang-orang yang bersikap dan bertindak secara positif, kita jadi lebih mudah untuk melakukan hal-hal yang positif. Hal itu pasti terjadi baik secara terpaksa maupun sukarela. Di lingkungan orang-orang positif kita akan ikut 'terbawa arus' positif. Jadi jika ingin 'merasa ringan hati' saat melakukan hal-hal yang positif, maka sebaiknya kita memperbanyak teman yang bersikap positif.
5. Memberi ruang kepada orang-orang yang berkontribusi. Meskipun kita percaya bahwa cara untuk berkontribusi itu begitu banyaknya, tetapi tidak berarti kita bisa ikut berkontribusi. Boleh jadi karena kondisi tidak memungkinkan. Atau mungkin karena kita tidak ingin berkontribusi saja. Bagaimana pun juga kita adalah tuan bagi kehidupan kita sendiri sehingga kita berhak untuk menentukan apapun yang 'kita lakukan' atau 'tidak kita lakukan'. Namun, kebebasan itu juga berarti bahwa kita tidak memiliki hak untuk menghalangi orang lain yang hendak berkontribusi untuk kehidupan dunia yang lebih baik. Artinya, bersamaan dengan kewenangan kita untuk menentukan pilihan hidup kita sendiri terselip sebuah kewajiban untuk menghargai aspirasi orang lain untuk berkontribusi. Maka sudah sepatutnya kita memberi ruang kepada orang-orang yang berkontribusi, bukan? Sebentar dulu. Jika Anda memberi ruang kepada orang-orang yang hendak berkontribusi; maka
sesungguhnya Anda pun sudah berkontribusi lho.
Jika kita masih percaya akan keberadaan sisi baik dan sisi buruk dalam diri kita, maka kita pasti percaya bahwa kita bisa berkontribusi untuk menebarkan nilai-nilai kebaikan yang kita miliki. Untuk memulainya, kita bisa bertanya kepada diri sendiri; nilai-nilai kebaikan apa yang bisa saya kontribusikan hari ini?
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman - 12 Juli 2011
Master Trainer & Natural Intelligence Inventor
Website: http://www.dadangkadarusman.com
Catatan Kaki:
Banyak orang bersedekah karena percaya bahwa harta mereka akan bertambah banyak seiring dengan semakin banyaknya sedekah yang mereka berikan. Agar semakin bersemangat untuk berbagi kebaikan dengan orang lain, mungkin kita juga harus belajar percaya bahwa kebaikan didalam diri kita akan bertambah seiring dengan bertambahnya kebaikan yang kita tebarkan.
Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain.
Follow DK on Twitter @dangkadarusman
[Non-text portions of this message have been removed]
[gudang-ilmu] Artikel: Proporsi Toleransi Terhadap Kesalahan Karyawan
Artikel: Proporsi Toleransi Terhadap Kesalahan Karyawan
Hore, Hari Baru! Teman-teman.
Saya pernah menegur seorang pemimpin yang memarahi bawahannya sampai menangis. Tidak ada kesalahan yang boleh dibiarkan, memang. Tetapi apakah harus sampai sejauh itu? Saya sepakat jika pada situasi tertentu sikap keras itu sangat diperlukan. Tetapi tidak pada semua situasi. Saya juga termasuk tipe pribadi 'whatever it takes'. Tetapi, memarahi karyawan sampai menangis; tentu ada rambu-rambunya. Sangat mudah untuk membuat bawahan menangis, asal tahu saja jika hatinya balas memaki dan melaknat selama-lamanya. Tetapi saya percaya bahwa ada cara ampuh untuk membuat orang menangis, tanpa menyakiti hatinya. Sejauh yang saya ingat, ada 3 kejadian dimana orang yang saya pimpin menangis di ruangan saya. Dan saya yakin semuanya tidak menyebabkan saya dikutuk oleh mereka. Namun hanya satu kejadian yang akan saya ceritakan disini dengan harapan bisa memberi inspirasi bagi proses pematangan jiwa kepemimpinan kita.
Jika Anda termasuk pemimpin yang gampang mengeluarkan kata-kata kasar kepada bawahan, mungkin ini saatnya untuk berlatih dengan cara yang berbeda. Jika Surat Peringatan sangat mudah tercetak dari printer Anda, ini juga saat yang tepat untuk menghemat kertas sekaligus menemukan cara lain yang lebih berdampak. Meskipun dibenarkan oleh aturan yang berlaku, tetapi coba secara fair melihat fakta bahwa ternyata SP sama sekali tidak bisa mengubah seseorang. Saya lebih memilih membuat 'gentlement agreement' secara langsung daripada mengeluarkan SP. Dan saya tidak pernah meleset dengan hal itu. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar tentang bagaimana menemukan proporsi toleransi terhadap kesalahan karyawan; saya ajak untuk memulainya dengan mempraktekkan 5 kemampuan Natural Intelligence berikut ini:
1. Fahamilah bahwa mereka sama manusianya seperti kita. Sungguh beruntung jika kita menyadari bahwa sebagai manusia, kita pun bisa melakukan kesalahan yang sama. Tidak ada gunanya memelihara sifat takabur dan terlampau yakin jika kita ini adalah manusia yang bersih dari kesalahan. Jika bukan berbohong, maka kita mungkin sudah lupa apa yang pernah kita lakukan dimasa lalu. Atau, barangkali kita bisa tergelincir dimasa yang akan datang. Kesadaran semacam ini penting agar ketika menemukan adanya kesalahan yang dilakukan oleh bawahan, kita menyikapinya secara proporsional. Bersikap over-reactive sama sekali bukanlah cara seorang pemimpin sejati menangani kesalahan yang dilakukan oleh anak buahnya. Sebab ketika menangani sebuah kesalahan, Anda tidak hanya berurusan dengan pelakunya. Anda sedang mengirimkan sinyal kepada semua orang yang Anda pimpin. Mereka menilai cara Anda mengatasinya, dan mereka mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan bagi dirinya
sendiri. Sinyal itu sangat menentukan sikap semua orang di team Anda. Jadi, fahamilah bahwa mereka sama manusianya seperti Anda.
2. Dahulukan keteladanan yang Anda sendiri lakukan. Berapa kali Anda mendengar seorang pemimpin memarahi bawahannya untuk suatu kesalahan yang dia sendiri melakukannya? Maka tidak heran jika hukum menjadi lelucon umum (1) atasan selalu benar, (2) jika atasan salah, lihat hukum nomor (1). Sungguh sangat sulit untuk mendapatkan komitmen karyawan tanpa keteladanan para pemimpinnya. Saya memanggil seseorang ke kantor, lalu menyodorkan 2 lembar kertas. Satu data absensi saya, satunya lagi miliknya. "Kasih tahu gue, berapa kali gue terlambat ke kantor bulan ini. Dan kasih tahu gue, berapa kali elu masuk ke kantor tidak terlambat bulan ini." Dia menatap saya "Iya, Pak." Katanya. "Elu nggak pantes ngomong apapun sebelum mengerti isi kertas itu." Begitu saya bilang. "Tapi Pak, teman-teman lain juga sering terlambat nggak apa-apa," Itulah resiko demokratisasi yang harus saya terima. "Mereka bukan urusan gue. Selama elu masih mau
gabung di team gue, elu musti ikut aturan main disini. Kalau elu kepengen seperti mereka, elu boleh pindah ke departemen mereka. Gue bantu elu pindah kesana." Jam 7 pagi, biasanya saya sudah berada di kantor sehingga teman saya bisa melihat bahwa kedisiplinan itu bukan sekedar untuk memperindah lidah. Saya tidak menuntut mereka datang pagi sekali. Tapi jam 8 tepat, sebaiknya mereka sudah berada ditempat. Lakukan, dan jadilah teladan bagi orang-orang yang Anda pimpin.
3. Ambillah tanggungjawab kepemimpinan secara utuh. Apa sih tanggungjawab kepemimpinan itu? Salah satunya; memastikan semua proses berjalan sehingga menghasilkan profit yang tinggi bagi perusahaan dengan tetap menjaga etika dan rambu-rambu operasionalnya. Kalau ada penyimpangan? Ya harus dipertanggungjawabkan oleh sang pemimpin. Lho, bukannya oleh pelakunya? Tidak cukup. Karena seorang pemimpin bertanggungjawab untuk memastikan tidak ada pelanggaran dan penyalahgunaan seperti itu. Bukankah 'tanggungjawab' yang menjadikannya dibayar lebih mahal dari orang lain? Memang tidak ada seorang pun dimuka bumi yang bersedia untuk mempertanggungjawabkan kesalahan yang dilakukan oleh orang lain. Jadi supaya tidak tertimpa kejadian seperti itu, maka seorang pemimpin mesti benar-benar memastikan agar semua proses dan operasional berjalan sebagaimana mestinya. Manusia mempunyai kecenderungan untuk melakukan kesalahan, bahkan 'to test the fence'. Tugas
pemimpinlah untuk memastikan jika pagar selalu kokoh agar setiap kali serigala mencoba masuk bisa segera dihalau. Dengan begitu, Anda tidak akan pernah kehilangan seekor ayam pun dari dalam kandang. Serigala itu pengaruh buruk, sedangkan ayam adalah aset mental.
4. Sentuhlah hati nuraninya, bukan menyayatnya. Sebagai pemimpin, tentu Anda bersedia memperjuangkan hal terbaik untuk anak buah Anda. Tetapi, bagaimana jika ternyata dia menyalahgunakannya? Saya langsung memanggilnya ke ruang kerja saya. Setelah memaparkan semua temuan dan dia mengakuinya, saya hanya berkata begini;"Saya tidak menyangka kamu melakukan itu. Setelah semua yang saya lakukan untukmu selama ini? Saya mengira, saya bisa membantu kamu untuk menjadi kebanggaan bagi keluargamu. Ternyata saya salah. Saya sungguh berharap anak-anakmu bisa berdiri didepan kelas sambil menceritakan kepada teman-teman mereka tentang kebanggaan terhadap Ayahnya yang hebat. Saya mengimpikan kamu kelak menjadi seseorang yang bisa berdiri tegak dengan penuh kebanggaan dan kehormatan. Tapi, kelihatannya mimpi kita tidak sama." Saya mengenal keluarganya. Dan sungguh, saya melihat meleleh air matanya. "Kamu menangis karena saya menegurmu?" saya penasaran.
"Bukan…" katanya. "Saya sangat menyesali tindakan saya…." Sejak saat itu, dia tidak pernah mengecewakan lagi. Dan saya bangga kepadanya. Mungkin, inilah tangisan karyawan yang tidak menjadikan atasannya dilaknat didalam hati mereka.
5. Berteguh-hatilah saat harus mengambil keputusan paling pahit. Dari beragam kesalahan yang dilakukan oleh anak buah, kadang memang ada yang melampaui batas. Jika itu berupa pelanggaran terhadap integritas, maka solusinya memang harus tuntas tas tas. Seorang Manager di team saya berhasil menemukan penyalahgunaan data penting yang dilakukan oleh salah satu staff di team kami. Selain melanggar integritas, tindakan itu juga sangat membahayakan kelangsungan hidup perusahaan, dan bisa mencelakai pelanggan, serta merusak kredibilitas team secara keseluruhan. Saat mendapatkan rincian laporan dan bukti-buktinya, saya bertanya; "Then what is your recommendation?" Saya paham ketika pilihannya hanya ada dua; diminta mengundurkan diri, atau diberhentikan. Saya memastikan bahwa saya mendukungnya 100%. Apa yang kagumi dari sahabat saya ini? Dia mengkomunikasikannya secara senyap, dingin dan bersih. Bahkan saya tidak perlu mengeluarkan satu kata pun
untuk menghasilkan penyelesaian yang 'win-win' itu. Hubungan personal kami masih tetap baik, meskipun hubungan professional kami terhenti. Memang, kami kehilangan seseorang. Tetapi, teman-teman didalam teamnya memahami mengapa keputusan itu harus diambil. Dengan begitu, lebih banyak lagi sahabat kami yang selamat dari godaan untuk melakukan kesalahan yang sama.
Kita sering sedemikian mudahnya memvonis orang lain. Padahal sebagai manusia, kita juga punya peluang untuk melakukan kesalahan yang sama. Mari kita belajar menyikapi kesalahan orang lain secara proporsional. Apalagi jika yang melakukannya adalah orang-orang yang kita pimpin sendiri. Kitalah yang bertanggungjawab untuk memperkecil kemungkinan terjadinya kesalahan itu. Namun jika terlanjur terjadi, kita pun tidak sepatutnya melepaskan diri dari tanggungjawab itu. Apalagi sampai menimpakan seluruh kesalahan itu kepada orang-orang yang tindak tanduknya sangat ditentukan oleh keteladanan yang kita tunjukkan.
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman - 6 Juli 2011
Master Trainer & Natural Intelligence Inventor
Website: http://www.dadangkadarusman.com
Catatan Kaki:
Di rumah kita, sebuah cermin bisa memperlihatkan seperti apa wajah kita. Di kantor, cermin itu mewujud dalam perilaku orang-orang yang kita pimpin. Sebaik apa kita memimpin? Semuanya terlihat dari perilaku mereka.
Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain.
Follow DK on Twitter @dangkadarusman
[Non-text portions of this message have been removed]
[gudang-ilmu] Mohon Ijin ’Menghilang’ Selama Beberapa Hari
Hore, Hari Baru! Teman-teman.
Mulai hari ini sampai tanggal 10 Juli 2011 mohon ijin untuk keluar dari dunia maya sehubungan dengan panggilan tugas di suatu tempat. Saya tidak tahu apakah selama rentang waktu itu ada fasilitas dan kesempatan untuk online atau tidak. Namun untuk sementara waktu kemungkinan besar saya 'unconnected' sehingga tidak akan dapat merespon email atau melakukan aktivitas online lainnya.
Semoga di lain kesempatan kita masih diberi ruang dan kemampuan untuk saling sharing lagi dengan teman-teman sekalian. Love you all.
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman - 3 Juli 2011
Master Trainer & Natural Intelligence Inventor
Website: http://www.dadangkadarusman.com
Catatan Kaki:
Ciri persahabatan yang murni adalah ketika hati kita merasa terhubung bahkan meski tidak saling mengenal satu sama lain.
Follow DK on Twitter @dangkadarusman
[Non-text portions of this message have been removed]
[gudang-ilmu] File - Salam Kenal dari Owner Gudang Ilmu
From : Mufli (Moderator Gudang-Ilmu)
Hello Kawan,
Terima kasih telah bergabung di milinglist GUDANG-ILMU
yang saya kelola. Melalui milinglist ini saya persembahkan
untuk anda semua berbagi ilmu untuk pemberdayaan bersama.
Saya undang anda berpartisi aktif, dengan mengirimkan
artikel, komentar, tips yang bermanfaat, serta jangan lupa
tetap mematuhi aturan main yang saya jelaskan di bagian
depan halaman description milinglist Gudang-Ilmu:
http://groups.yahoo.com/group/gudang-ilmu
Untuk selalu mendapatkan informasi terbaru dari saya langsung
ke email Anda, silahkan set EMAIL DELIVERY anda sebagai INDIVIDUAL,
atau setidaknya SPECIAL NOTICE.
Oya, salam kenal lebih dekat :)
Saya Mufli, tinggal di Jalan Merak 6/44 Rewwin, Sidoarjo
Indonesia. Saya banyak mengelola situs online, yg umumnya
merupakan support system untuk bisnis, training dan publikasi.
Thank you rekans :)
Best Regards
Mufli
Moderator, Gudang-Ilmu
Bila Anda ingin mengundang teman untuk join milinglist ini,
Silahkan copy undangan berikut ini, silahkan ganti informasi
tentang Anda di bagian akhir (Salam), lalu kirimkan undangan
kepada kawan-kawan Anda.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Subject: Undangan Join Gudang-Ilmu
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Hi kawan,
Ilmu bukanlah yg nomor satu,
bahkan percuma tanpa dibawa dalam tindakan.
Dengan ilmu dan hasrat yang menggebu,
banyak orang berjaya dan bermakna untuk sekitarnya.
Ilmu tentang bisnis internet, cara membangun team,
security online, forex, adsense, network marketing,
business broker, franchising, autosurf, serta juga
home based business, affiliate program, reseller,
dan sebagainya dengan cemerlang dapat ANDA dipaparkan
di forum ini, saya undang anda para pakar dan
praktisioner yang komptens.
JOIN US NOW, Semoga hanya yang terbaik buat Anda !
Cara bergabung adalah dengan mengirimkan email kosong
alamat ini:
gudang-ilmu-subscribe@yahoogroups.com
Atau silahkan berkunjung ke sini:
http://groups.yahoo.com/group/gudang-ilmu
Salam sukses paling sukses buat Anda.
Thanks Again.
[gudang-ilmu] File - Indonesia Online Ribuan anak bangsa ada di sini
Indonesia Online, Ribuan anak bangsa ada di sini
Media komunikasi online anak bangsa baik di Indonesia maupun di manca negera, dimanapun Anda berada. Silahkan ngobrol di sini, bebas dan tetap sopan tentunya. Selalu Posting dengan LENGKAP sebutkan DENGAN JELAS identitas anda (Nama, web/blog, boleh HP) dalam setiap bagian akhir posting. Dilarang: beriklan langsung kecuali di bagian footer email anda, maksimum 3 baris. Tidak diperkenankan: posting yang vulgar, argumentatif, sara, menyinggung privacy member lain, atau posting yang berulang-ulang, atau yang bertendensi iklan berlebihan. Semoga Milinglist ini dapat membuat kita bersama semakin berdaya.
Join us now: http://groups.yahoo.com/group/indonesia-online
Best regards
Indonesia-Online Moderator