Artikel: Menerima Diri Kita Apa Adanya
Hore, Hari Baru! Teman-teman.
I love you just the way you are, itulah yang kita katakan kepada seseorang yang kita cintai dengan sepenuh hati. Ciri jika kita menerima kekasih hati apa adanya antara lain adalah; tidak mempermasalahkan kekurangan yang dimilikinya, dan mensyukuri kelebihannya. Meski mempunyai kelemahan, namun perasaan sayang kita tidak berkurang kepadanya. Saat mengkritik pun kita usahakan agar tetap halus agar perasaannya senantiasa terpelihara. Dengan begitu, kita berharap dia membalasnya dengan cinta yang setara kepada kita. Lantas, kepada diri sendiri; apakah kita bersedia mengatakan kalimat indah itu? Artinya, bersediakah kita untuk menerima diri kita sendiri apa adanya?
Mencintai diri sendiri sama pentingnya dengan mencintai pujaan hati kita. Sedangkan hal terindah dalam mencinta adalah ketika kedua belah pihak saling berbalas cinta sejatinya. Bayangkan jika kita telah berhasil mencintai diri kita sendiri, maka 'diri kita' pun akan membalas cinta kita dengan seutuhnya. Cinta kepada diri sendiri bukanlah roman picisan. Bukan pula kisah nascistis. Melainkan sebuah penerimaan kepada ada adanya kita. Yaitu penerimaan secara sadar bahwa fitrah kita adalah untuk menjadi mahluk yang disukai oleh Tuhan. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar menerima diri kita apa adanya; saya ajak untuk memulainya dengan mempraktekkan 5 pemahaman Natural Intelligence berikut ini:
1. Kita adalah sesempurna-sempurnanya penciptaan. Dengan tubuh yang kurus dan kerempeng, masa kecil saya diwarnai oleh cemoohan. 'Siga aki-aki' – 'seperti kakek-kakek' – adalah sebutan paling tepat bagi teman-teman untuk menggambarkan bentuk fisik saya. Karena selain kerempeng, saya juga dianugerahi dengan tulang punggung 'bungkuk udang'. Melihat orang lain yang memiliki bentuk fisik yang jauh lebih baik, kadang saya merasa iri. Untungnya kita semua pernah mengakui bahwa sempurnanya kita sebagai manusia tidak diukur dari bentuk fisiknya, karena jika demikian; kita kalah sempurna dibanding binatang. Ada aqal yang menyertai penciptaan kita. Lebih dari itu, ada qalbu untuk mengimbangi fungsi aqal itu. Sekarang saya lebih memahami bahwa dengan menggunakan aqal dan qalbu itulah seorang manusia bisa mencapai kesempurnaan penciptaan yang telah diperolehnya. Sebab, memang kita ini adalah sesempurna-sempurnanya penciptaan.
2. Hasil karya kita adalah bukti kesempurnaan diri kita. 'Karya apa yang sudah engkau hasilkan?' Inilah pertanyaan yang sering mendatangi saya setiap kali menjelang tidur. Pertanyaan inilah juga yang sering membangunkan saya dari tidur dimalam senyap ketika sebagian besar orang nyenyak terlelap. Jika setiap manusia berhasil memenuhi misinya saat dikirim Tuhan, dunia pasti menjadi tempat yang lebih baik. Mereka yang dianugerahi kelapangan rezeki berkarya dengan rezekinya untuk memudahkan orang-orang yang membutuhkan. Mereka yang berilmu membuat karya-karya berkualitas dengan ilmunya bagi mereka yang haus pencerahan. Mereka yang kuat, mereka yang ramah, mereka yang tinggi, dan mereka yang rendah. Semuanya pasti bisa menghasilkan sebuah karya karena tak seorang pun lahir tanpa kemampuan untuk berbuat. Bahkan, saya melihat seseorang yang dilahirkan tanpa tangan dan kaki sanggup menghasilkan sebuah karya inspiratif yang menyadarkan jutaan umat
manusia, bahwa; anugerah Tuhan sungguh tiada terhingga.
3. Ada sisi baik didalam diri kita. Guru kehidupan saya mengajarkan bahwa kedalam diri seseorang Tuhan telah mengilhamkan kecenderungan untuk berbuat kebaikan. Tapi mengapa ada orang yang seolah hidupnya diisi oleh hal-hal negatif saja? Mungkin karena kita tidak pernah melihat orang itu saat dia sedang melakukan kebaikan. Atau, boleh jadi karena kita tidak berhasil membantunya menemukan sisi baik didalam dirinya. Atau, boleh jadi juga karena kita yang tinggal bersamanya tidak memberi cukup ruang kepadanya untuk memperlihatkan sisi baiknya. Bagaimana jika orang itu adalah diri kita sendiri? Bersediakah kita melihat saat diri kita berbuat baik? Bersediakah kita membantu diri kita sendiri untuk menjadi baik? Dan bersediakah kita untuk memberi ruang yang cukup agar diri kita sendiri bisa leluasa; untuk belajar menjadi pribadi yang lebih baik? Sungguh, siapapun kita; ada sisi baik didalam diri kita.
4. Mengijinkan orang lain berbuat baik kepada kita. Apa jadinya jika didunia ini tidak ada lagi orang yang mengijinkan orang lain untuk berbuat kebaikan? Bayangkan, jika senyum itu baik; maka kita dilarang untuk tersenyum. Jika saling menasihati itu baik, kita dilarang saling menasihati. Jika menghormati pendapat orang lain itu baik, maka kita dilarang untuk menghormati pendapat orang lain. Bagaimana jadinya ya? Saya menemukan bahwa manusia, memiliki sifat dasar untuk mengijinkan orang lain berbuat baik kepada mereka. Makanya, kita senang saat seseorang tersenyum kepada kita. Kita juga senang saat seseorang mengingatkan tentang sesuatu yang tidak patut pada perilaku kita. Dan kita juga senang ketika orang lain menghormati pendapat kita. Kita senang saat orang lain berbuat baik kepada kita. Dengan rasa senang itu, kemudian kita membalas kebaikan mereka sama seperti perlakuan baik mereka kepada kita. Bukankah indah dunia jadinya?
5. Memberi ruang kepada diri sendiri untuk melakukan perbaikan. Manusia adalah tempatnya salah dan alpa. Maka wajar jika manusia melakukan kesalahan atau kesilapan. Yang tidak wajar adalah ketika menyadari sudah melakukan kesalahan masih terus berendam dalam kubangan nista itu. Padahal, Tuhan pun berjanji untuk selalu memberi ruang kepada orang-orang yang ingin kembali. Masalahnya, maukah kita mengambil putaran untuk berbalik arah menuju kepada jalan yang disukai Tuhan? Jika kita tidak mau, maka tidak seorang pun bisa memaksa kita. Nasihat dan seruan tidak mungkin akan kita indahkan. Karena jika pintu hati kita tertutup rapat, maka kita tidak akan pernah mampu memberi ruang kepada diri sendiri untuk melakukan perbaikan.
Kita apa adanya adalah diri kita, yang memiliki segala hal yang dibutuhkan untuk menjalani hidup dengan baik. Menerima diri kita apa adanya adalah merenungkan betapa Tuhan telah menganugerahi kita dengan kesempurnaan penciptaan; sehingga kita sadar bahwa tidak ada sedikitpun celah untuk mengeluh. Jika masih ada keluh itu, mungkin karena kita terlalu berfokus kepada wujud fisik dan jasad kasar. Padahal, ketika menyebut diri sebagai mahluk sempurna; manusia tidak merujuk kepada kekuatan fisiknya, melainkan 'isi' didalam dirinya. Sebagai manusia, kita bisa salah – bisa benar. Dan sebagai manusia, kita memiliki sisi baik, dan sisi buruk. Sebagai manusia, kita juga mempunyai sisi lemah dan sisi kuat. Tak seorang pun bisa mencapai kesempurnaan sendirian. Karena kesempurnaan manusia terletak kepada kemauan untuk saling menyokong. Dan saling mengingatkan satu sama lain, bahwa; ada sesuatu yang bisa kita perbaiki dari hari ke hari.
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman - 13 Juli 2011
Master Trainer & Natural Intelligence Inventor
Website: http://www.dadangkadarusman.com
Catatan Kaki:
Menemukan sisi baik dalam diri sendiri adalah wujud rasa syukur kepada penciptanya. Sedangkan menggunakan kebaikan didalam diri itu untuk kebaikan sesama adalah pesta perayaannya.
Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain.
Follow DK on Twitter @dangkadarusman
[Non-text portions of this message have been removed]
Blogger templates
[gudang-ilmu] Artikel: Menerima Diri Kita Apa Adanya
[gudang-ilmu] Artikel: Keseimbangan Antara Penghidupan dan Kehidupan
Artikel: Keseimbangan Antara Penghidupan dan Kehidupan
Hore, Hari Baru! Teman-teman.
Ketika seseorang tengah berjuang untuk mendapatkan nafkahnya, kita biasa menyebutnya 'sedang mencari penghidupan'. Sedangkan ketika seseorang memberi nilai kepada dunia dengan apa yang bisa dilakukannya, maka kita menyebutnya; 'berkontribusi kepada kehidupan'. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun mirip, namun antara 'penghidupan' dan 'kehidupan' itu terdapat perbedaan yang signifikan. Albert Schweitzer menggambarkannya dalam sebuah kalimat yang indah; "We make a living by what we get, but we make a life by what we give". Kita memperoleh penghidupan dengan apa yang kita dapatkan, namun kita membangun kehidupan dengan apa yang kita berikan. Dalam nasihat itu ada sebuah isyarat untuk terus gigih berusaha agar mendapatkan nafkah yang layak. Namun pada saat yang sama, kita diingatkan untuk berkontribusi kepada orang lain. Mengapa? Karena nilai hidup kita tidak semata-mata ditentukan oleh pendapatan kita, melainkan oleh kontribusi kita.
Mana yang harus didahulukan; penghidupan ataukah kehidupan? Idealnya, keduanya bisa berjalan saling beriringan. Namun, hal itu bukan soal yang mudah. Kebutuhan nafkah sering menempatkan saya pada situasi dimana 'mendapatkan' sesuatu harus menjadi prioritas sehingga 'memberikan' sesuatu sering terabaikan. Awalnya saya percaya bahwa 'nanti kalau saya sudah sukses' maka saya akan bisa 'memberi atau melakukan sesuatu' untuk orang lain. Namun, kenyataannya saya tidak pernah sampai kepada titik yang bernama 'nanti' itu. Hal itu berlangsung terus sampai saya menemukan bahwa kita bisa berkontribusi melalui hal-hal yang paling sederhana. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar berkontribusi melalui hal-hal sederhana seperti yang saya maksud; saya ajak untuk memulainya dengan mempraktekkan 5 pemahaman Natural Intelligence berikut ini:
1. Berkontribusi tidak selalu berupa materi. Selama masih mengira bahwa berkontribusi harus selalu dengan materi maka seseorang akan selalu dihadapkan kepada perbenturan antara kebutuhan keluarganya dengan 'panggilan hati'. Oleh sebab itu, wacana kontribusi sering menjadi seperti hak istimewa orang-orang yang memiliki kelapangan harta. Jika untuk memenuhi keperluan biaya sekolah anak saya saja masih harus pusing tujuh keliling, bagaimana saya bisa melakukan sesuatu bagi orang lain? Untungnya, guru kehidupan saya mengingatkan bahwa memberi tidak harus selalu berupa materi. "Jika Engkau punya tenaga, maka tenagamu adalah sumberdaya utama dalam berkontribusi," begitu nasihatnya. Mungkin dengan waktu, atau ilmu yang Engkau miliki. Mungkin dengan sekedar sebuah kalimat penyemangat. Atau, bahkan sekedar dengan senyum yang menyenangkan hati orang-orang yang melihatmu. Ada banyak cara untuk berkontribusi. Dan semuanya itu, tidak harus berupa
materi.
2. Menemukan misi hidup. Kita sering melihat orang-orang yang tanpa lelah terus berkontribusi kepada kehidupan orang lain. Sekalipun untuk itu mereka harus berbagi energy dan usaha. Bahkan disaat hidupnya sendiri sedang 'tidak terlampau indah', mereka terus gigih untuk membuat hidupnya berarti. Mengapa begitu? Seseorang mengajarkan sebuah jawaban yang membuat hati saya terpana. "Misi hidup," katanya. Yakinlah bahwa kehadiran kita di muka bumi bukanlah tanpa misi. Sayangnya, kita sering lupa atas misi yang kita emban itu sehingga kita terlena dalam jibaku perjuangan mempertahankan hidup. Akhirnya kita tenggelam dalam kesibukan mencari penghidupan. Suatu hari, seseorang bertanya kepada saya "Apa misi hidupmu Nak?" Saya tidak dapat menjawabnya. "Temukan itu didalam hatimu," katanya. "Tanpa itu, Engkau tidak akan pernah menjadi rahmatan lil'alamin"
3. Hidup bukan sekedar soal duniawi. Kita sudah sejak lama percaya akan adanya kehidupan setelah kematian. Jika hal itu benar, maka setiap tindakan kita selama hidup di dunia menjadi patokan seberapa baiknya kualitas kehidupan kita dialam setelah kematian. Semakin banyak kontribusi yang kita berikan semasa hidup, semakin baik pula apa yang bisa kita dapatkan di dunia baru yang kelak akan kita huni. Jika kontribusi kita hanya sedikit, barangkali hanya sedikit juga apa yang akan kita dapat. Lantas, bagaimana jadinya kehidupan kita nanti jika kita tidak berkontribusi sama sekali? Pantaslah jika guru kehidupan saya selalu mengingatkan bahwa;"sebaik-baiknya manusia adalah dia yang paling banyak memberi manfaat bagi orang lain." Beliau mengingatkan agar tidak terlalu sering terjebak untuk mengurusi kepentingan-kepentingan pribadi semata. Apalagi sampai terjebak dalam ego yang menutupi hati sehingga sangat sulit untuk dimasuki panggilan-panggilan
suci. Padalah, hidup bukan sekedar soal duniawi.
4. Bertemanlah dengan orang-orang yang positif. Hidup adalah pertanda masih adanya energy didalam diri kita. Sedangkan energy didalam setiap individu merupakan perpaduan antara energy positif dan energy negatif. Maka wajar jika bentuk aliran energy didalam diri kita sangat dipengaruhi oleh bentuk energy yang ada di sekitar kita. Sangat sulit untuk menjadi positif jika kita dikelilingi oleh orang-orang yang bersikap negatif, misalnya. Atau sebaliknya, saat berinteraksi dengan orang-orang yang bersikap dan bertindak secara positif, kita jadi lebih mudah untuk melakukan hal-hal yang positif. Hal itu pasti terjadi baik secara terpaksa maupun sukarela. Di lingkungan orang-orang positif kita akan ikut 'terbawa arus' positif. Jadi jika ingin 'merasa ringan hati' saat melakukan hal-hal yang positif, maka sebaiknya kita memperbanyak teman yang bersikap positif.
5. Memberi ruang kepada orang-orang yang berkontribusi. Meskipun kita percaya bahwa cara untuk berkontribusi itu begitu banyaknya, tetapi tidak berarti kita bisa ikut berkontribusi. Boleh jadi karena kondisi tidak memungkinkan. Atau mungkin karena kita tidak ingin berkontribusi saja. Bagaimana pun juga kita adalah tuan bagi kehidupan kita sendiri sehingga kita berhak untuk menentukan apapun yang 'kita lakukan' atau 'tidak kita lakukan'. Namun, kebebasan itu juga berarti bahwa kita tidak memiliki hak untuk menghalangi orang lain yang hendak berkontribusi untuk kehidupan dunia yang lebih baik. Artinya, bersamaan dengan kewenangan kita untuk menentukan pilihan hidup kita sendiri terselip sebuah kewajiban untuk menghargai aspirasi orang lain untuk berkontribusi. Maka sudah sepatutnya kita memberi ruang kepada orang-orang yang berkontribusi, bukan? Sebentar dulu. Jika Anda memberi ruang kepada orang-orang yang hendak berkontribusi; maka
sesungguhnya Anda pun sudah berkontribusi lho.
Jika kita masih percaya akan keberadaan sisi baik dan sisi buruk dalam diri kita, maka kita pasti percaya bahwa kita bisa berkontribusi untuk menebarkan nilai-nilai kebaikan yang kita miliki. Untuk memulainya, kita bisa bertanya kepada diri sendiri; nilai-nilai kebaikan apa yang bisa saya kontribusikan hari ini?
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman - 12 Juli 2011
Master Trainer & Natural Intelligence Inventor
Website: http://www.dadangkadarusman.com
Catatan Kaki:
Banyak orang bersedekah karena percaya bahwa harta mereka akan bertambah banyak seiring dengan semakin banyaknya sedekah yang mereka berikan. Agar semakin bersemangat untuk berbagi kebaikan dengan orang lain, mungkin kita juga harus belajar percaya bahwa kebaikan didalam diri kita akan bertambah seiring dengan bertambahnya kebaikan yang kita tebarkan.
Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain.
Follow DK on Twitter @dangkadarusman
[Non-text portions of this message have been removed]
[gudang-ilmu] Artikel: Proporsi Toleransi Terhadap Kesalahan Karyawan
Artikel: Proporsi Toleransi Terhadap Kesalahan Karyawan
Hore, Hari Baru! Teman-teman.
Saya pernah menegur seorang pemimpin yang memarahi bawahannya sampai menangis. Tidak ada kesalahan yang boleh dibiarkan, memang. Tetapi apakah harus sampai sejauh itu? Saya sepakat jika pada situasi tertentu sikap keras itu sangat diperlukan. Tetapi tidak pada semua situasi. Saya juga termasuk tipe pribadi 'whatever it takes'. Tetapi, memarahi karyawan sampai menangis; tentu ada rambu-rambunya. Sangat mudah untuk membuat bawahan menangis, asal tahu saja jika hatinya balas memaki dan melaknat selama-lamanya. Tetapi saya percaya bahwa ada cara ampuh untuk membuat orang menangis, tanpa menyakiti hatinya. Sejauh yang saya ingat, ada 3 kejadian dimana orang yang saya pimpin menangis di ruangan saya. Dan saya yakin semuanya tidak menyebabkan saya dikutuk oleh mereka. Namun hanya satu kejadian yang akan saya ceritakan disini dengan harapan bisa memberi inspirasi bagi proses pematangan jiwa kepemimpinan kita.
Jika Anda termasuk pemimpin yang gampang mengeluarkan kata-kata kasar kepada bawahan, mungkin ini saatnya untuk berlatih dengan cara yang berbeda. Jika Surat Peringatan sangat mudah tercetak dari printer Anda, ini juga saat yang tepat untuk menghemat kertas sekaligus menemukan cara lain yang lebih berdampak. Meskipun dibenarkan oleh aturan yang berlaku, tetapi coba secara fair melihat fakta bahwa ternyata SP sama sekali tidak bisa mengubah seseorang. Saya lebih memilih membuat 'gentlement agreement' secara langsung daripada mengeluarkan SP. Dan saya tidak pernah meleset dengan hal itu. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar tentang bagaimana menemukan proporsi toleransi terhadap kesalahan karyawan; saya ajak untuk memulainya dengan mempraktekkan 5 kemampuan Natural Intelligence berikut ini:
1. Fahamilah bahwa mereka sama manusianya seperti kita. Sungguh beruntung jika kita menyadari bahwa sebagai manusia, kita pun bisa melakukan kesalahan yang sama. Tidak ada gunanya memelihara sifat takabur dan terlampau yakin jika kita ini adalah manusia yang bersih dari kesalahan. Jika bukan berbohong, maka kita mungkin sudah lupa apa yang pernah kita lakukan dimasa lalu. Atau, barangkali kita bisa tergelincir dimasa yang akan datang. Kesadaran semacam ini penting agar ketika menemukan adanya kesalahan yang dilakukan oleh bawahan, kita menyikapinya secara proporsional. Bersikap over-reactive sama sekali bukanlah cara seorang pemimpin sejati menangani kesalahan yang dilakukan oleh anak buahnya. Sebab ketika menangani sebuah kesalahan, Anda tidak hanya berurusan dengan pelakunya. Anda sedang mengirimkan sinyal kepada semua orang yang Anda pimpin. Mereka menilai cara Anda mengatasinya, dan mereka mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan bagi dirinya
sendiri. Sinyal itu sangat menentukan sikap semua orang di team Anda. Jadi, fahamilah bahwa mereka sama manusianya seperti Anda.
2. Dahulukan keteladanan yang Anda sendiri lakukan. Berapa kali Anda mendengar seorang pemimpin memarahi bawahannya untuk suatu kesalahan yang dia sendiri melakukannya? Maka tidak heran jika hukum menjadi lelucon umum (1) atasan selalu benar, (2) jika atasan salah, lihat hukum nomor (1). Sungguh sangat sulit untuk mendapatkan komitmen karyawan tanpa keteladanan para pemimpinnya. Saya memanggil seseorang ke kantor, lalu menyodorkan 2 lembar kertas. Satu data absensi saya, satunya lagi miliknya. "Kasih tahu gue, berapa kali gue terlambat ke kantor bulan ini. Dan kasih tahu gue, berapa kali elu masuk ke kantor tidak terlambat bulan ini." Dia menatap saya "Iya, Pak." Katanya. "Elu nggak pantes ngomong apapun sebelum mengerti isi kertas itu." Begitu saya bilang. "Tapi Pak, teman-teman lain juga sering terlambat nggak apa-apa," Itulah resiko demokratisasi yang harus saya terima. "Mereka bukan urusan gue. Selama elu masih mau
gabung di team gue, elu musti ikut aturan main disini. Kalau elu kepengen seperti mereka, elu boleh pindah ke departemen mereka. Gue bantu elu pindah kesana." Jam 7 pagi, biasanya saya sudah berada di kantor sehingga teman saya bisa melihat bahwa kedisiplinan itu bukan sekedar untuk memperindah lidah. Saya tidak menuntut mereka datang pagi sekali. Tapi jam 8 tepat, sebaiknya mereka sudah berada ditempat. Lakukan, dan jadilah teladan bagi orang-orang yang Anda pimpin.
3. Ambillah tanggungjawab kepemimpinan secara utuh. Apa sih tanggungjawab kepemimpinan itu? Salah satunya; memastikan semua proses berjalan sehingga menghasilkan profit yang tinggi bagi perusahaan dengan tetap menjaga etika dan rambu-rambu operasionalnya. Kalau ada penyimpangan? Ya harus dipertanggungjawabkan oleh sang pemimpin. Lho, bukannya oleh pelakunya? Tidak cukup. Karena seorang pemimpin bertanggungjawab untuk memastikan tidak ada pelanggaran dan penyalahgunaan seperti itu. Bukankah 'tanggungjawab' yang menjadikannya dibayar lebih mahal dari orang lain? Memang tidak ada seorang pun dimuka bumi yang bersedia untuk mempertanggungjawabkan kesalahan yang dilakukan oleh orang lain. Jadi supaya tidak tertimpa kejadian seperti itu, maka seorang pemimpin mesti benar-benar memastikan agar semua proses dan operasional berjalan sebagaimana mestinya. Manusia mempunyai kecenderungan untuk melakukan kesalahan, bahkan 'to test the fence'. Tugas
pemimpinlah untuk memastikan jika pagar selalu kokoh agar setiap kali serigala mencoba masuk bisa segera dihalau. Dengan begitu, Anda tidak akan pernah kehilangan seekor ayam pun dari dalam kandang. Serigala itu pengaruh buruk, sedangkan ayam adalah aset mental.
4. Sentuhlah hati nuraninya, bukan menyayatnya. Sebagai pemimpin, tentu Anda bersedia memperjuangkan hal terbaik untuk anak buah Anda. Tetapi, bagaimana jika ternyata dia menyalahgunakannya? Saya langsung memanggilnya ke ruang kerja saya. Setelah memaparkan semua temuan dan dia mengakuinya, saya hanya berkata begini;"Saya tidak menyangka kamu melakukan itu. Setelah semua yang saya lakukan untukmu selama ini? Saya mengira, saya bisa membantu kamu untuk menjadi kebanggaan bagi keluargamu. Ternyata saya salah. Saya sungguh berharap anak-anakmu bisa berdiri didepan kelas sambil menceritakan kepada teman-teman mereka tentang kebanggaan terhadap Ayahnya yang hebat. Saya mengimpikan kamu kelak menjadi seseorang yang bisa berdiri tegak dengan penuh kebanggaan dan kehormatan. Tapi, kelihatannya mimpi kita tidak sama." Saya mengenal keluarganya. Dan sungguh, saya melihat meleleh air matanya. "Kamu menangis karena saya menegurmu?" saya penasaran.
"Bukan…" katanya. "Saya sangat menyesali tindakan saya…." Sejak saat itu, dia tidak pernah mengecewakan lagi. Dan saya bangga kepadanya. Mungkin, inilah tangisan karyawan yang tidak menjadikan atasannya dilaknat didalam hati mereka.
5. Berteguh-hatilah saat harus mengambil keputusan paling pahit. Dari beragam kesalahan yang dilakukan oleh anak buah, kadang memang ada yang melampaui batas. Jika itu berupa pelanggaran terhadap integritas, maka solusinya memang harus tuntas tas tas. Seorang Manager di team saya berhasil menemukan penyalahgunaan data penting yang dilakukan oleh salah satu staff di team kami. Selain melanggar integritas, tindakan itu juga sangat membahayakan kelangsungan hidup perusahaan, dan bisa mencelakai pelanggan, serta merusak kredibilitas team secara keseluruhan. Saat mendapatkan rincian laporan dan bukti-buktinya, saya bertanya; "Then what is your recommendation?" Saya paham ketika pilihannya hanya ada dua; diminta mengundurkan diri, atau diberhentikan. Saya memastikan bahwa saya mendukungnya 100%. Apa yang kagumi dari sahabat saya ini? Dia mengkomunikasikannya secara senyap, dingin dan bersih. Bahkan saya tidak perlu mengeluarkan satu kata pun
untuk menghasilkan penyelesaian yang 'win-win' itu. Hubungan personal kami masih tetap baik, meskipun hubungan professional kami terhenti. Memang, kami kehilangan seseorang. Tetapi, teman-teman didalam teamnya memahami mengapa keputusan itu harus diambil. Dengan begitu, lebih banyak lagi sahabat kami yang selamat dari godaan untuk melakukan kesalahan yang sama.
Kita sering sedemikian mudahnya memvonis orang lain. Padahal sebagai manusia, kita juga punya peluang untuk melakukan kesalahan yang sama. Mari kita belajar menyikapi kesalahan orang lain secara proporsional. Apalagi jika yang melakukannya adalah orang-orang yang kita pimpin sendiri. Kitalah yang bertanggungjawab untuk memperkecil kemungkinan terjadinya kesalahan itu. Namun jika terlanjur terjadi, kita pun tidak sepatutnya melepaskan diri dari tanggungjawab itu. Apalagi sampai menimpakan seluruh kesalahan itu kepada orang-orang yang tindak tanduknya sangat ditentukan oleh keteladanan yang kita tunjukkan.
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman - 6 Juli 2011
Master Trainer & Natural Intelligence Inventor
Website: http://www.dadangkadarusman.com
Catatan Kaki:
Di rumah kita, sebuah cermin bisa memperlihatkan seperti apa wajah kita. Di kantor, cermin itu mewujud dalam perilaku orang-orang yang kita pimpin. Sebaik apa kita memimpin? Semuanya terlihat dari perilaku mereka.
Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain.
Follow DK on Twitter @dangkadarusman
[Non-text portions of this message have been removed]
[gudang-ilmu] Mohon Ijin ’Menghilang’ Selama Beberapa Hari
Hore, Hari Baru! Teman-teman.
Mulai hari ini sampai tanggal 10 Juli 2011 mohon ijin untuk keluar dari dunia maya sehubungan dengan panggilan tugas di suatu tempat. Saya tidak tahu apakah selama rentang waktu itu ada fasilitas dan kesempatan untuk online atau tidak. Namun untuk sementara waktu kemungkinan besar saya 'unconnected' sehingga tidak akan dapat merespon email atau melakukan aktivitas online lainnya.
Semoga di lain kesempatan kita masih diberi ruang dan kemampuan untuk saling sharing lagi dengan teman-teman sekalian. Love you all.
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman - 3 Juli 2011
Master Trainer & Natural Intelligence Inventor
Website: http://www.dadangkadarusman.com
Catatan Kaki:
Ciri persahabatan yang murni adalah ketika hati kita merasa terhubung bahkan meski tidak saling mengenal satu sama lain.
Follow DK on Twitter @dangkadarusman
[Non-text portions of this message have been removed]
[gudang-ilmu] File - Salam Kenal dari Owner Gudang Ilmu
From : Mufli (Moderator Gudang-Ilmu)
Hello Kawan,
Terima kasih telah bergabung di milinglist GUDANG-ILMU
yang saya kelola. Melalui milinglist ini saya persembahkan
untuk anda semua berbagi ilmu untuk pemberdayaan bersama.
Saya undang anda berpartisi aktif, dengan mengirimkan
artikel, komentar, tips yang bermanfaat, serta jangan lupa
tetap mematuhi aturan main yang saya jelaskan di bagian
depan halaman description milinglist Gudang-Ilmu:
http://groups.yahoo.com/group/gudang-ilmu
Untuk selalu mendapatkan informasi terbaru dari saya langsung
ke email Anda, silahkan set EMAIL DELIVERY anda sebagai INDIVIDUAL,
atau setidaknya SPECIAL NOTICE.
Oya, salam kenal lebih dekat :)
Saya Mufli, tinggal di Jalan Merak 6/44 Rewwin, Sidoarjo
Indonesia. Saya banyak mengelola situs online, yg umumnya
merupakan support system untuk bisnis, training dan publikasi.
Thank you rekans :)
Best Regards
Mufli
Moderator, Gudang-Ilmu
Bila Anda ingin mengundang teman untuk join milinglist ini,
Silahkan copy undangan berikut ini, silahkan ganti informasi
tentang Anda di bagian akhir (Salam), lalu kirimkan undangan
kepada kawan-kawan Anda.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Subject: Undangan Join Gudang-Ilmu
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Hi kawan,
Ilmu bukanlah yg nomor satu,
bahkan percuma tanpa dibawa dalam tindakan.
Dengan ilmu dan hasrat yang menggebu,
banyak orang berjaya dan bermakna untuk sekitarnya.
Ilmu tentang bisnis internet, cara membangun team,
security online, forex, adsense, network marketing,
business broker, franchising, autosurf, serta juga
home based business, affiliate program, reseller,
dan sebagainya dengan cemerlang dapat ANDA dipaparkan
di forum ini, saya undang anda para pakar dan
praktisioner yang komptens.
JOIN US NOW, Semoga hanya yang terbaik buat Anda !
Cara bergabung adalah dengan mengirimkan email kosong
alamat ini:
gudang-ilmu-subscribe@yahoogroups.com
Atau silahkan berkunjung ke sini:
http://groups.yahoo.com/group/gudang-ilmu
Salam sukses paling sukses buat Anda.
Thanks Again.
[gudang-ilmu] File - Indonesia Online Ribuan anak bangsa ada di sini
Indonesia Online, Ribuan anak bangsa ada di sini
Media komunikasi online anak bangsa baik di Indonesia maupun di manca negera, dimanapun Anda berada. Silahkan ngobrol di sini, bebas dan tetap sopan tentunya. Selalu Posting dengan LENGKAP sebutkan DENGAN JELAS identitas anda (Nama, web/blog, boleh HP) dalam setiap bagian akhir posting. Dilarang: beriklan langsung kecuali di bagian footer email anda, maksimum 3 baris. Tidak diperkenankan: posting yang vulgar, argumentatif, sara, menyinggung privacy member lain, atau posting yang berulang-ulang, atau yang bertendensi iklan berlebihan. Semoga Milinglist ini dapat membuat kita bersama semakin berdaya.
Join us now: http://groups.yahoo.com/group/indonesia-online
Best regards
Indonesia-Online Moderator
[gudang-ilmu] Artikel: Be An Authentic Leader!
Artikel: Be An Authentic Leader!
Hore, Hari Baru! Teman-teman.
Betapa seringnya kita menasihatkan "jadilah dirimu sendiri!". Tapi berapa kali kita mengatakan itu kepada diri kita sendiri? Seolah kalimat itu tidak lagi cocok bagi mereka yang berlabel pemimpin. Padahal, justru pemimpinlah yang paling membutuhkan nasihat itu. Jika tidak, mereka hanya akan diombang-ambing oleh system nilai dan terori-teori dari luar. Coba saja ingat kembali; bukankah dalam setiap training kepemimpinan kita disodori dengan teori tambahan padahal training-training yang lalu pun belum kita implementasikan? Semakin banyak teori malah semakin membingungkan. Sesekali, cobalah untuk melupakan semua pelajaran canggih itu; dan jadilah diri sendiri. Memimpinlah dengan cara Anda sendiri. Saya tahu, Anda akan dikritik. Tetapi, sejauh yang masih saya ingat; tidak satupun teori kepemimpinan yang bisa benar-benar membantu bagaimana membagi waktu untuk mengembangkan orang-orang yang kita pimpin ditengah bertumpuknya agenda lain.
Jika hanya punya satu atau dua bawahan, mungkin tidak terlampau berat. Tetapi jika belasan atau puluhan? Benar, kita bisa memperkecil span of control dengan cara membuat 'layer' baru diantara kita dengan mereka. Namun, nyatanya kita tidak bisa mengandalkan proses pengembangan dengan cara itu. Makanya ketika bekerja, saya lebih memilih struktur horizontal daripada vertikal. Cara itu bukannya tanpa kritikan, misalnya; terlalu mengontrol atau tidak mau mendelegasikan. Faktanya, banyak pemimpin dunia atau perusahaan yang sukses dengan struktur organisasi yang sedatar mungkin. Sedangkan organisasi yang semakin vertical, menimbulkan birokrasi yang panjang, membentuk kerajaan-kerajaan kecil dan kelambanan pengambilan keputusan. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar tentang bagaimana caranya mengembangkan bawahan ditengah tebatasnya waktu yang kita miliki; saya ajak untuk memulainya dengan mempraktekkan 5 kemampuan Natural Intelligence berikut ini:
1. Memetakan kekuatan masing-masing karyawan. Jika tujuan Anda hanya pergi ke suatu tempat yang sudah Anda kenali tikungan dan jalan tikusnya, Anda tidak membutuhkan peta. Tetapi perjalanan mengembangkan karyawan bukanlah rute mudah seperti itu. Mengapa? Karena bahkan setelah bertahun-tahun bekerja bersama mereka pun belum tentu Anda benar-benar mengenal mereka. Beruntung jika Anda punya budget untuk melakukan talent mapping. Lebih beruntung lagi jika budget itu tidak ada, sehingga sekarang Anda punya kesempatan untuk menguras seluruh kemampuan kepemimpinan Anda. Gunakan tangan kosong saja? Tapi kan tidak akan akurat? Hey, siapa bilang? Hasil test lembaga yang keren dan mahal pun belum tentu akurat. Percayalah, I have gone through those kinds. Bahkan sekalipun hasil pemetaan itu akurat, kemudian hanya diparkir di laci-laci lemari kita bukan? Jadi, jangan takut untuk melakukan sesuatu sekalipun harus dengan tangan kosong. Justru dengan begitu,
Anda memiliki alasan untuk menuntaskannya karena hal itu menggelitik sense of belonging Anda. Ini proyek gue. Maka mesti gue rawat beneran.
2. Memberdayakan mereka sesuai hasil pemetaan Anda. Hasil pemetaan yang Anda lakukan itu sangat membantu untuk memberdayakan mereka sesuai dengan tingkatannya masing-masing. Misalnya, seseorang berkata kepada saya; "Ingin Menjadi Product Manager, Pak." Saya periksa compatibility-nya dengan hasil pemetaan itu; cocok. Maka saya bisa meminta komitmen dia untuk melakukan 'what ever it takes' untuk menjadi Product Manager. Saya harus lakukan itu meskipun itu berarti dia akan pindah ke departemen lain. Yang lain berkata; "Saya disini saja sama Bapak," Maka saya katakan;"Kalau elu kerja hanya karena orang lain, elu nggak bakalan jadi apapun. Apa lagi elu tahu gue nggak bakal lama-lama tinggal disini." Lalu dia bilang;"Tapi saya suka dengan bidang ini." Nah, kalau itu lain. Maka sejak itu saya bisa pegang komitmen yang lebih tinggi darinya. "Kalau elu mau jadi Product Manager, elu mesti bisa apa? Kalau elu mau jadi Research
Manager, elu mesti bisa apa? Kalau elu mau jadi bla-bla-bla manager, elu mesti bisa apa?" Pertanyaan standard itu menghasilkan jawaban yang berbeda. Namun dari perbedaan jawaban itulah saya mendapatkan komitmen dari mereka untuk melakukannya tanpa mesti disuruh-suruh lagi.
3. Mengembangkan mereka melalui proses pengembangan orang lain. Dari sejumlah orang yang saya tanya "elu mau jadi apa?" hanya sedikit yang tidak menyebutkan kata 'Manager'. Bahkan ada yang cukup bernyali untuk mengatakan 'Mau menggantikan elu, Dang." Lumayan, ada juga penggemar saya rupanya, hahaha. Jawabannya bisa berbeda. Tetapi intinya sama, yaitu; mereka ingin menjadi pemimpin. Sekarang saya buka lagi hasil pemetaan tadi, lalu saya lihat apa yang saya mau mereka lakukan untuk diri mereka sendiri. Diantara mereka ada yang sudah waktunya 'praktek' menjadi 'coach'. Ada juga yang belum siap, atau memang tidak perlu. Maka sekarang, saya punya cukup orang yang bisa menjadi 'team coach' bagi semua karyawan di team saya. Sulitkah untuk mendapatkan komitmen mereka? Tidak. Saya hanya mengatakan; "Untuk meraih jabatan yang elu mau, elu pade mesti belajar meng-coach orang lain." Kalimat itu bisa diterima pikiran dan
perasaan, bukan? Lalu kami duduk bersama, melihat berapa total jumlah orang yang perlu di coach di team kami. Kemudian membagi jumlah mereka sama rata. Saya? Meng-coach orang tidak lebih banyak dari mereka. Sedangkan semua orang di team itu sekarang punya coach masing-masing. Anda mengembangkan mereka melalui proses pengembangan orang lain.
4. Memastikan orang-orang kunci tetap Anda tangani sendiri. Tingkat kematangan setiap orang berbeda-beda. Tetapi, gagasan demokratisasi sering sekali menuntut yang tidak-tidak. Ditempat saya juga begitu. Bahkan ada yang berani protes segala. Ya tidak ada masalah jika argumennya benar. Tetapi, pengembangan orang-orang kunci harus Anda sendiri yang melakukannya. Makanya saya tidak give-up itu kepada orang lain. Saya keras kepada mereka yang saya coach langsung, jika saya rasa harus keras. Nangis juga tidak masalah, jika harus demikian. Ada yang sampai mengadu kepada atasan saya. Tetapi, atasan saya tahu apa yang sedang saya lakukan untuk 'karyawan kesayangan saya itu'. Mungkin mereka menyadarinya belakangan setelah saya pergi. Atau mungkin tidak menyadarinya sama sekali. It doesn't matter. Tetapi, Anda tahu telah melakukan sesuatu yang menurut Anda paling efektif untuk mempersiapkan mereka untuk meraih apa yang mereka sendiri inginkan. Saya
yakin, para pemimpin hebat bukanlah mereka yang bersikap lembek. Melainkan mereka yang bersedia membayar apapun harganya; bahkan sekalipun mereka harus menuai kontroversi dan kecaman. Pelaut ulung tidak dilahirkan di samudera yang tenang. Kader yang tangguh juga demikian. Jadi, pastikan orang-orang kunci tetap Anda tangani sendiri.
5. Mendokumentasikan catatan proses pengembangan. Dokumentasi itu sangat menyebalkan, memang. Tetapi, jika dituangkan dalam porsi yang tepat sangat membantu kita untuk melihat apa yang sudah dilakukan dan apa yang kita dapatkan. Kita tidak mungkin menghafal hal-hal seperti itu dengan lebih banyak lagi hal yang tak kalah pentingnya untuk dilakukan. Beberapa 'coach' terpilih tadi dibekali dengan selembar kertas berisi ruang-ruang kosong sederhana. Saya tidak memakai form coaching yang dibuat oleh para ahli yang complicated, melainkan saya membuatnya sendiri. This is my team. I know the needs better than any consultant on earth. Setiap kali mereka meng-coach seseorang, mereka harus menuliskan sesuatu, dan diverifikasi oleh orang yang dicoachnya. Saya membacanya secara random, tetapi menyimpan filenya dilemari sehingga bisa diakses kapan saja diperlukan. Jika terjadi pergantian leaderpun dokumen itu bisa membantu menyederhanakan proses
hand-over.
Kita sering secara keliru diajari atau mempersepsikan bahwa proses pengembangan orang-orang yang kita pimpin itu sangat rumit dan kompleks. Ya memang begitu jika kita terlalu terpaku kepada pakem-pakem yang tertera dalam text book. Memang buku-buku management itu bagus. Tetapi apa bagusnya suatu metode jika tidak bisa diimplementasikan? Kalau saya diijinkan untuk menyarankan sesuatu, maka inilah saran saya; Jadilah diri Anda sendiri dalam memimpin. Boleh mendengarkan orang lain, tetapi terapkanlah metode kepemimpinan yang benar-benar Anda perlukan bagi team Anda sendiri. Meskipun Anda dituduh aneh; biarin saja. Ini team Anda. Maka Anda sendirilah yang harus menentukan teori atau metode mana yang patut Anda gunakan, atau 'tanpa teori' sama sekali. Jangan takut digugat;"teori kepemimpinan mana yang jadi landasan elu?!". Jalan saja. Hey sebentar, saya mau membisikkan sesuatu; pemimpin seperti itu lho contoh 'The Authentic Leader' itu…
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman - 1 Juli 2011
Master Trainer & Natural Intelligence Inventor
Website: http://www.dadangkadarusman.com
Catatan Kaki:
Semua teori kepemimpinan yang bagus ya memang bagus. Tetapi tidak ada yang lebih bagus dari keteguhan hati seorang pemimpin yang bersedia menguras habis seluruh daya dirinya demi kebaikan orang-orang yang dipimpinnya.
Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain.
Follow DK on Twitter @dangkadarusman
[Non-text portions of this message have been removed]