Artikel: Mengatasi Rasa Bosan Di Kantor
Hore, Hari Baru! Teman-teman.
Sudah berapa tahun Anda menangani tugas-tugas dikantor itu? Jika masih baru, mungkin Anda merasa senang dengan pekerjaan itu. Tapi kalau sudah bertahun-tahun, apakah Anda masih merasa senang juga? Bagus jika iya. Tapi jika Anda sudah mulai diserang oleh rasa bosan, maka Anda harus segera mencari jalan keluarnya. Apakah Anda sudah menemukan jalan keluar yang saya maksud?
Bagi saya, kebosanan itu adalah energy untuk berprestasi. Lho, kok bisa begitu? Tentu saja bisa jika tahu caranya sekaligus berkomitmen untuk menerapkannya dalam aktivitas kerja Anda sehari-hari. Tertarik untuk mengetahui caranya? Berikut ini 5 teknik handal untuk menjadikan kebosanan dikantor sebagai daya dorong keberhasilan karir Anda.
1. Ingatlah bahwa pekerjaan itulah yang menghidupi keluarga Anda. Tanyakan kembali apa tujuan Anda bekerja. Bukankah salah satunya untuk memperoleh nafkah atau penghidupan? Janganlah menunggu kehilangan pekerjaan terlebih dahulu untuk menyadari betapa pentingnya pekerjaan itu. Jika Anda bosan dengan pekerjaan, apakah Anda bosan juga dengan pendapatan yang Anda peroleh darinya? Jika masih membutuhkan pendapatan itu, maka Anda masih membutuhkan pekerjaan itu. Semakin kita mengingat betapa berharganya dia, semakin besar keinginan kita untuk menjaga dan menyelesaikannya sebaik-baiknya.
2. Konsekuen dengan pilihan Anda. Tidak ada orang yang memaksa Anda untuk menerima pekerjaan ini. Anda boleh menolaknya kapan saja, bukan? Mungkin Anda merasa itu bukan pekerjaan yang Anda idamkan sehingga Anda tidak memiliki ikatan emosional yang mendalam. Silakan selalu mencari pekerjaan idaman itu, tapi sebelum Anda mendapatkannya; Anda tidak memiliki pilihan lain selain berprestasi pada pekerjaan saat ini. Mengapa? Karena tanpa prestasi bukan hanya karir Anda yang tidak berkembang, melainkan juga akan sangat sulit untuk mendapatkan pekerjaan lain yang Anda idamkan itu.
3. Antusias dalam mengerjakan tugas-tugas Anda. Antusiasme memiliki energy positif sehingga Anda akan senang mengerjakan apapun jika dilakukan dengan antusias. Ciri adanya antusiasme adalah ketika Anda melakukannya dengan tersenyum, mencurahkan energi dan pikiran penuh, serta menyelesaikannya tanpa cela sedikitpun. Begitu Anda melihat hasilnya yang memuaskan, Anda tahu bahwa Anda adalah orang yang hebat dalam menyelesaikan penugasan. Dan sekarang, Anda siap untuk menyelesaikan penugasan lainnya dengan sama antusiasnya.
4. Berinovasi dalam cara mengerjakan tugas-tugas Anda. Bagi kebanyakan orang rasa bosan dikantor lebih disebabkan karena mereka telah melakukan aktivitas yang itu-itu saja selama bertahun-tahun. Siapa yang tidak akan bosan jika demikian? Maka dari itu, berinovasilah dengan pekerjaan Anda; maka pasti Anda akan menemukan hal baru yang menyenangkan. Gunakan pikiran kreatif, positif, dan produktif Anda untuk menemukan cara yang lebih menyenangkan dalam bekerja. Selain Anda sendiri akan senang, atasan dan teman-teman Anda juga akan memberikan kredit poin positif atas inisiatif Anda.
5. Mintalah tugas-tugas tambahan kepada Atasan Anda. Jika Anda menggunakan waktu kerja sebaik-baiknya, saya yakin Anda memiliki banyak waktu yang masih tersisa di kantor. Daripada Anda gunakan waktu itu untuk melakukan hal-hal yang tidak jelas, lebih baik Anda datang kepada atasan. Lalu katakan kepadanya; "Pak, tugas saya sudah selesai. Bolehkah saya meminta tugas tambahan?" Selain Anda akan mendapatkan tugas baru yang tidak membosankan, Anda juga akan dinilai secara sangat positif oleh atasan. Percayalah, untungnya banyak buat Anda.
Hingga tarap tertentu kebosanan dikantor itu masih bisa ditolelir. Tetapi, jika kebosanan itu membuat Anda mengabaikan tanggungjawab maka itu sama artinya Anda menyia-nyiakan hidup. Mendingan Anda berhenti bekerja saja. Tapi, itu kan bukan pilihan yang baik? Tetapi, coba lihat kembali ke-5 teknik yang saya jelaskan diatas. Bukankah dengan menerapkan ke-5 teknik itu Anda justru bisa mengubah kebosanan menjadi energy yang positif untuk mengembangkan karir Anda?
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman - 11 Mei 2011
Natural Intelligence Contemplator
Contact person in-house training: Ms. Vivi - 0812 1040 3327
www.dadangkadarusman.com
Catatan Kaki:
Membiarkan diri terkurung dalam kebosanan adalah tanda dari sifat kekanak-kanakan. Sedangkan menggunakan kebosanan itu untuk menemukan cara kerja yang lebih menyenangkan merupakan tanda jika kita memiliki keceriaan khas anak-anak.
Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain.
Follo DK twitter@dangkadarusman
Follow DK on Twitter @dangkadarusman
[Non-text portions of this message have been removed]
Blogger templates
[gudang-ilmu] Artikel: Mengatasi Rasa Bosan Di Kantor
[gudang-ilmu] Artikel: Menempatkan Diri Di Era Talent War
Artikel: Menempatkan Diri Di Era Talent War
Hore, Hari Baru! Teman-teman.
Perang paling sengit di zaman baru bukanlah yang menggunakan senjata perenggut nyawa seperti senapan otomatis, rudal nuklir, dan pesawat tempur. Anda tahu perang apa yang saya maksud? Anda benar. Perang talenta, atau talent war. Dalam talent war, ada sebuah ciri yang sangat khas yaitu; perusahaan bersedia membayar mahal seseorang yang dibajak dari perusahaan lainnya.
Disaat begitu banyak orang berteriak tentang bayaran yang rendah, mengomelkan keputusan manajeman yang tidak berpihak kepada karyawan, mengeluhkan kesejahteraan yang tidak kunjung meningkat; lha kok ada yang diburu oleh perusahaan untuk ditawari imbalan yang melambung tinggi? Ini zamannya talent war, lho. Maka begitulah hukumnya. Apakah Anda mau hanya menjadi penonton saja atau menjadi bagian dari talenta-talenta yang diperebutkan itu? Jika Anda tertarik untuk ikut menjadi karyawan yang diperebutkan di era talent war ini, maka saya ingin menghadiahkan 5 hal yang bisa mendukung Anda. Berikut ini adalah uraiannya.
1. Membangun prestasi ditempat kerja saat ini. Nilai jual Anda akan sangat rendah jika di tempat bekerja saat ini Anda tidak berprestasi. Jadi sebelum Anda memutuskan untuk terjun ke arena talent war, Anda harus terlebih dahulu menunjukkan prestasi yang tinggi di tempat kerja. Banyak orang yang gerah dengan tempat kerjanya sehingga bekerja asal-asalan, namun mengharapkan ada perusahaan lain yang membajaknya. Bisa Anda bayangkan bagaimana seandainya perusahaan yang akan mempekerjakannya tahu prestasi buruknya di kantornya sekarang?
2. Membangun keahlian. Bukan hanya Anda yang bisa berprestasi di kantor, melainkan juga ribuan bahkan jutaan orang lainnya. Mereka itu pesaing Anda di era talent war. Jadi setelah berprestasi, maka Anda harus memiliki keunggulan lain yaitu keahlian. Apakah itu keahlian? Kemampuan langka yang Anda miliki dan sangat sulit ditandingi oleh orang lain. Itulah saatnya Anda disebut seorang ahli alias expert. Temukan kehalian langka Anda, maka harga Anda menjadi sangat mahal sekali.
3. Membangun reputasi. Coba perhatikan betapa banyaknya orang hebat dalam berbagai bidang namun namanya sama sekali tidak dikenal di luar ruang kerjanya. Ditempat lain ada orang-orang yang selain hebat juga namanya berkibar dimana-mana. Menurut pendapat Anda, perusahaan yang bagus di luar sana akan membajak siapa?
4. Membangun kesiapan untuk berkontribusi. Salah satu sifat jelek head hunter adalah mereka tidak melakukan seleksi komprehensif atas para kandidat yang 'dijualnya' kepada perusahaan pengguna. Cukup wawancara makan siang sebentar, lalu semuanya dianggap sudah memadai. Makanya banyak kandidat yang hanya bagus diatas kertas, namun setelah diterima bekerja tidak mampu memberi kontribusi nyata. Ingatlah, bayaran besar itu selalu diikuti oleh tuntutan kontribusi yang besar, sehingga dalam takent war, perusahaan mencari mereka yang benar-benar bisa berkontribusi tinggi.
5. Membangun kesanggupan untuk menyesuaikan diri. Setiap perusahaan memiliki budaya, system nilai, maupun kebijakan yang sangat mungkin berbeda dengan kantor dimana Anda bekerja saat ini. Penting untuk memahami hal itu sebelum Anda mulai bekerja. Jika Anda dibajak oleh perusahaan itu, maka tidak ada cara lain untuk bisa bertahan disana kecuali menyesuaikan diri dengan system nilai yang berlaku disana. Jika tidak, maka Anda akan dianggap tidak compatible dengan perusahaan itu sehingga akan menghambat karir Anda dalam jangka panjang. Atau, bahkan Anda bisa didiskualifikasi hanya dalam beberapa bulan.
Era talent war menyediakan beragam kesempatan yang menggiurkan bagi karyawan. Bukan hanya imbalan besar yang mereka tawarkan, melainkan juga posisi dan peluang pengembangan yang lebih tinggi. Meskipun Anda tidak berencana untuk pindah kerja, tetapi ada baiknya juga Anda mempersiapkan diri dengan menerapkan ke-5 hal yang saya sarankan diatas untuk kebaikan Anda sendiri.
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman - 9 Mei 2011
Natural Intelligence Contemplator - www.dadangkadarusman.com
Contact person in-house training: Ms. Vivi - 0812 1040 3327
Catatan Kaki:
Dalam keadaan penuh perdamaian pun para tentara terus berlatih perang. Dalam keadaan betah bekerja disana pun sebaiknya Anda berlatih perang talenta.
Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain.
Follow DK on Twitter @dangkadarusman
[Non-text portions of this message have been removed]
[gudang-ilmu] Artikel: Meningkatkan Daya Saing Kita Di Kantor
Artikel: Meningkatkan Daya Saing Kita Di Kantor
Hore, Hari Baru! Teman-teman.
Persaingan ada di mana-mana, termasuk di kantor. Para staf bersaing untuk dipromosi menjadi supervisor, para supervisor bersaing untuk menjadi manager, dan para manager bersaing meraih kursi direktur. Cita-cita, ambisi, dan tekad yang membara berseliweran dimana-mana. Salah? Bergantung bagaimana cara bersaingnya. Jika persaingan itu diwarnai oleh sikap dan tindakan yang tidak berkehormatan, maka dampaknya sangat buruk. Tetapi jika persaingan itu dilakukan secara sehat, maka efeknya sangat konstruktif.
Kita hanya akan bisa bersaing secara sehat jika berfokus kepada pembentukan kompetensi, sehingga setiap orang saling berlomba menunjukkan kemampuannya dalam berkontribusi. Untuk Anda, saya ingin menghadiahkan 5 cara yang sangat efektif dalam menghadapi persaingan di kantor, sehingga kompetensi Anda meningkat, dan kontribusi Anda juga bertambah. Berikut ini adalah uraiannya.
1. Yakini jika disana ada kesempatan yang sama. Banyak orang yang menganggap perusahaan, managemen dan atasannya tidak adil dan pilih kasih. Promosi hanya didasari oleh rasa suka atau tidak suka. Yakinlah bahwa di perusahaan tempat Anda bekerja berlaku azas kesempatan yang sama. Bagaimana jika di kantor Anda benar-benar tidak terdapat kesetaraan kesempatan itu? Jangan terus menumpang hidup disitu dong. Juallah diri Anda ke perusahaan yang menganut prinsip 'Equal Employment Opportunity'. Apakah ada perusahaan seperti itu? Tentu saja.
2. Perlihatkan kapasitas diri Anda. Cara paling ampuh untuk dipromosi adalah dengan menunjukkan bahwa kapasitas diri Anda memang tinggi sekali sehinga sudah selayaknya mendapatkan tanggungjawab yang lebih besar. Jangan menunggu dipromosi jadi Manager dulu untuk menunjukkan Anda mampu menjadi seorang manager. Tunjukkan bahwa Anda mampu bekerja sekualitas Direktur, sebelum Anda menjadi direktur. Jika Anda bisa begitu, maka jabatan itu tidak akan lari kemana-mana; pasti Anda duluan yang mendapatkan kesempatan. Andalah yang kemudian menentukan, mau mengambil kesempatan itu atau tidak.
3. Bangun hubungan yang sehat dengan atasan dan orang lain. Banyak orang yang kemampuan teknisnya sangat tinggi namun tidak bisa dipromosi karena tidak memiliki people skill yang memadai. Ingatlah bahwa promosi bukan sekedar urusan teknis sehingga hanya mengandalkan faktor teknis saja sering membuat orang kecewa. Jadi, belajarlah membangun hubungan yang baik dengan orang-orang di kantor, karena itu adalah salah satu faktor yang sangat penting bagi karir Anda.
4. Lapang dada jika kolega Anda yang dipilih. Proses seleksi promosi itu nyaris seperti sebuah pertandingan. Ada kalah, ada menang. Ada gagal, ada berhasil. Banyak orang yang mau bertanding tapi tidak mau menerima kekalahan. Ketika orang lain yang dipromosi, mereka mutung lalu membuat masalah. Sungguh, sikap seperti itu hanya merugikan dirinya sendiri. Jika Anda berani mengikuti proses seleksi promosi, siapkan mental untuk menang atau kalah. Jika menang Anda siap mengemban tugas. Jika kalah juga Anda siap untuk menerimanya dengan lapang dada.
5. Tetaplah berpikir dan bersikap positif. Pikiran dan sikap positif memberikan dampak positif bagi diri sendiri dan orang lain. Anda akan tetap sehat, dan terus berkembang. Seperti magnet, kedua hal positif itu juga menarik respon positif dari lingkungan atau orang-orang disekitar Anda. Sebaliknya, jika Anda memenuhi diri dengan pikiran dan sikap negatif, maka Anda sendiri yang rugi. Orang lain pun tidak akan menaruh simpati sama sekali, sehingga Anda akan semakin dijauhi. Jadi, berpikir dan bersikaplah secara positif.
Hasil dari sebuah persaingan bukanlah akhir dari perjalanan karir Anda. Jika Anda memenangkan persaingan itu, maka Anda harus menunjukkan bahwa memang Anda pantas mendapatkan promosi itu. Jika tidak, maka Anda akan diremehkan. Jika Anda kalah bersaing? Perjalanan masih panjang, jadi tenang saja. Siapkan diri untuk fase persaingan berikutnya.
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman - 6 Mei 2011
Natural Intelligence Contemplator
www.dadangkadarusman.com
Catatan Kaki:
Orang-orang yang berfokus kepada kualitas pribadi tidak mudah terpengaruh oleh keadaan di luar dirinya. Dipromosi atau tidak, dia terus saja menempa diri.
Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain.
Follo DK twitter@dangkadarusman
Follow DK on Twitter @dangkadarusman
[Non-text portions of this message have been removed]
[gudang-ilmu] Artikel: Proses Menuju Kesempurnaan Diri
Artikel: Proses Menuju Kesempurnaan Diri
Hore, Hari Baru! Teman-teman.
Katanya, manusia itu mahluk sempurna ya? Apakah kesempurnaan itu sudah kita warisi sejak lahir atau baru sekedar 'potensi' untuk sempurna? Faktanya, tidak ada manusia yang langsung hebat begitu dia lahir. Jadi, pastilah kesempurnaan manusia itu harus diperjuangkan. Begantung nilai perjuangannya; ada manusia yang semakin mendekati kesempurnaan diri, dan ada juga yang begitu-begitu saja. Lantas, bagaimana caranya supaya kita bisa semakin dekat kepada kesempurnaan itu?
Kesempurnaan itu dibangun dari elemen-elemen kecil berupa kualitas pribadi kita. Semakin banyak elemen yang bisa kita perbaiki, semakin dekat kita kepada kesempurnaan diri. Saya merangkum 5 cara yang bisa Anda tempuh untuk memperindah elemen-elemen diri itu. Berikut ini ulasannya.
1. Adu kualitas kerja dengan kualitas diri. Kualitas kerja seseorang mewakili kualitas pribadinya. Cek apakah kualitas kerja Anda sudah sama dengan kualitas pribadi Anda. Jika sudah sama; maka Anda sudah mencapai setengah jalan menuju diri Anda yang sesungguhnya. Setengahnya lagi apa? Belajar lagi sesuatu untuk meningkatkan kualitas diri Anda sedikit lagi. Lalu, adu lagi hasil kerja Anda, dan seterusnya.
2. Adu jumlah waktu tersia-siakan dengan waktu produktif. Waktu Anda hari ini, berbeda dengan waktu yang sudah berlalu. Sedangkan waktu yang disia-siakan sama sekali tidak meningkatkan nilai diri Anda. Coba periksa kembali, mana yang lebih banyak; waktu produktif Anda atau waktu yang Anda sia-siakan. Pastikan, bahwa waktu yang berharga itu mendukung proses penyempurnaan kapasitas diri Anda.
3. Adu gengsi dengan mawas diri. Gengsi ditandai dengan keengganan untuk mengakui kelemahan yang kita memiliki. Tersinggung jika ada orang yang menunjukkan kelemahan itu. Membela diri atau mencari pembenaran, meskipun hati kecil mengakuinya. Jika Anda selalu mawas diri, terbuka terhadap kritikan dan masukan, lalu melakukan perbaikan demi perbaikan; maka semakin hari, Anda menjadi semakin baik.
4. Adu kesombongan dengan kerendahan hati. Orang yang sombong itu tidak mau belajar dari orang lain yang derajatnya dinilai lebih rendah. Sekalipun orang yang dipandang rendah itu memiliki keluasan ilmu dan hikmah, jika Anda sombong tidak bisa mengambil pelajaran apapun. Sebaliknya kerendahan hati menuntun Anda untuk belajar dari siapapun sehingga semakin hari, pengetahuan dan keterampilan Anda menjadi semakin tinggi. Selalu ada peluang untuk meningkatkan kapasitas diri bagi mereka yang rendah hati.
5. Adu kebatilan dengan ketakwaan. Ingatlah bahwa tujuan akhir dari kehidupan kita adalah kembali kepada Tuhan. Sempurna atau tidaknya seseorang pada akhirnya akan ditentukan oleh penilaian yang Tuhan berikan. Sedangkan dimata Tuhan, manusia itu sama kecuali nilai takwanya. Artinya, seberapa patuh dia kepada perintah Tuhannya. Apakah perintah Tuhan itu? Menghindari perbuatan buruk, dan mengerjakan amal saleh. Jika manusia sudah mampu memenuhi perintah Tuhan itu, maka dia telah berhasil mencapai kesempurnaan dirinya.
Kesempurnaan bukan berarti tidak memiliki kelemahan. Namun, dengan mempraktekkan ke-5 hal diatas, saya yakin kita akan bisa mengimbangi kelemahan yang kita miliki dengan keunggulan yang mumpuni. Dengan begitu, kita akan semakin dekat dengan kesempurnaan insani.
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman - 5 Mei 2011
Natural Intelligence Contemplator
www.dadangkadarusman.com
Catatan Kaki:
Kesempurnaan manusia adalah proses, bukan keadaan. Makanya, meskipun manusia itu mahluk sempurna, tapi tidak ada manusia yang sempurna.
Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain.
Follow DK on Twitter @dangkadarusman
[Non-text portions of this message have been removed]
[gudang-ilmu] Artikel: Meredefinisi Makna ’Dedikasi’
Artikel: Meredefinisi Makna 'Dedikasi'
Hore, Hari Baru! Teman-teman.
Selama ini dedikasi itu dipahami sebagai sesuatu yang dipersembahkan kepada perusahaan atau orang lain. Seolah-olah dedikasi itu hanya untuk kemanfaatan pihak lain, sedangkan sang pemilik dedikasi hanya menjadi pelaksananya saja. Benarkah demikian?
Jika pemikiran kita masih seperti itu, maka tak seorangpun akan benar-benar tertarik untuk menjadi pribadi yang berdedikasi tinggi. Enak di elu, gak enak di gue! Apalagi kalau menyangkut urusan kantor; asal pekerjaan beres saja sudah merasa cukup berdedikasi. Sudah saatnya untuk mengubah sudut pandang itu. Menurut hemat saya; dedikasi justru sangat bermanfaat bagi pribadi yang memilikinya. Kok bisa? Bagaimana caranya?
Inilah 5 cara yang bisa Anda lakukan agar dedikasi yang Anda bangun itu benar-benar bernilai bagi diri Anda sendiri dan pihak lain.
1. Dedikasikan setiap pekerjaan Anda untuk diri Anda sendiri. Keseluruhan tubuh kita disebut 'diri' atau 'self' yang maknanya berfokus kedalam, bukan kearah luar. Kita selalu bertanya; "apa manfaatnya untuk saya?" Begitu kita 'melihat' manfaat itu; maka kita terdorong untuk melakukan yang terbaik. Bukankah untuk diri sendiri Anda bersedia memberikan yang terbaik? Maka dedikasikanlah seluruh kemampuan terbaik Anda dalam bekerja untuk diri Anda sendiri, karena; baik buruknya hasil kerja Anda menentukan kualitas hidup Anda.
2. Dedikasikan setiap pekerjaan Anda untuk orang-orang yang Anda cintai. Mahluk sosial, itu kan sebutan kita? Hampa hidup kita tanpa ada orang lain disekitar kita. Indah hidup kita dengan orang-orang yang kita cintai menemani kita. Bagi para kekasih hati itu, bersediakah Anda melakukan yang terbaik? Pasti. Maka dedikasikanlah seluruh kemampuan terbaik Anda dalam bekerja untuk orang-orang yang Anda cintai, karena; cinta memberi energi yang nyaris tak terbatas untuk menghasilkan prestasi tinggi.
3. Dedikasikan setiap pekerjaan Anda untuk Tuhan. Kecuali Anda seorang atheis, pastilah Anda mengimani Tuhan. Kita beriman bahwa Dia mencatat setiap perbuatan dan menyiapkan balasannya. Beranikah Anda melakukan tindakan buruk dibawah pengawasan Tuhan? Terlalu beresiko. Anda pasti ingin dinilai baik dimata Tuhan. Maka dedikasikanlah seluruh kemampuan terbaik Anda dalam bekerja untuk Tuhan, karena; Tuhan memberi imbalan atas setiap perbuatan dengan harga yang paling tinggi.
4. Dedikasikan setiap pekerjaan Anda untuk profesi Anda. Pekerjaan berbeda dengan profesi. Coba perhatikan; ketika Anda mengeluh, apakah itu tentang pekerjaan Anda atau tentang profesi Anda? Normalnya, orang mengeluhkan pekerjaannya, bukan profesinya. Inilah profesi yang saya pilih, tapi kenapa ya kerjaannya seperti ini? Jika Anda terfokus kepada pekerjaan, maka Anda akan menemukan banyak hal yang menjengkelkan. Maka dedikasikanlah seluruh kemampuan terbaik Anda dalam bekerja untuk profesi Anda, karena; kejengkelan dalam pekerjaan sehari-hari tidak akan terasa lagi ketika Anda menjunjung tinggi profesi.
5. Dedikasikan setiap pekerjaan Anda untuk semesta. Ketika melayani seseorang, lihatlah orang-orang yang tidak terlihat dibelakang mereka. Istri, anak, tetangga, teman, suadara mereka. Saat Anda melayani orang itu dengan baik, dia pulang ke rumah dengan perasaan lega. Lalu dia memperlakukan istri dan anaknya dengan baik. Istri dan anaknya yang senang bersikap baik kepada tetangganya. Lalu tetangganya berlaku baik kepada orang lain yang ditemuinya. Lihatlah, pelayanan Anda kepada satu orang berpengaruh kepada semesta. Maka dedikasikanlah seluruh kemampuan terbaik Anda dalam bekerja untuk semesta, karena; dengan dampaknya yang luas, Anda berpeluang menjadi seorang rahmatan lil'alamin. Berkah bagi seluruh alam.
Mengapa saya tidak mengajak Anda untuk mendedikasikan setiap tindakan terbaik Anda kepada perusahaan yang menggaji Anda? Karena dengan menjalankan kelima hal diatas, saya jamin; perusahaan Anda sudah dengan sendirinya mendapatkan manfaat optimal dari sikap Anda. Dan yang lebih hebatnya lagi, dengan ke-5 cara diatas, Anda sendirilah yang terlebih dahulu mendapatkan keuntungannya.
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman - 4 Mei 2011
Natural Intelligence Contemplator
www.dadangkadarusman.com
Catatan Kaki:
Dedikasi itu seperti mesin kendaraan. Dia mempunyai daya dorong yang tinggi, tetapi membutuhkan kemudi untuk menentukan arah pergerakannya.
Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain.
Follo DK twitter@dangkadarusman
Follow DK on Twitter @dangkadarusman
[Non-text portions of this message have been removed]
[gudang-ilmu] Artikel: Melepaskan Beban Penghambat Kemajuan
Artikel: Melepaskan Beban Penghambat Kemajuan
Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.
Anda manusia sempurna jika pernah mengalami cobaan hidup. Sebab cobaan adalah bagian dari proses menuju kesempurnaan hidup itu sendiri. Sayangnya kita sering keliru memaknai cobaan hidup sebagai siksaan. Padahal, itu adalah cara Tuhan memberi kesempatan untuk meningkatkan kualitas diri. Karena cobaan itu; ada orang yang hidupnya semakin terpuruk, dan ada pula yang justru semakin terpacu untuk lebih maju. Agar tidak ikut terpuruk, kita perlu mengetahui cara untuk terus melaju kencang menjalani roda kehidupan meskipun sedang didera cobaan. Bagaimana caranya?
Cobaan hidup tidak ubahnya dengan beban yang harus kita pikul. Setiap kali berusaha bangkit, semakin terasa berat beban yang menghimpit. Inilah yang menyebabkan gerakan kita semakin melambat, bahkan kita bisa benar-benar berhenti karenanya. Bebaskan diri dari beban itu, maka tubuh kita akan kembali terasa ringan. Dan kita bisa kembali berlari kencang.
Inilah 5 jenis beban yang harus kita lepaskan itu.
Kecewa atas kehilangan. Hilang jabatan, uang, kesehatan, rumah, kekasih; semuanya bisa menimbulkan kekecewaan. Wajar? Wajar sekali. Tetapi jangan sampai kehilangan kita atas sesuatu yang kita cintai itu membuat jiwa kita terguncang. Relakan saja, karena sungguh; semua itu hanyalah sekedar titipan. Fokuslah kepada menikmati apa yang kita miliki, dan gunakanlah kenikmatan itu untuk membangun kepemilikian yang lebih bernilai lagi.
Terbelenggu Kegagalan Masa Silam. Memangnya siapa yang tidak pernah gagal? Semua orang pernah gagal, sahabat. Bedanya, ada yang meratapinya dan ada pula yang mengambil hikmah darinya. Sadarilah jika kegagalan itu bukanlah sesuatu yang memalukan. Justru itu adalah kesempatan untuk mencari tahu cara lain menuju keberhasilan. Maknai kegagalan yang pernah dialami, maka akan Anda temukan keberhasilan yang selama ini tersembunyi.
Pesimis terhadap masa depan. Sungguh, tidak ada orang yang benar-benar mengetahui masa depan. Apa gunanya mengkhawatirkan sesuatu yang belum terjadi? Sekarang, kita mempunyai kesempatan untuk mengantisipasi kemungkinan buruk, dan memperbesar peluang untuk hal-hal baik yang kita dambakan. Masa depanmu sangat bergantung kepada ikhtiarmu. Khawatirlah pada masa depanmu jika usahamu tidak bersungguh-sungguh. Tetapi, bersiaplah untuk masa depan yang gemilang jika Anda bersedia melakukan yang terbaik, sekarang.
Takut menyakiti orang-orang yang dicintai. Berapa banyak orang yang tidak berani mengambil resiko karena menjadikan anak, istri atau suami sebagai alasan? Jika saya melakukannya, anak istri saya mau makan apa? Maka jadilah dia orang yang bermain di zona aman saja sekalipun zona itu penuh dengan kesulitan hidup. Ambil resiko, dan kelurlah dari zona aman. Anakmu, istrimu, suamimu memiliki ketahanan luar biasa untuk mendaki jalan terjal yang Anda lalui. Jika Anda melakukannya dengan gigih dan penuh kesungguhan, maka bersama orang-orang yang Anda cintai; Anda akan berhasil mencapai apa yang dicita-citakan.
Terpaku pada peristiwa saat ini. Apa yang terjadi hari ini sama sekali bukanlah gambaran masa depan Anda. Hari ini, Anda boleh saja kaya raya, besok Anda bisa bangkrut. Hari ini Anda sehat, memangnya siapa yang menjamin besok tidak sakit. Hari ini, Anda memegang jabatan tinggi itu; tapi ingatlah bahwa banyak orang yang kehilangan segalanya tanpa pemberitahuan apapun sebelumnya. Jadi, janganlah terlalu terpaku pada peristiwa saat ini karena itu sering menghalangi kita dari melakukan hal-hal yang dibutuhkan untuk menciptakan esok yang lebih baik.
Itulah 5 beban yang sering menghambat kemajuan kita. Jika mampu melepaskan kesemua beban itu dari pundak kita, maka kita akan merasa ringan. Dalam perasaan ringan, kita bisa berlari kencang, menikmati perjalanan, dan boleh jadi; sampai ke tempat tujuan dengan lebih cepat dan menyenangkan.
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman - 3 Mei 2011
Natural Intelligence Contemplator
www.dadangkadarusman.com
Catatan Kaki:
Alasan mengapa sesuatu disebut sebagai 'beban' adalah karena dia 'membebani' diri kita dengan hal-hal yang membuat hati kita merasa berat saat menjani hidup.
Follo DK twitter@dangkadarusman
Follow DK on Twitter @dangkadarusman
[Non-text portions of this message have been removed]
[gudang-ilmu] Artikel: Buanglah 5 Faktor Penghambat Karir Anda!
Artikel: Buanglah 5 Faktor Penghambat Karir Anda!
Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.
Setiap orang yang hidupnya bergantung kepada gaji adalah seorang buruh; sekalipun pangkatnya direktur utama. Mengapa para direktur tidak ikut-ikutan demonstrasi untuk memperingati tanggal 1 Mei sebagai hari buruh? Karena, orang yang karirnya bagus tidak lagi disebut buruh. Sedangkan mereka yang karirnya buruk, biasanya memang disebut sebagai buruh. Jika Anda seorang karyawan; maka pastikanlah bahwa Anda memang layak untuk tidak menyandang gelar sebagai buruh. Bagaimana caranya?
Sederhana saja; bangunlah karir Anda sampai ke titik dimana Anda layak dihormati dan dihargai tinggi. Agar bisa membangun karir dengan baik, maka Anda harus membuang jauh-jauh mental 'b-u-r-u-h'. Mengapa demikian? Karena mental b-u-r-u-h itu menyimpan 5 faktor penghambat karir yang sangat mematikan. Apa sajakah kelima faktor itu? Berikut ini uraiannya.
B=Bersembunyi dibalik topeng 'nasib'. Baik atau buruknya karir seseorang sama sekali tidak ada hubungannya dengan nasib. Perhatikan para pekerja gagal. Mereka menganggap bahwa mandeknya karir dan bayaran mereka sudah menjadi nasib sehingga tidak terdorong untuk menggeliat bangkit dari posisi rendahnya. Walhasil, dari tahun ke tahun tidak ada perbaikan jabatan dan pendapatan signifikan yang mereka dapatkan. Jadilah karyawan yang berani berjuang untuk memperbaiki karir sendiri karena nasib selalu mengikuti ikhtiar yang Anda lakukan.
U=Ulet hanya ketika diawasi oleh atasan. Sudah bukan rahasia lagi jika banyak sekali karyawan yang ulet, gigih, dan giat hanya ketika ada atasannya saja. Tapi saat atasannya tidak ada; mereka berleha-leha atau mengerjakan sesuatu yang tidak produktif pada jam kerja. Para pegawai berdasi pun banyak yang memiliki perilaku seperti ini. Padahal, sikap seperti ini jelas sekali menunjukkan jika mereka tidak layak untuk mendapatkan tanggungjawab yang lebih besar. Jadilah karyawan yang bisa diandalkan, baik ada atau tidaknya atasan; karena kualitas seseorang dinilai dari tanggungjawab pribadinya ketika dia sedang sendirian.
R=Rendah diri. Kita sering keliru menempatkan kerendahan hati dengan sifat rendah diri. Ketika berhadapan dengan senior atau orang yang pendidikannya lebih tinggi, kita merasa kecil sekali. Padahal sebagian besar manager atau direktur pada mulanya adalah orang-orang yang menduduki posisi rendah seperti kebanyakan karyawan lainnya. Sifat rendah diri mengungkung orang dalam kotak inferioritas sehingga kapasitas dirinya tidak terdaya gunakan. Jadilah karyawan yang rendah hati, karena mereka yang rendah hati memiliki kualitas diri yang tinggi, namun tetap bersikap arif, positif dan konstruktif.
U=Unjuk rasa melampaui unjuk prestasi. Unjuk rasa tidak selalu harus turun ke jalan. Protes soal kenaikan gaji adalah contoh nyata unjuk rasa yang sering terjadi di kantor-kantor. Menggunjingkan atasan dan managemen di kantin atau toilet juga merupakan bentuk unjuk rasa yang tidak sehat. Perhatikan para karyawan yang tidak puas dengan kebijakan perusahaan. Mereka berkasak-kusuk sambil mengkorupsi jam kerja. Padahal, itu semakin menunjukkan kualitas buruk mereka. Jadilah karyawan yang rajin unjuk prestasi, karena prestasi membuka peluang untuk mendapatkan kesempatan dan pendapatan yang lebih besar.
H=Hitung-hitungan soal pekerjaan dan imbalan. Banyak sekali karyawan potensial yang akhirnya gagal membangun karirnya hanya karena merasa tidak dibayar dengan pantas. "Kalau gua digaji cuma segini, ngapain mesti kerja keras?' begitu katanya. Padahal, sikap seperti itu tidak merugikan perusahaan lebih dari kerugian yang dialami oleh orang itu sendiri. Mereka membuang peluang untuk mengkonversi potensi dirinya menjadi karir yang cemerlang. Jadilah karyawan yang berfokus kepada kontribusi yang tinggi, karena bayaran atau imbalan akan mengikutinya kemudian.
Jika Anda mampu membuang mental 'b-u-r-u-h' yang sudah saya jelaskan diatas, maka Anda tidak akan menjadi buruh rendahan. Sebaliknya, Anda akan menjadi karyawan yang ketika pensiun nanti; memiliki sesuatu yang layak untuk dibanggakan.
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman
Natural Intelligence Contemplator
www.dadangkadarusman.com
Catatan Kaki:
Setiap orang yang memilih untuk menjadi karyawan harus menentukan; apakah dia ingin menjadi karyawan dengan pencapaian yang layak dibanggakan, atau sekedar menjadi buruh yang direndahkan.
Follow DK on Twitter @dangkadarusman
[Non-text portions of this message have been removed]